Orang-Orang Muda Motor Tim Sukses Pasangan Capres-Cawapres (1)
Pencetus Ide Tampilkan Monolog Butet
Pilpres 2009 juga menjadi panggung terbuka yang memberikan
kesempatan bagi tampilnya wajah-wajah segar politisi muda. Mulai hari
ini, Jawa Pos menampilkan kiprah tokoh muda itu. Untuk edisi
pertama, ditampilkan tim kaum muda di kubu Mega-Prabowo. Siapa Fadli
Zon, Hasto Kristiyanto, dan Firman Jaya Daeli?
Priyo Handoko, Jakarta
---
KESIBUKAN Fadli Zon di musim kampanye pilpres ini
meningkat drastis. Tidak hanya menjadi sekretaris umum Tim Kampanye
Nasional Mega-Prabowo, politikus berusia 38 tahun itu juga mendapatkan
''tugas tambahan'' untuk meng-counter berbagai isu miring yang menyerang
Prabowo.
Kemarin (15/6), misalnya, dia tampil untuk meng-counter
isu kewarganegaraan Jordania yang menghantam Prabowo. Kepada wartawan
yang hadir di Kantor Mega-Prabowo Media Centre (MPMC), Jalan Prapanca,
Jakarta Selatan, Fadli menegaskan kabar itu tidak lebih dari sekadar
fitnah.
Menurut Fadli, Prabowo memang pernah dua tahun tinggal
di Jordania, yakni pada 1998-2000. Tapi, Prabowo tidak pernah mengganti
kewarganegaraan. Bahkan, saat ditawari menjadi penasihat militer oleh
Raja Jordania Abdullah, yang notabene sahabatnya, Prabowo menolak.
''Prabowo ke Jordan itu konteksnya hijrah setelah difitnah biar suasana di
dalam negeri nggak tambah keruh,'' tegas pria kelahiran Jakarta 1 Juni 1971 itu.
Begitulah.
Wajah Fadli Zon belakangan ini memang semakin sering tampil di
televisi. Komentarnya juga hampir setiap hari mengisi kolom media
cetak. ''Sedikit capek sih. Tapi, kami juga sering keluar kongkow bareng. Jadi,
rileks lagi,'' katanya kepada Jawa Pos. Fadli merupakan satu di antara puluhan
orang muda yang mem-back up pemenangan pasangan Mega-Prabowo.
Dia
juga mengaku bebannya sedikit berkurang karena sudah mengenal dekat
sejumlah tokoh muda PDIP yang juga aktif di tim kampanye. Misalnya,
Hasto Kristiyanto, Ganjar Pranowo, dan Budiman Sudjatmiko. ''Saya
mengenal mereka secara personal dengan baik,'' ujar wakil ketua umum
DPP Partai Gerindra itu.
Karena itu, pria yang dikenal sebagai
tangan kanan Prabowo tersebut merasa hampir tidak ada hambatan untuk
menyinergikan kekuatan dua kelompok, yakni PDIP dan Partai Gerindra.
''Kuncinya saling menjaga hati dan tetap saling percaya,'' katanya.
Mengenai perannya yang tampak dominan di kubu Prabowo, Fadli berusaha merendah.
''Semua mengalir saja kok,'' cetus peraih gelar master studi pembangunan dari
The London School of Economics and Political Science (LSE) Inggris itu.
Fadli mengatakan, kalangan muda memang mendapatkan kepercayaan penuh untuk
mengelola pemenangan Mega-Prabowo. Bahkan, tidak ada ewuh-pakewuh yang
berlebihan saat mereka harus beradu ide dan argumentasi dengan kelompok yang
lebih tua.
''Nggak ada
sungkan-sungkan. Suasananya egaliter. Masukan dari muda-muda didengar.
Malah, kami banyak mengendalikan,'' ujarnya, lantas tersenyum.
Selain
Fadli, tokoh muda yang tampak menonjol adalah Hasto Kristiyanto yang
menjadi wakil sekretaris II dan Firman Jaya Daeli yang memimpin tim
debat. ''Karena banyak yang muda, manuver politik bisa lebih cepat,''
kata Hasto.
Hasto memberikan contoh saat kampanye
damai yang diselenggarakan KPU. Informasi bahwa setiap pasangan
capres-cawapres harus mementaskan seni-budaya diperoleh kubunya tiga
hari menjelang pelaksanaan, 10 Juni malam. ''Usul agar menampilkan
monolog Butet Kartaredjasa itu kan datangnya dari kami yang muda-muda ini,''
tuturnya, lantas terkekeh.
Menurut
dia, karakter khas orang muda biasanya rasional dan progresif. Meski
begitu, etika tetap dijaga. ''Makanya, jarang di antara kami keluar statement
yang
bisa bikin blunder,'' kata anggota Komisi VI DPR kelahiran Jogjakarta 7
Juli 1966 itu. ''Kerja samanya juga enak. Mau rapat dan pulang sampai
pagi tidak masalah,'' imbuhnya.
Firman Jaya Daeli mengatakan,
Pilpres 2009 memang momentum ''pembuktian'' bagi kelompok muda.
Terutama memastikan publik bahwa kaum muda bisa menjadi faktor positif
yang melengkapi politisi yang lebih berpengalaman (tua, Red). ''Jadi,
ada perspektif baru,'' katanya.
Secara halus, dia juga menolak
disebut menonjol. Firman mengatakan, dirinya memang tampil pada
bidang-bidang tertentu, khususnya yang berkaitan dengan hukum dan HAM
serta politik dalam negeri. Agenda pemilu, pilpres, pilkada, dan
penyelenggara pemilu memang menjadi makanannya. ''Untuk topik yang
lain, tentunya ada figur lain,'' ujar anggota DPR kelahiran Nias 14
Desember 1968 itu. (*)
Siapakah Anak-anak muda di Tim yang lain kita tunggu edisinya,
Romi
Jkt
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---