Regenerasi untuk kejayaan bangsa,,

Orang-Orang Muda Motor Tim Sukses Pasangan Capres-Cawapres (3-Habis)            
        
        
        
                
  Pilpres Selesai, Berlibur Bersama Keluarga ke Bali 


Bintang-bintang muda bertaburan di Tim JK-Wiranto. Di antaranya
Priyo Budi Santoso dan Indra Jaya Pilliang yang punya cerita menarik
mengenai keluarganya di musim pilpres ini.


  Priyo Handoko, Jakarta



  ---


BELAKANGAN ini Priyo Budi Santoso merasa sangat terhibur
bila bisa berkumpul dengan istrinya, Fenti Estiana, beserta ketiga buah
hatinya. Acara kumpul keluarga itu sangat berharga di tengah
kesibukannya di pusaran pemilihan presiden. 

''Hampir tiga
bulan terakhir ini saya tidak bisa lagi jalan-jalan dan nonton film
dengan anak-anak. Padahal, sebelumnya itu rutin kami lakukan setiap
minggu,'' kata Priyo saat bincang-bincang santai dengan Jawa Pos di Jakarta 
kemarin (17/6).

Karena
itu, dia mengaku sudah menyiapkan ''penebusan dosa'' bila pelaksanaan
pilpres selesai nanti. Sebagai tim pendukung JK-Wiranto tentu saja dia
berharap selesai perhelatan nasional itu dengan hasil kemenangan
pasangan yang diperjuangkannya. 

''Saya akan mengajak mereka liburan di Bali sebulan penuh. Niat awalnya sih mau 
ke New Zealand (Selandia Baru, Red). Tapi, kami takut flu babi. Makanya, cari 
yang aman-aman saja,'' ujar ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) di DPR itu lantas 
terkekeh.

Saat
proses lobi membangun koalisi, Priyo selalu tampak setia mendampingi
JK. Setelah JK positif berdampingan dengan Wiranto, tugas Priyo
bertambah berat. Bersama Ketua DPP Partai Hanura Fuad Bawazier, Priyo
menyinergikan para juru bicara tim pemenangan JK-Wiranto yang berjumlah
sembilan orang.

''Semuanya orang-orang muda,'' katanya. Siapa
saja mereka? Priyo menuturkan, di antaranya, anggota Komisi I dari FPG
Yuddy Chrisnandi, mantan pengamat politik yang kini menjadi politikus
Golkar Indra Jaya Piliang, dan Wakil Bendahara DPP Partai Golkar Poempida 
Hidayatullah.

Ada
juga Wakil Direktur Eksekutif Lembaga Pemenangan Pemilu DPP Partai
Golkar Jefrrey Geovani. Dari luar kubu beringin ada Drajad Wibowo dan
Alvin Lie, keduanya dari PAN.

''Usia saya dengan Yuddy hanya
lebih tua enam bulan. Sama Indra juga masih segenerasi. Poempida itu
setahun di bawah saya. Jadi, masih satu generasi. Tapi, saya memang
dituakan dan dianggap kepala suku untuk generasi muda. Mungkin karena
dianggap senior secara jabatan ketua fraksi di DPR,'' beber pria
kelahiran Trenggalek, 30 Maret 1966 itu.

Karena usia yang tidak
terpaut jauh itu, Priyo mengaku tidak punya hambatan berarti saat
berkoordinasi. Priyo menuturkan, banyak ide progresif dan cemerlang
yang lahir dari mereka. Misalnya, ide-ide iklan politik JK-Wiranto.
''Selanjutnya itu semua digodok bersama dengan para senior dan
jenderal,'' katanya.

Dia merasa hasil yang dipetik sudah
optimal. Mengingat mereka sama sekali tidak mensubkontrakkan program
kampanye pemilu kepada konsultan profesional. ''Semua kami rumuskan
sendiri. Soalnya, dana kami tidak sebesar pasangan lain, terutama incumbent,'' 
ujar Priyo yang mengaku tetap sangat menghormati Presiden SBY itu.

Selain
menyinergikan para jubir, Priyo mengomandani caleg-caleg terpilih dan
anggota DPR dari Golkar periode sekarang untuk turun ke daerah
masing-masing. ''Secara khusus saya menjadi penanggung jawab pemenangan
Jatim juga,'' kata caleg terpilih dari Dapil Jatim I, Surabaya dan
Sidoarjo itu.

Indra Jaya Pilliang menceritakan, kesibukannya di
Tim Pemenangan JK-Wiranto juga harus ditebus mahal. Salah satunya, dia
terpaksa tidak bisa pulang ke Padang saat nenek tersayangnya meninggal
dunia pada 30 Mei lalu. Sebab, pada hari itu Komisi Pemilihan Umum
(KPU) mengundi nomor urut pasangan capres-cawapres.

Sebagai
salah satu jubir yang diandalkan Tim JK-Wiranto, kehadirannya tentu
sangat bernilai strategis, terutama untuk berkomunikasi dengan media
massa. ''Apalagi, pada awal-awal JK-Wiranto mulai running sepi
sekali. Orang yang datang ke Mangunsakoro (markas tim Sukses JK-Wiranto
di Jalan Mangunsakoro, Red) bisa dihitung dengan jari. Sekarang saya
bersyukur sudah ramai, banyak yang mau bergabung,'' beber pria
kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, 19 April 1972 itu.

Indra
menceritakan, sesibuk apa pun, dia tetap berusaha mencuri-curi waktu
untuk rileks. ''Setiap hari saya mengambil beberapa jam, biasanya pagi
untuk Facebook, baca buku, main-main bersama anak-anak atau
jalan-jalan berdua dengan istri,'' kata mantan pengamat politik Centre
for Strategic and International Studies (CSIS) itu, lantas tersenyum. (tof)

Romi
JK t



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke