Empat puluh
tahun lamanya, umat nabi musa mengembara tak tentu arah, di gurun pasir Sinai,
ujung
utara jazirah arab, jaman dahulu kala. Empat
puluh hari lamanya nabi Musa berada di
gunung Sinai, mendapatkan perintah dari Tuhan.
Di gua hira di pebukitan gurun pasir, dekat Mekah, pada usia empat puluh
tahun, nabi Muhammad, menerima wahyu pertamanya.
Di gurun pasir ujung
timur jazirah arab, gurun pasir abu dhabi, yang bersuhu empat puluh derajat
celcius, aku sedang duduk termenung di bawah pohon kurma, dibawah naungan
empat puluh helai daun korma,
dimana empat puluh buahnya mulai matang di musim panas ini.
tiba2 angin
kering yang bertiup dari tengah gurun pasir, menghembuskan empat puluh butir
pasir halus menghampiriku, sambil berbisik mesra, “hari ini, empat puluh tahun
yang lalu, bundamu tercinta melahirkan
mu ke dunia yang fana ini..”
pasir berbisik
itu cukup mengagetkan ku, betapa ia
penuh perhatian mengingatkan ku, terima
kasih banyak pasir halus sahabat yang setia menemaniku di tengah kesunyian
gurun pasir ini. Aku pun jadi teringatkan kembali dengan hari ini, hari yang
selalu mengingatkan ku pada ibunda tercinta yang telah dengan penuh perjuangan
melahirkan, kemudian mengasuhku dengan penuh kasih sayang.
kulalui moment ini dengan suasana yang sangat istimewa pula, sunyi,
sepi sendirian di tengah gurun pasir yg
terpencil ini…
Empat puluh
orang teman2 dari Indonesia, tak ada disini , karena sedang pulang mudik ke
tanah
air tercinta.
Teman2 sekerja
ku yang berasal dari empat puluh negara, di empat benua, tak ada yang tahu pula
dimana letak Bukittinggi, kota kecil
tempat aku dilahirkan.
telah empat
bulan lamanya pula, aku terpisah dari empat orang anak ku dan istriku, terpisah
empat ribu mil jauhnya di seberang
samudera luas ,
biarlah hanya
empat puluh buah kurma, empat puluh butir pasir dan empat puluh bait untaian
kata ini yang menemaniku saat ini. Empat puluh lembar rambut putih yang mulai
menerangi rambut kelam ini, adalah
sebuah pertanda juga untuk mengingatkan diri ini.
Allah swt menakdirkan
ku berada dalam suasana sunyi ini, mungkin
agar aku bisa banyak merenung di usia empat puluh, usia saat2 di tengah
perjalanan kehidupan ini. Mungkin supaya saya bisa merasakan pula bagaimana
nabi Muhammad menrenung di atas bukit di
dekat mekah, sampai beliau mendapatkan
wahyu Illahi yang pertama, pada usia empat puluh tahun .
Berada di usia
empat puluh, usia pertengahan jalan hidup, adalah saat terbaik , untuk menengok
ke belakang, langkah2 apa yg telah
dilalui selama ini, sambil merancang juga, langkah2 lanjutan ke depan.
Bagaikan orang
berkendaraan, agar selamat ia perlu berhati hati berjalan ke depan, namun tak
lupa pula untuk melihat kaca spion ke belakang.
Masa yang telah berlalu menjadi
pelajaran, agar berhasil menempuh perjalanan ke depan.
Saya coba
merenung sejenak, melihat ke masa lalu, bagaikan melihat flashback film, masa
lalu seolah terputar kembali, terbangkitkan dari memori alam bawah sadar kita,
mulai dari masa kecil , masa sekolah, masa
muda sampai saat2 kemarin.
Jalan panjang
kehidupan yang penuh lika liku, seperti
jalan kelok empat puluh empat jalanan menuju danau maninjau, sumatera barat,
jalan
menuju kampung ibunda tercinta.
Jadi Teringat kembali, empat
puluh jenjang tangga di pasar atas bukittinggi yang sering kulangkahi saat masa
kecil dulu
Empat puluh batang ranting
kayu yg terkumpul menjadi api
unggun penghangat malam dingin di pegunungan utara kota Bandung saat camping
dengan teman2 pramuka dan pencinta alam
sman tiga bandung.
Empat puluh kali empat
sks kuliah yang telah ku kunyah di kampus itebe di jalan gajah duduk kota
bandung
Empat puluh pengemis dan
anak jalanan yg sering ku lewati setiap pagi, saat berangkat kerja ke pabrik di
kawasan industri pulogadung Jakarta.
Empat puluh jembatan besi
antara bandung –jakarta yang kulalui
tiap minggu, saat dulu sering bulak balik naik kereta api parahyangan .
Empat puluh turunan berundak
undak akar pohon pinus yang ku lalui saat menuruni bukit jayagiri, bandung
utara dengan empat puluh orang teman2 pesepeda gunung ( mountain bike - down
hill )
Empat puluh ribu helai
daun teh muda yang setia menyapaku di kebun teh kertamanah saat jalan kaki di
pagi hari pergi kerja ke
geothermal power plant, gunung wayang windu, bandung selatan.
Empat lembar
surat cinta, yang terbuang percuma ke tempat sampah…
Empat orang
teman dekat ku yang telah meninggalkan dunia yang fana ini…
Seorang teman sekelas ku
dulu, ada membuat puisi mengenai kegetiran di usia pertengahan ini ;
Pada usia empatpuluh, kita bagaikan sedang melintas di tengah
sebuah titian..
Walau pijakan serasa tak berhingga, tengokan ke belakang serasa berjuta..
Namun jejak serasa hampa, pandangan ke masa depan tampak buram
Syukurlah Allah,
masih memberi nikmat kesempatan hidup sampai saat ini, masih terbuka kesempatan
untuk berbuat kebaikan, memperbaiki kesalahan2 yang telah berlalu dan bertobat
atas kesalahan yg telah berlalu. Lakukanlah mumpung kita masih diberi
kenikmatan hidup di dunia, karena kalau di akhirat kelak, kita hanya bisa
menyesal, tak bisa melakukan perbaikan.
Di bawah pohon
kurma ini, saya coba menerawang jauh sampai ke gurun pasir yg datar tak
berujung, saya tak tahu pula ada apa di ujung gurun pasir
itu, namun yang pasti segala sesuatu ada ujungnya. Dengan mengetahui ujung
batas gurun pasir
ini, kita bisa merancang perjalanan kita yang
terbaik, bila hendak melintasinya.
Seperti itu pulalah kira2 jalan kehidupan yang akan kita lalui, akan ada
ujungnya pula, yaitu
kematian. Dengan memahami makna kematian, kita akan bisa pula merancang langkah
terbaik dalam perjalanan hidup ini selanjutnya.
Mengingat
kematian, saya jadi teringat pada pesan
guru ngaji dulu, berdasar hadits nabi, ''Jika
anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara ; sedekah
jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.''
(HR Muslim).
Semoga
Allah selalu memberi petunjuk dan
melindungi kita semua dalam menempuh sisa jalan kehidupan ini. Terima kasih
banyak ya Allah, engkau telah memberi karunia kesempatan hidup padaku
sepanjang ini
dalam keadaan sehat wal afiat, kehidupan adalah karunia dari Allah yg jarang
disadari..
Selasa, duapuluh
tiga juni , tahun dua ribu Sembilan.
On contemplation
of forty years long trip; Bukittinggi - Bandung - Abu Dhabi
Baca selengkapnya
; http://hdmessa.wordpress.com/2009/06/22/untaian-kata-empatpuluh-bait/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---