Selamat berempat puluh Angku Hendra Messa.

Senang MakNgah melihat tulisannya dari Abu Dabhi. Senang MakNgah melihat
gambarnya di bawah pohon kurma (?). Teringat Tantaman, Palembayan dan
Alahananggang, di mana MakNgah setengah abad yang lalu pernah
melayangkan pandangan mengarah Lautan Hindia mengufuki Daerah Aliran
Masang dan Pasaman.  Jauh di sana di seberang Laut di daerah Teluk,
terbayang pula Abu Dabhi dalam imajinasi walaupun MakNgah saat ini lebih
jauh di Balik Bumi.

Selamat Empat Puluh Berhari Jadi.
Sebaya dengan Rasulullah diwahyu Nabi.
Jika dibandingkan kalender Masehi dengan Arabi.
Setiap 36 tahun kedua kalendar saling melingkari,
Setahun bonus sudah tertambahi.
Kalau di tahun Masehi empat puluh kini,
Di kalender Arabi sudah 41 diberi.
Begitulah Kurnia Ilahi.

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
Santa Cruz, California, USA
http://www.santacruzsentinel.com/localnews/ci_12030675

--- In [email protected], Hendra Messa <hdme...@...> wrote:
>
>
> Empat puluh
> tahun lamanya, umat nabi musa mengembara tak tentu arah, di gurun
pasir Sinai, ujung
> utara jazirah arab, jaman dahulu kala.  Empat
> puluh hari  lamanya nabi Musa berada di
> gunung Sinai, mendapatkan perintah dari Tuhan.Â
> Di gua hira di pebukitan gurun pasir, dekat Mekah, pada usia empat
puluh
> tahun, nabi Muhammad, menerima wahyu pertamanya.
>
> Di gurun pasir ujung
> timur jazirah arab, gurun pasir abu dhabi, yang bersuhu empat puluh
derajat
> celcius, aku sedang duduk termenung di bawah pohon kurma,  dibawah
naungan empat puluh helai daun korma,
> dimana empat puluh buahnya  mulai matang di musim panas ini.
>
> tiba2 angin
> kering yang bertiup dari tengah gurun pasir, menghembuskan empat puluh
butir
> pasir halus menghampiriku, sambil berbisik mesra, “hari ini,
empat puluh tahun
> yang lalu, bundamu tercinta  melahirkan
> mu ke dunia yang fana ini..†
>
>
> pasir berbisik
> itu cukup mengagetkan ku,  betapa ia
> penuh perhatian mengingatkan ku, Â terima
> kasih banyak pasir halus sahabat yang setia menemaniku di tengah
kesunyian
> gurun pasir ini. Aku pun jadi teringatkan kembali dengan hari ini,
hari yang
> selalu mengingatkan ku pada ibunda tercinta yang telah dengan penuh
perjuangan
> melahirkan, kemudian mengasuhku dengan penuh kasih sayang.Â
> kulalui moment ini dengan suasana yang sangat istimewa pula, sunyi,
> sepi sendirian  di tengah gurun pasir yg
> terpencil ini…
>
> Empat puluh
> orang teman2 dari Indonesia, tak ada disini , karena sedang pulang
mudik ke tanah
> air tercinta.
>
> Teman2 sekerja
> ku yang berasal dari empat puluh negara, di empat benua, tak ada yang
tahu pula dimana letak Bukittinggi, kota kecil
> tempat aku dilahirkan.
>
> telah empat
> bulan lamanya pula, aku terpisah dari empat orang anak ku dan istriku,
terpisah
> Â empat ribu mil jauhnya di seberang
> samudera luas ,
>
> biarlah hanya
> empat puluh buah kurma, empat puluh butir pasir dan empat puluh bait
untaian
> kata  ini yang menemaniku saat ini.  Empat puluh lembar rambut
putih yang mulai
> menerangi  rambut kelam ini, adalah
> sebuah pertanda juga untuk mengingatkan diri ini.
>
> Allah swt menakdirkan
> ku berada dalam suasana sunyi  ini, mungkin
> agar aku bisa banyak merenung di usia empat puluh, usia saat2 di
tengah
> perjalanan kehidupan ini. Mungkin supaya saya bisa merasakan pula
bagaimana
> nabi Muhammad menrenung  di atas bukit di
> dekat mekah, sampai  beliau mendapatkan
> wahyu Illahi yang pertama, pada usia empat puluh tahun .
>
> Berada di usia
> empat puluh, usia pertengahan jalan hidup, adalah saat terbaik , untuk
menengok
> ke belakang, langkah2 Â apa yg telah
> dilalui selama ini, sambil merancang juga, langkah2 lanjutan ke depan.
>
> Bagaikan orang
> berkendaraan, agar selamat ia perlu berhati hati berjalan ke depan,
namun tak
> lupa pula untuk melihat kaca spion ke belakang.Â
> Â Masa yang telah berlalu menjadi
> pelajaran, agar berhasil menempuh perjalanan ke depan.
>
> Saya coba
> merenung sejenak, melihat ke masa lalu, bagaikan melihat flashback
film, masa
> lalu seolah terputar kembali, terbangkitkan dari memori alam bawah
sadar kita,
> mulai dari masa kecil , masa sekolah, masaÂ
> muda sampai saat2 kemarin.
>
> Jalan panjang
> kehidupan yang  penuh lika liku, seperti
> jalan kelok empat puluh empat jalanan menuju danau maninjau, sumatera
barat, jalan
> menuju kampung ibunda tercinta.
>
> Jadi Teringat kembali, empat
> puluh jenjang tangga di pasar atas bukittinggi yang sering kulangkahi
saat masa
> kecil dulu
>
> Empat puluh batang  rantingÂ
> kayu yg terkumpul menjadi  api
> unggun penghangat malam dingin di pegunungan utara kota Bandung saat
camping
> dengan teman2 pramuka dan pencinta alamÂ
> sman tiga bandung.
>
> Empat puluh kali empat
> sks kuliah yang telah ku kunyah di kampus itebe di  jalan gajah
duduk  kota bandung
>
> Empat puluh pengemis dan
> anak jalanan yg sering ku lewati setiap pagi, saat berangkat kerja ke
pabrik di
> kawasan industri pulogadung Jakarta.
>
> Empat puluh jembatan besi
>  antara bandung â€"jakarta yang kulalui
> tiap minggu, saat dulu sering bulak balik naik kereta api parahyangan
.
>
> Empat puluh turunan berundak
> undak akar pohon pinus yang ku lalui saat menuruni bukit jayagiri,
bandung
> utara dengan empat puluh orang teman2 pesepeda gunung ( mountain bike
- down
> hill )
>
> Empat puluh ribu helai
> daun teh muda yang setia menyapaku di kebun teh kertamanah saat 
jalan kaki di pagi hari pergi kerja ke
> geothermal power plant, gunung wayang windu, bandung selatan.
>
> Empat lembar
> surat cinta, yang terbuang percuma ke tempat sampah…
>
> Empat orang
> teman dekat ku yang telah meninggalkan dunia yang fana ini…
>
> Seorang teman sekelas ku
> dulu, ada membuat puisi mengenai kegetiran di usia pertengahan ini ;
>
> Pada usia empatpuluh,  kita bagaikan sedang melintas di tengah
> sebuah titian..
>
> Walau pijakan serasa tak berhingga, tengokan ke belakang serasa
berjuta..
>
> Namun jejak serasa hampa, pandangan ke masa depan tampak buram
>
> Syukurlah Allah,
> masih memberi nikmat kesempatan hidup sampai saat ini, masih terbuka
kesempatan
> untuk berbuat kebaikan, memperbaiki kesalahan2 yang telah berlalu dan
bertobat
> atas kesalahan yg telah berlalu. Lakukanlah mumpung kita masih diberi
> kenikmatan hidup di dunia, karena kalau di akhirat kelak, kita hanya
bisa
> menyesal, tak bisa melakukan perbaikan.
>
> Di bawah pohon
> kurma ini, saya coba menerawang jauh sampai ke gurun pasir yg datar
tak
> berujung,  saya  tak tahu pula ada apa di ujung gurun pasir
> itu, namun yang pasti segala sesuatu ada ujungnya.  Dengan
mengetahui ujung batas gurun pasir
> ini, kita bisa merancang perjalanan kita yangÂ
> terbaik, bila hendak melintasinya.
> Seperti itu pulalah kira2  jalan kehidupan yang  akan kita
lalui, akan ada ujungnya pula, yaitu
> kematian. Dengan memahami makna kematian, kita akan bisa pula
merancang langkah
> terbaik dalam perjalanan hidup ini selanjutnya.
>
> Mengingat
> kematian, saya jadi  teringat pada pesan
> guru ngaji dulu, berdasar hadits nabi,  ''Jika
> anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara ;
sedekah
> jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa
kepadanya.''
> (HR Muslim).
>
>
>
> Semoga
> Allah  selalu memberi petunjuk dan
> melindungi kita semua dalam menempuh sisa jalan kehidupan ini. Terima
kasih
> banyak ya Allah, engkau telah memberi  karunia kesempatan hidup
padaku sepanjang ini
> dalam keadaan sehat wal afiat, kehidupan adalah karunia dari Allah yg
jarang
> disadari..
>
> Selasa, duapuluh
> tiga juni , tahun dua ribu Sembilan.
>
> On contemplation
> of forty years long trip; Bukittinggi - Bandung - Abu Dhabi
>
> Baca selengkapnya
> ;
http://hdmessa.wordpress.com/2009/06/22/untaian-kata-empatpuluh-bait/




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke