Da Hendra,. Tidak Terasa sudah 40th umur uda yah, rasanya baru kemarin saya menginap di rumah uda dibandung, sarapan pagi dengan nasi goreng buatan urang rumah. Uda Hendra Maesa salah satu terbaik yang pernah aktif dan berada ditengah tengah kita semua.
Ambo juga baru sadar da kalau semua pertemuan itu sudah cukup tua untuk sebuah pertemanan. Salam Hormat untuk uda semoga semakin visioner dan kaya akan ilmu. Best Regards Ronal Chandra tiba2 angin kering yang bertiup dari tengah gurun pasir, menghembusg kan empat puluh butir pasir halus menghampiriku, sambil berbisik mesra, “hari ini, empat puluh tahun yang lalu, bundamu tercinta melahirkan mu ke dunia yang fana ini..” pasir berbisik itu cukup mengagetkan ku, betapa ia penuh perhatian mengingatkan ku, terima kasih banyak pasir halus sahabat yang setia menemaniku di tengah kesunyian gurun pasir ini. Aku pun jadi teringatkan kembali dengan hari ini, hari yang selalu mengingatkan ku pada ibunda tercinta yang telah dengan penuh perjuangan melahirkan, kemudian mengasuhku dengan penuh kasih sayang. kulalui moment ini dengan suasana yang sangat istimewa pula, sunyi, sepi sendirian di tengah gurun pasir yg terpencil ini… Empat puluh orang teman2 dari Indonesia, tak ada disini , karena sedang pulang mudik ke tanah air tercinta. Teman2 sekerja ku yang berasal dari empat puluh negara, di empat benua, tak ada yang tahu pula dimana letak Bukittinggi, kota kecil tempat aku dilahirkan. telah empat bulan lamanya pula, aku terpisah dari empat orang anak ku dan istriku, terpisah empat ribu mil jauhnya di seberang samudera luas , biarlah hanya empat puluh buah kurma, empat puluh butir pasir dan empat puluh bait untaian kata ini yang menemaniku saat ini. Empat puluh lembar rambut putih yang mulai menerangi rambut kelam ini, adalah sebuah pertanda juga untuk mengingatkan diri ini. Allah swt menakdirkan ku berada dalam suasana sunyi ini, mungkin agar aku bisa banyak merenung di usia empat puluh, usia saat2 di tengah perjalanan kehidupan ini. Mungkin supaya saya bisa merasakan pula bagaimana nabi Muhammad menrenung di atas bukit di dekat mekah, sampai beliau mendapatkan wahyu Illahi yang pertama, pada usia empat puluh tahun . Berada di usia empat puluh, usia pertengahan jalan hidup, adalah saat terbaik , untuk menengok ke belakang, langkah2 apa yg telah dilalui selama ini, sambil merancang juga, langkah2 lanjutan ke depan. Bagaikan orang berkendaraan, agar selamat ia perlu berhati hati berjalan ke depan, namun tak lupa pula untuk melihat kaca spion ke belakang. Masa yang telah berlalu menjadi pelajaran, agar berhasil menempuh perjalanan ke depan. Saya coba merenung sejenak, melihat ke masa lalu, bagaikan melihat flashback film, masa lalu seolah terputar kembali, terbangkitkan dari memori alam bawah sadar kita, mulai dari masa kecil , masa sekolah, masa muda sampai saat2 kemarin. Jalan panjang kehidupan yang penuh lika liku, seperti jalan kelok empat puluh empat jalanan menuju danau maninjau, sumatera barat, jalan menuju kampung ibunda tercinta. Jadi Teringat kembali, empat puluh jenjang tangga di pasar atas bukittinggi yang sering kulangkahi saat masa kecil dulu Empat puluh batang ranting kayu yg terkumpul menjadi api unggun penghangat malam dingin di pegunungan utara kota Bandung saat camping dengan teman2 pramuka dan pencinta alam sman tiga bandung. Empat puluh kali empat sks kuliah yang telah ku kunyah di kampus itebe di jalan gajah duduk kota bandung Empat puluh pengemis dan anak jalanan yg sering ku lewati setiap pagi, saat berangkat kerja ke pabrik di kawasan industri pulogadung Jakarta. Empat puluh jembatan besi antara bandung –jakarta yang kulalui tiap minggu, saat dulu sering bulak balik naik kereta api parahyangan . Empat puluh turunan berundak undak akar pohon pinus yang ku lalui saat menuruni bukit jayagiri, bandung utara dengan empat puluh orang teman2 pesepeda gunung ( mountain bike - down hill ) Empat puluh ribu helai daun teh muda yang setia menyapaku di kebun teh kertamanah saat jalan kaki di pagi hari pergi kerja ke geothermal power plant, gunung wayang windu, bandung selatan. Empat lembar surat cinta, yang terbuang percuma ke tempat sampah… Empat orang teman dekat ku yang telah meninggalkan dunia yang fana ini… Seorang teman sekelas ku dulu, ada membuat puisi mengenai kegetiran di usia pertengahan ini ; Pada usia empatpuluh, kita bagaikan sedang melintas di tengah sebuah titian.. Walau pijakan serasa tak berhingga, tengokan ke belakang serasa berjuta.. Namun jejak serasa hampa, pandangan ke masa depan tampak buram Syukurlah Allah, masih memberi nikmat kesempatan hidup sampai saat ini, masih terbuka kesempatan untuk berbuat kebaikan, memperbaiki kesalahan2 yang telah berlalu dan bertobat atas kesalahan yg telah berlalu. Lakukanlah mumpung kita masih diberi kenikmatan hidup di dunia, karena kalau di akhirat kelak, kita hanya bisa menyesal, tak bisa melakukan perbaikan. Di bawah pohon kurma ini, saya coba menerawang jauh sampai ke gurun pasir yg datar tak berujung, saya tak tahu pula ada apa di ujung gurun pasir itu, namun yang pasti segala sesuatu ada ujungnya. Dengan mengetahui ujung batas gurun pasir ini, kita bisa merancang perjalanan kita yang terbaik, bila hendak melintasinya. Seperti itu pulalah kira2 jalan kehidupan yang akan kita lalui, akan ada ujungnya pula, yaitu kematian. Dengan memahami makna kematian, kita akan bisa pula merancang langkah terbaik dalam perjalanan hidup ini selanjutnya. Mengingat kematian, saya jadi teringat pada pesan guru ngaji dulu, berdasar hadits nabi, ''Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara ; sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.'' (HR Muslim). Semoga Allah selalu memberi petunjuk dan melindungi kita semua dalam menempuh sisa jalan kehidupan ini. Terima kasih banyak ya Allah, engkau telah memberi karunia kesempatan hidup padaku sepanjang ini dalam keadaan sehat wal afiat, kehidupan adalah karunia dari Allah yg jarang disadari.. Selasa, duapuluh tiga juni , tahun dua ribu Sembilan. On contemplation of forty years long trip; Bukittinggi - Bandung - Abu Dhabi Baca selengkapnya ; http://hdmessa.wordpress.com/2009/06/22/untaian-kata-empatpuluh-bait/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
