Palali
Oleh Yulia Nengsih
Genap sudah satu tahun ayah meninggalkan rumah ini. Semenjak
perceraiannya dengan ibu, tak sekali pun ayah menyempatkan diri untuk
singgah, meski barang sebentar, sekedar memberi tanda pada kami bahwa
kami masih punya ayah. Jangankan berkirim kabar, di mana ia kini pun
kami tak tahu. Perpisahan dengan ibu mengartikan perpisahan kami dengan
ayah juga. Meski begitu halnya, setetes rindu masih kami sisakan buat
ayah. Kami masih selalu membingkai harapan akan kedatangan ayah di rumah
ini. Ayah senantiasa bercerita tentang banyak hal, mengantarkan aku ke
dalam tidur yang nyenyak. Giginya yang tertata rapi sampai kapan pun tak
dapat hilang dari ingatan ku.
Umur ku sudah cukup untuk menimbang yang baik dan buruk. Tidaklah
kutaruh kebencian padanya perihal perceraiannya dengan ibu. Jangankan
dia sebagai seorang lelaki, aku sajalah, kalau bukan karena posisiku
sebagai anak mungkin takkan ku injakkan lagi kakiku di rumah itu.
Mendengar suara ibu diikuti kata-katanya yang sering menusuk siapa yang
akan betah berlama-lama di tempat ini. Setiap hari mengomel, seolah tak
pernah habisnya apa yang akan diucapkan. Sudah menjadi kecanduan
baginya, mungkin sehari saja ia tak berceloteh akan ada satu penyakit
hinggap di tubuhnya, entah apalah itu.
"Kemana bapakmu ya, Pik?" Begitulah tanya ibu tiap kali ayah
tak pulang.
"Mungkin ia sedang bermain domino di kedai Mak Sati, Bu!"
Jawabku sekenanya meski dalam hati aku mengutuk kalau ibu itu munafik.
Sehari saja ayah tak pulang cando anak ayam kehilangan induaknyo. Tanya
sana, tanya sini. Tapi cobalah kalau ayah sudah pulang, penyakitnya
kambuh lagi. Basabuah raso ka muntah bacarai raso ka mati.
"Masih kau datangi juga rumah si Marni tu ha? Kemana saja kau semalaman
kalau bukan ke rumah perempuan gatal itu?"
Kulihat wajah diam ayah. Tak mau ia menjawab ibu yang seperti itu. Walau
aku tahu ayah tak menyukai duduk berlama-lama, duduk di kedai. Semalam
ayah pasti menginap di dangau dekat ladang yang letaknya tak jauh dari
sini. Ada sekitar 2 kilo. Tapi aku enggan memberitahu ibu, biarlah ayah
menikmati kesendiriannya di sana. Tapi jalan ke sana agak sulit karena
harus melewati pematang-pematang sawah. Di sanalah ayah biasa
menyembunyikan diri bila-bila pikiran kalutnya kumat. Kata ayah, di
sawah, bila sore datang tenang jiwanya mendengar binatang-binatang kecil
bersahutan bergantian dengan keteraturan, tenang. Tak seperti di rumah,
yang selalu ramai oleh dendangan pilu si nenek dan kicauan padiah ibu.
Teringat si nenek, timbul tanda tanya di benakku. Apa yang menyebabkan
dia seperti itu? Setiap datang waktu salat dia selalu merinai-rinai,
yang semula dengan suara perlahan kemudian berangsur-angsur keras dan
terakhir dia berteriak sambil menangis. Bila tengah malam, ia bicara
sendiri dan kadang seolah memanggil seseorang dari kejauhan dan bila
lelah ia akan tertidur sendiri. Sudah sekitar satu tahun belakangan.
Sembarangan saja ia berkata-kata. Kadang bila datang tamu-tamu ayah,
kami sedikit merasa malu, karena suaranya terdengar jelas sekali.
Aku takut bertanya, lagi pula tak ada tempat bertanya bagiku di rumah
itu. Pernah sekali aku bertanya pada ibu tapi ia malah membentakku,
"Lakukan saja apa yang menjadi tugasmu, jangan kau ingin tahu pula
urusan orang dewasa. Apa sekolah kau bisa menyembuhkannya!" Semenjak itu
aku tak berani lagi bertanya, aku takut kalau ibu mengataiku lagi dengan
yang lebih pedih dari itu. Selama yang aku tahu, apa yang terjadi
sekarang adalah cerminan dari perangai kita di masa mudanya. Itu pula
yang ku takutkan pada ibu, kalau nantinya ia mewarisi penyakit nenek
yang seperti itu. Tapi entahlah, biarlah tanya ini ku biarkan mengendap
sendiri hingga akhirnya jenuh dan tak lagi dipertanyakan. Lagi-lagi
pikiran ku melayang tentang sosok ayah. Tentang ada dan tiadanya ia.
***
"Secepatnya Ninik Mamak kami akan ke sini untuk
menyelesaikan pertunangan ini".
"Lalu bagaimana dengan anak-anak kau yang perempuan, apa dia
sudah diberitahu tentang ini?"
"Ah, urusan anak-anak tak perlu dipikirkan. Mereka kan sudah
besar, tentunya mereka tidak berpikiran anak-anak lagi. Dan saya yakin,
mereka akan mengerti dan pastinya mereka juga membutuhkan sosok bapak
kan? Jadi perkara anak-anak tak ada masalah".
"Justru itu, Ros! Justru karena anak-anak kau itu sudah
besar-besar. Aku ragu mereka malah tidak menyetujui rencana ini. Mereka
sudah besar mereka merasa tak membutuhkan bapak lagi. Dan aku juga bisa
lihat selama ini hubungan anak-anak kau dengan laki kau, maksudku duda
kau itu, tampak baik. Dan kurasa tidak mudah bagi mereka melupakannya.
Satu tahun masih terlalu pagi bagi mereka tuk bisa lupa kenangan dengan
bapaknya".
"Ah, jangan berpikir terlalu jauh begitu lah, Wan! Mereka
tak seperti yang Uwan duga!"
"Semoga saja begitu kenyataannya, Ros!" Ku sedikit
merapatkan telinga ku mendengar percakapan di ruang tamu. Entah dengan
siapa ibu bicara. Lelaki itu suaranya tak begitu asing di telinga ku.
Tapi samar-samar aku ingat. Dan ketika ia hendak pamit pergi, tak salah
lagi ia adalah Datuk Bandaro yang dua bulan lalu istrinya meninggal
karena penyakit. Menurut orang kampung diguna-guna oleh orang yang
menyimpan dendam keluarga.
Dasar lelaki, seakan tidak bisa saja ia baangok tanpa padusi. Belum
merah kuburan istrinya sudah hendak memperistri perempuan lain pula.
Tapi menurut dokter yang memeriksa, beliau terserang penyakit lever.
Tapi tak sedikit pun aku menaruh percaya dengan yang namanya penyakit
yang diperlihatkan ke dukun kampung seperti itu, karena setiap kali ada
yang pergi melihatkan penyakitnya ke dukun pada umumnya penyakit mereka
karena diguna-guna orang lain.
Tampak olehku ibu mengantar Datuk Bandaro sampai ke jenjang rumah, tak
ubahnya seperti orang yang sudah suami istri saja. Sepintas aku
mendengar percakapan mereka tadi dan aku dengan beraninya bertanya pada
ibu.
"Ada urusan apa Datuk itu datang malam-malam begini ke sini
Bu?"
"Memangnya kau mau apa, ha?"
"Bu, apa aku tidak berhak bertanya tentang segala sesuatu
yang terjadi di rumah ini. Aku ini sudah besar, Bu!"
"Kalau kau memang sudah besar, pergi ke dapur dan selesaikan
pekerjaan kau."
"Bu, apa mau ibu yang sebenarnya. Apa ibu mau bertindak
sendiri di rumah ini? Baiklah kalau begitu, mulai hari ini ibu urus saja
sendiri rumah ini. Aku serahkan adik-adik pada ibu seutuhnya. Dan aku
akan urus pula urusanku sendiri".
"Lalu kau mau apa? Mau pergi hendak menurut ayah kau pula?
Silahkan pergi sana, cari bangkainya yang sudah lapuk menjadi tanah itu.
Kau kumpulkan tulang-tulangnya dan habis itu kau buat kuburannya di
tanah belian kau itu. Dan ratapi tiap pagi bapak kau itu. Dasar anak tak
tahu untung. Terima kasih padaku karena kau sudah ku besarkan hingga
seperti ini. Kalau tidak, entah sudah menjadi apalah kau sekarang".
Tak tahan aku mendengar sumpah-sumpah ibu yang semakin
menjadi-jadi. Tak biasanya ia menyumpahiku seperti itu. Dan mengapa ia
sembarangan menuduh kalau ayah sudah tak ada lagi. Apa yang sebenarnya
terjadi? Kenapa ibu dengan lantang dan gampang berkata-kata begitu? Apa
benar begitu adanya kalau ayah hilang begitu saja. Aku masih berusaha
mengait-ngaitkan semuanya dengan peristiwa setahun yang lalu. Saat ayah
memutuskan bercerai dengan ibu. Dan penyebabnnya itulah yang sampai
detik ini masih belum ku ketahui. Otakku seolah mengisyaratkan bahwa aku
dalam perjalanan menuju jawaban akan sebuah ketidakpastian.
Kukemasi barang-barang ku. Ku kemasi semua yang ada di lemari. Ku lihat
ibu datar-datar saja. Tak ada sedikit pun niatnya menghentikan ku. Sudah
cukup bulat hati ku meninggalkan rumah ini. Inilah saatnya setelah
sekian lama aku bertahan dalam kesabaran. Aku manusia. Jenuh
kepunyaanku. Aku jenuh. Bosan. Kurasa bukanlah dosa bila aku harus
berbuat seperti itu kepada ibu, tapi justru jika aku lebih lama lagi di
rumah ini, banyak hal yang tak diinginkan yang bakal terjadi.
Semalam-malamnya juga, aku harus berangkat. Aku juga tak mau nantinya
kepergian ku jadi buah bibir oleh orang sekampung.
***
"Kau tanamkan lagi ramuan ini tepat di pintu masuknya. Dan sekedar
mengingatkan, perbaharui ini sebulan sekali".
"Baiklah, jangan lupa sedikit lagi rencana kita akan sempurna
terlaksana."
"Oh, ya. Kau bisa pastikan tak ada bukti yang bisa membuat kita dituntut
nantinya atas kematian si Thahar?"
Suuur...! Lepas semua genggamanku. Tubuhku mematung. Mataku dorman.
Percakapan itu tak sengaja terdengar oleh ku. Darah seolah beku ketika
mendengar nama ayah dibawa-bawa dalam pembicaraan itu. Yang lebih
mengejutkan, mereka menyebut kematian atas ayah. Ada yang tidak beres
dengan kepergian ayah. Adakah ini ia, Datuk Bandaro, dalang di balik
semuanya. Dan mungkinkah ibu seperti itu karenanya. Tidak! Aku harus
balik ke rumah dan tak ada namanya pernikahan di rumah itu sekarang dan
selamanya. Aku muak pada lelaki yang meraja karena kelelakiannya. Atas
hak apa ia berkuasa atas keluargaku. Memutar balikkan otak ibuku. Aku
tak segera pindah dari tempat itu.
Kudengarkan lagi rapat-rapat pembicaraan mereka. Terlihat mereka seolah
tengah mengulang-ulang sesuatu yang sudah mereka perbuat, tampak dari
cara mereka berbicara sambil memain-mainkan tangan mereka. Semangat
sekali mereka.
"Yang aku herankan, sebegitu manjurnya ramuan yang Mamak ramu itu.
Sampai-sampai si Rosni tak mengubris sedikitpun ketika kukatakan padanya
kalau suaminya sudah tak ada lagi. Dia sedikit pun tak acuh dengan
berita itu."
"Tapi menurut orang kampung, setelah kejadian itu perempuan tua di
rumahnya itu berinai-rinai kecil dan kadang berteriak sekeras-kerasnya.
Apa ada yang bisa memastikan kalau si nenek tua itu tak menyaksikan
kejadian itu."
" Nah itu lah Mamak, denai juga tidak sadar kalau di sebelah dapurnya
ada kamar kecil. Nah dari situ perempuan tua itu melihat dengan mata
kepalanya apa yang tengah terjadi. Seketika ia langsung pingsan. Dan
untunglah kabarnya si nenek sekarang dalam keadaan tak waras. Kalau
tidak mampuslah hamba ini wahai Mamak Sidin."
"Ha....ha....ha...!" Sesaat terdengar sorakan dari mereka.
Aku tak tahan lagi, udara panas sudah mulai naik ke ubun-ubun. Tapi aku
harus meninggalkan tempat itu tanpa suara agar tak ketahuan. Aku kembali
pulang untuk esok dengan sebuah rencana besar. Aku akan berbuat dengan
keperempuananku layaknya lelaki berbuat dengan kelelakiannya.
***
Oase, 17 sept '08
http://ganto.web.id/index.php?option=com_content&task=view&id=283&Itemid
=34
The above message is for the intended recipient only and may contain
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination,
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank
you.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---