JK
Terlambat Membangun Citra dan Political Marketing
Kita baru
saja melaksanakan hajatan besar yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden.
Berdasarkan perhitungan cepat (quick count) beberapa lembaga survey menempatkan
SBY-Budiono sebagai pemenang. Perolehan suara SBY-Boediono di atas 50%. Walau
hasil ini belum bisa dijadikan patokan
tetapi biasanya hasil quick count tidak akan berbeda jauh dengan hasil
perhitungan KPU seperti pada pemilu legislatif bulan April lalu.
Perolehan
suara SBY-Boediono tidaklah mengejutkan. Banyak pihak telah memprediksi
kemenangannya. Siapapun calon yang akan
disuntingnnya banyak pihak yakin SBY tetap akan menang. Selain didukung oleh 21
partai politik, citra SBY dinilai dominan menentukan sikap pemilih. Ia berhasil
menciptkan konstituen yang loyal berkat kepiawaiannya mempraktekkan political
marketing.
Dalam political
marketing salah satu variabel yang penting untuk diperhatikan adalah produk
yang ditawarkan kandidat. Berbeda dengan produk dalam pemasaran bisnis, produk
dalam political marketing menurut Niffenegger
(1989) adalah pertama, platform candidate,
yaitu berisi konsep, identitas
ideologi dan program kerja kandidat. Kedua,
past record, biasanya memuat apa saja yang telah dilakukan oleh kandidat
dimasa lalu. Kinerja kandidat dimasa lalu sangat menentukan keberhasilan
kandidat
menjual produknya kepada masyarakat. Ketiga, personal character, karakter
kandidat akan memberikan citra, simbol
dan kredibilitasnya.
Produk SBY
tampaknya lebih diminati oleh masyarakat Indonesia. SBY mampu menciptakan
positioning sebagai pribadi yang religius-nasionalis. Hal ini dapat kita lihat
dari pidato-pidato maupun iklan-iklannya di media. Hasil kerja SBY selama 5
tahun lalu walau
masih ada kekuarangan tetapi tidak terlalu mengecewakan. Begitupun karakternya,
ia memiliki citra yang sangat baik, citra ini mampu ia pertahankan.
Bagaimana dengan
Mega dan JK? Jika digabungkan perolehan suara pemilu legislatif antara PDIP dan
Gerindra jumlahnya sekitar 18-19%. Berdasarkan hasil quick count beberapa
lembaga survei perolehan suara Mega pada pilpres kali ini mencapai lebih dari
26%. Itu artinya pendukung Mega meningkat. Dari mana peningkatan suara ini?
Seharusnya JK memperoleh suara tidak kurang dari 19%-20% yang berasal dari
pengabungan suara Golkar dan Hanura pada pileg bulan April 2009. Tetapi
kenyataanya (lagi-lagi berdasrkan hasil quick count) hanya berkisar 12%-13%
saja. Kenapa suara partai Golkar dan partai Hanura tidak semua pergi ke JK? Dan
kemana hilangnya suara ini? Bisa jadi suara mereka berpindah ke Mega.
Keberhasilan SBY
memenangkan pilpres mungkin bukan sebuah kejutan.Yang mengejutkan adalah
rendahnya perolehan JK dibanding Mega. Secara hitung-hitungan seharusnya suara
JK lebih besar dari Mega. Apalagi ditingrai ada pendukung SBY yang mengalihkan
dukungan kepada JK.
Citra kandidat
ternyata sangat menentukan pilihan rakyat. JK terlambat membangun citranya.
Jika ingin
memenangkan sebuah kompetisi apakah itu pileg, pilpres atau pilkada seorang
kandidat seharusnya sudah membangun citranya jauh sebelum kompetisi itu dimulai.
Kepastian JK mengajukan diri menjadi presiden paling lambat dibandingkan SBY
dan Mega.
Jabatan sebagai
wakil preiden 5 tahun kemaren belum sempurna mengangkat citra JK. Termasuk
iklan-iklannya yang selama ini cukup edukatif dan juga debat-debat yang
menunjukkan JK seorang yang cerdas belum bisa secepat kilat mengubah pilihan
konstituen Indonesia.
Jika JK
mengibarkan bendrera capres dan mempraktekkan political marketing jauh sebelum
pileg mungkin hasil pemilu kali ini akan berbeda. Karena secara kualitas JK
tidak kalah dengan SBY. Hanya saja ketokohan dan citra JK belum menyebar ke
seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Hasil pilpres ini
setidaknya bisa menjadi ”spion” bagi mereka yang ingin berkompetisi
memperebutkan
kursi gubernur Sumbar yang tidak lama lagi juga akan digelar. Jika ingin serius
menjadi kandidat cagub ada baiknya dari sekarang mempersiapkan diri, financial,
membangun citra, mempersiapkan visi, misi, program kerja serta relationship
yang baik dengan konstituen, tokoh masyarakat, ormas, media cetak dan
elektronik.
Selamat kepada
SBY, semoga janji-janji semasa kampanye dapat direalisasikan. Kepada yang
kalah, bukan berarti mereka tidak baik. Semoga yang kalah dan yang menang dapat
membangun Indoesia ke depan menjadi lebih baik, bermartabat dan mensejahterakan
rakyat.
Dr. Yesi
Elsandra., SE, MSi
Dosen Tetap STIE
Dharma Andalas Padang
=================================
"Bersihkan hati, sucikan jiwa, raih kemenangan"
Yesi Elsandra
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---