Assalamu'alaikum Wr. Wb
Salasaino Pilpres tanggal 8 Juli kapatang sangat menarik untuk mencermati apo 
nan akan tajadi di internal Partai Golkar, partai nan mungkin paling banyak 
faksi2 dan dinamika internalnya.
Berikut adalah catatan dan pengamatan nan ambo buek mulai dari persiapan pemilu 
legislatif sampai hari pilpres kapatang:

Menjelang pemilu legislatif nampak ado  kekuatan di Golkar yang saling 
bertentangan yaitu yang ingin Golkar punya calon sendiri untuk Capres, kelompok 
yang ingin Golkar bekerjasama dengan PDIP dan kelompok yang ingin kerja sama JK 
dan SBY dilanjutkan untuk periode berikutnya, bagi pengamat yang amatiran pun 
ini terlihat cukup jelas dengan gerakan yang di lakukan oleh individu2 yang ada 
di Golkar.
Tetapi dengan hasil pemilu legislatif yang hasilnya betul2 diluar dugaan 
petinggi2 Golkar, hampir diseluruh propinsi2 suara Golkar turun sangat 
significant membuat konstelasi pencalonan presiden agak berobah dengan 
menguatnya kelompok yang ingin meneruskan kerjasama JK dan SBY.
Tapi SBY dengan meningkatnya hasil Demokrat yang sangat luar biasa hampir 300% 
dan pengalaman yang kurang sreg dengan koalisi yang lama yaitu partner koalisi 
di pemerintahan tapi di parlemen se akan2 jadi oposisi, ingin membentuk koalisi 
yang lebih mengikat dengan mengajukan beberapa persyaratan. Persyaratan2 yang 
diajukan SBY dan Demokrat inilah yang membuat Golkar tersinggung dan agak 
panik. 
Dalam situasi ini kelompok yang ingin Golkar merapat ke PDIP langsung mengambil 
posisi dengan melakukan pendekatan dengan PDIP dengan kesepakatan melakukan 
koalisi besar Golkar, PDIP, Hanura, Gerindra dan dengan harapan partai2 lain 
seperti PPP, PAN mau ikut bergabung. Tetapi dalam situasi yang sangat dinamis 
dan perubahan yang begitu cepat, partai2 lain yang diharapkan bergabung dalam 
koalisi ini malah memilh untuk merapat ke kubu SBY dengan hitungan2 lebih baik 
berkoalisi dengan kelompok yang lebih punya harapan atau istilahnya "joint the 
winning team"
Koalisi Golkar dan PDIP pun secara real juga punya perhitungan kalau hanya ada 
dua calon akan sangat berat untuk mengalahkan SBY maka mereka memecah koalisi 
dengan mengajukan dua calon yaitu Mega-Prabowo dan JK- Wiranto dengan harapan 
bisa memecah suara dan suara SBY tidak bisa mencapai lebih dari 50% dan adanya 
putaran kedua koalisi lebih punya waktu untuk mengadakan konsolidasi.

Sementara kelompok dalam Golkar yang ingin tetap Golkar bekerja sama dengan SBY 
dengan di support oleh pengurus2 DPD tingkat 2 juga tidak tinggal diam, 
berdasarkan perhitungan mereka dengan realita yang ada kalau memang terjadi 
pilpres dua putaran yang akan maju itu SBY- Budiono dengan Mega-Prabowo. Dengan 
perhitungan ini mereka menjelang putaran dua akan berusaha untuk mengadakan 
munaslub untuk pergantian pengurus di Golkar dan mereka akan merapat ke kubu 
SBY.

Pak Jusuf Kala sendiri sangat menyadari situasi ini, tapi beliau dalam posisi 
yang sudah tidak ada pilihan atau "maju kena mundur kena". yang penting Golkar 
kelihatan kompak menjelang pilpres tahap pertama ini.

Perhitungan kedua kelompok tadi ternyata juga meleset dengan hasil pilpres 
tanggal 8 kemaren yang berdasarkan semua lembaga Quick Count SBY-Budiono 
melebihin 50% yang akibatnya pilpres cukup satu putaran dan malah yang lebih 
nyata lagi  JK dan Wiranto sendiri juga kalah di TPS tempat mereka memilih 
sesuatu yang sangat jarang terjadi dalam pemilihan langsung.

Dengan hasil suara untuk pasangan JK-Wiranto yang hanya sekitar 10% yang 
notabene malah cuma 1/3 dari suara Mega-Prabowo betul2 diluar dugaan. Sebagai 
pembanding dari perolehan Partai Golkar dan Hanura dalam pemilu legislatif 
harusnya suara tadi minimum 20%, berarti banyak pemilih Golkar dan Hanura yang 
mengalihkan suara mereka ke calon yang lain.

Hasil yang mengecewakan inilah yang kelihatannya akan mempercepat gerakan yang 
menginginkan terjadinya perobahan ditubuh Golkar, perobahan di Dewan Pembina 
dan di DPP. Kalau gerakan ini berhasil bukan tidak mungkin pengurus baru Golkar 
akan merapat kembali ke kubu SBY dengan mendapat beberapa kursi di kabinet 
tetapi sebagai imbalannya di parlemen Golkar juga akan berkoalisi dengan kubu 
Demokrat dkk.

Mari samo2 awak tunggu perkembangan nan akan terjadi di internal Golkar ko nan 
manuruik ambo sangat menarik untuk dicermati. Sekali lagi iko hanya catatan dan 
analisa ambo secara pribadi nan singajo baru kini ambo berani manyampaikan dek 
alek alah salasai.


Wassalam
Tan Ameh (50 + 8 bln)

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke