"BUAH MANIS DARI POHON DEMOKRASI" Oleh : Jepe
Pemilu Pemihan Presiden (Pilpres) kali ini terasa sangat istimewa jika dibandingkan dengan proses-proses pilpres tahun-tahun sebelumnya, jika kita coba urut kebelakang lagi ketika Gus Dur terpilih menjadi Presiden kita itu dipilih oleh suara-suara kita yang diwakil kepada wakil rakyat di parlemen tentunya saat pemilihan tersebut penuh "permainan politik tingkat tinggi dan berbagai kepentingan " dengan segala manuver-manuver dan intrik yang terjadi terutama saat proses pemilihan itu dilaksanakan. Jika kita coba lagi tarik mundur jauh kebelakang di era orde baru pemilihan presiden malah lebih sederhana lagi, ibaratnya hanya ditentukan dari sebuah ketukan palu maka terpilihlah (mungkin lebih tepat diangkatlah) Pak Harto jadi Presdien kita. Pilpres yang telah berlansung pada tanggal 8 Juli siapapun yang terpilih boleh dikatakan adalah wujud kemenangan seluruh rakyat Indonesia dalam sebuah pesta demokrasi yang berlansung secara umum, bebas, rahasia, tertib, aman dan lancar terlepas terjadinya kekurangan disana sini tapi secara umum dalam pesta demokrasi ini sangat terlihat jelas bahwa kedaulatan tersebut berada ditangan rakyat. Pesta Demokrasi yang diselenggarakan bangsa ini dengan biaya cukup besar sekitar Rp 4 Triliun, mahalkah ? Menurut saya menjadi tidak mahal ketika pesta demokrasi ini kedaulatan penuh berada ditangan rakyat serta hak-hak politik masyarakat dihargai oleh negara bahkan yang tidak ikut memilih sekalipun (Golput). Masyarakat bebas menentukan pilihannya tanpa tekanan dari siapapun, masyarakat yang mempunyai hak "satu suara" tidak disatukan suaranya secara kelompok atau golongan dengan intimidasi atau dengan cara-cara menghalalkan segala cara, masyarakat tidak diliputi rasa takut dan suasana mencekam baik dimasa kampanye, saat pemilu berlansung maupun paska pilpres.. Kita juga bisa berhitung jika diasumsikan taroklah 170 juta orang penduduk Indonesia yang menggunakan hak pilihnya maka biaya tersebut hanya dibebankan sekitar Rp 23.500/pemilih. Coba bayangkan jika pemilihan para pemimpin kita apakah Presiden, Gubernur, Bupati dan Walikota (pernah) dilakukan dengan menitipkan satu suara kita kepada wakil rakyat yang duduk di parlemen, biayanya mungkin dalam angka milyaran rupiah saja tapi proses pemilihan tersebut jauh dari arti hakiki sebuah demokrasi.Penuh permainan politik, gonjang ganjing bagi-bagi kekuasaan dan kepentingan, intrik bahkan politik uang. Kita sebagai rakyat sudah terbiasa menyaksikan para wakil-wakil rakyat kita ini memilih pemimpin di parlemen sebagai penonton diluar gedung tempat berlansungnya pemilihan "pesta pora" mereka demi kepentingan pribadi semata ini bisa dibuktikan adanya "terminalogi" mulai dari serangan fajar, gerakan silaman, gerilya dibawah tanah malah sebelum hari H pemilihan para wakil rakyat kita terpaksa dikumpulkan dan dikarantina disebuah disebuah hotel sehingga mereka para wakil rakyat ini tidak bisa berhubungan lansung baik secara fisik maupun melalui komunikasi dengan telpon. Indikasi ini jelas terlihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam pemilihan pemimpin tersebut dan tentunya demokrasi yang berlansung tidak sehat lagi, demokrasi yang sakit. Menjadi mahal biayanya dengan segala konsekwensi akibat demokrasi yang sakit ini mulai dari pembodohan politik masyarakat, kerusuhan akibat ketidak puasan pihak-pihak tertentu yang menjurus kepada tindakan anarkis dan pertumpahan darah dan parahnya ini akibat segelintir ulah wakil-wakil rakyat yang duduk diparlemen dan menjalankan demokrasi yang sakit.. Pilpres tahun ini bolehlah dikatakan sebuah hasil dari reformasi yang positif menuju tatanan kehidupan bangsa yang demokratis dan menghargai hak-hak politik, aspirasi dan kebebasan rakyatnya berbicara. Dilapisan masyarakat banyak yang saya amati mereka semua menerima apapun hasil dari Pilpres sesungguhnya rakyat banyak dengan kedaulatannya yang penuh telah mengakui kemengangan SBY dan Boediono menjadi Presiden dan Wakil Presiden untuk memimpin negara ini lima tahun kedepan. Jika memang ada yang kurang puas itu hanya terjadi ditingkat elit partai dan orang-orang yang punya kepentingan "siapa dapat apa", saya jadi ingat sebuah kalimat singkat dari teman saya yang berkata "itu politik Jepe" dan saya dapat memaklumi hal ini mudah-mudahan mereka yang diatas sana kalaulah "itu politik" hanya sebatas tawar menawar dengan yang menang terutama dalam bagi-bagi kekuasaan (power sharing) dilevel menteri serta jabatan startegis lainnya dimana presiden terpilih mempunyai hak perogratif, itu syah-syah saja tentunya tapi yang lebih penting adalah mereka harus lebih arif lagi melihat suara masyarakat banyak dan itu adalah kedaulatan ditangan rakyat yang telah menerima hasil pilpres ini dengan tenang, damai, aman dan tanpa adanya gejolak -gejolak ditingkat bawah yang berujung pada situasi kerusuhan dan kekacauan. Sebagai masyarakat kebanyakan bolehlah saya berbangga diri dan berani-beraninya mengklaim bahwa Pilpres tanggal 8 Juli di Negara kita ini "lebih Amerika dari Amerika sendiri" ungkapan saya tersebut tentu diartikan bahwa sebagai bangsa yang besar dan berdaulat kita harus bangga telah melakukan proses demokrasi dimana kedaulatan berada ditangan rakyat dan mata dunia internasional melihat itu semua. Kita sebagai bangsa bolehlah berbangga diri dari bangsa-bangsa lain yang menjalankan proses demokrasinya penuh kerusuhan bahkan pertumpahan darah sebut saja seperti Thailand, Pakistan dan Iran. Jika demokrasi ini adalah sebuah pohon, maka pemilihan Presiden yang tanggal 8 Juli berjalan lansung, bebas, umum , rahasia, tertib, aman dan lancar maka inilah buah manis yang kita rasakan dari sebuah demokrasi. Mari kita tunggu buah-buah manis selanjutnya dari elit dan pemimpin bangsa ini yaitu membuat seluruh masyarakat dan tumpah darahnya kearah hidup yang lebih sejahtera, adil dan makmur sesuai dengan cita-cita para pahlawan, founding father dan proklamasi kita. Rakyat telah menunjukan sebuah sikap-sikap berpolitik dan berdemokrasi yang santun dan beradab kepada pemimpinnya dan sangat memalukan rasanya segelintir orang masih saja memaksakan kehendak untuk kepentingan golongan yang berakibat cederanya demokrasi yang sehat dilakukan oleh rakyat. Pekanbaru, 15 Juli 2009 The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
