Assalammualaikum WR WB jepe. Uni sadang manggoreng baluk jo udang. Tapi tdang
alah baladoi. Kakak uni sakik di JKT , uni kirim si dilla nan alun mulai
kuliah. Udang balado jo baluk bagoreng ka dibaok dilla rencana. Oh ya nan lalu
bialah balalu, baa no kito pikiakan untuak nan ka tibo ? SBY ndak buliah
satoli. Rasono JK alah batambah gaek pulo. Iko jamanno kompetisi urang mudo
manti mah. Sia nan nampak di jepe? Baa no awak usuamg jefri geofani nan ganteng
dun ? Eh eh anguh baluk uni. Salam. Hanifah
Jupardi wrote:
> “BUAH
> MANIS DARI POHON DEMOKRASI”
> Oleh :
> Jepe
>
>
> Pemilu Pemihan Presiden
> (Pilpres) kali ini terasa sangat istimewa jika dibandingkan dengan
> proses-proses pilpres tahun-tahun sebelumnya, jika kita coba urut kebelakang
> lagi ketika Gus Dur terpilih menjadi Presiden kita itu dipilih oleh
> suara-suara
> kita yang diwakil kepada wakil rakyat di parlemen tentunya saat pemilihan
> tersebut penuh “permainan politik tingkat tinggi dan berbagai kepentingan
> ” dengan segala manuver-manuver dan intrik yang terjadi terutama saat
> proses pemilihan itu dilaksanakan. Jika kita coba lagi tarik mundur jauh
> kebelakang di era orde baru pemilihan presiden malah lebih sederhana lagi,
> ibaratnya hanya ditentukan dari sebuah ketukan palu maka terpilihlah (mungkin
> lebih tepat diangkatlah) Pak Harto jadi Presdien kita.
>
> Pilpres yang telah
> berlansung pada tanggal 8 Juli siapapun yang terpilih boleh dikatakan adalah
> wujud kemenangan seluruh rakyat Indonesia dalam sebuah pesta demokrasi yang
> berlansung secara umum, bebas, rahasia, tertib, aman dan lancar terlepas
> terjadinya kekurangan disana sini tapi secara umum dalam pesta demokrasi ini
> sangat terlihat jelas bahwa kedaulatan tersebut berada ditangan rakyat. Pesta
> Demokrasi yang diselenggarakan bangsa ini dengan biaya cukup besar sekitar
> Rp 4
> Triliun, mahalkah ? Menurut saya menjadi tidak mahal ketika pesta demokrasi
> ini
> kedaulatan penuh berada ditangan rakyat serta hak-hak politik masyarakat
> dihargai
> oleh negara bahkan yang tidak ikut memilih sekalipun (Golput). Masyarakat
> bebas
> menentukan pilihannya tanpa tekanan dari siapapun, masyarakat yang mempunyai
> hak “satu suara” tidak disatukan suaranya secara kelompok atau
> golongan dengan intimidasi atau dengan cara-cara menghalalkan segala cara,
> masyarakat tidak diliputi rasa takut dan suasana mencekam baik dimasa
> kampanye,
> saat pemilu berlansung maupun paska pilpres.. Kita juga bisa berhitung jika
> diasumsikan taroklah 170 juta orang penduduk
> Indonesia yang menggunakan hak
> pilihnya maka biaya tersebut hanya dibebankan sekitar Rp 23.500/pemilih.
>
> Coba bayangkan jika
> pemilihan para pemimpin kita apakah Presiden, Gubernur, Bupati dan Walikota
> (pernah) dilakukan dengan menitipkan satu suara kita kepada wakil rakyat yang
> duduk di parlemen, biayanya mungkin dalam angka milyaran rupiah saja tapi
> proses pemilihan tersebut jauh dari arti hakiki sebuah demokrasi.Penuh
> permainan politik, gonjang ganjing bagi-bagi kekuasaan dan kepentingan, intrik
> bahkan politik uang. Kita sebagai rakyat sudah terbiasa menyaksikan para
> wakil-wakil rakyat kita ini memilih pemimpin di parlemen sebagai penonton
> diluar gedung tempat berlansungnya pemilihan “pesta pora” mereka demi
> kepentingan pribadi semata ini bisa dibuktikan adanya “terminalogi”
> mulai dari serangan fajar, gerakan silaman, gerilya dibawah tanah malah
> sebelum hari H pemilihan para wakil rakyat kita terpaksa dikumpulkan dan
> dikarantina disebuah disebuah hotel sehingga mereka para wakil rakyat ini
> tidak
> bisa berhubungan lansung baik secara fisik maupun melalui komunikasi dengan
> telpon. Indikasi ini jelas terlihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam
> pemilihan pemimpin tersebut dan tentunya demokrasi yang berlansung tidak sehat
> lagi, demokrasi yang sakit. Menjadi mahal biayanya dengan segala konsekwensi
> akibat demokrasi yang sakit ini mulai dari pembodohan politik masyarakat,
> kerusuhan akibat ketidak puasan pihak-pihak tertentu yang menjurus kepada
> tindakan anarkis dan pertumpahan darah dan parahnya ini akibat segelintir ulah
> wakil-wakil rakyat yang duduk diparlemen dan menjalankan demokrasi yang
> sakit..
>
> Pilpres tahun ini
> bolehlah dikatakan sebuah hasil dari reformasi yang positif menuju tatanan
> kehidupan bangsa yang demokratis dan menghargai hak-hak politik, aspirasi dan
> kebebasan rakyatnya berbicara. Dilapisan masyarakat banyak yang saya amati
> mereka semua menerima apapun hasil dari Pilpres sesungguhnya rakyat banyak
> dengan kedaulatannya yang penuh telah mengakui kemengangan SBY dan Boediono
> menjadi Presiden dan Wakil Presiden untuk memimpin negara ini
> lima tahun kedepan. Jika
> memang ada yang kurang puas itu hanya terjadi ditingkat elit partai dan
> orang-orang yang punya kepentingan “siapa dapat apa”, saya jadi
> ingat sebuah kalimat singkat dari teman saya yang berkata “itu politik
> Jepe” dan saya dapat memaklumi hal ini mudah-mudahan mereka yang diatas
> sana kalaulah “itu politik” hanya sebatas tawar menawar dengan
> yang menang terutama dalam bagi-bagi kekuasaan (power sharing) dilevel menteri
> serta jabatan startegis lainnya dimana presiden terpilih mempunyai hak
> perogratif, itu syah-syah saja tentunya tapi yang lebih penting adalah mereka
> harus lebih arif lagi melihat suara masyarakat banyak dan itu adalah
> kedaulatan
> ditangan rakyat yang telah menerima hasil pilpres ini dengan tenang, damai,
> aman dan tanpa adanya gejolak –gejolak ditingkat bawah yang berujung pada
> situasi kerusuhan dan kekacauan.
>
> Sebagai masyarakat
> kebanyakan bolehlah saya berbangga diri dan berani-beraninya mengklaim bahwa
> Pilpres tanggal 8 Juli di Negara kita ini “lebih Amerika dari Amerika
> sendiri” ungkapan saya tersebut tentu diartikan bahwa sebagai bangsa
> yang besar dan berdaulat kita harus bangga telah melakukan proses demokrasi
> dimana kedaulatan berada ditangan rakyat dan mata dunia internasional melihat
> itu semua. Kita sebagai bangsa bolehlah berbangga diri dari bangsa-bangsa lain
> yang menjalankan proses demokrasinya penuh kerusuhan bahkan pertumpahan darah
> sebut saja seperti Thailand ,
> Pakistan dan
> Iran .
>
> Jika demokrasi ini adalah
> sebuah pohon, maka pemilihan Presiden yang tanggal 8 Juli berjalan lansung,
> bebas, umum , rahasia, tertib, aman dan lancar maka inilah buah manis yang
> kita
> rasakan dari sebuah demokrasi. Mari kita tunggu buah-buah manis selanjutnya
> dari elit dan pemimpin bangsa ini yaitu membuat seluruh masyarakat dan tumpah
> darahnya kearah hidup yang lebih sejahtera, adil dan makmur sesuai dengan
> cita-cita para pahlawan, founding father dan proklamasi kita. Rakyat telah
> menunjukan sebuah sikap-sikap berpolitik dan berdemokrasi yang santun dan
> beradab
> kepada pemimpinnya dan sangat memalukan rasanya segelintir orang masih saja
> memaksakan
> kehendak untuk kepentingan golongan yang berakibat cederanya demokrasi yang
> sehat dilakukan oleh rakyat.
>
> Pekanbaru,
> 15 Juli 2009
>
>
>
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---