http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa
Selasa, 14/07/2009 08:14 WIB


 
Saat
ini kita boleh bersyukur karena banyak wanita Indonesia yang
berpendidikan tinggi dan bekerja di wilayah publik. Ada yang menjadi
mentri, pimpinan tertinggi BUMN, sutradara, penulis, dokter, dosen,
hakim, bahkan ada yang pernah menjadi presiden. Kita berharap suatu
saat Indonesia memiliki wanita-wanita yang kuat, wanita-wanita terdidik
dengan ilmu pengetahuan, wanita-wanita sholehah. Istri yang meneguhkan
suaminya untuk giat dan jujur bekerja serta ibu yang melahirkan
anak-anak yang sehat dan sholeh.

Dibalik kemajuan wanita-wanita Indonsia hari ini ada satu yang
hilang dari diri wanita Indonesia, yaitu rendahnya kesadaran memberikan
ASI (Air Susu Ibu) seperti yang disampaikan Menteri Negara Pemberdayaan
Perempuan (Menneg PP) Meutia Hatta Swasono (http://www.menegpp.go.id) .
Hanya 14% ibu di Tanah Air yang memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif
kepada bayinya sampai enam bulan (http://www.indonesia.go.id).

Mengapa saya menulis masalah ASI karena orang tua yang memiliki bayi
saat ini adalah usia produktif alias pemuda. Mereka yang berusia 40
tahun ke atas saaat ini sudah jarang sekali memiliki bayi. Banyak juga
mahasiswa baik itu S1 dan pascasarjana yang kuliah sambil punya bayi.

Saya telah melakukan survey kecil-kecilan. Sebagian besar
teman-teman kuliah di pascasarjana atau teman-teman yang bekerja tidak
memberi ASI ekslusif kepada bayinya. Dan kenyataan pahitpun didapat,
anak-anak yang tidak medapatkan ASI ekslusif itu daya tahan tubuhnya
lemah dan sering terkena penyakit.
Menurut Ibu Meutia Hatta diantara penyebabnya adalah faktor sosial
budaya, kurangnya pengetahuan akan pentingnya ASI, serta jajaran
kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung. Kurangnya dukungan
institusi, dikatakan Meutia, mempunyai kontribusi cukup besar terhadap
rendahnya para ibu memberikan ASI kepada bayinya. Kurangnnya kesadaran
dan kesempatan memberi ASI menurut saya merupakan factor utama
rendahnya para Ibu memberi ASI kepada bayinya. Apalagi bagi ibu-ibu
yang bekerja. Masa cuti yang hanya 3 bulan tentu tidak cukup memberi
ASI ekslusif di rumah.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua
orang ibu-bapanya;  ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah 
kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu”. (QS. Luqman, 31:14)

Tak ada yang dapat membantah tantang kehebatan ASI. Allah SWT
menciptakan ASI untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan melindunginya
dalam melawan kemungkinan serangan penyakit. Keseimbangan zat-zat gizi
dalam air susu ibu berada pada tingkat terbaik dan air susunya memiliki
bentuk paling baik bagi tubuh bayi, ASI juga sangat kaya akan sari-sari
makanan yang mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan
sistem saraf. Susu formula semahal apapun dan secanggih apapun
pabriknya tidak mampu menandingi keunggulan dan kehebatan makanan ajaib
ini.

Kita sebagai pemuda apalagi mereka yang diberikan kesempatan oleh
Allah SWT berpendidikan tinggi tentu dapat memikirkan bahwa ASI Allah
ciptakan bukan secara kebetulan. Allah telah menciptakan sedemikina
rupa agar generasi kita menjadi kuat dan cerdas. Setinggi apapun
pendidikan kita, sehebat apapaun jabatan kita, sebesar apapaun gaji
kita, kita memiliki kewajiban mendidik, mengasuh dan melindungi
anak-anak kita.
Jika masa cuti sudah habis, kita tetap dapat memberikan ASI ekslusif
dengan cara memerah ASI kemudian berikan kepada bayi saat kita tak
berada di sisinya. Ada sebuah metode bernama “Marmet’ yang dapat
memerah ASI dalam jumlah yang banyak hanya mengunakan tangan. Jangan
jadikan kuliah dan pekerjaan sebagai alasan kita tak memberikan hak
bayi. Jangan pula merasa ASI kita kurang lantas kita beralih memberi
bayi susu formula. Karena rumus ASI itu adalah seperti mata air,
semakin disedot maka semakin banyak keluarnya. Jika tidak disedot maka
akan berkurang kuantitasnya.

Saya yakin kita sepakat untuk melahirkan generasi rabbani, generasi
kuat dan cerdas, generasi yang akan meneruskan risalah para nabi. ASI
sudah terbukti membuat anak-anak cerdas dan kuat. Tegakah kita
membekali anak-anak dengan daya tahan tubuh yang rendah? Kita ingin
melihat anak-anak kita hari ini adalah pemimpin masa depan. Salah satu
karakter pemimpin adalah tangguh, kuat, cerdas dan sholeh.
Persiapkanlah pemimpin itu sejak sekarang bagaimanapun sibuknya kita…
Yesi Elsandara;
Alumnus program doktor universitas Padjadjaran Bandung. Lahir
12-12-1974. Pekerjaan Ibu rumah tangga, dosen, konsultan bisnis dan manajemen, 
penggiat ASI. Aktivitas lain, ketua Kelompok Kajian Sayang
Ibu dan Buah Hati di Bandung. Menyelesaikan program doktor tanpa lupa
memberi ASI kepada kedua batitanya. Alhamdulillah anak-anak tumbuh
sehat dan cerdas, jarang sekali sakit. Anak yang ke dua (21 bulan)
belum pernah ke dokter. 
 
==================
"Bersihkan hati, sucikan jiwa, raih kemenangan"


Yesi Elsandra. 34 th


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke