Dear All, Maaf jika double posting. Tulisan ini sekedar oleh-oleh dari Singkarak minggu lalu sekaligus pengingat, tak cukup seorang Sarfini saja untuk mengelola danau Singkarak dengan segala persoalannya.
salam, A'al Menjaring Cahaya di Singkarak Satu bintang masih bersinar subuh itu di Singkarak. Cahayanya bias karena kilauan air danau yang mulai tersentuh cahaya lembut matahari terbit. Sementara senyap mulai ditingkah oleh suara azan yang menyerukan untuk datang ke rumah ibadah kaum muslimin. Di kejauahan, lampu-lampu masih menyala menyisakan redup sinar rembulan yang tidak penuh malam tadi. Satu per satu nelayan mulai mendayung biduknya ketengah danau. Menebarkan jala dan berharap mendapat hasil yang memuaskan hari ini. Suasana tenang danau terbesar kedua di Sumatera itu perlahan merambat dan mengalirkan detak kehidupan. Sarfini, 47 tahun, telah siap dengan jala lemparnya di pinggiran danau. Ia tak turut ketengah danau karena ia hanya nelayan tepi. Jala telah dilempar, perlahan ia menarik jalanya dan mulai menghitung hasilnya. Serombongan ikan bilih (Mystacoleuseus Padangensis) terperangkap di dalam jalanya. “Bilih bisa dijual Rp.10 ribu sampai Rp.15 ribu per kilo” ucapnya (14/7). Bilih merupakan jenis ikan endemik yang hanya hidup di danau Singkarak. Ukurannya sedikit lebih besar dari ikan teri hanya saja memiliki bentuk badan yang pipih dan lonjong. Menurut Sarfini, nelayan tepi di Singkarak menangkap bilih selain untuk dikonsumsi sendiri juga untuk dijual. Pedagang pengumpul akan datang menjelang siang atau sore hari, lalu mereka membawa bilih hasil tangkapan nelayan ke pasar Ombilin atau tempat penyalaian (pengasapan). “Namun sekarang hasil tangkapan nelayan sudah mulai berkurang. Sepuluh sampai tujuh tahun lalu, nelayan tepi masih bisa menjaring 8 hingga 14 kilogram bilih setiap hari. Sekarang mencapai lima kilogram saja sudah sulit” paparnya. Sumber di Wikipedia menyebutkan, populasi bilih di Singkarak sudah mulai menyusut saat ini. Kondisi ini dipicu akibat endemiknya spesies ini dan kurangnya perhatian dari masyarakat dan pemerintah. Dikhawatirkan dalam sepuluh tahun kedepan, bilih akan punah. Menurut Sarfini, kondisi ini merupakan akibat bertambahnya jumlah populasi penduduk yang memberikan tekanan besar atas ekosistim danau. Selain itu, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan juga memberikan andil besar. “Walau hasilnya kurang memuaskan, tapi kami tidak mau menggunakan jaring dengan mata jaring sangat kecil, strum (aliran listrik), tuba (racun) dan bahkan bahan peledak” tandasnya. Wajah setengah baya Sarfini mengingatkan, di Jorong Suduik Nagari Sumpur di Kecamatan Batipuh Selatan Kabupaten Tanah Datar dimana ia tinggal sudah ada kesepakatan bersama untuk tidak menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan itu. Sinar matahari belum penuh menerpa danau seluas 107,8 hektare itu. Namun biasnya telah tampak benderang di permukaan danau. Di satu sudut danau, Sarfini terus saja asyik dengan jalanya dan berharap agar kesepakatan bersama itu benar-benar dapat dijalankan. Detil dengan foto di: http://syafrizaldi.multiply.com/photos/album/47/Menjaring_Cahaya_di_Singkarak --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
