Dalam rangka hari anak nasional, mudah-mudahan tulisan yang sudah lama ini 
masih relevan.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/investasi.htm
Kamis, 09/08/2007 08:11 WIB

Investasi

Yesi Elsandra

Beberapa waktu lalu saya mengisi acara share and care di radio MQ FM
Bandung. Tema yang saya bawakan sebenarnya sederhana, yaitu “Anak Kita
Investasi Kita”. Kenapa saya tertarik dengan tema ini? Pertama karena
anak adalah masa depan. Saya ingin anak-anak kita tidak saja kita
hantarkan menuju gerbang cita-citanya, tapi jauh dari itu, saya
berharap kita memiliki anak yang mampu merubah wajah dan berkontribusi
sebagai pengambil kebijakan dunia kearah yang lebih baik. Kedua,
Sebagai seorang yang belajar ilmu ekonomi, saya menganggap anak sebagai
investasi. Investasi yang baik adalah investasi yang membawa keuntungan
dan keberkahan. Saya berharap anak kami bisa membawa
keuntungan/keberkahan tidak saja di dunia tapi juga di akhirat.

Pertanyaan-pertanyaan dan SMS yang masuk dari pendengar umumnya
berharap serupa, pendengar ingin anak-anak mereka membawa keuntungan di
dunia dan akhirat. Ini adalah fitrah, setiap orang tua ingin anak-
anaknya menjadi anak yang pintar, cerdas, sehat dan sholeh. Yang
menjadi pertanyaan sejauh mana kita memfasilitasi anak-anak sehingga
mereka mampu menjadi anak-anak yang pintar, cerdas, sehat dan sholeh?

Anak-anak tidak bisa pintar, cerdas, sehat dan sholeh dengan
sendirinya. Ibu adalah madrasah pertama dan utama yang berkewajiban
mendistribusikan kepintaran, kecerdasan, kesehatan dan kesholehan
kepada anak-anak mereka. Masalahnya banyak ibu yang “terpaksa” bekerja
di luar rumah membantu ayah mencari nafkah. Atau tidak sedikit juga
para ibu karena alasan mengaplikasikan ilmu lebih mementingkan wilayah
publik ketimbang domestiknya sehingga perkara mendidik anak diserahkan
kepada pembantu. Sedangkan ayah berkwajiban menyediakan materi yang
layak guna mengapai itu semua. Karena tidak bisa dipungkiri, perlu
pengorbanan materi agar “investasi” kita menguntungkan baik di dunia
maupun diakhirat,

Di tengah kesibukan merampungkan disertasi, saya membuka kelompok
belajar dan bermain gratis di rumah untuk anak-anak tetangga yang tidak
mampu. Saya berharap kecerdasan mereka terstimulasi dengan
mainan-mainan edukatif dan buku-buku milik anak kami. Selain bermain,
anak-anak belajar iqro, dan mereka saya perbolehkan bertanya tentang PR
dari sekolah.

Satu hal yang membuat hati saya menangis adalah, ada beberapa anak yang
susah sekali menangkap pelajaran. Anak-anak yang sangat sulit menangkap
pelajaran ini ada yang orang tuanya hanya bekerja sebagai pembantu, ada
juga yang hanya sebagai buruh. Baru saja diajarkan huruf baru (baik
huruf hijaiyah maupun latin) beberapa detik kemudian mereka sudah lupa
lagi. Jika anak-anak yang baru masuk SD sekarang umumnya sudah pandai
membaca dan berhitung, (bahkan Aini 7 tahun sudah bisa menulis novel)
anak-anak kurang mampu ini belum tahu mana yang huruf a, b, c dst. Jika
anak-anak perkotaan sekarang sebelum masuk SD umumnya masuk TK terlebih
dahulu, tetapi tidak dengan anak-anak ini. Ketika saya tanyakan kenapa
mereka tidak masuk TK terlebih dahulu, mereka menjawab, “Mamah ga punya
uang"

Ketika pertama kali saya tanyakan, siapa Tuhan, Agama, Nabi dan Kitab
Suci kita, mereka menggelang karena tidak tahu. Padahal jika kita ingin
anak kita sholeh, maka pemahaman mereka terhadap agama perlu kita asah
dari kecil. Dan itu harus dilakukan terus menerus.

Batin saya berbisik, kasihan sekali anak-anak ini. Akankah mereka bisa
menjadi investasi yang menguntungkan bagi kedua orang tuanya, jika
mereka kurang difasilitasi dalam menuntut ilmu dan mengenal Tuhannya.
Kita tidak bisa berharap 100% dari lembaga formal milik pemerintah,
jiwa-jiwa mereka menunggu uluran tangan kita.

Saya jadi semakin ingin berbagi dan melayani. Jika anak kami belum
setahun sudah mengkonsumsi berbagai buku cerita dan ensiklopedi,
alangkah tidak adilnya jika anak-anak tetangga yang kebetulan belum
beruntung dibiarkan tumbuh dalam kegelapan cahaya ilmu.

Anak-anak dalam status sosial apapun berhak mendapatkan pendidikan yang
bergizi. Mereka berhak menjadi pintar dan cerdas. Kewajiban kita
memperkenalkan mereka kepada Allah SWT dan Islam. Mereka berhak
“Mambangkik batang tarandam”. Untuk itu saya pancangkan azzam untuk
rela menginfakkan sebagaian waktu dan materi untuk mereka. Karena
investasi saya tidak saja anak yang lahir dari rahim saya, mereka juga
adalah investasi saya. Karena amalan yang tidak pernah terputus
pahalanya adalah, doa anak yang sholeh, ilmu yang bermanfaat dan harta
yang diinfakkan di jalan fisabilillah. Semoga….

================

 "Bersihkan hati, sucikan jiwa, raih kemenangan"


Yesi Elsandra
Ibu 2 Anak yang masih ASI


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke