Layak diapreseasi rang rantau.. 
Ijp
Berani beda, berani benar! (www.indrapiliang.com)

-----Original Message-----
From: korandigital <[email protected]>

Date: Mon, 03 Aug 2009 10:23:39 
To: [email protected]<[email protected]>
Subject: [Koran-Digital] Petani Minang Kembali ke Alam




  Petani Minang Kembali ke Alam

Petani di Sumatera Barat meninggalkan pestisida dan pupuk kimia. 
Penggagasnya diganjar Kalpataru.

MASRIZAL, 60 tahun, petani Jorong Batang Laweh, Solok Selatan, Sumatera 
Barat, masih ingat jelas kejadian di awal 1980-an. Saat itu, ia biasa 
melihat ada pesawat kecil yang menyemprot sawahnya dengan endrin untuk 
membasmi hama tungro (virus yang ditularkan wereng hijau) yang memakan 
padi di kampungnya. Penyemprotan hama juga dilakukan para penyuluh 
lapangan.

Hama memang mati. Tapi belut dan ikan yang ada di dalam sawah pun jadi 
korban. Itik, kucing, dan ayam yang memakan ikan mati ikut putus napas 
pada sore harinya. Benar-benar mengejutkan. ”Sejak itu, saya mulai tidak 
suka dengan racun pestisida,” kata Masrizal pekan lalu. Ia memakai 
antihama organik yang ramah lingkungan. Dia kembali ke alam.

Masrizal tak sendiri. Di Sumatera Barat, petani ramai-ramai kembali ke 
alam. Gerakan ini berawal pada 20 tahun lalu atas prakarsa Ir Djoni, 
Kepala Dinas Pertanian Sumatera Barat, yang kala itu masih menjadi 
anggota staf Balai Perlindungan Tanaman Sumatera Barat.

Atas prakarsanya itulah Djoni meraih Kalpataru untuk kategori pembina 
lingkungan pada Juni lalu. Djoni dinilai konsisten melawan Program 
Bimbingan Masyarakat yang menerapkan pestisida sistem kalender ke petani 
di era Orde Baru.

Di era Orde Baru, petani memang diperintahkan memupuk dan menyemprotkan 
pestisida ke padi dan sayuran secara berkala melalui Program Bimbingan 
Masyarakat. Padi berumur delapan hari hingga menjelang panen harus terus 
dipupuk dan disemprot.

”Pupuk dan pestisida gampang didapat, tinggal ambil di koperasi unit 
desa, dibayar setelah panen,” kata Masrizal, anggota kelompok tani Saiyo 
Sakato, mengenang masa itu.

Hama memang musnah oleh pestisida, tapi sawah jadi mengeras dan lebih 
dangkal. Hasil panennya juga berkurang, meski bisa tiga kali panen 
setahun. Itu tak terjadi ketika ia mengolah lahan secara tradisional 
sebelum 1980-an. Tanam padi hanya setahun sekali. Setelah panen, tanah 
dibiarkan ditumbuhi rumput untuk makanan sapi dan kerbau, sehingga tanah 
dengan sendirinya subur kembali.

”Jika dibandingkan, hasil panennya sama saja antara panen satu kali 
setahun peninggalan nenek moyang dan tiga kali panen cara pemerintah,” 
kata Masrizal.

Era berganti, aturan pun berubah. Kini Dinas Pertanian malah mengimbau 
petani menerapkan pertanian organik dan tidak memakai pupuk kimia dan 
pestisida.

Djoni pun gencar mendekati para petani di delapan kelompok tani di 
Sicincin, Kabupaten Padang Pariaman, pada 1984. Di sana ia mengenalkan 
perihal ekosistem, apa saja yang ada di lahan pertanian, serangga yang 
merusak dan yang tidak merusak tanaman, serta hama padi.

”Kami mengamati ekosistem ini bersama petani dan belajar bersama 
bagaimana menjaga keseimbangan ekosistem. Ilmu ini dikembangkan terus ke 
petani lain, menjadi sebuah gerakan pertanian yang berwawasan 
lingkungan,” kata Djoni.

Kelompok petani yang dia bina kini meluas ke berbagai daerah di Sumatera 
Barat. ”Bila dibandingkan, 20 tahun lalu 100 persen petani menyemprotkan 
pestisida, sedangkan kini hampir tidak ada lagi petani yang 
menyemprotkan pestisida ke tanaman padinya,” kata Djoni.

Setelah menjadi Kepala Dinas Pertanian Sumatera Barat pada 2006, pria 
kelahiran Bukittinggi, 15 Agustus 1955, ini makin menggalakkan 
kampanyenya dengan gerakan padi tanam sebatang, nama lokal untuk metode 
System of Rice Intensification atau sistem intensifikasi beras.

Dalam sistem ini, budi daya tanaman padi dilakukan seintensif dan 
seefisien mungkin melalui pengelolaan tanah yang sehat, tanaman yang 
efisien, dan air yang hemat. Pupuk diganti dengan kompos jerami. Ribuan 
batang bibit tanaman untuk racun nabati pengganti pestisida dibagikan ke 
petani, seperti durian belanda dan surian.

Petani yang tidak membakar jerami di lahannya diberi intensif Rp 200 
ribu per hektare lahan setiap tahun. Petugas pertanian dilatih untuk 
mengajari petani membuat kompos dan pestisida alami. Petani yang sudah 
ahli juga dijadikan penyuluh untuk petani-petani lain. Kini 
ketergantungan petani pada pupuk kimia tinggal 50 persen.

Dulu tidak ada petani yang mau memakai pupuk kandang. Sekarang tidak ada 
orang yang menanam sayur tanpa pupuk kandang. ”Ini kan sudah perbedaan 
luar biasa. Tahun depan kami targetkan tinggal 40 persen ketergantungan 
pada pupuk kimia dan kalau bisa tidak menggunakannya sama sekali,” kata 
Djoni.

Gerakan padi tanam sebatang yang juga didukung Universitas Andalas itu 
terbukti mendongkrak produktivitas padi, dari sekitar 4,5 ton menjadi 
6,5 ton gabah kering giling per hektare. Pada 2008, produksi padi di 
negeri orang Minang itu mencapai 2 juta ton, naik dari 1,98 juta ton 
pada 2007 dan 1,88 juta ton pada 2006.

Djoni pernah mengusulkan pemerintah menghentikan subsidi pupuk serta 
subsidi bahan bakar minyak dan menggantinya dengan membelikan ternak 
untuk petani. ”Dari Rp 17 triliun subsidi pemerintah, itu bisa untuk 
membeli berjuta ekor kambing yang kotoran dan urinenya bisa dijadikan 
pengganti pupuk,” kata Djoni.

Setelah gerakan kembali ke alam itu berjalan, kini ekosistem di lahan 
pertanian di provinsi itu perlahan-lahan pulih. Petani juga mulai ada 
yang bertani secara organik. Luas pertanian organik di sana lebih dari 
286 hektare dan ditargetkan tahun depan mencapai 300 hektare.

”Ini yang bertani organik bukan pengusaha, tapi benar-benar petani, dan 
mereka menjual hasilnya ke pasar tradisional atau dimakan sendiri karena 
lebih sehat. Mereka tidak merasa rugi, karena ongkos produksi jauh 
berkurang, karena tidak membeli pupuk kimia dan pestisida,” kata Djoni.

Masrizal dan kelompok taninya juga belajar kembali tentang pertanian 
alami. Mereka membuat ramuan hayati dari daun surian, tetunia, dan 
durian belanda sebagai pengganti pestisida. Mereka mengolah kompos 
jerami dengan rebung yang difermentasi.

”Sekarang saya sudah mengurangi pupuk kimia 50 persen dan menggantinya 
dengan kompos jerami. Pestisida dipakai kalau benar-benar diperlukan. 
Para penyuluh selalu mengatakan bahwa hak kami hanya memakai tanah untuk 
menumbuhkan padi, dan kesuburan tanah ini harus dikembalikan,” kata 
Masrizal.

Sementara Masrizal baru mulai belajar, Sutan Basa, 49 tahun, petani di 
Padang Panjang, malah sudah mahir bertani organik di atas lahannya 
seluas tiga hektare. Dua hektare lahannya dia tanami dengan padi dan 
satu hektare diisi sawi putih dan bawang daun.

Di belakang rumah, empat ekor sapinya menjadi ”pabrik” pupuk. Kotoran 
sapi dijadikan campuran kompos dari dedaunan dan jerami agar hasilnya 
lebih banyak. Urinenya ditampung dan disimpan beberapa hari di dalam bak 
penampung, lalu langsung dijadikan pupuk pengganti urea.

Sutan juga mahir meramu tumbuh-tumbuhan pengganti pestisida untuk 
mengusir ulat pelahap sayuran atau kepinding tanah pelahap batang padi. 
Ia juga menghancurkan daun surian dan daun titanium yang ekstraknya 
disemprotkan ke sayuran.

Untuk mengusir kepinding tanah, ia membuat perangkap berupa tumbukan 
keong emas yang diletakkan di sudut-sudut sawah. Kepinding tanah yang 
tertarik pada baunya akan terperangkap, lalu dibuang.

”Saya sudah merasakan nikmatnya beras organik, malah hasilnya sayang 
untuk dijual. Lebih baik dimakan sendiri dan untuk keluarga,” kata Sutan.

Salah satu kelebihan beras organik adalah daya tahannya. Sutan mengaku 
pernah mengikuti sebuah pertemuan petani tahun lalu di Boyolali, Jawa 
Tengah. Dari Padang Panjang, dia membawa nasi dari beras organik yang 
dibungkus daun. Dua hari kemudian, ketika bungkus dibuka, ternyata 
nasinya belum basi. Di hari-hari biasa, nasi yang ditanak Ernita, 
istrinya, juga tidak pernah basi.

”Sejak itu, saya semakin bertekad untuk menjadi petani organik. Sayuran 
yang ditanam juga gemuk-gemuk. Kerja memang bertambah karena harus 
mengolah pupuk sendiri,” ujar Sutan.

Setelah dua tahun ditanami padi organik, lahan pun kini lebih mudah 
diolah. Jerami tak lagi dijadikan kompos, tapi langsung ditebar 
bersamaan dengan proses pembajakan sawah. Jeraminya itu akan terurai 
sendiri. Di lahannya juga banyak lumut, tanahnya hitam, dan banyak 
burung, pertanda lahan yang subur.

Di musim kering seperti sekarang ini, petani tidak bisa menanam karena 
sawahnya keras dan poros (mudah menyerap air). ”Tapi saya tetap menanam. 
Sawah saya tanahnya tidak poros, tetap bisa mempertahankan air,” kata 
Sutan Basa.

*Febrianti (Padang)
*

*http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/08/03/LIN/mbm.20090803.LIN131002.id.html
*


“Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang 
sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan.” -- Otto Von 
Bismarck
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke