Sanak IJP jo Sanak Ryan sarato Adidunsanak Sapalanta; Sangat menarik info dan cerita yang dikemukakan; pasti sangat diperlukan untuk menghidupkan kembali perekonomian sebagian terbesar Anak Nagari Minangkabau;
Keberhasilan Ir Djoni, sebagaimana diceritakan, tentu saja bukan seperti membalik telapak tangan, dan pasti ada sebuah POLA KEPEMIMPINAN yang beliau terapkan dan jalankan secara konsisten; Ide, niat, perbuatan langsung, dan memberi manfaat nyata bagi Anak Nagari seperti ini apakah mungkin disemai, dihidup-subur, ditumbuh-kembang, dan disebar-luaskan dalam wilayah politis 'Rang Minang dan Sumatera Barat?; Karena Sanak IJP yang telah mengeyam asam garam situasi dan kondisi perpolitikan Nasional mewakili diri sendiri, intelektual, sebagai peneliti CSIS, mewakili Anak Nagari Minangkabau, mewakili wilayah Sumatera Barat, dan mewakili partai terbesar sampai pemilu 2009, ambo ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaan di atas; Mudah2an dengan analisis dan jawaban Sanak IJP, qta dapat mengembangkan MODEL KEPEMIMPINAN tersebut bagi kesejahteraan Anak Nagari Minangkabau untuk mendapatkan pemimpin yang memang seharusnya menjadi pemimpin, bukan pemimpin yang sangat diharap-harap lalu mengecewakan dan dicaci maki; Semoga berkenan; Salam ta'zim; ASLIM NURHASAN +62811103234 Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: Ryan Firdaus <[email protected]> Date: Mon, 3 Aug 2009 16:43:26 To: <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Fw: Petani Minang Kembali ke Alam Assalamualaikum wr.wb Sanak IJP sarato dunsanak palanta nan budiman.. setelah sakian lamo mananti akhia nyo kalua juo berita perkembangan pertanian di ranah minang, walau pun nan mangatangahkan nyo urang politik..he.he.. tantunyo perjuangan apak Masrizal itu suatu perjuangan nan barek yang panuah dengan cobaan dan tentangan...tapaso berhadapan dengan cimeeh...dll..juo di peringkat awal mesti berhadapan dengan krugian materil..logiknyo, urang lain pakai pestisida, nan awak indak..kutiko urang manyemprot, amonyo lari ka-awak...ataupun kuitko urang pakai pupuak kimia nan instan awak baru mamuloi pupuak organik..pada peringkat awal memang alun signifikan hasilnyo...tapi kini tentu sudah pasti ba beda...kesadaran masyarakat dengan kesan jangka panjang pengunaan pestisida dan pupuk kimia ko alah tinggi...terbukti kini manusio alah di jangkiti dengan babagai panyakik nan aneh nan jarang basuo kutiko dulu.. Sadar atau ndak sadar...salamo ko kito lah malantak nasi, nan bareh nyo panuah jo kandungan pestisida yang susah terurai..itu alun di sabuik sayuran nan mengiringi nasi tu...saroman juo rasonyo...mungkin itu lah sobabnyo di negara2 nan maju..supermarketnyo akan melebelkan produk2 yang organik...malah kalau ndak salah di Thailand ado supermarket yang dikhususkan menjual produk pertanian yang organik sajo... Singapura, nan memiliki populasi rakyaik nyo nan saketek, baitu mementingkan bahan2 mentah nan masuak ka nagari nyo..setiap sayuran atau pun bahan mentah nan masuak akan melalui prosedur nan ketat, kalau didapati mngandungi bahan pesticide nan diateh normal, lansuang reject! pasal tu, petani2 malaysia nan ma eksport sayua ka s'pore memang mengkhususkan lot kabun untuak eksportko yang paling minima kandungan pesticide, salain banyak manggunokan pupuak kandang...petani2 di Cameron hinghlands banyak manggunokan tahi ayam petelur untuak pupuak sayua..pupuak kimia nyo hanyo sekadar treace element sajo... Babaliak ka sawah...kalau dulu maso ketek2 masih bisa mamapeh baluik di pamatang2 sawah..kadang2 rutiang pun ado tapi kini antah lah...kalau amalan perswahan organik ko buliah di amalkan sacaro meluas..selain urang kampuang buliah makan nasi nan bebas kandungan kimia, buliah lo di usaokan budi daya ikan nan sasuai jo maso aia ado dalam sawah tu... samantaro tu itu se nan takana pagi ko..di lain maso mungkin tabik lo pangana apak2 nan jebolan Fpert ataupu pengusaha2 nan alah berhasil dengan sistem organiknyo bakongsi idea basamo2 di palanta ko.. wassalam, ryan 42 L ipoh.. ________________________________ From: Indra J Piliang <[email protected]> To: RantauNet <[email protected]> Sent: Monday, August 3, 2009 11:35:31 AM Subject: [...@ntau-net] Fw: Petani Minang Kembali ke Alam Layak diapreseasi rang rantau.. Ijp Berani beda, berani benar! (www.indrapiliang.com) -----Original Message----- From: korandigital <[email protected]> Date: Mon, 03 Aug 2009 10:23:39 To: [email protected]<[email protected]> Subject: [Koran-Digital] Petani Minang Kembali ke Alam Petani Minang Kembali ke Alam Petani di Sumatera Barat meninggalkan pestisida dan pupuk kimia. Penggagasnya diganjar Kalpataru. MASRIZAL, 60 tahun, petani Jorong Batang Laweh, Solok Selatan, Sumatera Barat, masih ingat jelas kejadian di awal 1980-an. Saat itu, ia biasa melihat ada pesawat kecil yang menyemprot sawahnya dengan endrin untuk membasmi hama tungro (virus yang ditularkan wereng hijau) yang memakan padi di kampungnya. Penyemprotan hama juga dilakukan para penyuluh lapangan. Hama memang mati. Tapi belut dan ikan yang ada di dalam sawah pun jadi korban. Itik, kucing, dan ayam yang memakan ikan mati ikut putus napas pada sore harinya. Benar-benar mengejutkan. ”Sejak itu, saya mulai tidak suka dengan racun pestisida,” kata Masrizal pekan lalu. Ia memakai antihama organik yang ramah lingkungan. Dia kembali ke alam. Masrizal tak sendiri. Di Sumatera Barat, petani ramai-ramai kembali ke alam. Gerakan ini berawal pada 20 tahun lalu atas prakarsa Ir Djoni, Kepala Dinas Pertanian Sumatera Barat, yang kala itu masih menjadi anggota staf Balai Perlindungan Tanaman Sumatera Barat. Atas prakarsanya itulah Djoni meraih Kalpataru untuk kategori pembina lingkungan pada Juni lalu. Djoni dinilai konsisten melawan Program Bimbingan Masyarakat yang menerapkan pestisida sistem kalender ke petani di era Orde Baru. Di era Orde Baru, petani memang diperintahkan memupuk dan menyemprotkan pestisida ke padi dan sayuran secara berkala melalui Program Bimbingan Masyarakat. Padi berumur delapan hari hingga menjelang panen harus terus dipupuk dan disemprot. ”Pupuk dan pestisida gampang didapat, tinggal ambil di koperasi unit desa, dibayar setelah panen,” kata Masrizal, anggota kelompok tani Saiyo Sakato, mengenang masa itu. Hama memang musnah oleh pestisida, tapi sawah jadi mengeras dan lebih dangkal. Hasil panennya juga berkurang, meski bisa tiga kali panen setahun. Itu tak terjadi ketika ia mengolah lahan secara tradisional sebelum 1980-an. Tanam padi hanya setahun sekali. Setelah panen, tanah dibiarkan ditumbuhi rumput untuk makanan sapi dan kerbau, sehingga tanah dengan sendirinya subur kembali. ”Jika dibandingkan, hasil panennya sama saja antara panen satu kali setahun peninggalan nenek moyang dan tiga kali panen cara pemerintah,” kata Masrizal. Era berganti, aturan pun berubah. Kini Dinas Pertanian malah mengimbau petani menerapkan pertanian organik dan tidak memakai pupuk kimia dan pestisida. Djoni pun gencar mendekati para petani di delapan kelompok tani di Sicincin, Kabupaten Padang Pariaman, pada 1984. Di sana ia mengenalkan perihal ekosistem, apa saja yang ada di lahan pertanian, serangga yang merusak dan yang tidak merusak tanaman, serta hama padi. ”Kami mengamati ekosistem ini bersama petani dan belajar bersama bagaimana menjaga keseimbangan ekosistem. Ilmu ini dikembangkan terus ke petani lain, menjadi sebuah gerakan pertanian yang berwawasan lingkungan,” kata Djoni. Kelompok petani yang dia bina kini meluas ke berbagai daerah di Sumatera Barat. ”Bila dibandingkan, 20 tahun lalu 100 persen petani menyemprotkan pestisida, sedangkan kini hampir tidak ada lagi petani yang menyemprotkan pestisida ke tanaman padinya,” kata Djoni. Setelah menjadi Kepala Dinas Pertanian Sumatera Barat pada 2006, pria kelahiran Bukittinggi, 15 Agustus 1955, ini makin menggalakkan kampanyenya dengan gerakan padi tanam sebatang, nama lokal untuk metode System of Rice Intensification atau sistem intensifikasi beras. Dalam sistem ini, budi daya tanaman padi dilakukan seintensif dan seefisien mungkin melalui pengelolaan tanah yang sehat, tanaman yang efisien, dan air yang hemat. Pupuk diganti dengan kompos jerami. Ribuan batang bibit tanaman untuk racun nabati pengganti pestisida dibagikan ke petani, seperti durian belanda dan surian. Petani yang tidak membakar jerami di lahannya diberi intensif Rp 200 ribu per hektare lahan setiap tahun. Petugas pertanian dilatih untuk mengajari petani membuat kompos dan pestisida alami. Petani yang sudah ahli juga dijadikan penyuluh untuk petani-petani lain. Kini ketergantungan petani pada pupuk kimia tinggal 50 persen. Dulu tidak ada petani yang mau memakai pupuk kandang. Sekarang tidak ada orang yang menanam sayur tanpa pupuk kandang. ”Ini kan sudah perbedaan luar biasa. Tahun depan kami targetkan tinggal 40 persen ketergantungan pada pupuk kimia dan kalau bisa tidak menggunakannya sama sekali,” kata Djoni. Gerakan padi tanam sebatang yang juga didukung Universitas Andalas itu terbukti mendongkrak produktivitas padi, dari sekitar 4,5 ton menjadi 6,5 ton gabah kering giling per hektare. Pada 2008, produksi padi di negeri orang Minang itu mencapai 2 juta ton, naik dari 1,98 juta ton pada 2007 dan 1,88 juta ton pada 2006. Djoni pernah mengusulkan pemerintah menghentikan subsidi pupuk serta subsidi bahan bakar minyak dan menggantinya dengan membelikan ternak untuk petani. ”Dari Rp 17 triliun subsidi pemerintah, itu bisa untuk membeli berjuta ekor kambing yang kotoran dan urinenya bisa dijadikan pengganti pupuk,” kata Djoni. Setelah gerakan kembali ke alam itu berjalan, kini ekosistem di lahan pertanian di provinsi itu perlahan-lahan pulih. Petani juga mulai ada yang bertani secara organik. Luas pertanian organik di sana lebih dari 286 hektare dan ditargetkan tahun depan mencapai 300 hektare. ”Ini yang bertani organik bukan pengusaha, tapi benar-benar petani, dan mereka menjual hasilnya ke pasar tradisional atau dimakan sendiri karena lebih sehat. Mereka tidak merasa rugi, karena ongkos produksi jauh berkurang, karena tidak membeli pupuk kimia dan pestisida,” kata Djoni. Masrizal dan kelompok taninya juga belajar kembali tentang pertanian alami. Mereka membuat ramuan hayati dari daun surian, tetunia, dan durian belanda sebagai pengganti pestisida. Mereka mengolah kompos jerami dengan rebung yang difermentasi. ”Sekarang saya sudah mengurangi pupuk kimia 50 persen dan menggantinya dengan kompos jerami. Pestisida dipakai kalau benar-benar diperlukan. Para penyuluh selalu mengatakan bahwa hak kami hanya memakai tanah untuk menumbuhkan padi, dan kesuburan tanah ini harus dikembalikan,” kata Masrizal. Sementara Masrizal baru mulai belajar, Sutan Basa, 49 tahun, petani di Padang Panjang, malah sudah mahir bertani organik di atas lahannya seluas tiga hektare. Dua hektare lahannya dia tanami dengan padi dan satu hektare diisi sawi putih dan bawang daun. Di belakang rumah, empat ekor sapinya menjadi ”pabrik” pupuk. Kotoran sapi dijadikan campuran kompos dari dedaunan dan jerami agar hasilnya lebih banyak. Urinenya ditampung dan disimpan beberapa hari di dalam bak penampung, lalu langsung dijadikan pupuk pengganti urea. Sutan juga mahir meramu tumbuh-tumbuhan pengganti pestisida untuk mengusir ulat pelahap sayuran atau kepinding tanah pelahap batang padi. Ia juga menghancurkan daun surian dan daun titanium yang ekstraknya disemprotkan ke sayuran. Untuk mengusir kepinding tanah, ia membuat perangkap berupa tumbukan keong emas yang diletakkan di sudut-sudut sawah. Kepinding tanah yang tertarik pada baunya akan terperangkap, lalu dibuang. ”Saya sudah merasakan nikmatnya beras organik, malah hasilnya sayang untuk dijual. Lebih baik dimakan sendiri dan untuk keluarga,” kata Sutan. Salah satu kelebihan beras organik adalah daya tahannya. Sutan mengaku pernah mengikuti sebuah pertemuan petani tahun lalu di Boyolali, Jawa Tengah. Dari Padang Panjang, dia membawa nasi dari beras organik yang dibungkus daun. Dua hari kemudian, ketika bungkus dibuka, ternyata nasinya belum basi. Di hari-hari biasa, nasi yang ditanak Ernita, istrinya, juga tidak pernah basi. ”Sejak itu, saya semakin bertekad untuk menjadi petani organik. Sayuran yang ditanam juga gemuk-gemuk. Kerja memang bertambah karena harus mengolah pupuk sendiri,” ujar Sutan. Setelah dua tahun ditanami padi organik, lahan pun kini lebih mudah diolah. Jerami tak lagi dijadikan kompos, tapi langsung ditebar bersamaan dengan proses pembajakan sawah. Jeraminya itu akan terurai sendiri. Di lahannya juga banyak lumut, tanahnya hitam, dan banyak burung, pertanda lahan yang subur. Di musim kering seperti sekarang ini, petani tidak bisa menanam karena sawahnya keras dan poros (mudah menyerap air). ”Tapi saya tetap menanam. Sawah saya tanahnya tidak poros, tetap bisa mempertahankan air,” kata Sutan Basa. *Febrianti (Padang) * *http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/08/03/LIN/mbm.20090803.LIN131002.id.html * “Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan.” -- Otto Von Bismarck -~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
