Mbah Surip dengan segala keahliannya menghibur masyarakat dari segala lapisan, tanpa disadari lagu yang dibawakannya benar2 membuat MBAH TERTIDUR selamanya dan DIGENDONG beramai-ramai ke tempat peristirahatannya yang terakhir , SELAMAT JALAN MBAH ,caramu BERNYANYI dan TERTAWA tidak akan pernah terlupakan. SEMOGA AMAL IBADAHMU DITERIMA DISISI ALLAH Swt.
Wassalam Dewi Mutiara. --- On Tue, 8/4/09, Indra Jaya Piliang <[email protected]> wrote: From: Indra Jaya Piliang <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Selamat Jalan, Mbah Surip! To: [email protected], [email protected] Date: Tuesday, August 4, 2009, 6:09 AM Selamat Jalan, Mbah Surip! (Indra J. Piliang) Hari ini kau meninggalkan dunia yang fana ini. Tentu dalam keadaan tersenyum. Selamat jalan, Mbah. Pada saat bangsa ini dilamun oleh lanun ketidakpastian dan keberingasan, engkau hadir menawarkan kejenakaan. Dengan modal gitar, nyanyian jiwa, rambut yang tertata dari zaman entah yang mana, engkau melaju bersama asistenmu di atas motor. Kemana-mana. Ke hotel berbintang, stasiun televisi, dandutan jalanan, atau tempat-tempat tanpa strata, tanpa kelas. Engkau jelas penghibur kelas satu. Barangkali karena itu juga engkau tidak memerhatikan kesehatanmu. Ketika engkau katakan ingin membeli segelas kopi seharga 1 Milyar, aku mulai khawatir satu hal dalam dirimu: kesehatanmu. Apalagi engkau siang malam berdendang, kemana-mana. Aku ingat dulu, bagaimana Gombloh yang juga meninggal setelah hitnya Kebyar-Kebyar meluluh-lantakkan seluruh hari pada bulan Agustus. Mbah, aku ingin sekali menganalisa seluruh teks lagumu lewat ilmu yang kupelajari di kampus. Tetapi biarlah itu dikerjakan oleh yang lain. Sejarah hidupmu begitu renyah, karena lahir dari imajinasi. Kau mengatakan veteran di banyak negara. Ya, inilah yang hidup di banyak kaum hippies, ketika mereka melawan batas-batas negara. Kaum hippies hidup dari satu jalanan ke jalanan yang lain. Batasnya hanyalah langit. Batas tak berbatas. Satu hal yang mereka perjuangkan: hilangkan kewarganegaraan di muka bumi. Falsafah hidupmu tentu sulit dimengerti sebagian orang yang terbiasa dengan bingkai-bingkai aturan. Seperti soal strata sosial, bagimu itu tidak ada. Tidurpun kau perlakukan dengan layak, karena setelah tidur, ya, engkau tidur lagi. Tidak perlu menggosok gigi atau senam pagi. Engkau mewakili kealamian, kebumian, juga kemurnian kemanusiaan. Sungguh engkau manusia sejati. Mbah, ijinkan aku cemburu kepadamu. Ijinkan juga aku berguru pada hidupmu yang sebebas angin itu. Telah kau depa perjalanan demi perjalanan, hingga sampai pada sebuah akhir. Barangkali akhir dari bekerjanya jantungmu memompa darah ke seluruh nadi. Tetapi bagi orang-orang yang masih hidup, barangkali inilah awal dari sebuah pelajaran penting bagi kemanusiaan zaman ini. Mbah, hanya teks ini yang bisa kusampaikan kepadamu, ketika seluruh hidupmu telah terurai menjadi keringan bagi kami. Hanya sedikit waktu barangkali kusediakan untuk memejamkan mata untuk mengingat kembali wajahmu, juga penampilanmu. Dulu, aku merekam lagu-lagumu di hpku, ketika kita sama-sama hadir di acara Kenduri Cinta Emha Ainun Nadjib di Taman Ismail Marzuki. Pada malam menjelang pagi, ketika orang-orang barangkali sudah tertidur pulas. Yang kuingat waktu itu, engkau seperti malaekat, karena bisa langsung nyanyi ketika dibangunkan dari tidurmu. Ya, kau mengisi acara ketika semua orang yang berkata-kata berhenti berkata-kata, lantas mempersilakan engkau menyanyi, lalu mengeluarkan kemampuanmu untuk mentertawakan kata, membebaskan kata, dari makna pengucapnya. Ketika orang-orang mulai berkata-kata lagi, termasuk aku tentunya, engkau tidur mendengkur lagi dengan memeluk gitar. Engkaulah sufi itu. Sufi yang hidup ketika peradaban semakin gersang dari kemurnian nurani. Terbanglah, Mbah. Engkau tidak pernah terbenam dan tenggelam. Engkau hanya berubah menjadi medan-medan energi yang hidup di dada setiap orang. Tertawalah. Tertawalah. Jakarta, 04 Agustus 2009. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
