aSSwRwb, ADA sesuatu yg terlupakan dalam artikel dibawah ini, bhw pmrth
seharusnya menunjukkan usaha-usaha keterbukaan dalam penyelengaraan negara,
setiap informasi yg tidak bersifat rahasia(keamanan negara, rahasia2
lainnya) seharusnya mudah di akses , dan di dapatkan dgn mudah.
Demontrasi dilakukan krn terjadinya "relatif penyumbatan" informasi, dpl.
perlunya 'speed up" menyampaian infomasi
yg berkenaan dgn kepentingan publik.
Keterbukaan informasi disini juga kita maksud kan adanya debat publik,
antara pmrth dan publik secra rutin/berkala., serta dgn perwkilan rakyat yg
tlh terpilih.

Juga disini tak terlihat adanya hak rakyat utk mengajukan
*petisi/recall*terhadap Pmrth atau Perwakilannya, bila dianggap perlu.
Jadi dgn tdk tersalurnya/lambat nya aspirasi itu di selesaikan, mk satu2 nya
jalan adalah demontrasi.

Tp sebaliknya juga demontrasi itu 'ada yg meng sponsori" ya begitu lah
rakyat kita.
Tp yg pasti adalah "demontrasi itu menrupakan "*check and balance*" bagi yg
berkuasa, asalkan menjaga rambu2 kepetingan umum lain nya. "Selamat ber
demontrasi tanpa bawa batu"  .

Wass. Muzirman Tanjung
---------------------------------------------------------








  Rabu, 12 Agustus 2009 , 10:43:00
Demonstrasi Sama dengan Demokrasi
<http://www.padangekspres.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=9730#>

Beberapa waktu yang lalu dalam acara Gerakan Bulan Bakti Gotong Royong
Masyarakat (GBB – RM) di lapangan Sari Bulan Sawah Padang Payakumbuh,
Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi mengemukakan bahwa dirinya merasa keberatan
dengan maraknya aksi demonstrasi di Sumbar belakangan ini (Padang Ekspres;
29 Juli 2009). Karena masyarakat Sumbar yang mayoritas Minangkabau selalu
mengutamakan musyawarah untuk mencapai kata mufakat.

Sekilas tidak ada yang perlu dipermasalahkan apalagi dipolitisir dengan
ungkapan Gubernur tersebut. Karena memang dari dulunya masyarakat
Minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi perbedaan
pendapat, setiap perbedaan pendapat yang ada diselesaikan dengan jalan
musyawarah untuk mufakat. Kegiatan bermusyawarah tersebut sudah melembaga
dalam masyarakat Minangkabau. Sampai saat ini, hampir di setiap nagari
terdapat sebuah balai adat yang selain digunakan untuk bermusyawarah
mengenai masalah-masalah yang ada di nagari yang bersangkutan juga digunakan
untuk kegiatan sosial lainnya.

Sebagai seorang kepala daerah, di samping bertanggung jawab terhadap
jalannya pemerintahan, Gubernur tentu juga memiliki tanggung jawab untuk
menciptakan ketenteraman dalam daerah yang dipimpinnya. Aksi demonstrasi
dengan pengerahan massa ke jalanan jelas bukanlah suatu tolak ukur sebuah
ketenteraman. Wajar kalau Gubernur merasa keberatan dengan adanya aksi-aksi
demonstrasi dengan pengerahan massa turun ke jalanan.

Namun pernyataan Gubernur tersebut mendapat protes dari beberapa pihak.
Maklumlah yang namanya pejabat publik setiap tingkah laku dan ucapannya juga
akan menjadi sorotan publik, sekecil apapun hal itu. Ada beberapa reaksi
atas pernyataan Gubernur tersebut, namun tidak semuanya akan penulis bahas
dalam tulisan ini, takutnya tulisan ini akan jadi “bak cando kain buruak
hanyuik, nan manyangkuik kian kamari, tabaok arus namun ndak batujuan”,
sehingga akan jauh dari konteks permasalahan sebenarnya. Salah satu yang
menarik bagi penulis adanya pernyataan bahwa Gubernur dianggap sebagai sosok
yang anti kritik dan akan menghambat proses demokrasi yang telah dibangun
dan berlangsung saat ini di Sumbar. Pernyataan Gubernur juga dianggap akan
berpotensi mencederai proses pertumbuhan demokrasi dan akan menjadi preseden
buruk dalam membangun proses demokrasi dan penghormatan terhadap hak asasi
manusia di Sumbar (Padang Ekspres; 31 Juli 2009).

Timbul suatu pertanyaan di sini, apakah aksi demonstrasi dengan pengerahan
massa ke jalanan merupakan sebuah parameter untuk mengukur sudah dewasanya
sebuah proses demokrasi? Jawabannya adalah tidak! Karena dalam demokrasi,
yang menjadi esensinya adalah adanya penghargaan terhadap perbedaan
pendapat, pendapat yang berbeda dihargai dengan tidak menumpas hal yang
berbeda dengan rezim yang sedang berkuasa melalui cara-cara anarkhis.
Selain itu untuk mengkritik pemerintah, aksi demonstrasi turun ke jalanan
bukanlah satu-satunya cara, secara formil untuk itu kita sudah memiliki
lembaga perwakilan seperti DPR dan DPRD. Sayangnya DPR dan DPRD yang ada
sampai sejauh ini sering dipahami hanya sebatas “lahan” untuk berdemo dengan
mengerahkan massa yang banyak untuk menyampaikan keinginan atau protes
masyarakat terhadap pemerintah. Padahal fungsi dan peran lembaga perwakilan
tidak hanya seperti itu.

Fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini, termasuk di Sumatera Barat.
Demokrasi sering hanya diartikan sebatas aksi demonstrasi turun ke jalanan
menyatakan perbedaan pendapat. Barangkali memang secara umum kita belum
dewasa untuk berdemokrasi. Demokrasi belumlah dipahami sepenuhnya. Seringnya
aksi demonstrasi terjadi di tengah-tengah masyarakat biasanya disebabkan
oleh beberapa faktor. Pertama, masyarakat belum memahami sepenuhnya mengenai
kaidah demokrasi, sehingga sering mengidentikkan demokrasi hanya sebatas
melakukan aksi demonstrasi. Masyarakat juga belum memahami sepenuhnya metode
dan sarana-sarana penyampaian kritik atau perbedaan pendapat yang lain
selain dengan cara agitasi massa ke jalanan. Masyarakat juga kurang memahami
peran dan fungsi dari lembaga perwakilan yang ada sebagai media aspirasi
warga negara terhadap pemerintah. Kedua, lembaga perwakilan yang ada sering
kurang bisa menangkap semua aspirasi yang berkembang dalam masyarakat dan
mengangkatnya menjadi issue yang urgent dalam penyelenggaraan pemerintahan
oleh eksekutif. Ketiga, walaupun aspirasi ditanggapi, seringkali akan
menjalani birokrasi yang panjang sebelum akhirnya ditanggapi oleh
pemerintah. Sehingga pada akhirnya demonstrasi ke jalanan menjadi pilihan
yang praktis untuk menyampaikan aspirasi.

Walaupun tidak bisa langsung dihilangkan, sekurang-kurangnya aksi
demonstrasi dengan frekuensi tinggi di tengah-tengah masyarakat bisa
dikurangi dengan beberapa cara. Pertama, pemerintah dalam membuat kebijakan
hendaknya lebih concern terhadap kebutuhan masyarakat dengan cara melibatkan
unsur-unsur masyarakat dalam setiap program yang ada. Kedua, dengan
mengefektifkan sistem pemilu sehingga mampu menghasilkan wakil-wakil rakyat
yang berkualitas dalam menyerap aspirasi masyarakat dan selalu menjaga
integritas pribadinya. Ketiga, perlunya pendidikan demokrasi yang baik
terhadap masyarakat, apakah itu melalui berbagai penyuluhan, ataupun
menjadikan materi demokrasi sebagai bahan ajar di sekolah-sekolah seperti
halnya materi Budaya Alam Minangkabau yang diharapkan akan mampu melahirkan
masyarakat yang sadar demokrasi, tidak hanya memandang demokrasi sebatas
melakukan aksi demonstrasi.

Sekali lagi aksi demonstrasi bukanlah satu-satunya tolak ukur untuk sudah
baiknya sebuah sistem demokrasi. Aksi demonstrasi hanya merupakan salah satu
cara penyampaian pendapat dan merupakan sarana terakhir dalam demokrasi.
Diharapkan pemahaman yang baik mengenai demokrasi akan melahirkan
pemerintahan yang demokratis dan masyarakat yang bisa memaknai demokrasi
tidak hanya sebatas aksi demonstrasi.
Ronald Efulisa, Alumnus Jurusan Ilmu Politik Universitas Andalas

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke