awak dr ketek saroman bundo pulo, baju baru sakali sataun, parahnyo di cimeean 
lo dek urang...." gau mah ren dr dulu dr ujuang kaki sampai ujung rambui tanah 
abang...." alian baju ndak laku lai di bawok pulang hauahauahuahau...masih 
syukurlah ado baju baru....walau sakali sataun...
 
renny,ancol

--- On Sat, 8/22/09, hanifah daman <[email protected]> wrote:


From: hanifah daman <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: BER ROYAL- ROYAL DI RAMADHAN
To: [email protected]
Date: Saturday, August 22, 2009, 1:39 PM






DEMAM MENJELANG LEBARAN

Semasa aku kecil
Umumnya aku dan teman-temanku
Beli baju baru hanya sekali setahun
Ketika hendak menjambut  lebaran Idul Fitri

Waktu itu umumnya baju-baju kami
Dijahit ditukang jahit yang ada dikampung
Berebutlah ke tukang jahit jauh hari sebelum lebaran
Entahlah enatah dengan cara apa 
Orang tua membeli kain yang hendak di jadikan baju
Yang jelas lebaran berbaju baru

Ku ingat ketika kecil
Beberapa kali aku demam menjelang lebaran
Bajuku sering lebih duluan selesai darim baju teman yang lain
Mamaku pun sangat pintar memilih dasar dan warna
Apalagi aku bisa memakai warna apa saja
Merah, hijau, coklat, ungu dan warna lainnya 

Tiap sebentar ku coba baju baru
Ku hitung-hitung hari
Berapa hari lagi hari lebaran
Hanya menghitung hari
Ternyata aku tidak sabaran
Akhirnya demam

Di hari lebaran
Semua yang dipakai harus baru
Nanti dilapangan tidak ikut sholat
Berdiri-berdiri saja di pinggir lapangan
Beli jajanan yang dijual
Sambil melirik baju yang dipakai teman
Terasa bangga kalau baju kita lebih bagus
Jadi sedih kalau baju teman lebih bagus
Begitulah arti baju baru bagiku ketika kecil

Bengkulu, 22 Agustus 2009

Hanifah Damanhuri

Assalammualaikum Wr Wb bapak Suheimi yth

Anak-anak ifah bercerita tentang sahurnya yang pertama. si Ijul makan mi, si 
dilla makan roti dan minum susu, dia lupa beli gulai katanya. mereka sudah 
terbiuasa puasa sunat, jadi ifah tidak perlu risau. Mereka yang sering risau ke 
ifah, karena jarang ikut puasa sunat. Kalau beli pabukoan, kadang-kadang memang 
kita terayu untuk beli ini, beli itu. raso kalamak sadono. Kadang-kadang 
makanan itu adono di bulan puaso. Sasudah di bali, acok indak tamakan ... bara 
bana katalok di paruik ??? 

Wass


Hanifah





--- On Sat, 8/22/09, suheimi ksuheimi <[email protected]> wrote:


From: suheimi ksuheimi <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] BER ROYAL- ROYAL DI RAMADHAN
To: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected]
Date: Saturday, August 22, 2009, 10:25 AM








BER ROYAL- ROYAL DI RAMADHAN 
Oleh : K Suheimi 
  
Kalau ajakkan Rasul dan ajaran agama, agar selama Ramadhan kita lebih sederhana 
dan lebih hemat, diajar merasakan haus dan lapar seperti yg hampei setiap hari 
dirasakan si miskin, sehingga menimbulkan kesantunan pada si miskin. Lalu kita 
berbagi kepada si miskin 
  
Di bulan Ramadhan kita diseru menahan selera dan hawa nafsu, sehingga makanan 
sedikit dan secara sederhana, dengan demikian. Ramadhan yg di kenal sebagai 
bulan pembakaran dosa ini juga ikut membakar lemak yg ada di tubuh terutama yg 
ada dalam pembuluh darah. Pembakaran lemak ini  akan menghasilkan benda keton 
sehingga nafas orang berpuasa itu  menjelang berbuka  akan berbau keton terbau 
agak busuk. 
  
Ajaran merasakan seperti yg dirasakan orang miskin melahirkan sifat santun dan 
ingin berbagi dg anak Yatim dan orang miskin 
  
Tapi kenyataan yg terlihat di bulan Ramadhan seakan-akan berlomba dan 
berfoya-foya. Kita tertegun menyaksikan. Pasar-pasar, tempat beli pabukoan 
diserbu beramai-ramai. 
Orang berbukapun melomba nafsu makanannya, sehingga tampak di meja hidangan yg 
melimpah, begitupun persiapan makan sahur. 
  
Begitupun toko_toko kue  antrian orang berbelanja dan memesannya 
Tukang jahit  seperti kehabisan waktu dan kehabisan tanaga meladani permintaan 
buat baju baru.begitupun toko-toko di penuhui oleh pembeli yg menyalurkan nafsu 
belanjanya. Apalgi iming-iming toko di bulan Ramadan ini disambut oleh 
jor-joran diskon dan ajakan budaya konsumtif lainnya dari pusat-pusat belanja, 
melebihi ajakan spiritualitas Ramadan. 


Kelihaian pedagang menawarkan surga belanja di bulan Ramadan ini. , maka 
berdesakakkanlah orang meramaikan tempat perbelanjaannya ini

Entah berapa banyak biaya  yg di keluarkan satu keluarga untuk menyongsong 
Ramadhan  ini, “tak kayu jenjang di keping, tak emas bungkal di asah”. asal 
bisa mendapatkan yg diinginkan, tak segan-segan dia meminjam dan menggadaikan 
barang... Yang jelas dari tahun ke tahun budaya konsumsi semakin digenjot 
mengiringi bumbu spiritualitas Ramadan yang terkesan seadanya. 
  
Budaya harus puilang  mudik kampung , ziarah kekkubur,, sehingga berapapun 
sulit dan berapun besarnya biaya transportasi tak di hiraukan 
  
Padahal di Makah saya lihat, , tidak ada orang ziarah kekubur apalagi mendoa 
diatas kubur. Kalau mau berdo”a , pergi ke Masjid kata seorang sahabat saya yg 
sudah lama di Makkah.  Perempuan tak boleh masuk ke pekarangan kuburan, 
walaupun yg dihantar kekuburan adalah suaminya 
  
Penyelenggaraan kematian dan penguburan sangat sederhana, dan kuburunnyapun 
sangat sederhana, tanpa ada batu mejan diatas kuburan itu.  Disatu lobang 
kuburan itu terhimpun ribuan mayat-mayat yg berkubur. Makanya Maqam kuburabn di 
Baqi, sejak zaman dahulu kala besarnya sebesar itu saja. Karena dunia ini tidak 
di peruntukkan bagioorang mati, tapi harus di manfaatkan oleh orang hidup. 
  
Maka bulan Ramadhan tahun lalu saya ke Umrah ke Makkah, yang ramai adalah 
Masjid, siang dan malam 
Malam di ramaikan dg  diawali shalat Magrib kemudioan berbuka di Masjid dg 
hanya memamakan beberapa butir korma, hanya sepring kecil. Kemudian 
dilanjutakan Shalat Isya dan shalat Tarwih dg ayat yg panjang-panjang. Berkhir 
sampai jam 11 malam. Nanti kita teruskan lagi shalat malam  berakhir sampai jam 
3.30 lau kita pulang makan sahur. Subuhnya kembali lagi ke Masjid melakukan 
shalat subuh. 
Jadi makan hanya satu kali makan sahur saja, tapi badan terasa lebih ringan dan 
lebih lincah serta sehat. Banyak kerja yg bisa di lakukan dselamabulan Ramdhan 
kerna kata Rasul “Summu Tasihu” puasalah agar kamu sehat.. Orang sehat 
produktivitasnya tinggi. 
  
Makan sedikit, tidur sedikiit. Ketika hari raya selasai shalat Id, orang pada 
tidur  , rumah dan pasar sepi, tidak tampak mobil di jalan-jalan. Semua 
istirahat menikmati hasil Ramadhan yg  telah di jalankan. 
  
Betul-betul di bulan puasa bulan penghematan, hemat makanan dan hemat 
perbelanjaan lain. Sampai-sampai persiapan utnuk hari raya hanya utk pergi 
shalat Idul fi 
Ini yg saya saksikan dan ini yg dilakukan di Makkah sampai ke Jeddah tak ada 
Foya-Foya dan tak ada ke mubaziran dan tak ada ke Royalan. 
  
Saya sedih : bulan rRamadahan yg penuh berkah, siapakah yg mendapat berkah?. 
Kalau budaya dan cara pelaksanaan dan pendangan kita masih seperti ini.         
Karena budaya yang entah mulai kapan ini, angka konsumsi di bulan Ramadan 
memang melonjak tajam.. 
Dan yg sangat banyak menanguk keuntungan adalah  pemodal besar yg menyediakan 
segala kebutuhan yg sangat melionjak di bulan Ramadhan, mulai kebutuhan perut 
dan kebutuhan kemewahan. 
  
Lihatlah  fenomena kenaikan harga bahan pokok menjelang Ramadan, pemborosan 
konsumsi makanan, konsep mudik, budaya kemewahan di hari raya sampai kesalahan 
manajemen THR oleh para karyawan. 
  
Akankah dan kapankah kita mau memeluk Islam secara Kaffah? Yang kita amati 
sekarang lain yg di inginkan agama lain yg  dikerjakan, semakin jauh panggang 
dari api 
  
Ya Allah Tunjukkilah kami jalanMu yang lurus dan Yang benar 
Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai 
Dan bukan pula jalan orang_orang yg sesat  Amiiin 
  
Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman Suci Nya dalam Al Qur'an 
  
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana 
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183) 
  
  
Padang 22 Agustus 2009
Terima Kasih

Prof.H.K.Suheimi, SpOG(K)


Berselancar lebih cepat. 
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman 
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)







      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke