Malaysia dan Budaya Kita

PadangKini.com | Sabtu, 05/09/2009, 12:54 WIB 

Ulah Malaysia yang menggunakan Tari Pendet sebagai promosi dunia
pariwisata agar meningkatkan daya tarik bagi kunjungan wisatawan ke
negaranya telah menuai protes keras dari masyarakat kita (Indonesia).
Unjuk rasa terjadi di sejumlah daerah yang mengutuk tindakan Malaysia
yang seolah-olah mengklaim bahwa Tari Pendet menjadi bagian dari budaya
Malaysia. 

Protes yang meluas terhadap Malaysia tersebut, kalau dicermati lebih
jauh merupakan akumulasi tingkah polah Malaysia selama ini yang
memperlihatkan arogansi dan sikap yang tidak bersahabat dengan
Indonesia, terutama dalam hal perlakuan pemerintah Malaysia terhadap
tenaga kerja Indonesia (TKI) serta beberapa klaim Malaysia terhadap
pulau-pulau terluar kita yang diakui sebagai teritorialnya, termasuk
masalah Blok Ambalat. 

Demikian juga dengan sebutan "Indon" bagi para pendatang dari Indonesia
ke Malaysia cukup menyakitkan dan sekaligus hinaan bagi bangsa
Indonesia, makin menambah panas telinga kita, semakin menebar kebencian
masyarakat Indonesia terhadap Malaysia, sehingga apapun yang berkaitan
dengan Malaysia, telah menimbulkan sikap apriori banyak masyarakat kita.

Namun sebagai bangsa yang beradab kuranglah elok sekiranya protes
terhadap Malaysia dilakukan di jalanan (dalam bentuk demonstrasi),
seyogyanya hal-hal yang tidak baik selama ini dilakukan oleh Malaysia
sehingga merugikan ataupun menghina martabat kita sebagai bangsa harus
diselesaikan dengan cara yang lebih beradab dan bermartabat. 

Sudah sepatutnya sengketa atau kesalahpahaman dalam masalah budaya
diselesaikan dengan cara yang berbudaya pula, kalau kita mau diakui
sebagai bangsa yang berbudaya. Kalaupun kita protes dengan perilaku
Malaysia, sepatutnya kita lakukan dengan cara-cara yang lebih elegan
ketimbang dengan cara unjuk rasa dengan cara mencaci-maki. Peran
pemerintah melalui lembaga terkait sudah barang tentu diharapkan dalam
menyelesaikan permasalahan ini.

Apalagi masalah budaya adalah soal perilaku kehidupan yang melekat
dengan masyarakat yang memerankannya. Kita tahu bahwa masyarakat
Malaysia sebagian besar merupakan masyarakat Melayu yang boleh dikatakan
akar budayanya sulit dipisahkan dari budaya kita (Indonesia), kecuali
warga Malaysia yang berasal dari ras selain Melayu.

Misalnya, warga Malaysia yang berasal dari Minangkabau tentunya akan
membawa  dan melestarikan budaya Minangkabau di Malaysia (seperti di
Negeri Sembilan), demikian juga warga Malaysia yang berasal dari Aceh,
Palembang, Jawa, Bali, Bugis dan sebagainya. Maka tidaklah heran bila di
antara warga Malaysia menggunakan ataupun menyukai kesenian ataupun
budaya yang berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, karena juga
merupakan budaya nenek moyang mereka. Yang paling penting dari itu
adalah, masyarakat dunia tahu bahwa budaya tersebut berasal dari
Indonesia.

Aturan Hukum Klaim
Di samping itu, sejauh ini memang belum ada aturan hukum internasional
yang mengatur tentang perlindungan pengetahuan dan ekspresi budaya
tradisional, sehingga kasus klaim Malaysia terhadap Tari Pendet ataupun
klaim suatu negara terhadap suatu ekspresi budaya tradisional lain tidak
bisa dibawa atau diselesaikan secara hukum internasional.

Agar masyarakat dunia tahu dengan budaya kita, tidak ada cara lain
kecuali kita harus mencintai, menyenangi dan melestarikan budaya kita
sendiri serta mempromosikan kepada masyarakat dunia. Sehingga, di
manapun orang melihat kesenian Reog orang pasti tahu itu berasal dari
Ponorogo (Indonesia), demikian juga dengan Tari Piring pasti orang paham
itu adalah kesenian Minangkabau (Indonesia).

Soal jiplak-menjiplak kebudayaan, kalau kita cermati lebih dalam, kita
harus jujur mengatakan bahwa bangsa kita (Indonesia) termasuk yang yang
sangat suka menjiplak budaya asing. Hanya segelintir generasi muda kita
yang senang dengan kesenian tradisional kita, sebahagian besar lebih
keranjingan dengan budaya atau kesenian luar. 

Bukti yang paling kongkret, siaran televisi kita lebih didominasi oleh
materi siaran yang makin menjauhkan generasi muda kita dari mencintai
budaya bangsa sendiri. Mulai dari musiknya sampai kepada tema sinetron
yang ditayangkan maupun materi acara lainnya, membuat kita prihatin
karena semakin mendekatkan kita kepada kehancuran nilai-nilai budaya
tradisional kita, yang justru lebih diminati, diapresiasi dan diagungkan
oleh bangsa lain. Untuk hal ini kita tidak pernah protes, "Kenapa?".

Ambil Hikmah Positif
"Tragedi Pendet", seyogyanya menjadi hikmah dan dapat kita jadikan titik
balik  bagi kelalaian kita selama ini yang menelantarkan atau
menganaktirikan budaya kita sendiri dan lebih memberikan tempat serta
lebih mengagungkan budaya asing. Tidaklah menyelesaikan masalah kalau
masalah ini kita hadapi dan selesaikan dengan hati dan kepala yang
panas, hati boleh panas namun kepala harus tetap dingin. Mari kita
introspeksi diri agar kejadian serupa tidak terulang kembali. 

Di sisi lain, sikap tidak senang, aksi unjuk rasa serta protes terhadap
ulah Malaysia dari sejumlah elemen bangsa terkait kasus ini, memberikan
gambaran kepada kita bahwa rasa nasionalisme kita masih ada, rasa
solidaritas elemen bangsa kita masih dapat diandalkan, sebagai bangsa
yang berdaulat kita tidak mau begitu saja dilecehkan sekalipun oleh
bangsa yang mengaku serumpun.

Tetapi yang paling penting, jangan sampai kita di cap sebagai bangsa
yang hanya bisa protes terhadap klaim orang lain, namun kita tidak punya
strategi dan langkah yang kongkret dalam mencintai, menggali,
melindungi, mengembangkan, melestarikan dan mempromosikan budaya yang
kita miliki. Ini tantangan bagi para pemangku kebijakan dan generasi
muda kita.    
        
* Drs. Bastiam, MM, Direktur Andalas Center dan Ketua Umum BKMS (Badan
Koordinasi Matua Saiyo), tinggal di Depok.
 http://www.padangkini.com/opini/single.php?id=5742

 

 


The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke