pendataan ini, kalau ada yang melakukannya, sebuah langkah awal untuk membuat
kajian yang menarik:
1. Jumlah rumah bagonjong yang tersisa di masing-masing kab/kota
2. Tahun kapan dibangun dan bagaimana kondisinya.
3. Siapa (suku apa) yang membangun?
4. Bagaimana ragam hiasnya (ukirannya), apa makna ukiran tersebut bagi
masyarakat setempat.
5. Rumah bagonjong adalah rumah yang arsitektural-nya sudah tahan gempa dan
sangat kaya dengan filosofi yang mencerminkan budaya hidup orang Minang.
6.dll
Kalau hal-hal itu dibukukan dan diberi foto yang menarik, bisa menjadi sebuah
"Buku Pintar Rumah Gadang Minangkabau". Ada teman kita, Nanang yang seorang
arsitek, mungkin bisa mewujudkan hal ini. Saya yakin, buku ini akan jadi
referensi yg sangat berharga baik untuk kalangan akademis maupun
pemerhati/peminat budaya.
Ayo....segera wujudkan.
Berikut saya kutipkan tulisan kecil saya di Kompas.
KOMPAS - Jumat, 22 Dec 2006 Halaman: 63 Penulis: Yurnaldi Ukuran: 9573
Foto: 1
--------------------------------------------------------------------------------
Rumah Adat
KEMBALI MARAK, RUMAH DENGAN SIMBOL ETNIK
Oleh Yurnaldi
Rumah bagi kebanyakan orang tak lebih fungsinya sebagai tempat
tinggal. Hanya sebagian kecil yang menambahkan fungsi lain, tempat
tinggal sekaligus perkantoran. Lantas, bagaimana dengan fungsi lain,
seperti simbol etnik dan filosofis? Barangkali ini bisa kita temukan
di Ranah Minangkabau, Sumatera Barat.
Pernah dengar rumah gadang atau rumah bagonjong? Itulah rumah
tradisional Minangkabau. Rumah gadang (rumah besar) bukan karena
fisiknya yang besar, melainkan karena fungsinya sebagai tempat
kediaman keluarga, perlambang kehadiran suatu kaum dalam satu nagari
(pemerintahan terendah pengganti desa), pusat kehidupan dan kerukunan.
"Rumah gadang multifungsi. Ia menjadi pusat kehidupan dan
kerukunan seperti tempat bermufakat keluarga kaum dan melaksanakan
upacara. Bahkan sebagai tempat merawat anggota keluarga yang sakit,"
kata Suhendri Datuk Siri Marajo, penghulu di Balingka, Kabupaten
Agam, Sumbar.
Kini banyak rumah gadang di lebih dari 600 nagari di Sumbar yang
kurang terawat dan terancam lapuk. Menurut Suhendri Datuk Siri
Marajo, di sejumlah daerah, rumah gadang melapuk karena tingginya
biaya perawatan dan juga karena dimakan usia. Untuk membangun kembali
rumah gadang saat ini, butuh biaya relatif besar, mencapai ratusan
juta rupiah, bahkan bisa mendekati satu miliar rupiah.
"Karena itu, sangat jarang ada warga atau kaum yang membangun
rumah gadang baru. Yang ada sekarang, seperti perpaduan rumah modern
dengan tradisional. Yang bagian tradisional memungut sebagian kecil
unsur rumah gadang/rumah bagonjong dan umumnya di bagian depan atau
teras, lengkap dengan ukirannya," tuturnya.
Makanya, kalau Anda keliling-keliling di berbagai daerah di
Sumbar, selain bisa menyaksikan rumah gadang, rumah kayu dengan
arsitektur bagonjong, juga bisa menyaksikan gedung perkantoran yang
juga bagonjong atau memungut sebagian kecil unsur tradisional, yakni
gonjong di bagian depan/teras saja.
Khusus untuk gedung perkantoran, memang ada imbauan Pemerintah
Provinsi Sumbar pada era Azwar Anas menjadi gubernur agar dibangun
dengan arsitektur bagonjong dengan tujuan melestarikan arsitektur
yang unik dan kaya filosofis.
Akan tetapi, untuk rumah-rumah warga tidak ada imbauan, kecuali
ada kesadaran budaya. Menurut seniman tradisional terkemuka Sumbar,
Musra Darizal atau lebih dikenal Mak Katik, maraknya rumah warga
mengambil sebagian kecil arsitektur tradisional dan memadukannya
dengan arsitektur modern tak lepas dari pemahaman dan kesadaran
budaya yang tinggi dari pemiliknya.
"Ada nilai dan kebanggaan mengambil unsur etnik/tradisional yang
kaya makna dan filosofis tersebut. Ini cermin bahwa pemiliknya di
samping punya cita rasa tinggi juga punya filosofi hidup yang bisa
dibanggakan, yang bisa kita cermati dari bahasa rupa pada ukiran-
ukirannya," ujar Mak Katik.
Makna di balik ukiran
Jika Anda cermati rumah-rumah dengan sedikit unsur etnik
tersebut, selain bentuknya yang bagonjong, juga ada seni ukirnya
dengan cat warna-warni. Salah satu yang sangat penting dan unik
adalah nama ukirannya. Nama ukirannya dapat dilihat dari kaitan
ukiran dengan kehidupan masyarakat.
"Setiap nama ukiran melambangkan suatu gejala hidup dalam
masyarakat, apakah gejala itu merupakan gambaran kehidupan alam
ataupun melambangkan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat
Minangkabau. Hal ini menjadi pedoman dalam penyelenggaraan kehidupan
masyarakat Minangkabau," kata Ady Rosa, dosen Seni Rupa Universitas
Negeri Padang.
Dikatakan, penggambaran kehidupan gejala alam dapat dilihat dari
nama ukiran yang berasal dari nama tumbuh-tumbuhan dan nama binatang.
Sedangkan penggambaran sistem nilai kehidupan manusia dalam
masyarakat dapat dilihat dari nama ukiran yang berasal dari kata-kata
adat.
Setiap motif memiliki nama khusus dan biasanya mengandung makna
serta ajaran filosofi. Menurut seniman Alda Wimar, penamaan motif
dalam ukiran tidak hanya sebagai identitas, melainkan juga memiliki
arti harfiah dan makna filosofi yang mengandung ajaran-ajaran adat
dan agama Islam. "Dengan kata lain, setiap motif mengandung makna
yang tersurat, tersirat, bahkan tersuruk (tersembunyi)," ucapnya.
Ia mencontohkan, ada ukiran kaluak paku. Paku atau Gieichonia
linearis (termasuk keluarga tanaman pakis) sehari-hari dikonsumsi
masyarakat di Minangkabau sebagai sayur. Kaluak berarti gelung.
Pengertian harfiah yang tersurat pada kaluak paku berarti gelung
tanaman pakis yang memiliki keindahan dan kedinamisan.
Arti yang tersirat dari simbol kaluak paku ini menggambarkan
sifat kodrati manusia. Pucuk paku pada awal pertumbuhannya melingkar
ke dalam, yang kemudian akhirnya tumbuh melingkar ke arah luar.
Begitu juga manusia, yang pada tahap awal mengenal dirinya terlebih
dahulu sebelum melakukan sosialisasi dan interaksi dengan
lingkungannya. Di dalamnya sekaligus tersirat makna pentingnya sikap
introspeksi: bergelung ke dalam lebih dahulu, setelah itu barulah
bergelung ke arah luar. Koreksi kesalahan sendiri, setelah itu baru
layak mengoreksi kesalahan orang lain.
"Orang Minang mengibaratkan realitas kaluak paku ini sebagai
sikap masyarakat Minangkabau terhadap generasi penerusnya. Kaluak
paku dalam motif seni ukir merupakan pencerminan sikap budaya dalam
mendukung pertumbuhan anak dengan kasih sayang sekaligus memberikan
pendidikan dan kehormatan," ujar Alda.
Lain lagi dengan motif ukiran aka bapilin. Artinya tindakan orang
Minang yang sia-sia saja tak akan ada, harus ada maksud dan tujuan.
Setiap gerak-gerik ada tujuannya, ada isinya, jangan sampai tidak ada
gunanya untuk kehidupan individu atau masyarakat. Karena itu, dia
tidak boleh putus asa karena manusia sudah dibekali dengan akal dan
pikiran guna memikirkan segala sesuatu yang berguna untuk hidupnya.
Kalau dicermati, ada puluhan nama ukiran yang mengambil simbol
dari tumbuhan dan ada pula puluhan nama dari nama binatang, antara
lain itiak pulang patang, ulek tantadu, dan bada mudiak.
Ukiran itiak pulang patang menyiratkan makna keteraturan dan
kedisiplinan dalam berorganisasi dan bermasyarakat. Tanpa disiplin
dan keteraturan, tanpa pemimpin yang diikuti secara bersama, sebuah
kelompok masyarakat tentulah akan sulit untuk sampai pada tujuannya.
"Selain itu, ada hikmah lain dari perilaku itik yang menjadi
ajaran filosofi: saat lapar berpencar, setelah kenyang berhimpun.
Ketika pagi hari, itik keluar dari kandang mencari makan sendiri-
sendiri. Sore hari setelah kenyang, mereka pulang bersama dalam satu
rombongan. Bandingkan dengan kelaziman perilaku manusia pada umumnya:
saat dalam kesulitan mencari bantuan kepada komunitasnya. Namun,
setelah meraih sukses, bantuan komunitas mungkin tidak diperlukan
lagi. Bahkan, sering kali manusia menikmati sendiri
kesuksesannyatanpa berbagi. Ini bertolak belakang dengan perilaku
itik dan tak sesuai dengan karakter orang Minang," ujar Alda Wimar.
Ukiran ulek tantadu, sejenis serangga yang mengisap madu bunga
tetapi tidak membunuh. Makanan yang diisap dari bunga tidak hanya
untuk menghidupi dirinya sendiri, melainkan juga menghidupi ulat yang
hidup di dalam perut tantadu. Antara tantadu dan ulat tersebut
terjalin bentuk kerja sama dalam kehidupan mereka. Ulat tersebut
dimanfaatkan tantadu untuk menghadapi musuh atau lawan.
Makna yang tersirat dari penggambaran motif ini adalah tentang
saling ketergantungan dalam kehidupan. Menyadari bahwa manusia
mempunyai saling ketergantungan satu sama lain, saling mengambil,
memberi, dan tidak saling merugikan. Dalam kehidupan flora dan fauna,
sistem ini dikenal dengan simbiosis mutualisme.
Ukiran bada mudiak memperlihatkan penggambaranikan-ikan kecil
yang memudiki sungai secara berombongan. Ini kiasan bagi kaum jelata
atau rakyat kecil menghadapi kekuatan besar agar tidak hanyut terbawa
arus. Makna yang tersirat dari ukiran bada mudiak adalah untuk
mendapatkan sumber yang jernih, kita harus kembali ke hulu. Untuk
menyelesaikanpermasalahan, kita harus kembali ke pangkal persoalan.
Ada makna ilahiah yang tersembunyi dari filosofi ini bahwa untuk
mencapai kebenaran haruslah kembali pada sumber yang sebenarnya,
yakni kebenaran Tuhan.
Begitulah. Terlalu panjang kalau dijelaskan satu per satu, yang
nama ukirannya bisa mencapai lebih dari seratus macam nama. Paling
tidak ini membuktikan bahwa ukiran-ukiran yang ada pada bagian rumah
yang diukir, yang diambil dari bagian etnik bangunan tradisional dan
kini melekat pada rumah-rumah modern, mempunyai makna filosofis yang
dalam.
Hanya orang yang tahu makna filosofis dari ukiran khas Minang
inilah yang biasanya membangun rumah dengan memadukan unsur
tradisional/etnik dengan modern, yang tentu saja memberi nilai tambah
yang unik secara visual dan barangkali, sekaligus, cerminan kesadaran
budaya yang tinggi dan karakter pemiliknya.
"Ukiran bada mudiak memperlihatkan penggambaran ikan-ikan kecil
yang memudiki sungai secara berombongan.
Foto; 1
KOMPAS/YURNALDI
Alam takambang jadi guru, begitu ungkapan orang Minangkabau. Karena
itu, ada ratusan nama ukiran mengambil dari alam, baik flora maupun
fauna. Di balik gambaran/ukiran yang terpahat, tersimpan makna yang
tersurat, tersirat, dan tersuruk. Sumber inspirasi dan studi yang
menarik.
--- On Tue, 9/15/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> wrote:
> From: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
> Subject: [...@ntau-net] Adakah penelitian tentang jumlah rumah gadang di
> Sumbar ?
> To: "rantaunet rantaunet rantaunet" <[email protected]>
> Cc: "BiroKerjasama Rantau PemdaSumbar" <[email protected]>, "Yulnofrins
> Napilus" <[email protected]>
> Date: Tuesday, September 15, 2009, 10:34 AM
>
> Assalamualaikum w.w. para sanak sapalanta,
>
> Dalam situs www.west-sumatra.com yang dikelola oleh pak
> Yulnofrins Napilus saya demikian sering melihat foto rumah
> gadang yang selain masih dirawat dan dihuni, juga ada yang
> sudah bobrok tak dihuni lagi.
>
> Hal ini menarik, karena rumah gadang memegang peranan
> sentral dalam sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau.
> Bobroknya rumah gadang adalah suatu indikasi bahwa ada
> masalah dengan kelembagaan sistem kekerabatan ini. Saya jadi
> tergelitik untuk mengetahui masalah ini.
>
> Pertanyaan saya adalah: adakah penelitian yang sudah
> dilakukan oleh perguruan tinggi di Sumatera Barat, atau oleh
> siapa saja, mengenai masalah ini ?
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta)
>
>
>
> >
>
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---