> Mencari Tan Malaka
> Wednesday, 16 September 2009
>
> Oleh: Asvi Warman Adam
> Sejarawan LIPI, Penasihat Tim Penggalian Makam Tan Malaka
>
> Pada 12 September 2009,ada penggalian di tempat yang diduga sebagai  
> makam Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kediri,Jawa Timur.
>
>
> Telah diperoleh sebuah kerangka jenazah yang sudah sangat rapuh  
> dengan tengkorak, termasuk gigi.Tinggi tubuhnya diperkirakan sekitar  
> 160 sentimeter. Tim forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas  
> Indonesia telah mengambil sampel untuk dicocokkan dengan DNA dari  
> Zulfikar Tan, keponakan Tan Malaka. Uji DNA ini memerlukan waktu dua  
> sampai tiga minggu. Sembari menunggu hasilnya, ada baiknya  
> dijelaskan mengapa penggalian ini baru dilakukan sekarang?
>
> Kenapa harus menunggu 60 tahun setelah kematiannya? Pencarian makam  
> ini dilakukan atas prakarsa keluarga yang tentu ingin memastikan di  
> mana Tan Malaka dikuburkan agar tahu ke mana mereka harus berziarah.  
> Tan Malaka sudah diangkat Presiden Soekarno sebagai pahlawan  
> nasional pada 1963. Tentu sudah selayaknya makam pahlawan itu  
> diketahui dengan pasti. Tertunda sekian lama karena selama tiga  
> dekade, oleh Departemen Sosial Orde Baru,Tan Malaka dianggap sebagai 
>  “off the record”.
>
> Gelar pahlawan nasional itu tidak pernah dicabut, tapi namanya  
> dihilangkan dalam daftar. Baru setelah era reformasi namanya  
> ditampilkan kembali. Bermunculanlah karya baru atau buku-buku lama  
> tentang atau oleh Tan Malaka yang pada masa sebelumnya sempat  
> dilarang. Seorang sejarawan Belanda, Harry Poeze,menulis disertasi  
> tentang Tan Malaka pada 1976.
>
> Karya akademis ini diterjemahkan menjadi dua jilid dalam bahasa  
> Indonesia, volume pertama Pergulatan Menuju Republik 1897–1925 terbi 
> t 1988 dan dibredel tahun 1989.Jilid dua, Pergulatan Menuju Republik 
>  1925–1945baru bisa beredar 1999. Poeze melanjutkan kisah Tan Malaka 
>  sampai akhir hayatnya, tahun 1949.Tahun 2007 terbit karya Harry Poe 
> ze Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, De linkse Beweging en Indonesis 
> che Revolutien 1945-1949 (Dihujat dan Dilupakan: Tan Malaka,Gerakan  
> Kiri dan Revolusi Indonesia 1945–1949).
>
> Berdasarkan hasil penelitian selama bertahun- tahun dengan riset  
> kepustakaan dan serangkaian wawancara di Jawa Timur, maka  
> diperkirakan Tan Malaka ditembak di sebuah desa di kaki Gunung  
> Wilis,Kediri. Ironis juga karena sejarawan Belanda yang serius  
> mengkaji pahlawan nasional kita bukan sejarawan Indonesia. Jika  
> penggalian makam tersebut membuahkan hasil, maka ada tiga  
> pilihan.Pemugaran makam dilakukan di tempat tersebut (Kediri) atau  
> dipindahkan ke kampung halamannya di Suliki, Sumatera Barat.
>
> Pilihan ketiga adalah disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata,  
> Jakarta.Tentu pihak keluarga yang memutuskan hal itu. Selanjutnya  
> kisah perjuangan Tan Malaka tentu perlu diajarkan dalam buku sejarah  
> di sekolah dengan mengoreksi berbagai pemahaman/persepsi yang  
> keliru. Pertama, selama Orde Baru, tokoh ini telah dizalimi dengan  
> tidak mencantumkannya dalam buku pelajaran sejarah di  
> sekolah.Padahal, statusnya sebagai pahlawan nasional tidak pernah  
> dicabut.
>
> Hampir seluruh hidupnya telah diserahkannya untuk memperoleh dan  
> mempertahankan kemerdekaan. Kedua, sang pahlawan telah disingkirkan  
> dari dunia pengajaran sejarah nasional karena dia dianggap  
> pemberontak. Ini tidak tepat,karena memang Tan Malaka menjadi tokoh  
> penting dalam lingkaran generasi pertama PKI tahun 1920-an.Tokoh PKI  
> masa itu sebagian juga pemimpin Islam yang gigih seperti Haji  
> Misbach di Jawa dan Datuak Batuah, guru sekolah Sumatera Thawalib di  
> Padang Panjang.
>
> Aktivis partai komunis di Padang Panjang dan Silingkang ini tak  
> pernah meninggalkan salat, meskipun mereka dikejar-kejar oleh PID  
> (intel Belanda). Dalam perkembangan selanjutnya Tan Malaka menentang  
> kebijakan PKI yang melalukan pemberontakan terhadap pemerintah  
> Hindia Belanda tahun 1926/1927 yang dianggap sebagai blunder.Tan  
> Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok pada  
> 1927. Setelah Indonesia merdeka,Tan Malaka mendirikan partai Murba  
> yang dalam berbagai hal berlawanan dengan PKI.
>
> Jelas dia tidak terlibat dalam gerakan komunis tahun 1926 dan 1948.  
> Ketika Musso pulang ke Indonesia pada 1948, program politiknya  
> memiliki beberapa kesamaan dengan Tan Malaka.Ketika ditanya wartawan  
> apakah mereka akan bekerja sama, Muso menjawab sinis.Bila punya  
> kesempatan,katanya, yang pertama dilakukannya adalah menggantung Tan  
> Malaka. Ketiga,Tan Malaka adalah seorang tokoh nasional yang juga  
> memiliki reputasi regional Asia, bahkan internasional.Pada 1925 di  
> Canton,China,dia mencetak buku tentang konsepsi negara Indonesia  
> dalam bahasa Belanda berjudul “Naar de Repoeblik Indonesia”.
>
> Dia melakukan gerakan di Bangkok, Manila,Amoy, Hong Kong, Syanghai,  
> Rangon, Singapura, dan pernah bekerja sama dengan Sun Yat Sen dan Ho  
> Chi Minh.Tan Malaka sendiri pernah berujar di depan polisi Hong Kong  
> yang menangkapnya pada 1927, “Di dalam kubur suaraku akan terdengar  
> lebih keras.” Tan Malaka tidak sependapat dengan Komintern di Moskow 
>  yang menyepelekan bahkan memusuhi Panislamisme yang berkembang di T 
> imur Tengah yang justru termasuk gerakan perlawanan antipenjajah.
>
> Keempat, Tan Malaka bukan saja dikagumi generasi muda dan aktivis  
> pergerakan kemerdekaan, tetapi juga oleh pemimpin nasional. Soekarno  
> sangat menyanjung Tan Malaka, sehingga dalam suasana kritis  
> pascaproklamasi, Tan Malaka adalah salah satu yang ditunjuk sebagai  
> pemimpin bangsa bila Soekarno-Hatta ditangkap Belanda. Kelima,Tan  
> Malaka adalah pemimpin yang ide-ide dan perjuangannya masih relevan  
> dengan kondisi nasional sekarang.
>
> Setelah kemerdekaan diproklamasikan, terdapat dua model perjuangan  
> untuk menghadapi Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia,  
> yaitu berunding atau mengadakan perlawanan bersenjata.Pemerintahan  
> Sjahrir memilih jalan yang pertama, sedangkan Tan Malaka memiliki  
> visi yang berbeda yaitu melakukan revolusi total. Awal 1946  
> terbentuklah Persatuan Perjuangan yang menghimpun 141 organisasi  
> politik, laskar, dll, termasuk Masyumi dan PNI.
>
> Dalam pembentukannya di Purwokerto, Tan Malaka menyampaikan pidato  
> tentang pentingnya persatuan untuk mencapai kemerdekaan 100 persen  
> yang kemudian menjadi program pertama gerakan tersebut (“Berunding a 
> tas pengakuan kemerdekaan 100 persen”).Dalam Persatuan Perjuangan an 
> tara lain duduk sebagai anggota subkomite, Jenderal Sudirman yang me 
> wakili TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Pemikiran untuk “Berunding set 
> elah ada pengakuan kemerdekaan 100 persen” masih relevan sampai hari 
>  ini.
>
> Apakah dalam perundingan dengan pihak asing— seperti para peminjam u 
> tang— kita telah mendesakkan prinsip pengakuan kemerdekaan 100 perse 
> n ini? Apakah dalam membahas kontrak pengolahan kekayaan alam nasion 
> al, kita tidak didikte seperti semasa Orde Baru? Keenam,Tan Malaka a 
> dalah tokoh kaliber Asia,pejuang nasional yang sekaligus pemimpin lo 
> kal atau pemangku adat.
>
> Nama sebenarnya Ibrahim,dia diangkat menjadi datuk dari suku Koto,  
> dengan gelar Tan Malaka.Perjuangannya sendiri bersumber dari nilai- 
> nilai falsafah adat Minangkabau. Dia pejuang global dengan tidak  
> melupakan nilai lokal.(*)
>
> http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/270468/
>
> ----

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke