Assalamualaikum w.w. Prof Suheimi yang saya hormati dan para sanak sa palanta,
Sungguh saya merasa tersanjung dengan tulisan Prof terhadap diri saya. Dalam usia setua saya sekarang, memang sabar dan bersikap positif adalah merupakan suatu pilihan yang terbaik, karena beringas dan bersikap negatif bukan saja adalah merupakan suatu kemustahilan tetapi juga tak ada manfaatnya sama sekali. Jika memang sabar dan bersikap positif itu ada pada diri saya, hal itu saya warisi dari Ibu saya almarhum dan dari 'ilmu bejo' saudara-saudara kita dari Jawa. Tidak lebih dan tidak kurang. Saya merasa bahagia jika dengan dua sifat itu kiprah sosial saya ada manfaatnya bagi kita semua. Dari dua sifat yang saya warisi dari Ibu dan dari budaya Jawa itu saya coba menulis tentang berbagai hal, yang tidak selalu terkait dengan ilmu yang saya tekuni. Saya juga banyak belajar dari Prof Suheimi, yang selain sukses berusaha -- kemampuan ini yang sama sekali tak ada pada diri saya -- juga merupakan pengamat sosial yang tajam, humanis, religieus, dan menebarkan energi positif kepada kita semua. Untuk itu, termasuk untuk nasehat kerohanian beliau kepada saya di akhir tulisan beliau, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Posting ini saya tembuskan kepada mailing-list keluarga saya, biar anak cucu serta menantu saya tahu bahwa ada profesor yang 'all round' memuji kakeknya yang mulai ringkih ini. Wassalam, Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) --- On Wed, 9/16/09, [email protected] <[email protected]> wrote: > From: [email protected] <[email protected]> > Subject: [...@ntau-net] Saafruddin Bahar > To: "Sma" <[email protected]>, "Rantau" <[email protected]> > Date: Wednesday, September 16, 2009, 8:11 PM > Saafruddin Bahar > Oleh K Suheimi > > Kami berdua yang terakhir mengambil Nasi untuk makan > berbuka, disenja itu > > "Untung kita yang terakhir" kata Pak Saaf."Biasanya kalau > terakhir ini kita banyak dapat" cilotehnya sambil > tersenyum. > > "Tapi bisa juga tak kebagian apa-apa, kerna semua habis" > sela seorang ibu yang antree di depan pak Saaf. > > Pak Saaf yang mulai tua ini tampak demikian sabarnya. Malam > ini dalam rebutan baris berbaris untuk mendapatkan buka > puasa dia selalu mengalah. Dalam suasana apapun di > pandangnya sesuatu dari segi baiknya. > > Keterlambatan dan ke ter akhiran itupun di syukurinya, > "kita akan banyak dapat", ulasnya. > > Ketuaan itu melahirkan kebijaksanaan, ketuaan itu > memancarkan kesabaran. Dalam ke tuaan itu seseorang banyak > mengalah. > Mungkin pelajaraan hidup mengajarkan bahwa perlu lebih > sabar, perlu mengalah dan perlu berfikiran positif. > > Begitulah Pak Saaf yang saya kenal tulisannya, malam itu > tampak betapa bersahajanya dia. > > Siapa yang tak kenal Saafruddin Bahar. Dia adalah pemikir, > dia adalh pembaharu. Tulisanya terserak di mana-mana. Tak > saya temui orang tua yang se produktif Pak Saaf. Apapun > ditulisnya, agama, kehidupan,politik, bahkan seluk beluk > dalam adat istiadat beliaulah pakarnya. > > Dimasa dahulu beliau sangat di segani dan ditakuti. > Pemikirannya yang bernas mengantarkannya ke kelompok pemikir > di SUMBAR. Bahkan di sebut2 kalau dia bersedia, dia bisa > jadi orang no satu. > > Dibimbimbingnya cucunya. Dialah satu-satunya yang membawa > cucu di hari itu. > > Kesayangannya pada cucu sangat kentara, tak dibiarkannya > cucu ini lepas dari matanya. Dia adalah kakek yang penyayang > dan pendidik yang luar biasa. > > Bukan untuk cucu saja. Kamipun anggota miling list Rantau > net tak luput dari pantauannya. Kami banyak belajar padanya. > Kalau saya terbentur, saya akan tanya padanya. > > Dan Pak Saaf suka itu. Dicurah dan di paparkannya sejak > dari pangkal awal bermula, sampai ke ujung-ujungnya. > > Orang "kampung dalam Pariaman yang lahir 73 tahun yang > lalu" " ini adalah aset kekayaan bangsa ini" > > Saya selalu berdo'a agar ada yang mampu menerima estafet ke > ilmuan dan sifat dari pak Saaf. Orang yang tak mau > menonjolkan diri, suka mengalah dan sabar. Padahal ilmunya > sangat tinggi dan dalam. > > Beruntung saya malam itu ada disampingnya, Pak Saafruddin > Bahar adalah Guruku > > Akan saya simpan buah fikiran dan tulisannya. Akan saya > sebarluaskan melalui Blog di internet > > Dia tampak kuat dia tamak sehat. Badannya langsing > gerakkannya masih lincah , dialah Jendral Saafruddin Bahar > > Saya berdo'a mudah-mudahan Pak Saaf memiliki sifat Nabi > Ibrahim > > Untuknya saya petikkan sebuah Firman Suci Nya > > Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat > dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan > sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang > mempersekutukan (Tuhan), > > Istana Wakil Presiden 12 September 2009 > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
