Assalamualaikum w.w. bung Nofend dan para sanak sapalanta.

Sedih sekali saya membaca pertanyaan yang diajukan pada bagian akhir dari 
artikel bung Nashrian Bahzein di bawah ini, yang berbunyi :" Bung Hatta, St 
Sjahrir, Tan Malaka, Buya Hamka, dan sederet nama lainnya, adalah tokoh Minang 
yang tak lekang oleh kepentingan pragmatisme. Masih adakah tokoh berkarakter 
itu di Sumbar? (*)"  Jawaban pertanyaannya sudah terkandung dalam ulasan 
sebelumnya, yang isinya -- kira-kira - tidak ada lagi.

Menurut penglihatan saya, dengan merujuk pepatah 'sakali aia gadang sakali 
tapian baranjak' dan dari berbagai tulisan Tsuyoshi Kato tentang perubahan 
sosial di Minangkabau, Minangkabau sekarang memang tidak sama lagi dengan 
Minangkabau dahulu. Tinjauan selintas saja akan menunjukkan hal itu: dari 
nama-nama orang Minang masa kini, dari bahasa yang dipergunakan sehari-hari di 
kalangan anak muda, dari cara berpakaian gadis-gadisnya, dari demikian maraknya 
berita tentang skandal seks, dari runtuh dan tidak terpeliharanya lagi 
rumah-rumah gadang,dari sikap dan perilaku para pemimpin, dari demikian 
banyaknya penganggur terdidik, atau dari sinyalemen mulai sulitnya mencari imam 
dan chatib, yang tidak terbayangkan oleh kita dalam dasawarsa yang lalu. Saya 
percaya kita ingin memperbaiki keadaan itu.

Untuk memantau, merencanakan perbaikan, dan menindaklanjuti perbaikan tersebut 
sesuai dengan 'jati diri Minang', sungguh amat kita perlukan data yang benar 
dan aktual tentang hal-hal yang menjadi keprihatinan kita bersama itu.. 

Namun justru mengenai hal ini tidak ada data yang konkrit. Saya bersimpati 
dengan Drg Abraham Ilyas, perantau yang bermukim di Palembang, yang selama 
beberapa tahun telah membangun situs www.nagari.org untuk maksud itu, dan 
kelihatannya sampai saat ini tidak banyak mengalami kemajuan yang berarti.

Sebagai akibatnya, amat sering terjadi jika kita berbicara atau menulis tentang 
Minangkabau, kita berbicara tentang Minangkabau dalam alam pikiran kita, 
Minangkabau dalam alam pepatah petitih, yang sebagian besar merupakan 
Minangkabau masa lampau, Minangkabau dalam alam romantika, seperti ditengarai 
oleh Prof. Azyumardi Azra. Sungguh teramat sedikit yang mendasarkan ulasannya 
pada situasi masa kini yang konkrit. Sejak tahun 2004 saya malah melihat adanya 
keengganan untuk berbicara mengenai realita itu. Hanya budayawan Wisran Hadi 
yang secara konsisten mengeritik kehidupan orang Minangkabau masa kini itu, 
dengan gaya yang jenaka.

Saya berharap banyak kepada 'civitas academica' di Sumatera Barat untuk 
mengadakan penelitian yang berlanjut mengenai 'social change' di Minangkabau 
ini, agar kita tidak lagi hidup dalam alam mimpi masa lampau, yang walau pun 
indah, tetapi tidak ada lagi dalam kenyataan.

Wassalam,
Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) 

--- On Fri, 9/18/09, Nofend St. Mudo <[email protected]> wrote:

> From: Nofend St. Mudo <[email protected]>
> Subject: [...@ntau-net] Mencari Jati Diri Demokrasi Minangkabau (1) : 
> Kearifan Lokal "Terbungkam" Pragmatisme
> To: [email protected]
> Date: Friday, September 18, 2009, 6:32 PM
> 
> Oleh: Nashrian Bahzein*
> 
> Era reformasi yang ditandai penerapan sistem demokrasi
> sejak satu dasawarsa
> silam, melahirkan hiruk-pikuk sosial politik di seantero
> negeri ini.
> Ketertiban umum menjadi barang mahal, sehingga sulit
> direngkuh. Sistem
> demokrasikah yang salah, atau perilaku aktor-aktor yang
> jauh dari
> nilai-nilai demokrasi? 
> 
> Demokrasi oleh sebagian masyarakat dinilai hanya
> menciptakan ketidaktertiban
> di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
> Ketidakteraturan
> itu merambah sendi-sendi kehidupan demokrasi di Republik
> ini. Bahkan,
> melumpuhkan empat pilar demokrasi; eksekutif, legislatif,
> yudikatif dan
> pers. 
> 
> Demokrasi dinilai sukses menumbuhkan budaya vandalisme,
> baik elite pemimpin
> maupun masyarakat yang dipimpin. Layaknya hukum rimba,
> siapa kuat, dia
> menang. Itulah rimba raya potret demokrasi alam
> desentralisasi (otonomi
> daerah) ini. Jangan salahkan rakyat, jika kini muncul
> kerinduan suasana Orde
> Baru yang serba tertib. Benarkah otonomi daerah sebagai
> penghambat, atau
> membangun demokrasi di tingkat lokal? 
> 
> Berangkat dari kegelisahan itu pula, The Habibie Center,
> merumuskan model
> demokrasi lokal di empat daerah. Keempat provinsi itu
> adalah Sumbar, Jawa
> Timur, Bali dan Sulawesi Selatan. Lantas, bagaimana model
> demokrasi di
> Sumbar? 
> 
> Untuk memformulasikan model demokrasi lokal di empat
> daerah, The Habibie
> Center melakukan penelitian selama periode 2007-2009. Dalam
> focus group
> discussion (FGD) di Padang, Sabtu (12/9), hadir pakar
> administrasi
> pemerintah daerah dari Universitas Indonesia, Eko Prasodjo
> dan Ketua Forum
> Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Tommi
> Legowo dan Siti Zuhro,
> dari peneliti The Habibie Center. 
> 
> Diskusi ini melibatkan tokoh masyarakat Sumbar, di
> antaranya Wisran Hadi
> (budayawan), Saldi Isra (direktur Pusat Studi Konstitusi
> (Pusako) FH Unand),
> Charles Simabura (Pusako FH Unand) Eka Vidya Putra
> (peneliti dan pengamat
> kebijakan publik UNP), Israr (peneliti CIRUS dan dosen
> sejarah Unand), Abel
> Tasman (anggota DPRD Sumbar) dan Hendra Makmur (ketua
> Aliansi Jurnalistik
> Indonesia Padang). 
> 
> Hasil temuan menunjukkan bahwa demokrasi dan budaya politik
> lokal di keempat
> daerah itu, memberikan nuansa keragaman dan kekhasannya.
> Kesinambungan
> nilai-nilai budaya-seperti egaliter dan
> otoritarianisme-memberikan
> kontribusi dalam membangun dan menghambat demokrasi di
> daerah masing-masing.
> Hanya saja, para aktor demokrasi di empat daerah itu,
> belum
> merepresentasikan keinginan dan aspirasi rakyat, sehingga
> lebih menampakkan
> pragmatismenya ketimbang mendorong demokratisasi lokal.
> Seperti yang
> terlihat dalam arena pilkada. 
> 
> Setali tiga uang. Pragmatisme itu juga terjadi di arena
> APBD, di mana para
> aktor penentu yang terlibat dalam perumusannya, cenderung
> meminggirkan
> kepentingan rakyat. Perubahan rezim dan sistem
> pemerintahan, belum diikuti
> perubahan perangai elite-elite lokal dalam mendorong
> demokrasi di Sumbar.
> Dari kajian The Habibie Center, agenda otonomi daerah
> hingga kini lebih
> dimaknai bagi-bagi kekuasaan, daripada mendorong proses
> demokrasi di tingkat
> lokal. 
> 
> Menurut Eko Prasodjo, wajah demokrasi lokal ditentukan tiga
> faktor; budaya,
> aktor dan fungsi lembaga demokrasi lokal. Walau Sumbar
> telah memiliki modal
> budaya egaliter, tidak serta merta bangunan demokrasi
> berdiri tegak di Ranah
> Minang. Pasalnya, nilai-nilai universal demokrasi yang
> sebenarnya selaras
> dengan budaya Minang, tergusur peran aktor demokrasi di
> negeri ini. 
> 
> Lihat saja dalam pelaksanaan pesta demokrasi di Sumbar,
> betapa pragmatisme
> elite-elite politik mengalahkan idealisme pengabdian pada
> kemaslahatan umat.
> Parahnya, pragmatisme itu kini menular hingga akar rumput,
> yang cenderung
> memilih karena kepentingan pragmatis juga. Selain bagi-bagi
> kekuasaan,
> demokrasi dipelintir bagi-bagi (rebutan) kue pembangunan. 
> 
> Nilai-nilai luhur Minangkabau yang dulunya dominan dalam
> membentuk karakter
> bapak pendiri bangsa asal Minang, perlahan tercerabut dari
> akar budayanya.
> Kearifan lokal sebagai perangkat pengetahuan dan
> praktik-praktik luhur dari
> nenek moyang, mulai ditinggalkan masyarakatnya. 
> 
> Antropolog UGM Heddy Shri Ahimsa-Putra (2008) mengartikan,
> kearifan lokal
> mengorientasikan jati diri sebuah suku bangsa. Memberi
> identitas atau
> karakter pembeda dengan bangsa lain. Kearifan lokal
> berfungsi untuk
> menyelesaikan berbagai persoalan atau kesulitan yang
> dihadapi secara baik
> dan benar. Bung Hatta, St Sjahrir, Tan Malaka, Buya Hamka,
> dan sederet nama
> lainnya, adalah tokoh Minang yang tak lekang oleh
> kepentingan pragmatisme.
> Masih adakah tokoh berkarakter itu di Sumbar? (*) 
> 
> *Penulis adalah Wapemred Padang Ekspres
> 
> http://padang-today.com/index.php?today=article&j=3&id=980
> Selasa, 15/09/2009 10:24 WIB
> 
> 
> 
> > 
> 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke