Berani beda, berani benar! (www.indrapiliang.com)

-----Original Message-----
From: Koran Digital <[email protected]>
Date: Mon, 21 Sep 2009 15:58:16 
To: Koran Digital<[email protected]>
Subject: [Koran-Digital] Mendidik Santri Jadi Pengusaha


AL-ASHRIYYAH NURUL IMAN
Mendidik Santri Jadi Pengusaha
Pesantren Nurul Iman membiayai kegiatan pendidikan melalui keuntungan
unit usaha. Bekal untuk para santri setelah lulus.

RAMADAN berarti masa libur panjang bagi santri Pondok Pesantren Al-
Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor. Bahkan tiga hari sebelum bulan
puasa sudah tidak ada kegiatan belajar-mengajar. Masjid lebih lengang
meski masih ada kegiatan mengaji. Para santri mudik ke kampung halaman
dan baru kembali seusai Idul Fitri. ”Saya baru akan pulang setelah
lulus,” kata Amri, santri madrasah aliyah.

Habib Saggaf Mahdi bin Syekh Abu Bakar, pemimpin Nurul Iman, memang
menyarankan para santri supaya tidak pulang sebelum lulus. ”Supaya ada
kebanggaan begitu pulang,” katanya.

Bagi mereka yang ingin pulang, pondok menyediakan angkutan. Bus untuk
santri yang berasal dari Jawa dan Sumatera, dan tiket kapal laut buat
santri dari pulau lain.

Bukan semata kebanggaan yang menahan Amri untuk tetap berada di pondok
selama masa pakansi. Ia memanfaatkan liburan untuk bekerja lebih giat
di unit usaha pondok: pabrik roti, tambak ikan, dan pengolahan sampah
menjadi kompos. ”Hasilnya lumayan, dikirim untuk orang tua di
kampung,” katanya.

Aktivitas unit-unit usaha inilah yang membedakan Nurul Iman dengan
pesantren lain. Melalui unit usaha ini, Saggaf melumasi roda kegiatan
pondok. Sebanyak 15 ribu santri yang berasal dari penjuru Tanah Air
tak dipungut biaya pendidikan ataupun pondokan. Ini pula yang membuat
jumlah santri melejit, dari delapan ribuan santri pada akhir 2006.

Abah, demikian Habis Saggaf dipanggil oleh para santri, tak
menyebutkan secara persis berapa dana pengeluaran pondok per bulan,
termasuk gaji guru yang sebagian lulusan luar negeri itu. ”Ratusan
juta rupiah,” katanya. Ia mengatakan masih mampu membiayai 25 ribu
santri lagi di atas lahan pondok seluas 175 hektare itu.

Para santri itulah yang menjadi tenaga kerja paruh waktu di unit usaha
pondok. Setiap santri bergiliran praktek bekerja. ”Alumni saya
diharapkan menjadi pengusaha, bukan pekerja. Pengusaha bisa memperoleh
penghasilan lebih besar,” kata Saggaf.

Kini para santri Nurul Iman memiliki keahlian di berbagai bidang.
Mereka juga dipersilakan mendalami satu-dua keahlian berbisnis.
Caranya, mereka mengelola sendiri manajemen hingga pemasaran.
Pendidikan wiraswasta inilah yang menjadi kelebihan pesantren yang
dipimpin Abah Saggaf itu.

Sistem pembagian keuntungan pun membuat santri bersemangat. Santri
sebagai pengelola diberi hak separuh keuntungan. Sisanya disetor ke
pengurus pondok. Setoran inilah yang digunakan untuk menutup biaya
operasional pesantren. Sebagai contoh penghasilan dari tambak ikan
seluas 35 hektare dalam setahun bisa menghasilkan uang Rp 4 miliar,
belum lagi keuntungan dari pabrik roti dan pabrik lainnya.

”Semua biaya operasional tertutup dari usaha yang kami kelola. Saya
berharap santri saya setelah lulus jadilah pengusaha. Bagi yang senang
di bidang pendidikan, jadilah pengajar di sini,” katanya.

Selain membiayai pendidikan, Saggaf sangat memperhatikan guru, ustad,
dan dosen. Mereka diberi rumah di sekitar pesantren. Kini sudah ada
ratusan rumah yang dibangun Abah untuk mereka.

Mengenai tenaga pendidik, Saggaf memilih orang yang benar-benar ahli.
Untuk pelajaran tambahan taekwondo, misalnya, didatangkan pelatih dari
negeri asalnya, Korea. Pengajar bahasa Inggris didatangkan dari
sekolah internasional, sedangkan bahasa Arab diajarkan oleh alumnus
lulusan Universitas Al-Azhar Mesir. Pengajar teknologi dan komputer
pun lulusan dalam dan luar negeri. ”Saya harus mendatangkan mereka
yang benar-benar ahli di bidangnya. Kalau untuk pelajaran agama harus
yang memiliki sertifikat pengajar agama,” ujarnya.

Saggaf tak cuma mengajarkan ilmu agama kepada para santrinya, tapi
juga pendidikan umum sesuai dengan standar Departemen Pendidikan
Nasional, mulai dari tingkat tsanawiyah (SMP), aliyah (SMA), hingga
perguruan tinggi. Setiap Senin sampai Sabtu, pukul 07.00-12.00, para
santri belajar ilmu agama, bahasa Arab, fikih, tauhid, dan sebagainya.
Setelah salat zuhur dan makan siang, para santri mendapat pelajaran
laiknya sekolah umum. Saban Ahad mereka mendalami bahasa Inggris.

Para santri memang diharuskan mampu berbicara dalam bahasa Arab dan
Inggris. Santri angkatan pertama yang sudah menjadi mahasiswa atau
sudah lulus juga diberi kesempatan mengajar di pondok.

Sejak pesantren berdiri pada 1998, perekonomian warga sekitar juga
terbantu. Mereka ikut terlibat mengelola tambak seluas 35 hektare yang
menyebar di tiga desa. Sistem bagi hasilnya sama, yakni setengah untuk
pengelola dan setengah untuk pesantren. ”Warga terbantu sejak
pesantren ini berdiri. Abah sangat membantu warga Desa Warung yang
kesulitan,” kata Rochim, warga setempat.

Adek Media, Deffan Purnama (Bogor)
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/21/LU/mbm.20090921.LU131458.id.html
“Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang 
sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan.” -- Otto Von 
Bismarck
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke