Indra dan sanak-sanak di lapangan. Memang penting masalah koordinasi ini di tingkat bawah (nagari), karena belum ada aturan mainnya. Kalau di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota sudah ada aturan menurut UU 24/2007, yaitu bertumpu pada level kedua setelah Kepala Daerah. Namun di tingkat nagari kan tidak ada level kedua? Dari pengalaman kami waktu gempa 2007, perlu segera dibangun koordinasi tungku tigo sajarangan di setiap nagari, meliputi KAN, BMN, dan aparat Nagari. Informasi dan evaluasi perlu dilakukan secara intens, sehingga penanggulangan bencana dan penyaluran bantuan bisa dilakukan sesuai prinsip-prinsip penanggulangan bencana. Saya kira ini dapat dicoba dan diuji dalam kondisi sekarang ini. Lembaga usaha (relawan) saya kira bisa berperan untuk memfasilitasi hal ini. Demikian sementara waktu. Wassalam, -datuk endang
--- On Fri, 10/2/09, Indra J Piliang <[email protected]> wrote: Masalah utama dlm distribusi bantuan adalah tdk berfungsinya atau lumpuhnya aparatus birokrasi, mulai dari pemda, camat, wali nagari, wali korong atau jorong. Penduduk membuat posko sendiri2, lalu mencari bantuan sendiri?. Yg tercover hanya beberapa puluh rumah. Kalau bisa, sebelum memberi bantuan, terlebih dahulu mengundang tokoh2 masy: niniak mamak, ulama, bundo kanduang, pemuda, serta tetua lainnya, lalu bantuan disistribusikan secara MERATA, baik yg kena atau tdk kena. Krn pada dasarnya semua terkena, mengingat hubungan sanak famili, ipar, besan, dll. Pengaktifan organisasi kemasyarakatan yg terlibat dlm pemberian bantuan lebih diuatamakan, ketimbang menjadi sinterklas yg langsung datang ke posko2 yg dibuat sendiri oleh masyarakat. Hati2 juga dgn calo2 bantuan, krn tetap saja manusia2 keji spt ini ada di belahan bumi manapun. Dan usahakan memotret setiap benda yg rusak, krn itu bisa mengobati hati masyarakat. Masyarakat sudah mulai emosi, walau blm diperlihatkan. Benih2 kecemburuan sosial dan sas sus juga kencang: si ini dapat krn itu, si itu tdk dapat krn ini. Terima kasih. Yg dibutuhkan terutama yg berurusan dgn DAPUR PENDUDUK: bahan makanan, ikan asin, gula, kopi, the, cabe, sarden, beras, dll. Tolong jangan indomie, krn hanya bikin lemah hati. Perjalanan Kampung Dalam-Padang, disertai macet. 2 Oktober 2009, pukul 21.40. Berani beda, berani benar, berani pulang! --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
