Sanak Indra, terima kasih atas laporannya dan sangat berguna, mengingatkan kita 
pada kejadian Aceh dulu. Saya merupakan orang pertama yang diundang oleh 
Bappenas dalam tahap paling awal penanganan masalah bencana pada masa itu, dan 
berkesempatan melihat beberapa proses manajemen bantuan bencana di tingkat 
nasional. Dalam posisi strategis Indra saat ini, perlu dilakukan 1) pendataan 
akibat bencana secara menyeluruh, dan 2) menaksir secara finansial tingkat 
kerugian. Bahan ini signifikan untuk menentukan pola kebijakan penanganan ke 
depan.
 
Di bawah saya sampaikan satu pengalaman penanganan gempa Yogya disampaikan oleh 
Bambang SP, mantan Sekda DIY, yang mendasari aturan main dalam UUPB. 
Mudah-mudahan berguna.
 
Wassalam,
-datuk endang
 
Disaster management sangat bagus. Menjadi masalah sebenarnya adalah bukan 
disitu. Jogja punya konsep itu menghadapi Merapi. Ternyata macet pada waktu 
menghadapi gempa. Padahal sama-sama disaster.
Pengalaman mas Djarot pada saat di Bantul itu sangat berarti. Kalau ingat 
detik2 kejadian paska gempa itu adalah :

Absentiisme dari pejabat pemerintah yang harus memegang tampuk kendali. 

Pejabat yang seharusnya baru bisa in dalam menangani tanggap darurat (2x7 hari) 
baru pada jam 14.00 siang. Itupun dengan kondisi yang tidak penuh. 
Terjadi persaingan antara institusi. Ini terpancing pada masalah politik 
(sehingga memunculkan adanya p[olemik 15 juta-30 juta dan siapa berwenang 
menangani apa. 
Ternyata ABRI dalam hal ini di komando oleh Pangdam Diponegoro sudah mulai 
evakuasi pada jam 11 siang. Komando dengan pemerintah setempat terjadi jam 
14.00 siang. 
Sistem management di Pemerintah Daerah khususnya di Kabupaten Bantul baru bisa 
disusun pada hari kedua. 
Sistem kendali penanganan tanggap darurat di Propinsi baru berjalan maksimal 
pada hari ke 2 sore.
Reaksi cepat masyarakat luar terhadap bencana 

Masyarakat luar masuk DIY justru terjadi sejak jam 12 siang dengan jalan darat. 
Istimewanya ini justru dari pihak asing. Pesawat pertama memberi bantuan 
mendarat di Solo jam 8 malam, karena bandara Adisucipto tidak bisa didarati. 
Masyarakat LSM masuk Jogja pertama pada jam 8 sore dan jumlah cukup besar 
dengan jalan darat. Mereka cenderung melakukan pembantuan secara independen dan 
sporadis. Disatu sisi ini sangat bagus, tetapi disisi lain terjadi pemborosan 
energi. Hal ini misalnya dapat dilihat dari penumpukan pasien di RS PKU Bantul, 
dan kelemahan distribusi pasien. Distribusi pasien baru bisa berjalan dengan 
baik pada hari ke 3.
Kesiapan masyarakat dalam bereaksi terhadap bencana 

Justru kesiapan masyarakat secara mandiri yang merupakan cerminan gotong royong 
yang mempercepat proses evakuasi. Mereka menggunakan pendekatan pkoknya 
dibantu. Sedangkan prosedur pengamanan tidak diperhitungkan. Hal ini 
menyebabkan banyaknya korban meninggal waktu evakuasi. 
Seminggu setelah bencana, proses recovery secara mandiri pada masyarakat sudah 
berjalan. Kegiatan usaha skala kecil sudah muncul pada hari ke 7-8.
Ini merupakan sebagian dari log-book yang ada pada saya yang waktu itu menjadi 
sekreetaris pengendali penanganan tanggap darurat (Bakortranasda).
Bila ingin dilihat dalam distribusi bantuan. Bakortranasda bekerja sama dengan 
Pangdam mencoba dengan trial n error.
Pertama, melakukan distribusi langsung kepada orang yang datang ke posko. 
Ternyata muncul orang-orang yang pulang balik mengambil jatah seperti supermi 
dan makanan kering lainnya dan ternyata di jual kembali di pasar Bering Harjio 
dlsb. Model ini dihentikan segera pada hari ke 3.
Kedua, didistribusikan pada tingkat kecamatan. Ternyata model inipun mempunyai 
kelemahan. Yang menjadi pemain pengambil keuntungan adalah aparat kecamatan. 
Munculah lord=lord baru di kecamatan. Jangkauan tidak bisa merata. Model ini 
dihentikan pada hari ke 5.
Ketiga, kombinasi model 1 dan 2. Masyarakat dipersilahkan langsung datang ke 
posko dan juga disitribusikan ke desa2. Ternyata yang didesa-desa trejadi 
kolusi. Keluarga pejabat desalah yang mendapatkan pelayanan pertama dan 
masyarakat lainnya tidak jalan. 
Keempat, kombinasi 3 dan menggunakian masyarakat cq. radio dan tv swasta untuk 
mencari korban yang belum tertangani. Untuk itu di posko dibangun pemantu 
siaran radio dan radio komunikasi warga (CB dan ORARI), selain juga TV. 
Kemudian ada tim gerak cepat berbentuk heli, speda motor trail dan kendaraan 
4WD untuk menjangku area yang sukar. Ternyata cara ini adalah yang paling 
efektif. 
Mungkin ini sedikit pengalaman waktu penanganan gempa Jogja. Ada sebuah posisi 
yang tidak bisa di lupakan. Information center yang terbuka 24 jam untuk semua 
pihak sehingga masing2 bisa berkoordinasi.
Salam
bambang sp


--- On Sat, 10/3/09, Indra J Piliang <[email protected]> wrote:


Karena baru datang hari ini, laporan ini dinamakan Laporan Hari ke3. 

Sebelumnya, saya sedikit "membela" Pemda Sumbar dlm acara SUN TV pd Kamis mlm. 
Dan saya cabut kembali pernyataan itu. Memang, setahun lalu saya dengar Gamawan 
Fauzi bicara dlm acara SSM tentang antisipasi gempa, tsunami, dll. Fauzi Bahar 
juga sudah mengadakan simulasi gempa dan tsunami. 

Kenyataannya tdklah begitu. Pas pesawat kami landing di BIM, tdk ada posko 
gempa di BIM. Tdk terlihat Sumbar adalah wilayah gempa terbesar, 7,9 skala 
ritcher. Yg ada adalah sopir2 taxy menawarkan diri. Saya beruntung krn rata2 
mereka sudah kenal dgn wajah sy, hingga mrk hanya mengajak bersalaman. 

Kargo kami dibongkar di anggar kargo. Ada pasukan TNI di sana dan relawan gempa 
dari Jepang. Saya juga bertemu relawan PMI dan sempat bersalaman dgn Marie 
Muhammad. Terus terang, saya "kasihan" kpd Ketua PMI itu, tapi juga trenyuh dgn 
ketidakmauannya utk mempercayakan tugas2 berat PMI kpd org2 yg lbh muda dan 
segar. Kargo kami, dari Sahabat Muda -- dlm pilpres adalah relawan JK-Wiranto, 
dari pihak keluarga-- ada dua truk sedang bak terbuka. Tanda terima dgn petugas 
bandara dibuat di dgn tulisan tangan. Satu tenda darurat HIPMI, terangkut oleh 
PMI, krn memang tdk dititipkan ke sy. 

Ada bbrp dokter, konseling, dan relawan yg di pesawat. Mrk tdk tahu harus 
kemana. Sebagian akan langsung lapotr ke Sarkotlak Bencana. Sebagian mau ikut 
sy, tapi sy mengatakan tdk tahu juga info lapangan. Sempat jumpa dan ngobrol 
dgn Gubernur Alex Noerdin dan Kapolda Sumsel, sebelum mrk pergi. 

Sy bergerak dgn 2 mbl truk dan 1 mbl APV, langsung menuju Kampung Dalam. 
Rencananya mau dibongkat dulu di Padang, krn ada satu gudang yg sudah disiapkan 
tim sy di lapangan. Tapi truk sudah mengarah ke Pariaman, jadinya saya ikuti. 
Sy singgah di Buayan yg dulu pernah jadi posko cabang IJP 09 Center. Dapurnya 
roboh, tetapi scr umum desa Buayan, kec Batang Anai, selamat. 

Bergerak ke Lubuk Alung. Kabarnya pasarnya rusak berat. Tapi bangunan ruko2 
baru di jln by pass utuh dan bagus. mungkin pas dibangun diawasi langsung oleh 
pemiliknya. 

Lewat Kec Sintuk Toboh Gadang, Kec Nan Sabaris, Ulakan Tapakis, dll. Sudah 
mulai byk rumah2 rusak, dari ringan, sedang, berat, sampai rata dgn tanah. Ada 
tulisan2 di jalan: posko bencana, tapi tdk ada org. 

Lewat Pasar Kurai Taji yg rusak berat, serta rumah2 yg rusak dan runtuh. Inilah 
kawasan Pariaman Selatan. Termasuk parah. Mau lewat by pass di pariaman tengah, 
macet, krn antre bbm di pom bensin. Balik, lewat kantor walikota baru yg rusak 
berat atau sedang, lalu ke pariaman tengah. Kondisi juga rusak: ringan sampai 
berat. 

Pariaman Utara lebh baik. Tdk byk kerusakan berarti. Kecuali Naras. Masuk ke 
Simpang 4 Toboh arah Kampung Dalam, pemandangan gempa mulai merata: air yg 
mengalir melewati rumah, tenda2 darurat, rmh rubuh dan rusak berat, posko2 di 
sepanjang jln. Pemandangan ini tdk berhenti di seluruh kawasan Kec V Koto 
Kampung Dalam: Campago, Pasar Pariaman, Tandikat, Padang Manis. Di sini, satu 
truk berhenti. Logistik masuk ke sebuah kamar, lalu dikunci. Kunci dipegang 
Muhardi, tmnku waktu SMA. Besok mau didistribusikan, setelah dimasukkan ke 
kantong2 plastik. Pesannya 1: berikan ke sebanyak mungkin org atau kepala rumah 
tangga, walau hanya mendapat 1 buah susu Ultra. 

sempat bicara dgn bbrp org, minum, ditraktir malam sama yg bawa mobil. 90 
persen rumah rusak, dlm arti hanya 10 persen yg bisa dihuni. 

Satu truk pergi ke kawasan tempat tinggal saya, seberang sungai yang menguning 
-- dulu jernih --. Lalu, ditaruh di Pos Pemuda. Disiplin berlaku disini: semua 
rumah harus dapat. Akhirnya dibagikan, tanpa harus pakai kupon, krn org saling 
kenal mengenal. Bbrp "pejabat" sy lihat agak masam mukanya, krn cara distribusi 
itu tdk lwt mrk. 

Truk2 itu sempat distop, tmsk oleh tentara. Tapi krn mrk mengenal siapa yg di 
dlm mbl, tdk jadi distop atau dipaksa utk membongkar sembarangan, apalagi 
dijarah. Satu kardus yg jatuh, malah diantar naik motor oleh org. 

Rmh ayah dan ibu sy rusak berat, oleng, tdk bisa ditinggali. Rmh2 yg lain rata 
dgn tanah atau rusak berat. Hanya satu rumah baru tetangga sy yg utuh: 
disanalah kami makan siang, eh, sore, dgn membawa ikan yg dibeli di sebuah 
kedai. Kami tentu menyeberangi sungai. Kaki sy sudah terbiasa "melihat" dlm air 
dan gelap, hingga tahu mana air dlm, mana air dangkal, walau warna air kuning 
atau jlnan gelap mlm2. 

Usai sholat, kami langsung bergerak lagi ke seberang, kembali ke arah semula, 
pergi ke sungai janiah, basung, kampung tanjung, tigo jerong, kampung pauah, 
kampuang apar, dll. Di beberapa titik, turun, berdiskusi dgn byk org, kadang 
dgn nada marah. Sy terpaksa turun berkali2, krn tdk enak hati, pas org2 melihat 
ada sy di mbl. 

Di Talau, bertemu dgn 3 wali korong, melihat lokasi longsor. Masih ada 2 mayat 
tertimbun. Mrk butuh mesin raksasa pengeruk batu dan lumpur, butun sinsaw utk 
memotong pohon2 kelapa, dll, agar bisa menemukan ke2 mayat itu. Tokoh 
masyarakatnya menangis minta tolong, krn yg tertimbun saudaranya. Spt biasa, 
mrk menggunakan bahasa kelas tinggi ke saya: "Ponakan tentu paham apa yg ada di 
perut Mamak. Mamak tdk perlu keluarkan, karena malu. Kami sudah bekerja, tapi 
apa daya, kami tdk bisa memindahkan bukit yg longsor itu dgn tangan." Dll. Dll. 

Di titik2 pemberhentian itu, sy lohat ibu2 sedang memasak, krn sudah mlm. Mrk 
menghuni tenda2 darurat. Dgn bermodal suara, sy jg datangi rmh2 pakai lilin yg 
keluarga2nya duduk di teras, krn rmh sudh hancur. Ada yg sedang makan, ada yg 
sedang menerima dunsanak2 yg sudah tiba dari arah Pekanbaru dan Jambi. 

Juga sempat jumpa wali nagari dan satu anggota DPRD. Mrk sibuk dgn catatan di 
tangan. Terlihat sekali ketegangan. Di Marunggi, Pariaman Selatan, jumpa dgn 
kepala desanya, serta ibu2 yg sudah mulai tidur di teras atau halaman rumah. 
Gelap gulita, bermodal lilin dan bintang2 di langit. 

Sebelumnya makan pecel ayam di rumah makan dpn ktr walikota. 1 dari 2 rmh makan 
yg buka pakai genset. Rata2 yg makan keluarga2 berpunya, mungkin orang rantau, 
atau relawan2 pakai seragam. Juga ada wartawan Metro TV. 

Sempat juga jadi polisi lalu lintas di simpang 4 toboh, krn mbl macet di pom 
bensin. Kedua bahu jln dimasukin di satu jalur. Bbrp org sopir bersalaman, krn 
kenal, juga yg membawa motor. Ada yg tertawa dan berteriak2 memanggil. 
"Pejabat" nagari yg naik mtr, lalu datangi sy, malah ngajak ngobrol, ngomong 
pileg, pilpres, pilkada, munas, dll. Tipe yg tdk sy sukai: "Saya tdk paham 
semua itu. Lbh baik mikirin gempa ini," kata sy. 

Bbrp titik kemacetan lagi bertemu. Pas masuk kota padang, pom bensin sudah 
mulai sepi. Isi bensin jam 00.30. Listrik menunggu di Padang. Semula dikira 
genset oleh yg punya mbl dan sekalogus sopir kami dan sekaligus yg punya toko 
grosir yg sama kami sejak mendarat. Nyatanya: listrik PLN. Alhamdulillah. 

Kami tidur di rmh saudaranya. Ketika sy menulis ini, nyamuk2 menghirup darah sy 
di tangan dan kaki. Nyamuk2 yg lapar krn gempa juga, mungkin. 

Yg jelas, dari yg sy lihat, dengar, amati: gempa ini dahsyat. Dahsyat daya 
rusaknya. Dahsyat dlm menunjukkan kinerja manusia. Dahsyat dlm penyajian lwt 
TV: yg masih fokus ke satu dan dua titik saja. Dahsyat dlm kesemrawutan dan 
kebingungan. 

Mudah2an, besok gempa bumi ini dahsyat dlm hal kepedulian: peri kemanusiaan dan 
peri keadilan. 

Selamat mlm. Sy minum sebutir decolsin sblm menulis ini. 

Padang, 3 Oktober, pukul 3 pagi. 


Berani beda, berani benar, berani pulang!



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke