Terima kasih untuk info ini, bung IJP. Saya dapat khabar bahwa empat rumah 
keluarga saya di Lagan, Kampung Dalam, hancur semua. Yang di Naras, rumahnya 
retak-retak. Mereka selamat, Alhamdulillah.

Wassalam,
Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) 



--- On Sat, 10/3/09, Indra J Piliang <[email protected]> wrote:

> From: Indra J Piliang <[email protected]>
> Subject: [...@ntau-net] Laporan Hari ke3
> To: "RantauNet" <[email protected]>, "Forahmi" 
> <[email protected]>, "FPK" <[email protected]>
> Date: Saturday, October 3, 2009, 3:05 AM
> Karena baru datang hari ini, laporan
> ini dinamakan Laporan Hari ke3. 
> 
> Sebelumnya, saya sedikit "membela" Pemda Sumbar dlm acara
> SUN TV pd Kamis mlm. Dan saya cabut kembali pernyataan itu.
> Memang, setahun lalu saya dengar Gamawan Fauzi bicara dlm
> acara SSM tentang antisipasi gempa, tsunami, dll. Fauzi
> Bahar juga sudah mengadakan simulasi gempa dan tsunami. 
> 
> Kenyataannya tdklah begitu. Pas pesawat kami landing di
> BIM, tdk ada posko gempa di BIM. Tdk terlihat Sumbar adalah
> wilayah gempa terbesar, 7,9 skala ritcher. Yg ada adalah
> sopir2 taxy menawarkan diri. Saya beruntung krn rata2 mereka
> sudah kenal dgn wajah sy, hingga mrk hanya mengajak
> bersalaman. 
> 
> Kargo kami dibongkar di anggar kargo. Ada pasukan TNI di
> sana dan relawan gempa dari Jepang. Saya juga bertemu
> relawan PMI dan sempat bersalaman dgn Marie Muhammad. Terus
> terang, saya "kasihan" kpd Ketua PMI itu, tapi juga trenyuh
> dgn ketidakmauannya utk mempercayakan tugas2 berat PMI kpd
> org2 yg lbh muda dan segar. Kargo kami, dari Sahabat Muda --
> dlm pilpres adalah relawan JK-Wiranto, dari pihak keluarga--
> ada dua truk sedang bak terbuka. Tanda terima dgn petugas
> bandara dibuat di dgn tulisan tangan. Satu tenda darurat
> HIPMI, terangkut oleh PMI, krn memang tdk dititipkan ke sy.
> 
> 
> Ada bbrp dokter, konseling, dan relawan yg di pesawat. Mrk
> tdk tahu harus kemana. Sebagian akan langsung lapotr ke
> Sarkotlak Bencana. Sebagian mau ikut sy, tapi sy mengatakan
> tdk tahu juga info lapangan. Sempat jumpa dan ngobrol dgn
> Gubernur Alex Noerdin dan Kapolda Sumsel, sebelum mrk pergi.
> 
> 
> Sy bergerak dgn 2 mbl truk dan 1 mbl APV, langsung menuju
> Kampung Dalam. Rencananya mau dibongkat dulu di Padang, krn
> ada satu gudang yg sudah disiapkan tim sy di lapangan. Tapi
> truk sudah mengarah ke Pariaman, jadinya saya ikuti. Sy
> singgah di Buayan yg dulu pernah jadi posko cabang IJP 09
> Center. Dapurnya roboh, tetapi scr umum desa Buayan, kec
> Batang Anai, selamat. 
> 
> Bergerak ke Lubuk Alung. Kabarnya pasarnya rusak berat.
> Tapi bangunan ruko2 baru di jln by pass utuh dan bagus.
> mungkin pas dibangun diawasi langsung oleh pemiliknya. 
> 
> Lewat Kec Sintuk Toboh Gadang, Kec Nan Sabaris, Ulakan
> Tapakis, dll. Sudah mulai byk rumah2 rusak, dari ringan,
> sedang, berat, sampai rata dgn tanah. Ada tulisan2 di jalan:
> posko bencana, tapi tdk ada org. 
> 
> Lewat Pasar Kurai Taji yg rusak berat, serta rumah2 yg
> rusak dan runtuh. Inilah kawasan Pariaman Selatan. Termasuk
> parah. Mau lewat by pass di pariaman tengah, macet, krn
> antre bbm di pom bensin. Balik, lewat kantor walikota baru
> yg rusak berat atau sedang, lalu ke pariaman tengah. Kondisi
> juga rusak: ringan sampai berat. 
> 
> Pariaman Utara lebh baik. Tdk byk kerusakan berarti.
> Kecuali Naras. Masuk ke Simpang 4 Toboh arah Kampung Dalam,
> pemandangan gempa mulai merata: air yg mengalir melewati
> rumah, tenda2 darurat, rmh rubuh dan rusak berat, posko2 di
> sepanjang jln. Pemandangan ini tdk berhenti di seluruh
> kawasan Kec V Koto Kampung Dalam: Campago, Pasar Pariaman,
> Tandikat, Padang Manis. Di sini, satu truk berhenti.
> Logistik masuk ke sebuah kamar, lalu dikunci. Kunci dipegang
> Muhardi, tmnku waktu SMA. Besok mau didistribusikan, setelah
> dimasukkan ke kantong2 plastik. Pesannya 1: berikan ke
> sebanyak mungkin org atau kepala rumah tangga, walau hanya
> mendapat 1 buah susu Ultra. 
> 
> sempat bicara dgn bbrp org, minum, ditraktir malam sama yg
> bawa mobil. 90 persen rumah rusak, dlm arti hanya 10 persen
> yg bisa dihuni. 
> 
> Satu truk pergi ke kawasan tempat tinggal saya, seberang
> sungai yang menguning -- dulu jernih --. Lalu, ditaruh di
> Pos Pemuda. Disiplin berlaku disini: semua rumah harus
> dapat. Akhirnya dibagikan, tanpa harus pakai kupon, krn org
> saling kenal mengenal. Bbrp "pejabat" sy lihat agak masam
> mukanya, krn cara distribusi itu tdk lwt mrk. 
> 
> Truk2 itu sempat distop, tmsk oleh tentara. Tapi krn mrk
> mengenal siapa yg di dlm mbl, tdk jadi distop atau dipaksa
> utk membongkar sembarangan, apalagi dijarah. Satu kardus yg
> jatuh, malah diantar naik motor oleh org. 
> 
> Rmh ayah dan ibu sy rusak berat, oleng, tdk bisa
> ditinggali. Rmh2 yg lain rata dgn tanah atau rusak berat.
> Hanya satu rumah baru tetangga sy yg utuh: disanalah kami
> makan siang, eh, sore, dgn membawa ikan yg dibeli di sebuah
> kedai. Kami tentu menyeberangi sungai. Kaki sy sudah
> terbiasa "melihat" dlm air dan gelap, hingga tahu mana air
> dlm, mana air dangkal, walau warna air kuning atau jlnan
> gelap mlm2. 
> 
> Usai sholat, kami langsung bergerak lagi ke seberang,
> kembali ke arah semula, pergi ke sungai janiah, basung,
> kampung tanjung, tigo jerong, kampung pauah, kampuang apar,
> dll. Di beberapa titik, turun, berdiskusi dgn byk org,
> kadang dgn nada marah. Sy terpaksa turun berkali2, krn tdk
> enak hati, pas org2 melihat ada sy di mbl. 
> 
> Di Talau, bertemu dgn 3 wali korong, melihat lokasi
> longsor. Masih ada 2 mayat tertimbun. Mrk butuh mesin
> raksasa pengeruk batu dan lumpur, butun sinsaw utk memotong
> pohon2 kelapa, dll, agar bisa menemukan ke2 mayat itu. Tokoh
> masyarakatnya menangis minta tolong, krn yg tertimbun
> saudaranya. Spt biasa, mrk menggunakan bahasa kelas tinggi
> ke saya: "Ponakan tentu paham apa yg ada di perut Mamak.
> Mamak tdk perlu keluarkan, karena malu. Kami sudah bekerja,
> tapi apa daya, kami tdk bisa memindahkan bukit yg longsor
> itu dgn tangan." Dll. Dll. 
> 
> Di titik2 pemberhentian itu, sy lohat ibu2 sedang memasak,
> krn sudah mlm. Mrk menghuni tenda2 darurat. Dgn bermodal
> suara, sy jg datangi rmh2 pakai lilin yg keluarga2nya duduk
> di teras, krn rmh sudh hancur. Ada yg sedang makan, ada yg
> sedang menerima dunsanak2 yg sudah tiba dari arah Pekanbaru
> dan Jambi. 
> 
> Juga sempat jumpa wali nagari dan satu anggota DPRD. Mrk
> sibuk dgn catatan di tangan. Terlihat sekali ketegangan. Di
> Marunggi, Pariaman Selatan, jumpa dgn kepala desanya, serta
> ibu2 yg sudah mulai tidur di teras atau halaman rumah. Gelap
> gulita, bermodal lilin dan bintang2 di langit. 
> 
> Sebelumnya makan pecel ayam di rumah makan dpn ktr
> walikota. 1 dari 2 rmh makan yg buka pakai genset. Rata2 yg
> makan keluarga2 berpunya, mungkin orang rantau, atau
> relawan2 pakai seragam. Juga ada wartawan Metro TV. 
> 
> Sempat juga jadi polisi lalu lintas di simpang 4 toboh, krn
> mbl macet di pom bensin. Kedua bahu jln dimasukin di satu
> jalur. Bbrp org sopir bersalaman, krn kenal, juga yg membawa
> motor. Ada yg tertawa dan berteriak2 memanggil. "Pejabat"
> nagari yg naik mtr, lalu datangi sy, malah ngajak ngobrol,
> ngomong pileg, pilpres, pilkada, munas, dll. Tipe yg tdk sy
> sukai: "Saya tdk paham semua itu. Lbh baik mikirin gempa
> ini," kata sy. 
> 
> Bbrp titik kemacetan lagi bertemu. Pas masuk kota padang,
> pom bensin sudah mulai sepi. Isi bensin jam 00.30. Listrik
> menunggu di Padang. Semula dikira genset oleh yg punya mbl
> dan sekalogus sopir kami dan sekaligus yg punya toko grosir
> yg sama kami sejak mendarat. Nyatanya: listrik PLN.
> Alhamdulillah. 
> 
> Kami tidur di rmh saudaranya. Ketika sy menulis ini,
> nyamuk2 menghirup darah sy di tangan dan kaki. Nyamuk2 yg
> lapar krn gempa juga, mungkin. 
> 
> Yg jelas, dari yg sy lihat, dengar, amati: gempa ini
> dahsyat. Dahsyat daya rusaknya. Dahsyat dlm menunjukkan
> kinerja manusia. Dahsyat dlm penyajian lwt TV: yg masih
> fokus ke satu dan dua titik saja. Dahsyat dlm kesemrawutan
> dan kebingungan. 
> 
> Mudah2an, besok gempa bumi ini dahsyat dlm hal kepedulian:
> peri kemanusiaan dan peri keadilan. 
> 
> Selamat mlm. Sy minum sebutir decolsin sblm menulis ini. 
> 
> Padang, 3 Oktober, pukul 3 pagi. 
> 
> 
> Berani beda, berani benar, berani pulang!
> > 
> 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke