Manuruik ambo paralu dikaji juo mengenai batuang nan dianyam lalu diplester 
semen sarupo nan disampai sanak andiko ko rato2 rumah kampuang dulu tamasuak 
dikampuang ambo mamakai SASAK ko

Dengan pertimbangan

1. Kayu konvesional atau kayu dari hutan tropis yang selama ini kita kenal dan 
banyak digunakan sebagai bahan bangunan kalau di ranah terkenal dengan kayu 
banio misalnya atau kayu dari keluarga Meranti Balam dan Kapur semakin langka 
dan mahal serta isu lingkungan yang berdampak kepada ekosistem hutan tropis 
rusak dengan segala akibatnya jika masih mengandalkan kayu alam ini

2. Sasak yang dianyam dari bambu mudah didapat. Dan salah satu sumber daya alam 
yang mudah serta cepat diperbaharui (fast growing and renewable species)

3.Sasak yang diplester semen saya pikir tentu labih responsif terhadap gempa 
dibandingkan bata yang yang disusun lalu diplestersecara logika sasak dari 
anyaman bambu saling kait berkait dan menyatu dibandingkan bata dalam bentuk 
teurai satu persatu yang disusun. Ketika diguncang gempa cukup besar tentunya 
sasak ini leboh lentur dan fleksibel dan beban tekanan dan goyangan gempa 
dibagi rata pada setiap anyaman bambu yang saling berhubungan dan menyatu

4. Biaya lebih murah karena tidak memerlukan material seperti semen dan pasir 
yang banyak ketika memplester sasak ini dibandingkan batu bata yang disusun dan 
juga jika terjadi gempa bahan ini jika runtuh (terkelupas plester) tidak terlal 
berbahaya dibandingkan tenbok bata yang runtuh 

Mungkin lebih banyak lagi keunggulan sasak yang rata2 menjadi dinding rumah2 
tua kakek kakek kita dulu dikampung 

Sasak ini sebuah kearifan lokal orang tua kita dulu yang dilapisi atau 
diplester tipis semen ini perlu dipertimbangkan sebagai bahan bangunan yang 
responsif menahan gempa besar disuatu sisi anyaman bambu atau sasak ini rentan 
terhadap serangan kumbang bubuk dan cepat lapuk maka dengan plesteran semen 
keawetan sasak didalmnya selalu terjaga

Jadi rumah dengan konstruksi kayu bisa dikombinasi dengan partisi atau 
dindingnya dengan sasak yang diplester tipis semen ini lebih responsif juga 
saya pikir jika menggunakan papan semen gipsum sebagai partisi atau dinding 
pembatas dll

Sekarang kerja yang cukup berat adalah sosialisi penggunaan sasak ini sebagai 
bahan bangunan kepada masyarakat yang sudah terlanjur berpikir bahwa rumah 
beton lebih menunjukan status sosial atau gengsi dimata masarakat

Masyarakat perlu "didoktrin" tentang kearifan orang2 tua kita dulunya dalam 
menggunakan sasak ini mumpung ada bukti didepan mata kepala masyarakat sendiri 
rumah2 berkonstruksi beton atau semen kongkrit jika terjadi gempa besar banyak 
yang runtuh dan luluh lantak

Sosialisi lebih kepada rumah berfungsi sebagai tempat berlindung dari hujan dan 
panas
Serta tingkat keamanan yang tinggi jauh dari bahaya jika terjadi gempa besar 
seperti saat ini

Lupakan rumah beton yang lebih kepada status sosial atau gengsi toh dari segi 
estetika rumah kayu kombinasi sasak disemen ini bisa dirancang dan dipandang  
dengan indah semisal sasak bersemen ini di cat dengan warna2 jaman sekarang 
model model rumah minimalis ang lagi tren sekarang

Sebagai contoh pernah liatkan sebuah kamar dindingnya triplek ang dicat tembok 
dipandang dari jauh seperti dinding beton tapi setelah kita dekati dan diketok 
ternyata triplex yang dicat saa pikir hampir sama dengan sasak ang diplester 
lalu dicat

Wass Jepe

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: andiko <[email protected]>
Date: Thu, 08 Oct 2009 11:53:08 
To: <[email protected]>
Cc: <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Bangunan Tahan Gempa: Ringan Murah,.....


Di kampuang, rumah urang gaek ambo mamaki konstruksi gabungan kayu jo 
tembok. Di dalam temboknyo ado anyaman batuang yang kami sabuik sebagai 
sasak. Setelah rumah di agiah rangko dasar berupa kayu dan sasak, 
barulah kemudian ditempe jo plaster semen. Satangah rumah alah diubah 
konstruksinyo mamakai bata. Ternyata yg relatif tahan guncangan justru 
setengah rumah yg konstruksinyo mamakai kayu jo sasak tadi. Baru kini 
ambo paham apo ujuik jo mukasuik Pak Gaek (Kakek) ambo mambuek 
konstruksi mode itu. Padahal ambo dulu mangecekkan kok rumah kito jadul 
banget, minta diubah mode urang lain manjadi rumah bata.

Sakitu dulu

Andiko Sutan Mancayo



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke