PASCAGEMPA SUMBAR Pencarian Korban Tetap Dilanjutkan KORBAN HOTEL AMBACANG - Sejumlah pria mengusung peti jenazah salah seorang korban yang tertimbun di Hotel Ambacang, Delfianti (40), , di Ulakan, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Rabu (7/10). Data Satkorlak Sumbar mencatat, korban tewas sebanyak 704 orang dan 295 orang dilaporkan masih hilang. (Antara)
Kamis, 8 Oktober 2009 PADANG (Suara Karya): Tim SAR dari berbagai negara asing untuk aksi pencarian dan penyelamatan korban yang tertimbun di reruntuhan bangunan akibat gempa bumi berkekuatan 7,6 SR di Sumatera Barat (Sumbar) kini sudah mulai kembali ke negara asalnya. Namun, pencarian korban itu masih tetap dilanjutkan oleh tim SAR dari Indonesia. "Tim asing itu sudah kita pulangkan kembali ke negaranya dan kini upaya penyelamatan itu sebisanya dilakukan oleh tim asal Indonesia," kata Deputi Bidang Penanganan Darurat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Soetrisno, di Padang, Rabu. Dia mengungkapkan hal tersebut ketika konferensi pers BNPB dan United Nations Office for the Coordination of Human Affairs (UNOCHA). Narasumber dalam konferensi pers itu adalah Soetrisno (BNPB) dan Michael Chang (UNOCHA). Menurut Soetrisno, kepulangan tim SAR asing itu murni sudah dikoordinasikan dengan pemerintah karena memang kini upaya penyelamatan darurat terkait masih adanya korban di sela reruntuhan oleh tim asing itu sudah dihentikan. Namun, upaya pencarian itu kini sudah diambil alih oleh tim BNPB bersama tim lainnya di dalam negeri. "Kami akan terus berupaya mengevakuasi korban dan juga mencari jika masih ada yang hidup di sela reruntuhan itu," katanya. Terkait adanya rumor yang menyatakan bahwa tim asing itu pulang karena minimnya koordinasi dengan Pemerintah RI, ia membantahnya. "Kami bisa berkoordinasi dengan baik sejak dari kedatangan hingga mendapatkan informasi soal bencana di Sumbar itu sehingga kami bisa bekerja dengan baik," kata Koordinator dari UNOCHA, Michael Chang. Menurut dia, tim asing bisa bekerja maksimal dengan bantuan Pemerintah Indonesia. "Sifat kami hanya membantu saja. Sebelum kami datang pada tanggal 2 Oktober itu sudah ada juga tim SAR Indonesia yang mencari para korban," katanya. Dia menyebutkan, selama bencana tersebut terdata sebanyak 688 sukarelawan asal 130 organisasi internasional memberikan pertolongan kemanusiaan terkait pencarian dan penyelamatan korban yang berada di reruntuhan bangunan. Pada bagian lain Soetrisno menegaskan, tim SAR gabungan dari berbagai unsur di Tanah Air tetap melakukan upaya pencarian korban yang tertimbun dalam reruntuhan gedung yang ada di wilayah Kota Padang. Upaya pencarian korban pascagempa tetap dilakukan tim SAR, TNI-AD, serta para sukarelawan. "Pencarian korban tidak saja dilakukan untuk wilayah Kota Padang, namun juga wilayah Kabupaten Padang Pariaman yang tertimbun longsor," ujarnya. Menurutnya, masih banyak korban yang tertimbun dalam longsoran maupun dalam reruntuhan gedung yang ada akibat gempa yang mengguncang Sumbar. Hal senada diutarakan Kepala Sekretariat Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edwar, di Padang, Rabu. Ia menyebutkan, tim SAR gabungan dari berbagai unsur di Tanah Air masih melakukan pencarian terhadap 295 warga yang dilaporkan masih hilang pascagempa yang melanda Sumbar. "Warga yang hilang paling banyak di Kabupaten Padang Pariaman mencapai 237 orang yang diperkirakan tertimbun tanah longsor pascagempa," kata Ade Anwar. Di Kabupaten Agam dilaporkan 54 orang hilang yang masih terus dicari tim SAR gabungan bersama warga setempat. Sementara itu, jumlah korban tewas akibat gempa itu terus bertambah. Hingga Rabu pukul 20.00 WIB, korban tewas tercatat mencapai 739 orang. Korban tewas terbanyak yang telah terdata ditemukan di Kota Padang mencapai 309 orang dan di Kabupaten Padang Pariaman 335 orang. Demikian data Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar di Padang, Rabu malam. Terkait dengan itu, Bupati Padang Pariaman, Muslim Kasim, menyatakan, pencarian korban yang tertimbun di Dusun Cumanak, Lubuk Laweh, dan Pulau Air, Kenagarian Tandikek, masih dilanjutkan sampai masa tanggap darurat berakhir 13-15 Oktober 2009. "Dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional belum ada keputusan untuk menutup upaya evakuasi. Kita tunggulah sampai berakhirnya masa tanggap darurat," kata Muslim Kasim ketika ditemui di Pariaman, Rabu. Muslim mengatakan, upaya evakuasi dilanjutkan karena mempertimbangkan psikologi keluarga korban yang masih mengharapkan pencarian keluarganya yang tertimbun. Kendati demikian, ada rekomendasi dan saran dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk dijadikan kuburan massal tetap dihargai dan dilihat perkembangannya nanti. Hingga pencarian hari ketujuh pascagempa, masih ada tubuh korban yang utuh meskipun sebagian ada yang tubuhnya sudah membusuk. Jadi, katanya, kalau masyarakat sudah setuju, silakan tetapi kesepakatan bersama belum ada. "Tapi, kalau direkayasa harus begini dan begitu, janganlah," katanya. Sebelumnya MUI Sumbar menyarankan untuk dihentikan pencarian korban gempa yang tertimbun pada tiga dusun tersebut dan dijadikan saja kuburan massal karena tubuh korban sudah membusuk. Ketua Bidang Fatwa MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar, menyatakan, setelah ditanyakan kepada tim sukarelawan pencarian korban didapat jawaban bahwa tubuh korban yang ditemukan sudah membusuk. Justru itu menjadi pertimbangan untuk dikeluarkan fatwa untuk dihentikan pencarian korban sebagai bentuk menghargai jasad korban yang ada. Menurut MUI, penghentian evakuasi bukan berarti meninggalkan begitu saja lokasi, tetapi saat hujan terjadi dan ada jasad korban terlihat tetap dievakuasi. Data sementara Posko Satlak Penanggulangan Bencana Padang Pariaman sampai Rabu (7/10) sudah mencatat jumlah korban yang telah dievakuasi di Dusun Cumanak, yaitu 19 orang dan diperkirakan masih tersisa 50 orang. Sedangkan di Dusun Lubuk Laweh tercatat korban yang ditemukan sudah 22 orang dan diperkirakan masih tersisa 108 orang dari jumlah yang diduga tertimbun sekitar 130 orang. (Antara/Dwi Putro AA) http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=237231 The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
