Di Perpusatkaan Daerah juo pernah ambo mancaliak adonyo poster nan
manampilkan "Aksara Minangkabau Kuno" yang katonyo ditemukan oleh
Mahasiswa IKIP Jakarta pado tambo nan ditulih dek 2 urang Datuak di
Darek (ambo lupo namo Datuknyo).

 

Di Rumah Gandang nan ado Kabun Binatang Bukittinggi, kito juo bisa
manamukan copy dari poster dinding nan manampilkan "Aksara Minangkabau
Kuno" tsb.

 

Berarti kini poster ko pun lah habis dek gampo kapatang. Tingga nan di
Bukittinggi kalau masih ado.

 

Mln Mrj, 30-, Btm

 

From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Doni (FDB3.5)
Sent: Thursday, October 22, 2009 10:40 PM



"Siti Nurbaya" ikut Dikubur Gempa

S Metron - Pmail 

  <http://www.padang-today.com/foto/berita/pustaka%20daerah.JPG> 
Pustaka daerah Sumbar pasca
gempa

"Angku, kemarilah. Sudah tidak ada lagi naskah yang dulu angku berikan.
Sudah habis. Habis. Perpustakaan ini sudah rata dengan tanah. Ke
sinilah. Besok?" Itulah sepenggal dialog Dra Zuriah dengan seorang Angku
di sebuah surau Ampalu VII Koto, Pariaman. 

Naskah yang dimaksud adalah naskah tafsir Jalalael, Kitab Tusfah, Kitab
Mahli. Tiga naskah kuno yang masih ditulis dengan tangan. Tiga naskah
dari 200 judul naskah kuno yang sebenarnyaa menjadi kebanggan Badan
Perpustakaan dan Kearsipan Sumatra Barat. 

Apa daya, gempa telah membuat koleksi paling berharga itu lenyap.
Padahal, Zuriah bersama rekan-rekan sekantornya mengumpulkannya dengan
susah payah. Bekerja sama dengan Flash Fakultas Sastra Unand, ia naik
turun bukit untuk mencari naskah-naskah tersebut. Kerja itu dilakukannya
dari tahun 2007-2009. Boleh dibilang, sejak ia menjabat di situ selama
dua tahun, program penyelamatan dan pelestarian naskah-naskah itu baru
dikerjakan. 

Pekerjaan itu memang dilakukannya berdasarkan UU No 43 mengenai
penyelamatan dan pelestarian naskah kuno. "Jadi, tidak ada istilah
membeli," katanya. 
Tak tanggung-tanggung, hampir seluruh wilayah Minangkabau dimasukinya.
Mulai dari Pariaman, Bintungan Tinggi, Pesisir Selatan, Limau Sundai,
Pasaman dan Agam. 
Ada yang memberinya sekardus seperti yang di Pariaman. 

"Ada juga yang memberi segini (ia menjarakkan dua telapak tangannya
secara horizontal setinggi 30 cm)," ujarnya. 

Ada juga yang tidak memberi seperti di Bintungan Tinggi. Bukan tidak mau
tapi karena naskah tersebut telah menjadi cagar budaya. jadi, tidak bisa
diberikan kepada siapa pun. Bermacam isi dari naskah kuno itu. Mulai
arsitektur kubah Masjid, obat-obatan, surat keterangan pernikahan zaman
Belanda sampai nazam. Dua nama terkahir bahkan ditaksir berumur 300
tahun. 

Setiap mendapatkan naskah langsung didigitalisasi. Pekerjaan itulah yang
menyelamatkan 200 judul itu dari kepunahan. Soalnya, selesai naskah
difoto kemudian di cd-kan, Zuriah selalu minta satu kopi untuk koleksi
pribadinya. 

Meski pun begitu penyesalan tak habis dari dirinya. soalnya, naskah kuno
ini untuk ke depan nanti bisa dijadikan wisata keluarga. 

Ia memang merasa kehilangan atas tertimbunnya naskah kuno itu.
menurutnya buku-buku lain bisa dibeli lagi tapi naskah kuno itu, "Di
mana akan mendapatkannya lagi?" tanyanya. Naskah-naskah itu tidak pernah
sama mesti berada dalam satu kampung, kecuali pembuatnya satu perguruan.
Naskah kuno itu mungkin hanya perpustakaan Sumatra Barat yang memiliki. 

Selain itu, koleksi yang dibanggakan adalah koleksi Minangkabausiana.
Sebanyak 15 ribu eksemplar terkubur karena berada di lantai empat,
bagian paling belakang dari perpustakaan. Buku-buku tersebut langka dan
berisi mengenai segala sesuatu tentang Minangkabau. Misalnya, tentang
randai, cerita rakyat Sumatra Barat dan Sitti Nurbaya. 

Tidak banyak yang dapat diselamatkan. Ini yang membuat hati Zuriah
terenyuh. Setiap hari ia menemani eskavator yang mengeruk kuburan
buku-buku milik perpustakaan Sumatra Barat. Ia takut, sebuah kebudayaan
akan lenyap bersama kuburan massal buku dan koleksi berharga yang ada di
sana. (*) 

Sumber : padang-today.com (hari ko)

 -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: image001.jpg>>

Kirim email ke