Nama Orang Minangkabau
<http://darevan.wordpress.com/2009/09/16/nama-orang-minangkabau/>  :
UNIK, FLEKSIBEL, DAN "ANEH"

September 16, 2009 

Oleh : Elfitra Baikoeni (by da Revan)



Diantara sejumlah suku-suku bangsa yang ada di nusantara, mungkin
nama-nama orang Minang tergolong kompleks, aneh, variatif, longgar,
tetapi sekaligus fleksibel, unik, kreatif, serta pragmatis. Orang Batak
dan Manado selalu mencantumkan nama marga dan clan di belakang nama
kecil. Nama orang Maluku dan Papua dapat dikenali secara cepat dan
familiar. Sebagai pengaruh Islam, nama orang Melayu lazim mencantumkan
bin/binti sebelum nama orang tua. Orang Jawa dan Sunda lumayan ketat
dalam memberi nama anak, sehingga kita nama-nama mereka memiliki khas
tersendiri.

Bagi orang Jawa dan juga Sunda, dari nama saja bisa langsung dikenali
status sosialnya sekaligus, apakah dia keturunan bangsawan atau rakyat
biasa. Nama depan "Andi" jelas berasal dari kaum ningrat Sulawesi
Selatan (Bugis). Demikian juga halnya dengan kelompok masyarakat adat
lain : Badui, Dayak, Sakai, Nias atau Mentawai, masing-masing memiliki
karakter tersendiri yang mudah dikenali (addressed).

Bagaimana dengan Minangkabau ?? Penamaan dalam masyarakat Minangkabau
masa lampau kelihatannya berpegang pada falsafah "alam takambang jadi
guru". Orang-orang menamai daerah-daerah baru, kampung, dan nama-nama
suku-suku dengan falsafah ini, termasuk juga menamai orang (anak) dan
gelar. Tak mengherankan kiranya, kalau nenek moyang kita bernama :
Kirai, Upiak Arai, Talipuak, Si Rancak, Jilatang, Masiak, atau Jangguik.
Kedengarannya aneh dan lucu, ya ??

Setelah Islam masuk dan berkembang, mulai pula nama-nama orang Minang
berubah menjadi kearab-araban (Islam). Nama-nama seperti ini, contohnya
: Mohammad Attar, Mohammad Natsir, Saiful, Bahri, Mochtar, Ali, Amir,
Arifin, Ismail, Aziz, Fauzah, Hamid, M. Rais, Zakiah, Ibrahim, Idris,
Rasid, Sofyan, Dahlan, Fatimah, Aminah, Maimunah, Hayati, Nurhasanah,
Nuraini, Saidah, dst.

Pasca takluknya peristiwa PRRI-Permesta, orang Minang mengalami tekanan
mental luar biasa dari pemerintahan Jakarta, banyak diantara mereka
kemudian memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk pergi merantau.
Setidaknya, demikian pendapat yang tertulis dalam buku "Merantau"-nya
sosiolog Mochtar Naim. Mulai pula orang berusaha menanggalkan identitas
dan label keminangannya, salah satu lewat perubahan nama. Tak sedikit
orang Minang memiliki nama yang kejawa-jawaan, ada seperti nama Eropa,
Parsia, atau Amerika Latin. Sekedar contoh, seorang pejuang pemberontak
PRRI yang semula bernama Bastian St. Ameh, kemudian merantau ke Jawa dan
berhasil jadi pengusaha sukses : Sebastian Tanamas.

Ada "urang awak" bernama Revrisond Baswir, ekonom UGM yang terkenal.
Beberapa nama yang ikut menjadi calon gubernur Sumbar tempo hari
bernama; Leonardy Armaini, Jeffry Geovanni, dan terakhir siapa kira
kalau Irwan Prayitno itu adalah putra asli Kuranji, Padang? Saya
berkali-kali berusaha meyakinkan orang-orang tua di kampung halaman,
kalau Irwan Prayitno bukan orang Jawa, pada saat Pilkada berlangsung.
Mungkin mereka kuatir dengan "trauma" masa lalu, pada penghujung Orde
Lama banyak sekali pejabat tinggi di Ranah Minang yang di"drop" dari
Jakarta dan berasal dari etnis Jawa.

Dalam pemberian nama kepada anak orang Minang sangat pragmatis tapi
kreatif. Di SD saya punya kawan bernama hebat, John Kennedy, sayang dia
sempat tinggal kelas. Waktu kuliah teman akrab saya bernama Socrates,
asal Labuah Basilang, Payokumbuah, yang waktu lahir kakek yang
memberinya nama terkagum-kagum pada pemikiran Filsafat Yunani. Semula
saya kira dia orang Tapanuli, namanya Hardisond Dalga, ternyata dia dari
Singkarak dan nama belakang adalah nama ayah-bunda; Dalimi-Gadis.

Ada lagi kawan bernama Ida Prihatin, karena waktu melahirkan orang
tuanya mengalami masa-masa ekonomi susah. Indah Elizabeth, Indah namanya
dan waktu lahir ditolong oleh bidan Tionghoa yang ramah bernama
Elizabeth. Dian Bakti Kamampa, kata terakhir bukan nama daerah melainkan
akronim dari "Kepada Mama dan Papa", juga ada Taufik Memori Kemal,
menurut cerita orang tua yang memberi nama tersebut, dia selalu
terkenang (teringat) kepada komandan seperjuangan yang gugur pada
Revolusi Fisik Kemerdekaan bernama "Kapten Kemal". Juga menarik seorang
mahasiswa bernama M. Batar. Sudah pasti M tersebut adalah Mohammad, dan
"Batar" mungkin saja diambil dari kata bahasa Arab, begitu pikir saya
selama bertahun-tahun. Tetapi kemudian ketika sesi "mukaddimah" saat dia
ujian skripsi, dia menceritakan kisah dibalik nama tersebut (karena
memang ada dosen yang iseng nanya arti namanya). Singkatnya M. Batar
artinya;
"mambangkik batang tarandam", itulah nama yang sekaligus menjadi misi
hidup laki-laki berperawan kurus ini. Kalau kita rentang, akan banyak
kisah-kisah seterusnya dibalik pemberian nama Orang Minang.

Nama-nama singkatan/akronim bagi orang Minang sudah mentradisi. Salah
satu "perintis"nya adalah Buya Haji Abdul Malik Karim Amarullah, yang
menyingkat namanya jadi HAMKA. Setelah itu tak sedikit yang meniru,
memendekkan nama panjangnya menjadi akronim atau singkatan. Ada Pak AR,
Buya ZAS, STA, HAP, HAKA, Zatako.

Yang menarik ada nama yang sering diasosiasikan sebagai khas Minang,
karena nyaris tak dijumpai pada di etnik lain, yakni nama yang
mengandung atau ber-akhiran ... Rizal. Sebutlah misalnya; Rizal,
Rizaldo, Rizaldi, Afrizal, Erizal, Syamsurizal, Syahrizal, Endrizal,
Masrizal, Syafrizal, Hendrizal, Efrizal, Nofrizal, dst.

Memasuki pertengahan tahun 1980-an, ketiga pemerintahan Orde Baru sedang
puncak-puncaknya, mulai pula "trend" nama anak berbau kebarat-baratan.
Ada yang bernama Alex, Andreas, Hendri(k), Anthon(y), Roni, Yohanes,
Octavia, Octavianus, Matius, Agustin, Angela, Monica, Susi, Selly, Ryan,
Mathias, Dona, Harry, Sintia, Agnes, Yosep, Yoserizal, John, Johan,
Yohanna, dan kalau diteruskan nama-nama ini akan jadi deretan cukup
panjang.

Mungkin pengaruh dominasi budaya Orde Baru, banyak juga nama yang
berasal Sangsekerta seperti : Eka, Eko, Ika, Dharma, Bakti, Agus, Esa,
Kurniawan, Sinta, dst.

Seiring dengan itu, pernah juga sebagian orang mengangkat nama suku
sebagai nama belakang. Ini menurut saya karena pengaruh nama orang Batak
dan Mandailing yang terlihat "gagah" dengan nama marga yang selalu
menempel di belakang nama mereka. Maka kemudian muncul nama semisal,
Hendri Chaniago (karena berasal dari suku Caniago), Indra Piliang,
Afrizal Koto, Anisa Jambak. Nampaknya hanya nama Chaniago (mengherankan
... entah mengapa nama suku itu selalu dibubuhi "h", padahal aslinya
hanya "caniago") dan Piliang saja yang cukup populer sebagai nama, suku
yang lain relatif jarang. Memang, nama-nama semacam itu hanya sedikit
peminatnya, karena tidak lazim. Bagi orang Batak atau Mandailing, kalau
mereka berasal dari marga yang sama misalnya sama-sama Sitorus atau
Nasution berarti bersaudara. Sementara suku-suku di Minang bersifat
menyebar pada semua nagari di seluruh Sumatra Barat, sehingga rasa
pertalian sesama suku itu - meskipun di rantau - pun terasa longgar.

Runtuhnya rezim Suharto dan digantikan oleh era reformasi sekarang,
kembali trend nama-nama Islam dan religius untuk nama anak. Sebutlah
misalnya ; Habib, Farhan, Said, Anisa, Naufal, Aqila, Zahra, Najla,
Najwa, Zahira, Salma, Sarah, dst.

Sebenarnya banyak hal yang masih mengganjal dengan "style" nama-nama
orang Minang, misalnya mengapa karakter nama Minang cenderung
berubah-rubah, dari satu periode ke periode berikutnya? Mengapa begitu
variatif dan kompleksnya nama orang Minang, sehingga kadang bersifat
"menipu", uncertain dan kadang absurd, lalu adakah yang mereka
sembunyikan dibalik nama-nama tersebut? Apa arti/makna nama bagi orang
Minang zaman sekarang, sejauh mana nama seseorang dianggap penting
sebagai identitas sosial? Sejauh mana hubungan antara nama/gelar dengan
politik, modernisasi, atau birokrasi? Kalau dulu nama sebagai identitas
yang dijumpai adalah, misal : Y. Dt. Rangkayo Basa, M. Dt. Mangkudun
Sati, atau B. Bagindo Sutan, mengapa tiba-tiba sekarang tak ada yang
mencantumkan gelar adat tersebut sebagai nametag, kartu nama, atau
sebagai nama resmi (yang disandang kemana-mana karena bangganya)
sebagaimana dulu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab
melalui kajian yang lebih serius.

Bdg, Januari 2008


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke