Tulisan yang segar,... sekarang pemilihan nama lebih di drive dari
segi kepentingan dan business masa depan: tidak terikat dari mana asal
kita lagi. Yang penting bagaimana memberi makna dari nama yang di
pakai bukan sebaliknya. we manage our future not others.

Wassalam
Pristi/43/Oman.

On 11 Nov, 12:04, "Syafroni \(Engineering\)"
<[email protected]> wrote:
> Nama Orang Minangkabau
> <http://darevan.wordpress.com/2009/09/16/nama-orang-minangkabau/>  :
> UNIK, FLEKSIBEL, DAN "ANEH"
>
> September 16, 2009
>
> Oleh : Elfitra Baikoeni (by da Revan)
>
> Diantara sejumlah suku-suku bangsa yang ada di nusantara, mungkin
> nama-nama orang Minang tergolong kompleks, aneh, variatif, longgar,
> tetapi sekaligus fleksibel, unik, kreatif, serta pragmatis. Orang Batak
> dan Manado selalu mencantumkan nama marga dan clan di belakang nama
> kecil. Nama orang Maluku dan Papua dapat dikenali secara cepat dan
> familiar. Sebagai pengaruh Islam, nama orang Melayu lazim mencantumkan
> bin/binti sebelum nama orang tua. Orang Jawa dan Sunda lumayan ketat
> dalam memberi nama anak, sehingga kita nama-nama mereka memiliki khas
> tersendiri.
>
> Bagi orang Jawa dan juga Sunda, dari nama saja bisa langsung dikenali
> status sosialnya sekaligus, apakah dia keturunan bangsawan atau rakyat
> biasa. Nama depan "Andi" jelas berasal dari kaum ningrat Sulawesi
> Selatan (Bugis). Demikian juga halnya dengan kelompok masyarakat adat
> lain : Badui, Dayak, Sakai, Nias atau Mentawai, masing-masing memiliki
> karakter tersendiri yang mudah dikenali (addressed).
>
> Bagaimana dengan Minangkabau ?? Penamaan dalam masyarakat Minangkabau
> masa lampau kelihatannya berpegang pada falsafah "alam takambang jadi
> guru". Orang-orang menamai daerah-daerah baru, kampung, dan nama-nama
> suku-suku dengan falsafah ini, termasuk juga menamai orang (anak) dan
> gelar. Tak mengherankan kiranya, kalau nenek moyang kita bernama :
> Kirai, Upiak Arai, Talipuak, Si Rancak, Jilatang, Masiak, atau Jangguik.
> Kedengarannya aneh dan lucu, ya ??
>
> Setelah Islam masuk dan berkembang, mulai pula nama-nama orang Minang
> berubah menjadi kearab-araban (Islam). Nama-nama seperti ini, contohnya
> : Mohammad Attar, Mohammad Natsir, Saiful, Bahri, Mochtar, Ali, Amir,
> Arifin, Ismail, Aziz, Fauzah, Hamid, M. Rais, Zakiah, Ibrahim, Idris,
> Rasid, Sofyan, Dahlan, Fatimah, Aminah, Maimunah, Hayati, Nurhasanah,
> Nuraini, Saidah, dst.
>
> Pasca takluknya peristiwa PRRI-Permesta, orang Minang mengalami tekanan
> mental luar biasa dari pemerintahan Jakarta, banyak diantara mereka
> kemudian memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk pergi merantau.
> Setidaknya, demikian pendapat yang tertulis dalam buku "Merantau"-nya
> sosiolog Mochtar Naim. Mulai pula orang berusaha menanggalkan identitas
> dan label keminangannya, salah satu lewat perubahan nama. Tak sedikit
> orang Minang memiliki nama yang kejawa-jawaan, ada seperti nama Eropa,
> Parsia, atau Amerika Latin. Sekedar contoh, seorang pejuang pemberontak
> PRRI yang semula bernama Bastian St. Ameh, kemudian merantau ke Jawa dan
> berhasil jadi pengusaha sukses : Sebastian Tanamas.
>
> Ada "urang awak" bernama Revrisond Baswir, ekonom UGM yang terkenal.
> Beberapa nama yang ikut menjadi calon gubernur Sumbar tempo hari
> bernama; Leonardy Armaini, Jeffry Geovanni, dan terakhir siapa kira
> kalau Irwan Prayitno itu adalah putra asli Kuranji, Padang? Saya
> berkali-kali berusaha meyakinkan orang-orang tua di kampung halaman,
> kalau Irwan Prayitno bukan orang Jawa, pada saat Pilkada berlangsung.
> Mungkin mereka kuatir dengan "trauma" masa lalu, pada penghujung Orde
> Lama banyak sekali pejabat tinggi di Ranah Minang yang di"drop" dari
> Jakarta dan berasal dari etnis Jawa.
>
> Dalam pemberian nama kepada anak orang Minang sangat pragmatis tapi
> kreatif. Di SD saya punya kawan bernama hebat, John Kennedy, sayang dia
> sempat tinggal kelas. Waktu kuliah teman akrab saya bernama Socrates,
> asal Labuah Basilang, Payokumbuah, yang waktu lahir kakek yang
> memberinya nama terkagum-kagum pada pemikiran Filsafat Yunani. Semula
> saya kira dia orang Tapanuli, namanya Hardisond Dalga, ternyata dia dari
> Singkarak dan nama belakang adalah nama ayah-bunda; Dalimi-Gadis.
>
> Ada lagi kawan bernama Ida Prihatin, karena waktu melahirkan orang
> tuanya mengalami masa-masa ekonomi susah. Indah Elizabeth, Indah namanya
> dan waktu lahir ditolong oleh bidan Tionghoa yang ramah bernama
> Elizabeth. Dian Bakti Kamampa, kata terakhir bukan nama daerah melainkan
> akronim dari "Kepada Mama dan Papa", juga ada Taufik Memori Kemal,
> menurut cerita orang tua yang memberi nama tersebut, dia selalu
> terkenang (teringat) kepada komandan seperjuangan yang gugur pada
> Revolusi Fisik Kemerdekaan bernama "Kapten Kemal". Juga menarik seorang
> mahasiswa bernama M. Batar. Sudah pasti M tersebut adalah Mohammad, dan
> "Batar" mungkin saja diambil dari kata bahasa Arab, begitu pikir saya
> selama bertahun-tahun. Tetapi kemudian ketika sesi "mukaddimah" saat dia
> ujian skripsi, dia menceritakan kisah dibalik nama tersebut (karena
> memang ada dosen yang iseng nanya arti namanya). Singkatnya M. Batar
> artinya;
> "mambangkik batang tarandam", itulah nama yang sekaligus menjadi misi
> hidup laki-laki berperawan kurus ini. Kalau kita rentang, akan banyak
> kisah-kisah seterusnya dibalik pemberian nama Orang Minang.
>
> Nama-nama singkatan/akronim bagi orang Minang sudah mentradisi. Salah
> satu "perintis"nya adalah Buya Haji Abdul Malik Karim Amarullah, yang
> menyingkat namanya jadi HAMKA. Setelah itu tak sedikit yang meniru,
> memendekkan nama panjangnya menjadi akronim atau singkatan. Ada Pak AR,
> Buya ZAS, STA, HAP, HAKA, Zatako.
>
> Yang menarik ada nama yang sering diasosiasikan sebagai khas Minang,
> karena nyaris tak dijumpai pada di etnik lain, yakni nama yang
> mengandung atau ber-akhiran ... Rizal. Sebutlah misalnya; Rizal,
> Rizaldo, Rizaldi, Afrizal, Erizal, Syamsurizal, Syahrizal, Endrizal,
> Masrizal, Syafrizal, Hendrizal, Efrizal, Nofrizal, dst.
>
> Memasuki pertengahan tahun 1980-an, ketiga pemerintahan Orde Baru sedang
> puncak-puncaknya, mulai pula "trend" nama anak berbau kebarat-baratan.
> Ada yang bernama Alex, Andreas, Hendri(k), Anthon(y), Roni, Yohanes,
> Octavia, Octavianus, Matius, Agustin, Angela, Monica, Susi, Selly, Ryan,
> Mathias, Dona, Harry, Sintia, Agnes, Yosep, Yoserizal, John, Johan,
> Yohanna, dan kalau diteruskan nama-nama ini akan jadi deretan cukup
> panjang.
>
> Mungkin pengaruh dominasi budaya Orde Baru, banyak juga nama yang
> berasal Sangsekerta seperti : Eka, Eko, Ika, Dharma, Bakti, Agus, Esa,
> Kurniawan, Sinta, dst.
>
> Seiring dengan itu, pernah juga sebagian orang mengangkat nama suku
> sebagai nama belakang. Ini menurut saya karena pengaruh nama orang Batak
> dan Mandailing yang terlihat "gagah" dengan nama marga yang selalu
> menempel di belakang nama mereka. Maka kemudian muncul nama semisal,
> Hendri Chaniago (karena berasal dari suku Caniago), Indra Piliang,
> Afrizal Koto, Anisa Jambak. Nampaknya hanya nama Chaniago (mengherankan
> ... entah mengapa nama suku itu selalu dibubuhi "h", padahal aslinya
> hanya "caniago") dan Piliang saja yang cukup populer sebagai nama, suku
> yang lain relatif jarang. Memang, nama-nama semacam itu hanya sedikit
> peminatnya, karena tidak lazim. Bagi orang Batak atau Mandailing, kalau
> mereka berasal dari marga yang sama misalnya sama-sama Sitorus atau
> Nasution berarti bersaudara. Sementara suku-suku di Minang bersifat
> menyebar pada semua nagari di seluruh Sumatra Barat, sehingga rasa
> pertalian sesama suku itu - meskipun di rantau - pun terasa longgar.
>
> Runtuhnya rezim Suharto dan digantikan oleh era reformasi sekarang,
> kembali trend nama-nama Islam dan religius untuk nama anak. Sebutlah
> misalnya ; Habib, Farhan, Said, Anisa, Naufal, Aqila, Zahra, Najla,
> Najwa, Zahira, Salma, Sarah, dst.
>
> Sebenarnya banyak hal yang masih mengganjal dengan "style" nama-nama
> orang Minang, misalnya mengapa karakter nama Minang cenderung
> berubah-rubah, dari satu periode ke periode berikutnya? Mengapa begitu
> variatif dan kompleksnya nama orang Minang, sehingga kadang bersifat
> "menipu", uncertain dan kadang absurd, lalu adakah yang mereka
> sembunyikan dibalik nama-nama tersebut? Apa arti/makna nama bagi orang
> Minang zaman sekarang, sejauh mana nama seseorang dianggap penting
> sebagai identitas sosial? Sejauh mana hubungan antara nama/gelar dengan
> politik, modernisasi, atau birokrasi? Kalau dulu nama sebagai identitas
> yang dijumpai adalah, misal : Y. Dt. Rangkayo Basa, M. Dt. Mangkudun
> Sati, atau B. Bagindo Sutan, mengapa tiba-tiba sekarang tak ada yang
> mencantumkan gelar adat tersebut sebagai nametag, kartu nama, atau
> sebagai nama resmi (yang disandang kemana-mana karena bangganya)
> sebagaimana dulu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab
> melalui kajian yang lebih serius.
>
> Bdg, Januari 2008
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke