Pasca Gempa Sumbar : Kesendirian dalam Kebersamaan
@dyek191109
Alhamdulillah, begitu tinggi kepedulian warga minang di Ranah dan di Rantau
atas akibat Bencana Gempa di pesisir Sumatera Barat tanggal 30 September lalu,.
Masa Tanggap darurat oleh Pemprov Sumatera Barat per tanggal 31 Oktober lalu
telah dihentikan dilanjutkan dengan masa Rekonstruksi dan Rehabilitasi (RR).
Masa RR ini merupakan masa kritis berikutnya, karena terkait dengan
perencanaan, pelaksanaan dan monitoring dari berbagai stakeholder terutama
dalam membangun kembali bangunan fisik di daerah Bencana.
Gempa ini merupakan Bencana bagi suatu kaum, namun merupakan ‘berkah’ pula bagi
kaum yang lain, begitulah jamaknya alam, ibarat pepatah ‘patah satu tumbuh
seribu’, ‘hilang tumbuh silih berganti’, tepatnya Sunnatullah.
Struktur sosial masyarakat pun bisa berubah seketika, yang biasanya juragan
tiba-tiba menjadi kebanyakan, yang bisanya awam bisa-bisa tiba menjadi komandan
bila dia dapat memanfaatkan keadaan. Lihatlah, begitu banyak posko-posko yang
berdiri ditengah Bencana, baik atas nama pribadi, atas nama kelompok dan
komunitas tertentu bahkan juga mengatas-namakan kebersamaan, semuanya
InsyaAllah bermaksud baik untuk kemaslahatan, bila ada yang punya niat lain
didalamnya, itupun Sunnatullah, manusiawi dan alami.
Menariknya sewaktu saya berkesempatan ke lokasi gempa (Padang-Pariaman-Agam dan
sekitarnya) satu bulan setelah gempa, sepanjang jalan yang saya lewati tak
satupun bendera-bendera partai yang marak beberapa bulan lalu sebelum pemilihan
raya wakil rakyat, mungkin benar adanya karena masanya pun telah lewat.
Posko-posko ‘partai’ itu mungkin telah berubah menjadi posko-posko gempa itu,
lebih melekat, lebih kerakyat, lebih kebumi, mungkinlah begitu.
Posko-posko pada masa Tanggap Bencana yang sifatnya ‘ad-hoc’, sporadis,
bermunculan dimana-mana,, melakukan kerja lapangan yang luar biasa dengan lebih
kurangnya telah mengeluarkan sementara para korban gempa dari efek bencana.
Selanjutnya, bagaimana pola bantuan dimasa RR dapat lebih terkoordinasi dengan
baik, maka beberapa pemeduli baik dari Ranah dan Rantau tergerak hatinya untuk
membuat pula suatu ‘Posko Besar’ yang bertujuan untuk saling ber-komunikasi dan
ber-koordinasi atas segala informasi tentang gempa sehingga dapat ditata lebih
baik rencana penanganannya kedepan. Pada dasarnya Pemerintah sudah punya aturan
jelas untuk melakukan itu, kemudian atas niat untuk mempercepat, para pemeduli
di ranah dan di rantau ikut bersama-sama membantu terwujudnya Posko Besar ini.
Hal ini tentu sangat baik dengan tujuan dan maksud yang hendak dicapai.
Namun apa sebenarnya yang menjadi kendala koordinasi itu, banyak halnya, tapi
bila diperas adalah ‘amanah’ atau ‘accountability’ dalam istilah lain. Kenapa,
misalkan para 'donatur lepas' lebih senang menyampaikan langsung, atau mencari
Relawan-relawan atau posko-posko kecil untuk menyampaikan donasinya, utamanya
adalah karena ‘keyakinan akan sampainya donasi itu sesuai ditempat yang
dituju’. Contoh lain, kenapa donator kecil misalkan rela menyampaikan
bantuannya ke lembaga seperti ‘ACT’ atau ‘PKPU’ atau yang lainnya, jawabnya
juga tidak jauh-jauh dari Amanah dan Accountabilitas itu.
Posko Besar untuk Rekontruksi dan Rehabilitasi yang berencana dan telah dibuat
oleh beberapa pemeduli dan pengagas Anak Nagari Ranah dan Rantau tentu
bertujuan tidak hanya sebatas ikut membantu memantau penyaluran bantuan, tapi
terkait pekerjaan lebih besar seperti perencanaan, monitoring dari aspek
pekerjaan yang banyak bidangnya yang tentu didukung oleh para pakar dibidangya
pula.
Dari informasi lain dapat kita temukan, kenapa penanganan Jogja pasca gempa
dianggap berhasil oleh berbagai pihak tentu jawaban lain adalah karena
masyarakat percaya telah digerak oleh ‘Lembaga ataupun Institusi yang dapat
mereka percaya’ dalam hal ini dikomandoi Sultan Jogja yang telah berakar-hidup
di tanah kelahirannya, yang disegani rakyat dan sejawat, yang terarah dan
terpadu, yang amanah dalam menjalankan kehendak kebanyakan masyarakat, mungkin
begitu, pasti tidak.
Tentu dalam kondisi sekarang, untuk lingkungan Sumbar, kita tidak berharap
banyak ada tokoh yang disegani berdiri didepan sehingga masyarakat mau
bergerak, namun demikian minimal ‘Institusi/Posko Besar RR’ apapun yang diakui
nantinya adalah posko besar yang disegani, yang amanah, yang ‘accountable’,
yang stakeholder percaya akan kredibilitasnya karena memang ditangani oleh
‘orang yang paham’ bukan oleh ‘orang yang hanya sekedar berpaham’.
Janganlah sampai di dalam Posko Besar yang maksudnya bersama-sama itu para
pegiatnya merasa sendiri, karena sejatinya namanya saja yang Posko Besar
mengatas-namakan koordinasi antara Posko-Posko Kecil, namun pada dasarnya posko
besar itu telah menjadi posko kecil yang lain pula, karena telah ditinggal
pendukungnya, merasa sendiri dalam kebersamaan.
Ibaratkan, janganlah terkata, ”Uda Jalan menlah, kami jalan lo surang”. Semoga
tidak begitu.
Tabik,
Dedi Yusmen
Pondok Melati-1901109
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---