Ambo yakin progress ada dan masih banyak yang punya nurani. Tapi apakah cukup 
proporsional dengan luasnya bencana ini...?
 
Dulu ada pernyataan bahwa Sumbar tidak perlu bantuan lagi krn sudah ada dana 
utk recovery sebesar Rp.13 triliun. Ada yg bisa bantu klarifikasi? Sumber 
beritanya ada dimana ya? Kalau iya sudah ada dana, kemana atau bagaimana 
mencairkannya untuk membantu ini... Apakah memang cukup mudah untuk 
itu... Mohon maaf sebelumnya. Thanks.
 
Wass,
Nofrins

--- On Tue, 12/1/09, ARIEF <[email protected]> wrote:


From: ARIEF <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] 2 Bulan Gempa Sumbar, Banyak Warga Masih Tidur di Tenda 
Darurat
To: "Milis RantauNet" <[email protected]>, "Ranah Minang" 
<[email protected]>
Date: Tuesday, December 1, 2009, 3:10 PM



Assalamu'alaikum  WW
 
Adi dunsanak di palanta RantauNet nan terhormat....
Harus diakui gonjang-ganjing berita politik dan peristiwa lain di nusantara lah 
mambuek pemberitaan di baik di MEDIA CETAK maupun MEDIA ELEKTRONIK nasional. 
Tapi barusan di Detik.com ado berita bahwa setelah 2 bulan gempa sumbar, masih 
banyak warga nan lalok di tenda darurat.
 
Kalau di inok ranuang an, tak hanya media nasional nan lupo jo bancano di RANAH 
BUNDO ko. Di Palanta RN pun awak alah mulai lupo jo kondisi dunsanak kito nan 
di ranah. Tamasuak badan diriko nan memang iyo acok palupo.
Namun demikian, beberapa kawan relawan di SUMBAR terutama Ranah Minang Peduli, 
sampai kini masih setia mambantu dunsanak di tampek2 bencana nantun. 
 
Mudah-an dari link detik ko masih bisa mambuak mato kito basamo ==>
http://www.detiknews.com/read/2009/12/01/143805/1251932/10/2-bulan-gempa-sumbar-banyak-warga-masih-tidur-di-tenda-darurat
 
Salam
 
A. RKM

 
2 Bulan Gempa Sumbar, Banyak Warga Masih Tidur di Tenda Darurat
Yonda Sisko - detikNews
dok detikcom Padang - Gonjang-ganjing berbagai peristiwa di Jakarta 
menenggelamkan berita gempa dahsyat yang menghancurkan Sumatera Barat (Sumbar). 
Setelah dua bulan berlalu, apa kabar korban gempa Sumbar?
 
Empat Kecamatan di dua kabupaten di Sumatera Barat (Sumbar) yang mengalami 
kerusakan relatif parah akibat gempa 30 September 2009, hingga kini masih 
berstatus tanggap darurat. Empat kecamatan itu, dua di antaranya berada di 
Kabupaten Padang Pariaman dan dua di kabupaten Agam.
Dua bulan pasca gempa, Padang Pariaman menyatakan siap bila tanggap darurat 
dihentikan dan masuk ke tahap rekonstruksi. Sementara, di Kabupaten Agam pihak 
terkait meminta tanggap darurat diperpanjang karena sekitar 500 Kepala Keluarga 
(KK) atau sekitar 2000-an orang masih mengungsi.
Kepala Bagian Humas Pemkab Padang Pariaman Syofrion ketika berbincang-bincang 
dengan detikcom melalui telepon, Senin (1/12/2009) mengatakan, hingga kini 
status tanggap darurat di Kabupaten Padang Pariaman masih diberlakukan untuk 
Kecamatan Patamuan dan Kecamatan Limo Koto Timur meski situasi di kedua daerah 
tersebut dinilai sudah kembali relatif pulih.
"Status tanggap darurat di dua kecamatan itu kami nilai sudah dapat dilanjutkan 
ke tahap rekontruksi. Hanya saja, karena gempa Sumbar masuk kategori bencana 
nasional, maka keputusan apakah tanggap darurat sudah dapat dihentikan atau 
belum berada di tangan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Bila nanti 
tanggap darurat diakhiri, kita siap masuk ke tahap rekonstruksi," ujarnya.  
Dikatakan Syofrion, sebanyak Rp 27 miliar uang bantuan lauk pauk untuk korban 
gempa selama tanggap darurat di daerah itu sudah disalurkan kepada yang berhak. 
Pemkab Padang Pariaman, menurut dia, saat ini terus berupaya mengatasi berbagai 
keluhan masyarakat, termasuk mengatasi penyakit ISPA yang dinilai masih sangat 
tinggi.
Berbeda dengan Kabupaten Padang Pariaman yang siap masuk ke tahap rekonstruksi, 
masa tanggap darurat di dua kecamatan Kabupaten Agam, masing-masing Kecamatan 
Tanjung Raya dan Kecamatan Malalak saat ini sedang diusulkan untuk diperpanjang.
Kepala Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, Isfaemal, 
mengatakan usul perpanjangan tanggap darurat di dua tempa itu karena masih ada 
korban gempa yang mengungsi di tenda. Sekitar 2000-an warga di dua kecamatan 
itu terpaksa tinggal di pengungsian karena kawasan tempat tinggal mereka berada 
di zona merah ancaman longsor.
Di Kecamatan Tanjung Raya, menurut Isfaemal, terdapat 170 kepala keluarga yang 
masih tinggal di tenda dengan total pengungsi 1.987 orang. Mereka berasal dari 
empat dusun di nagari Tanjung Sani yakni dusun Pandan, Galapuang, Batu Nanggai, 
dan Muko Jalan. Sementara, di Kecamatan Malalak sebanyak 200 orang juga masih 
bertahan di pengungsian.
"Kita saat ini dalam perjalanan ke Padang untuk membahas lebih lanjut dan 
mengusulkan perpanjangan masa tanggap darurat di Agam, khususnya di dua 
kecamatan itu. Pemkab Agam, saat ini juga sedang berupaya keras agar warga 
secepatnya mendapatkan tempat tinggal layak dan keluar dari pengungsian," 
tukasnya.
(yon/djo) 

-- 
Arief Rangkayo Mulia....
39 Th/ Asa Pakan Kamih /Tilatang Kamang / Agam
Perwakilan Bukittinggi TV - JAKARTA 
HP : 0813 1600 7756




      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke