Uni Dewi Ha ha kata "terbayang-bayang, hampa dan hambar hatiku" itu bahasa sastra ala mat jepe mahh
Asal Uni tahu nilai pelajaran satra seniku dulu 8 baca dengan tegas Delapan, seharusnya 9 lho Ni, masalahnya sederhana saja seperti kata bu guru ku itu Nilai 10 milik Tuhan, 9 milik guru nah 8 cukup buat muridku he he Oo..jadi Uni keturunan urang lintau juga ya Ya rendang manapun apapun genre dan variasinya dari ranah minang jika dibuat dengan sentuhan serta cita rasa khas tradisonal yang serba manual dan tradisi turun temurun di kanagarian kampuang kito tetap akan enak bin lamak Tapi kan lah sudah lo idiom dalam kuliner "Selera nggak bakan pernah bohong yang enak itu akan tetap enak" Yang "bohong" itu kita yang membuatnya yang kadang2 keluar dari pakemnya Nah beranjak dari idiom diateh yo ndak bisa makan lamak siang ko kalau hanyo mambayangkan lamak randang ko, dengan selera jangan main-main Dek salero ko urang minang dikampuang amuah basiarak mah laki bini ha ha ha Salam-Jepe Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: Dewi Mutiara <[email protected]> Date: Wed, 2 Dec 2009 22:08:25 To: <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Seri "life on a plate" Rendang Lintau...By : Jepe Aduh......Kasian amat , baitu bana kalau yg namonyo lamak , sampai tabayang-bayang , sudah khayalin aja ,makan aja masakan orang Pinang sambil membayangkan RANDANG LINTAU , jadi lamak nan dimakan, saraso-raso hahahaha. Menurut mami Uni , Neneknya berasal dari Lintau di Lubuk Jantan , kemudian anak nya kawin ke Pariaman , kalau diurut garis keturunan Uni generasi ke 6 dari si nenek ini, dan dikeluarga mami Uni kalau masak rendang mau hitam kayak negro atau enggak tetap enak bangettt .Kalau sayang anak-sayang anak korbankanlah selera ,dek awaklah biaso. Dewi Mutiara. --- On Thu, 12/3/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Seri "life on a plate" Rendang Lintau...By : Jepe To: [email protected], [email protected] Date: Thursday, December 3, 2009, 5:35 AM Seri "life on a plate" Rendang Lintau By : Jepe Hati saya hampa dan hambar saat makan siang ini disebuah warung sebelah kantor di Kota Pinang, hambar dan hampa jika menikmati hidangan makan siang ala nasi ramas karena menunya. Boleh dikatakan biasa-biasa saja "nggak menggigit selera" Bertambah parah derita hatiku yang hambar dan hampa jika selalu terkenang dan terbayang (ha ha ha segitu amat ya) kiriman rendang dari kampung istri ku Lubuk Jantan Lintau, etek Istri ku dari kampung mengirim rendang tentunya dari daging baru dan segar dari sapi kurban Sebelum aku berangkat dari Pekanbaru bertugas ke Kota Pinang ini sempat mencicipi Rendang ala Lintau ini dengan bumbunya (dadak) berwarna hitam pekat dan sedikit berminyak dengan serpihan daging padat yang lembut, memang rasanya "nggak lari" kemana-mana dan itu terbukti ketika menyicipi ini membuat lidah saya bergoyang tak terkendali sarapan pagi dengan nasi panas dan sepotong rendang ini Istriku sempat menawarin agar dibawa beberapa potong buat bekal atau tambahan menu makan di Kota Pinang, tapi anak ku "menjerit" manja tak terkendali dan protes sambil merajuk "nggg papakan bisa cari makan di warung ma, rendangnya jangan dibawa..tidakkkkk" Ya sudah aku mengalah sambil menambah sepotong lagi saat sarapan pagi sebelum berangkat ke Kota Pinang "Maafkan Daku ya Bang, anakmu nggak rela dibungkusin rendang dari kampung emakku, mereka pada suka dan sarapan pagi mereka pada lancar kan mereka perlu energi buat sekolah" itu kira2 kata istriku sambil membereskan segala perlengkapan yang akan kubawa bertugas ke Kota Pinang Ahaa...nggak perlulah rasanya aku menangis dan maraung sejadi jadinya nggak dibekalin rendang lintau yang hitam "manyalinok" dan nendang abis ini, ya sudah nomor satukan selera anak, saya sudah tua mengalah saja Dari berbagai "genre" dan variasi sebuah kuliner pusaka ranah minang yang bernama Rendang atau lazim di lafazkan oleh orang Minang RANDANG, maka rendang dari kampung istri saya ini tampilannya memang khas, bisa hitam pekat begitu ya, sepertinya nggak kalah-kalah amat sama kulit orang yang negro banget, rendang ini berminyak tanggung kalau kembali sama kulit orang negro ini hampir sama ketika "si hitam" pekat ini kulitnya diminyakin..jadi deh seperti rendang lintau si Negro ini, tinggal digigitan aja kali yahhh :) Rasanya memang harum dan khas sepertinya ada aroma "rasan-rasan" asap yang khas dan faktanya etek istri saya memang membuat banyak di halaman rumah dikampung dengan tungku tigo sajarangan (maksudnya tungku yang berbatu tiga diatasnya wajan besi) dengan sumber api dari kayu bakar dan sabut kelapa. Bumbu dipilih dan diracik dengan manual dengan daging sapi yang baru disembelih tentu semakin membuat rendang ini rasanya sangat enak "nggak lari dari pakemnya", saya bisa membayangkan proses membuat rendang di halaman dengan tungku tigo sajarangan ini apinya di jaga setiap langkah demi langkah sampai rendang ini hitam dan mengeluarkan minyak Rendang Lintau seperti rendang2 lain di kanagarian ranah minang adalah sebuah bentuk kekayaan kuliner suku ini dengan cita rasa tinggi dan dibuat oleh tangan2 ahli dari tradisi turun temurun dengan sentuhan tradisional yang kental dan serba manual Ahhh..memang hatiku hambar dan hampa makan siang ini jika selalu terbayang-bayang dengan rendang di rumah kiriman etek istriku dari lubuak jantan Lintau, masih adakah jika kelak aku pulang ke Pekanbaru akhir pekan ini, jangan membayangkan sesuatu yang. Mustahil Nah yang mustahil itu adalah "dedak-dedak"nya yang lezat aku pikir sudah kandas di sikat anak-anak ku, bahkan tetesan terakhir dedak itu akan disapunya dengan nasi panas pada wadah rendang ini. Salam kuliner "life on a plate" Kota Pinang, 3 Desember 2009 Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
