Assalammualaikum Wr Wb bapak Emi, bapak Eri yth

Biasanya hanifah juga tertmasuk yang ngomongnya apa adanya ..

Tapi ustad sering juga bercerita ... ada bohong putih..., dan boleh dilakukan 
Misalnya suami harus memuji masakan istrinya walau sebenarnya tidak enak ..
Bapak memuji masakan anak gadisnya ... walau sebenarnya tidak enak ..
Tamu mesti dihormati... walaupun tamu yang meminta perlindungan adalah penjahat 
...( ? )
Yang ini agak susah diterima akal ...  
Jangan-jangan kita duluan yangh bersorak kencang-kencang ... ini dia 
penjahatnya ...

Wass

Hanifah


--- On Mon, 12/7/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [...@ntau-net] Re: 8 x 3
To: "hanifah daman" <[email protected]>
Date: Monday, December 7, 2009, 8:50 PM

   Ifah dan sanak di palanta
Dimanapun sebenarnya kita di seru untuk berkata benar

Cuma ada pula Wisdom kebijaksanaan yang dimiliki oleh orang2 tertentu

Kebijaksanaan diluar hukum
Kalau hukumnya 8x3 : 24
Maka kebijaksanaan dan banyak peerrimbangan agar semua senang bisa jadi 23

Bagaikan menghela rambot dalam tepung atau memukul ular dalam benih

Dan kisah di atas berkembang dalam riwayat China
Salam dan do'a
Tunjuki kami jalan yang lurus dan yang benarPowered by Telkomsel 
BlackBerry®From:  hanifah daman <[email protected]>
Date: Mon, 7 Dec 2009 05:27:13 -0800 (PST)To: 
<[email protected]>Subject: [...@ntau-net] Re: 8 x 3
Bapak Suheimi yth

Pertamyaan hanifah ...

Kapan kita sebaiknya berkata benar ? dan
Kapan sebaiknya kita membenarkan kata ?

Apa demi persahabatan .. kita selalu membenarkan kata ???

Salam


Hanifah



--- On Mon, 12/7/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] 8 x 3
To: "Sma" <[email protected]>, "Rantau" <[email protected]>
Date: Monday, December 7, 2009, 11:43 AM

Baru saja saya dapat email dari sahabat saya Sumadi yang berisi ajran yg pantas 
jadi renungan
Saya ingin berbagi dg mengirmkan artikel ini semga ada faedahnya
Salam teriring
 do'a
 
Renungan Hidup : Apakah Betul 8 x 3 = 23 ??????    Renungan Hidup : Apakah 
Betul 8 x 3 = 23 ??????SalamYan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka 
belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia 
melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan 
mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.Pembeli berteriak: “3×8 = 
23, kenapa kamu bilang 24?”Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 
3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi.”Pembeli kain tidak senang lalu 
menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau 
minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak 
mengatakan.”Yan Hui: “Baik, jika Confusius bilang kamu salah, 
bagaimana?”Pembeli kain: “Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku 
potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”Yan Hui: “Kalau saya yang 
salah, jabatanku
 untukmu.”Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius. 
Setelah Confusius tau duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui 
sambil tertawa: “3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada 
dia.”Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar 
Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada 
pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.Walaupun 
Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa 
Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan 
Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui 
dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius 
memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua 
nasehat : “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan 
membunuh.” Yan Hui bilang, “Baiklah,”
 lalu berangkat pulang.Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai 
petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di 
bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir 
untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama 
dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat 
gurunya yang pertama sudah terbukti. Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui 
tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. 
Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia 
meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi 
kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau 
menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia 
lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik 
istrinya.Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali
 ke Confusius, berlutut dan berkata: “Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan 
terjadi?” Confusius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan 
turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah 
pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru 
mengingatkanmu agar jangan membunuh”. Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat 
sekali, murid sangatlah kagum.” Confusius bilang: “Aku tahu kamu minta cuti 
bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah 
kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan 
jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah 
yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih 
penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?”Yan Hui sadar akan 
kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah 
berpikir guru sudah tua dan
 pikun. Murid benar2 malu.” Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu 
mengikutinya.Cerita ini mengingatkan kita: Jikapun aku bertaruh dan memenangkan 
seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya. Dengan kata lain, kamu 
bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah 
kehilangan sesuatu yang lebih penting. Banyak hal ada kadar kepentingannya. 
Janganlah gara-gara bertaruh mati-matian untuk prinsip kebenaran itu, tapi 
akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.Banyak hal sebenarnya tidak perlu 
dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua 
orang.Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. 
(Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti)Bersikeras melawan 
boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat penilaian bonus akhir 
tahun, kita akan mengerti)Bersikeras melawan istri. Kita menang, tapi 
sebenarnya kalah juga. (Istri tidak mau menghirau
 kamu, semua harus “do it yourself”)Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi 
sebenarnya kalah juga. (Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman)SalamYudistira 
Ardy  
Powered by Telkomsel BlackBerry®

     








      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke