Untuak dunsanak nan suko menggali sejarah. Ambo copy dari milis sastra pembebasan. Mungkin bagi mamak, apak jo dunsanak nan melewati peristiwa sejarah nan dicaritokan di bawah, bisa manukuak nan kurang, atau maluruihkan ma nan salah.
Salam Andiko Sutan Mancayo IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita Rabu, 16 Desember 2009 ------------ --------- --------- --------- --- PERSPEKTIF KORBAN 65 --- Sebuah Uraian oleh ASEP SAMBODJA Tulisanku yang lalu, 14 Desember 2009, <Ibrahim Isa – Berbagi Cerita>, berjudul Via ARTURO – Ingat Kembali Pahlawan Tani Revolusioner Emilio ZAPATA!', direncanakan bersambung. Rencana itu tetap akan diteruskan. Namun, sebelum tulisan bersambung diteruskan, disiarkan terlebih dahulu sebuah tulisan yang merupakan kata pengantar dari buku Sutikno W.S. Berjudul NYANYIAN MALAM Dalam KELAM. Pengantar itu ditulis oleh penyair generasi muda, ASEP SAMBODJA. Melalui kiriman Chalik Hamid (Amsterdam), yang diterimanya dari May Teo (Singapore), akhirnya beruntung dapat kuterima dan baca: Sebuah uraian ASEP SAMBODJA berjudul '1965: PERSPEKTIF KORBAN'. Terima kasih diucapkan di sini kepada May Teo dan Chalik Hamid. Dengan sendirinya terutama kepada penyair muda, Asep Sambodja! Uraian Asep Sambodja menarik. Tetap aktuil dan otentik. Lagipula dokumentatif. Penting dalam rangka pendataan dan penelitian serta studi sekitar 'Kasus 1965'. Terutama yang menyangkut korban-korban pelanggaran HAM terbesar 1965, '66'dst dalam sejarah bangsa kita.. Mari ikuti kalimat-kalimat awal tulisan Asep Sambodja -- "Pada 1983, mantan Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Letjen (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo mengajak putra Ketua CC PKI D.N. Aidit, Ilham Aidit, untuk berbicara empat mata, bicara dari hati ke hati.". Bukankah peristiwa yang diungkap ini amat penting?! Selanjutnya silakan pembaca menelusurinya sendiri: * * * Sabtu, 21 November 2009 1965: Perspektif Korban * * * * * * * * * * * * * * * Pengantar buku Nyanyian dalam Kelam Sutikno W.S. Oleh Asep Sambodja Pada 1983, mantan Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Letjen (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo mengajak putra Ketua CC PKI D.N. Aidit, Ilham Aidit, untuk berbicara empat mata, bicara dari hati ke hati. "Ilham, ketika itu, itu adalah tugas buat saya. Ketika itu saya merasa bahwa yang saya lakukan adalah benar. Tapi lama kemudian, berpuluh tahun kemudian, saya sadar, mungkin yang saya lakukan itu keliru. Apakah kamu bisa memahami itu semua?" kata Sarwo Edhie Wibowo kepada Ilham Aidit sebagaimana dituturkan Ilham Aidit dalam film dokumenter Menyemai Terang dalam Kelam karya sutradara I.G.P. Wiranegara (2006) yang diproduksi Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan (LKK) pimpinan Putu Oka Sukanta. Apakah pengakuan Sarwo Edhie itu benar? Sayang sekali kita tidak bisa mengkonfirmasikan hal penting seperti itu, karena pembicaraan itu hanya di antara mereka berdua, sementara Sarwo Edhie sudah tiada. Sama halnya kita juga tidak bisa mengkonfirmasikan klaim Sarwo Edhie bahwa pasukannya telah membunuh tiga juta orang komunis. Benar tidaknya pengakuan Sarwo Edhie itu, hukum harus tetap ditegakkan dan sejarah harus diluruskan. Sejarawan Robert Cribb (2005) mengatakan, "Meskipun mantan komandan RPKAD Sarwo Edhie Wibowo memperkirakan bahwa tiga juta orang telah terbunuh, kisaran angka yang lebih cenderung betul adalah setengah juta, atau bisa saja setengah atau kelipatan duanya." Kenapa Robert Cribb menebak-nebak angka seperti itu? Antara lain karena pembunuhan itu dilakukan secara membabi-buta di berbagai tempat. Tapi, pola pembunuhannya sama, yakni setiap malam selama beberapa minggu datang truk yang diparkir di luar suatu tempat penahanan, lalu seorang petugas akan memanggil beberapa nama para tahanan sebanyak tiga, empat, sampai sekitar dua lusin nama. Kadang-kadang korban disungkup kantung beras usang, kadang mereka hanya diberitahu akan dipindahkan ke lokasi lain. Lalu mereka diangkut pergi lima, 10, 30, bahkan sampai 100 km dari tempat penahanan mereka, ke tempat terpencil—hutan, curaman sungai, gua, atau tepi laut. Di sana, di bawah pengawasan beberapa tentara, mereka dibunuh—ditembak, ditusuk, atau dipukul dengan batangan besi—oleh anggota milisi, terkadang setelah disuruh menggali tanah untuk kuburan mereka sendiri (Cribb, 2005: 57-58). Dalam film dokumenter Mass Grave karya sutradara Lexy Junior Rambadeta (2002), apa yang dikatakan Robert Cribb itu terbukti benar. Pada 16 November 2000, ditemukan kuburan massal di Hutan Situkup, Desa Dempes, Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Jumlah kerangka yang ditemukan ada 21 jenazah, di antaranya kerangka Sandiwijoyo (anggota DPR), Dul Asror (Camat Tempel), Ibnu Santoro (dosen UGM), Marlan (Direktur Waspada), Muhadi, dan Harsono Siswo Sumarto. Mereka ini adalah tahanan tanpa proses pengadilan dari penjara Yogyakarta. Pada 26 Februari 1966 mereka dikirim ke Wonosobo dan dieksekusi pada 3 Maret 1966. Jenazah itu ada yang dikenali melalui cincin kawin yang ditemukan saat penggalian. Cincin itu bertuliskan nama "Sudjijem, 20/6/1965". Pramoedya Ananta Toer (dalam Rambadeta, 2002) mengatakan bahwa di Kabupaten Blora ada 5.000 orang pendukung Soekarno yang dibunuh. Pendukung Soekarno itu ada yang berasal dari kalangan nasionalis, agama, dan komunis. "Itu baru satu kabupaten. Belum yang lainnya," kata Pram. Belum lama ini, tepatnya pada 17 November 2009, diadakan diskusi buku Lobakan: Kesenyapan Gemuruh Bali '65 di GoetheHouse, Jakarta. Dalam diskusi tersebut, Dharma Santika Putra mengatakan bahwa cerpen-cerpen yang terhimpun dalam buku Lobakan itu sebagai karya sastra yang gagal. Alasannya karena "beratnya beban yang harus dipikulnya di dalam merebut lembar-lembar sejarah kemanusiaan di Indonesia bahkan mungkin juga dunia" (Putra, 2009). Saya menilai pernyataan Dharma Santika itu sebagai sebuah pernyataan yang arogan dan gegabah. Apa dasarnya mengatakan cerpen-cerpen yang menyuarakan peristiwa pembantaian massal di Bali pada 1965 itu sebagai karya yang gagal? Adakah karya sastra yang gagal? Bukankah W. Sikorsky (1970) memberi makna baru pada karya-karya Ronggowarsito, Padmosusastro, Muhammad Musa, dan Willem Iskandar tanpa memposisikannya sebagai karya yang gagal? Bukankah Agung Dwi Hartanto (2008) menempatkan Marco Kartodikromo ke tempat terhormat dalam sejarah sastra Indonesia meskipun kolonial Belanda menghinanya sebagai "bacaan liar"? Bukankah filolog-filolog juga memberikan makna baru pada naskah-naskah lama? Kenapa Dharma Santika mengatakan karya sastra itu gagal? Tampaknya Dharma Santika menggunakan kacamata kuda dalam mengapresiasi karya sastra. Ia tidak berusaha mengaitkan karya itu dengan konteksnya, sehingga muncul penilaian semacam itu. Saya menduga bukan karya itu yang gagal, melainkan Dharma Santika yang gagal menafsirkan cerpen-cerpen yang ditulis Martin Aleida, Putu Oka Sukanta, Putu Fajar Arcana, Putu Satria Kusuma, Sunaryono Basuki K.S., Gde Aryantha Soethama, T. Iskandar A.S., Soeprijadi Tomodihardjo, Fati Soewandi, Ni Komang Ariani, Kadek Sonia Piscayanti, Dyah Merta, May Swan, dan Happy Salma dalam buku Lobakan itu. Dari sini saya menyimpulkan bahwa untuk memahami karya-karya para sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dengan baik, kita harus mengerti dan memahami sejarah dengan baik pula. Begitu juga kalau kita hendak mengapresiasi karya sastra yang berlatar 1965-1966, maka sejatinya kita juga mengerti betul apa yang terjadi pada tahun-tahun itu. Tanpa mengerti dan memahami sejarah, bisa jadi kita gagal menafsirkan karya sastra yang berlatar sejarah sebagaimana yang dialami Dharma Santika. Di atas telah saya singgung korban tragedi 1965-1966 yang mati. Bagaimana dengan korban yang masih hidup? Sulami, cerpenis yang juga Sekjen DPP Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang ditahan selama 20 tahun, masih memiliki rasa dendam hingga meninggal terhadap Rezim Soeharto. Penyair Sutikno Wirawan Sigit, yang juga Redaktur Majalah Zaman Baru mengekspresikan pikiran dan perasaannya dalam buku puisi Nyanyian dalam Kelam selama ia dipenjara 10 tahun di Penjara Salemba, Penjara Tangerang, dan Pulau Buru. Sangat banyak yang bernasib sama seperti Sulami dan Sutikno itu. Dalam film dokumenter Seni Ditating Jaman karya kolaboratif Putu Oka Sukanta, Lilik Munafidah, dan Hendro Sutono (2008), misalnya, ditampilkan dalang Ki Tristuti Rahmadi yang ditahan di Pulau Buru. Menurut Ki Tristuti Rahmadi, selama di Pulau Buru, ia benar-benar merasakan ganasnya hutan di sana. Ia pun menulis beberapa suluk untuk para dalang, termasuk untuk Ki Anom Suroto. Suluk karya Tristuti itu terasa lebih berjiwa karena yang ditulisnya adalah sesuatu yang benar-benar dialaminya, bukan semata-mata dari lamunan. Kemahiran mendalang Tristuti ini tercium pula oleh aparat keamanan di Pulau Buru. Lalu, ia diminta mendalang oleh petugas karena banyak tahanan Pulau Buru yang mati bunuh diri. Menurut Tristuti, sejak ia mendalang secara rutin di Buru, angka kematian akibat bunuh diri menurun (Sukanta, 2008). Terbaca bahwa wayang sebagai karya seni berfungsi sebagai sarana katarsis ataupun sekadar menjadi eskapisme bagi para tahanan. Bagi penyair Sutikno W.S. puisi tidak saja berfungsi sebagai media katarsis, tapi juga merekam situasi zaman. Ia yang dipenjarakan oleh Rezim Orde Baru tanpa proses pengadilan sejak 1969 mulai menulis puisi di dalam penjara Salemba pada 1970, di penjara Tangerang pada 1972, dan di Pulau Buru sejak 1973 hingga ia dibebaskan pada 1979. Puisi-puisinya bertarikh 1970-an, masa-masa ia berada dalam penjara, yang terkadang luas langit hanya selebar luas jendela. Mungkin Michel Foucault benar saat ia mengatakan bahwa mengarang itu merupakan upaya untuk menghindari kematian, sebagaimana cerita Seribu Satu Malam yang ditafsirkannya (Heraty, 2000). Dalam puisi "Nyanyian dalam Kelam", penyair memposisikan dirinya sebagai orang yang mengamati adanya penindasan. Ia sangat sadar bahwa dirinya termasuk orang-orang yang ditindas, tapi ia sama sekali tidak ingin ditangisi. Bahkan tak ingin dikasihani. Kalaupun harus ada yang ditangisi, maka bumi inilah yang perlu ditangisi, karena bumi merasakan luka dan duka sesama manusia. Bumilah yang menampung setiap tetes darah yang tumpah. Saya melihat Sutikno berhasil mengendapkan peristiwa yang menempatkannya sebagai korban Rezim Orde Baru dengan baik, dan menuangkannya ke dalam puisi dengan diksi yang terjaga dengan baik pula, serta dituturkan secara bersahaja.. Ini merupakan kelebihan Sutikno. Ia bisa mendaraskan luka dalam puisi "Nyanyian dalam Kelam" dengan apik. Nyanyian dalam Kelam tangisilah bumi ini yang letih dan sengsara merunduk dalam lecutan siksa dan kesakitan tangisilah kehidupan ini di mana kuncup-kuncupnya layu diserap mainan kepalsuan tetapi jangan kami orang-orang yang tersisih namun tidak kehilangan hati untuk mencinta dan mensenyumi dunia dan bukan kami anak-anak yang melata di luar sayap induknya berkubang di tengah musim mereguk pengap udara dalam keramahan lagu dan tutur kata tangisilah kebodohan ini yang sudah memenjarakan kebenaran mengepung manusia dalam kecongakan tirani ya, tangisilah segalanya yang durjana ini demi semua yang akan dilahirkan dari bayangan kabut dan kandungan kemelut tetapi jangan kami, o bukan orang-orang dengan sepotong langit di balik jendela melihat dunia dalam pelukan kemesraan tangisilah bumi dan kehidupan ini yang tersedan dalam kerentanannya menahan pedihnya cemeti dendam dan kedengkian ya, tangisilah dunia ini yang tercabik dan merintih karena luka-lukanya tetapi bukan kami, o tidak sebab apalah arti kesengsaraan apabila hati rela menggenggamnya apalah arti perpisahan—dan kebisuan pabila jantung pun berdebur jua dihangatkan nyala alangkah banyak derita ini mencacati namamu o zaman yang memikul sendiri beban anak-anaknya bermula di kekelaman hari ketika langkah-langkah di kancah pertarungan serta menabur, wahai—bagi buminya benih yang akan melahirkan hari depan kebebasan terpilih di mana kodrat merdeka melindungi anak-anaknya alangkah banyaknya kepiluan ini menjalin jejak kehidupanmu tapi pun alangkah banyaknya kenangan membekas dalam selubung kemarakanmu, o kasih yang unggul yang mengabarkan pada dunia tentang kemuliaan melagukan manusia serta mengangkat derajatnya cinta tak terbagi kecuali bagi yang lapar dan terhina dan air mata pun biarlah tumpah bagi yang tak mengerti namun memikul juga kesengsaraan ini anak-anak yang kehilangan orang tua serta kekasih yang dipunahkan harapannya rumah-rumah yang diremas sunyi, kegelisahan yang membludag seperti sampar dan ketaktahuan—di mana kebenaran bermukim serta mengembangkan sayap-sayapnya ya, dan baginya biarlah bumi pun menampung nestapa serta air mata duka tembang rawan bagi yang tersisih dan disengsarakan tetapi bukan kami, orang-orang yang terampas namun tak kehilangan daya untuk menegakkan janji di atas segala kehilangan yang pahit serta menciptakan zaman yang marak dilambangi paduan nyanyi nasi dan melati (1972—Salemba) Saya melihat penggunaan judul "Nyanyian" dalam puisi-puisi Sutikno mengandung makna tersendiri. Ia berupaya menghadapi semua peristiwa yang dihadapinya dengan tenang, dengan nyanyian. Upaya ini bisa ditafsirkan sebagai bentuk untuk menghibur diri agar terlepas dari segala penderitaan. . Lagu yang disuarakan memang lagu yang di dalamnya sarat akan luka-luka, penuh kepedihan, namun diam-diam sang pujangga menyusun kekuatan untuk tetap bertahan. Puisi atau karya sastra atau karya seni pada umumnya sejatinya memang memiliki dua fungsi, sebagaimana Horatius (dalam Teeuw, 2003) mengatakan dulce et utile. Pertama, menghibur pembaca atau audiensnya. Kedua, karya itu bermanfaat bagi masyarakat; karya tersebut memberi kekayaan intelektual maupun kekayaan spiritual kepada pembacanya. Puisi-puisi yang lahir dari penjara saya pikir setidaknya memberikan kekayaan spiritual kepada pembacanya. Karena, fakta dan kenyataan diungkapkan secara jujur oleh penyairnya. Dan kejujuran memberikan kontribusi yang sangat besar dalam keindahan sebuah puisi. Nyanyian Pandak —untuk trisningku pabila pita merah melambai di lekuk ikal rambutmu, nduk jangan lupakan waktu ketika kau tangisi kepergian bapakmu arif diasuh pengalaman mari ditimba makna perpisahan yang tahun demi tahun seperti bajak yang bermain di lumpur waktu merekatkan getah-getah rindu namun janganlah melarutkan waktu dengan menunggu sebab jagung pun akan berbunga di tiap ladang dan manusia menuai hidup dari pekertinya dan pabila nanti merah mawar menghias warna langitmu, nakmas sampirkanlah di sayap-sayap lagu kasih dan kesetiaan yang tak terkalahkan dinding penjara dan tanah buangan (1973—Buru) Gelap, kelam, senyap, malam, dan sejenisnya adalah kata-kata yang sering muncul dalam puisi-puisi yang lahir di penjara, sebagaimana puisi-puisi Sutikno W.S. Sebagai Redaktur Majalah Zaman Baru, saya pikir Sutikno sangat paham untuk apa sebuah karya sastra diciptakan. Pertanyaan ini juga muncul dari Ni Made Purnamasari dalam diskusi buku Lobakan di GoetheHouse, 17 November 2009. Bahkan Purnamasari menambahkan, apakah karya sastra bisa memberikan solusi untuk pembacanya agar bisa keluar dari kemelut atau keruwetan sejarah ini? Ya, untuk apa sebuah puisi diciptakan? Dalam konteks Nyanyian dalam Kelam ini, untuk apa Sutikno menciptakan puisi? Apakah puisi-puisi Sutikno bisa memberikan solusi atas persoalan hidup kekinian? Pertanyaan ini saya pikir menarik untuk dijawab. Kalau dilihat dari perspektif sang penyair, minimal ada dua alasan kenapa Sutikno menciptakan puisi. Pertama, penyair yang telah mengalami penderitaan akibat dipenjara selama 10 tahun tanpa pengadilan membutuhkan saluran untuk menuangkan uneg-unegnya, menyuarakan rasa ketidakadilan yang dialaminya, mengingat saluran resmi yang dibikin negara tidak mampu menyalurkan penderitaan warganya seperti itu. Kedua, ada yang hendak dibagi atau diberikan kepada pembaca. Kalau selama ini pemerintah Soeharto memberikan informasi secara sepihak kepada masyarakat, penyair melalui puisi-puisinya menyampaikan informasi lain terhadap kenyataan yang sama dengan perspektif yang berbeda. Puisi-puisi itu memberikan suara lain dalam membaca sejarah. Kalau dilihat dari perspektif pembaca, apa yang bisa didapat dari puisi-puisi Sutikno itu? Pertama, puisi-puisi Sutikno yang ditulis di dalam penjara pada kurun waktu 1970-an memberikan gambaran baru situasi saat itu dari perspektif sang penyair. Kedua, puisi-puisi Sutikno yang juga survivor ini memberikan kekayaan spiritual kepada pembacanya. Bagaimana seseorang bisa bertahan hidup dari penderitaan, ujian, cobaan yang demikian berat dan mampu melampauinya. Ketiga, puisi-puisi Sutikno enak dinikmati. Selanjutnya, apakah puisi-puisi Sutikno bisa memberikan solusi bagi pembaca atau masyarakat agar bisa keluar dari persoalan sejarah yang rumit? Secara langsung mungkin tidak. Tapi, secara tidak langsung, puisi-puisi Sutikno bisa memberikan pencerahan kepada pembacanya untuk lebih arif dalam melihat sejarahnya sendiri. Ini penting artinya bagi mereka yang telah direnggut nyawa dan kehormatannya serta penting bagi generasi sesudahnya. Saya sangat ingin mengetahui perasaan algojo-algojo Soeharto yang membunuh sedikitnya 500 ribu bangsanya sendiri pada 1965 itu. Apakah mereka juga merasa seperti Sarwo Edhie Wibowo sebagaimana dituturkan kembali oleh Ilham Aidit? Atau tidak punya perasaan? Nyanyian Malam dan pelan kuketuk pintumu ketika bintang surut dan malam tidak lagi menyanyi o alangkah manis rasanya rumah di mana terukir goresan-goresan lama tentang engkau dan tentang anak-anak tentang duniaku belum sudah dan apabila inilah harinya ketika panen tiba dan dikau penuainya apakah lebih indah dari suara-suara yang menggempitakan langit menggugurkan dinding kota? jawabnya adalah tiada karena betapa ialah yang menyeruku menjalinkan keharuman cinta serta kesetiaan pada cita-cita dan pabila pelan kuketuk pintumu ketika bintang surut dan malam tidak lagi menyanyi adalah ia segumpal damba yang terbang ke sawang sunyi mengetuk dinding langit dan gugur dalam serpihan hati sendiri (1974—Buru) Puisi "Nyanyian Malam" memperlihatkan dengan jelas situasi yang terjadi di dalam dan di luar penjara. Jika pada 15 Januari 1974 kita bisa mengetahui adanya peristiwa huru-hara penolakan modal asing dari Jepang, yang dikenal dengan sebutan seperti nama penyakit, Malari 1974, maka nun jauh di Pulau Buru sana, ada seorang manusia yang terpenjara, yang tengah merindukan rumah dan segala kesentosaannya. Tapi, harapan itu tinggal harapan saja, "dan gugur dalam serpihan hati sendiri". Puisi "Ode" yang juga ditulisnya pada 1974 menunjukkan kepenyairan seorang Sutikno W.S. Jujur saja, baru pertama kali ini saya menemukan nama penyair Sutikno W.S. Saya berusaha mencari nama penyair ini dalam beberapa buku sejarah sastra Indonesia, namun nama ini tidak muncul. Dalam biodatanya disebutkan bahwa penyair ini menjadi Redaktur Zaman Baru milik Lekra pada 1964, tapi saya tidak menemukan karya-karyanya pada tahun 1960-an. Dan, ketika Bilven Sandalista dari Penerbit Ultimus Bandung memberikan segepok puisi-puisi Sutikno W.S., saya baru sadar bahwa ternyata masih banyak sastrawan-sastrawan Lekra yang luar biasa. Dalam hal puisi-puisi Sutikno W.S. ini, pesan yang disampaikannya bukanlah semangat antiimperialisme Amerika sebagaimana yang terbaca dalam puisi-puisi 1960-an. Kenapa yang menjadi tema sentral saat itu antiimperialisme Amerika? Menurut catatan R. Kreutzer (dalam Setiawan, 2003) pada tahun 1948 saja perusahaan-perusaha an swasta Amerika sudah menambang nikel dan bijih besi di Sulawesi; industri pertambangannya di Bangka dan Belitung mengekspor timah dan seng; Rockefeller' s Standard Oil mengebor sekitar 500 ladang minyak mentah di Sumatera; Goodrich dan perkebunan-perkebun an karet raksasa lainnya masing-masing menguasai kurang lebih 100.000 hektare di Sumatera juga. Tapi, yang disuarakan Sutikno adalah suara sepi senyapnya penjara setelah ratusan ribu orang disembelih dan ratusan ribu lainnya, termasuk Sutikno, dipenjara dan diwajibkan korve. Banyak sejarawan yang menyebutkan bahwa Amerika berada di belakang pembunuhan massal yang dilakukan Soeharto dan algojo-algojo Orde Baru. Ode apabila inilah hidupku di mana sawang senyap dan bintang gemerlap lebur dalam nestapa manusia serta rimba kelam yang bernyanyi luluh di desah engah napas-napas yang lelah apabila lagi yang harus kukatakan selain menabur cita-cita meremajakan harapan sudah tertumpah di sini setumpuk angan dan mereka yang hilang pun sudah mencatat pada tapak-tapak tangannya tentang hari-hari yang surut dan berlalu serta langit senyap yang memayungi keabadian cita-cita serta mimpi tunggal angkatannya sesungguhnya hari-hari begini panjang hari-hari begini pekat tapi pun hari-hari betapa saratnya di mana setiap orang menghayati kelahiran baru dalam pribadi mereka yang kehabisan air mata tetapi bukan cinta akan hidup yang tidak dipungkiri serta dunia yang dipilihnya namun adakah kesyahduan lebih syahdu dari nyanyian yang mengembara di padang-padang kepapaan dan mengapung seperti doa-doa kudus yang rawan? ah seandainya ini mengentalkan persahabatan dan meramahkan tutur kata di mana kelahiran demi kelahiran ada dalam kehangatan jalinannya dan apabila inilah hidupku o dengarlah anak-anak serta kekasih yang menanti pabila inilah panggilan yang mesti kupenuhi takkan lagi kuhitung tapak-tapak juga tangan yang menggeletar lunglai serta jantung yang mendeburkan rindu demi rindu pada segalanya yang sirna seperti mainan cahaya yang disapu senja tidak, sebab betapa semuanya sudah bagaikan putik yang mengorak di pangkal pagi menyalamkan gairah puja bagi dunia sesungguhnya inilah mawar dari segenap cintaku yang setangkai demi setangkai kusunting di penjuru negeriku maka apabila inilah hidupku, sepenuhnya jadilah ia hidup yang bukan menunggu waktu tapi adalah jalinan suara dan mainan warna yang lebur dalam titian cita-cita dan engkau yang menyertaiku dalam rindu bukalah hati dan jangan lagi ditangisi, o anak-anak dan kekasih yang menanti sebab bintang pun belum anti di tengah tasik hidupku ini (1974—Buru) Saya merasa nikmat membaca puisi-puisi Sutikno W.S. ini. Dalam arti, apa yang dicita-citakan Lekra melalui Mukaddimah Lekra, yakni tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, tampak jelas hadir dalam puisi-puisi Sutikno W.S.*** Citayam, 21 November 2009. -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
