Untuak dunsanak nan suko menggali sejarah. Ambo copy dari milis sastra 
pembebasan. Mungkin bagi mamak, apak jo dunsanak nan melewati peristiwa 
sejarah nan dicaritokan di bawah, bisa manukuak nan kurang, atau 
maluruihkan ma nan salah.

Salam

Andiko Sutan Mancayo

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita
Rabu, 16 Desember 2009
------------ --------- --------- --------- ---

PERSPEKTIF KORBAN 65 ---
Sebuah Uraian oleh ASEP SAMBODJA

Tulisanku yang lalu, 14 Desember 2009, <Ibrahim Isa – Berbagi Cerita>, 
berjudul Via ARTURO – Ingat Kembali Pahlawan Tani Revolusioner Emilio 
ZAPATA!', direncanakan bersambung. Rencana itu tetap akan diteruskan. 
Namun, sebelum tulisan bersambung diteruskan, disiarkan terlebih dahulu 
sebuah tulisan yang merupakan kata pengantar dari buku Sutikno W.S. 
Berjudul NYANYIAN MALAM Dalam KELAM.

Pengantar itu ditulis oleh penyair generasi muda, ASEP SAMBODJA.

Melalui kiriman Chalik Hamid (Amsterdam), yang diterimanya dari May Teo 
(Singapore), akhirnya beruntung dapat kuterima dan baca: Sebuah uraian 
ASEP SAMBODJA berjudul '1965: PERSPEKTIF KORBAN'. Terima kasih diucapkan 
di sini kepada May Teo dan Chalik Hamid. Dengan sendirinya terutama 
kepada penyair muda, Asep Sambodja!

Uraian Asep Sambodja menarik. Tetap aktuil dan otentik. Lagipula 
dokumentatif. Penting dalam rangka pendataan dan penelitian serta studi 
sekitar 'Kasus 1965'. Terutama yang menyangkut korban-korban pelanggaran 
HAM terbesar 1965, '66'dst dalam sejarah bangsa kita..

Mari ikuti kalimat-kalimat awal tulisan Asep Sambodja --

"Pada 1983, mantan Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) 
Letjen (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo mengajak putra Ketua CC PKI D.N. 
Aidit, Ilham Aidit, untuk berbicara empat mata, bicara dari hati ke 
hati.". Bukankah peristiwa yang diungkap ini amat penting?!

Selanjutnya silakan pembaca menelusurinya sendiri:

* * *

Sabtu, 21 November 2009

1965: Perspektif Korban
* * * * * * * * * * * * * * *
Pengantar buku Nyanyian dalam Kelam Sutikno W.S.

Oleh Asep Sambodja

Pada 1983, mantan Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) 
Letjen (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo mengajak putra Ketua CC PKI D.N. 
Aidit, Ilham Aidit, untuk berbicara empat mata, bicara dari hati ke 
hati. "Ilham, ketika itu, itu adalah tugas buat saya. Ketika itu saya 
merasa bahwa yang saya lakukan adalah benar. Tapi lama kemudian, 
berpuluh tahun kemudian, saya sadar, mungkin yang saya lakukan itu 
keliru. Apakah kamu bisa memahami itu semua?" kata Sarwo Edhie Wibowo 
kepada Ilham Aidit sebagaimana dituturkan Ilham Aidit dalam film 
dokumenter Menyemai Terang dalam Kelam karya sutradara I.G.P. Wiranegara 
(2006) yang diproduksi Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan (LKK) pimpinan 
Putu Oka Sukanta.

Apakah pengakuan Sarwo Edhie itu benar? Sayang sekali kita tidak bisa 
mengkonfirmasikan hal penting seperti itu, karena pembicaraan itu hanya 
di antara mereka berdua, sementara Sarwo Edhie sudah tiada. Sama halnya 
kita juga tidak bisa mengkonfirmasikan klaim Sarwo Edhie bahwa 
pasukannya telah membunuh tiga juta orang komunis. Benar tidaknya 
pengakuan Sarwo Edhie itu, hukum harus tetap ditegakkan dan sejarah 
harus diluruskan.

Sejarawan Robert Cribb (2005) mengatakan, "Meskipun mantan komandan 
RPKAD Sarwo Edhie Wibowo memperkirakan bahwa tiga juta orang telah 
terbunuh, kisaran angka yang lebih cenderung betul adalah setengah juta, 
atau bisa saja setengah atau kelipatan duanya." Kenapa Robert Cribb 
menebak-nebak angka seperti itu? Antara lain karena pembunuhan itu 
dilakukan secara membabi-buta di berbagai tempat. Tapi, pola 
pembunuhannya sama, yakni setiap malam selama beberapa minggu datang 
truk yang diparkir di luar suatu tempat penahanan, lalu seorang petugas 
akan memanggil beberapa nama para tahanan sebanyak tiga, empat, sampai 
sekitar dua lusin nama. Kadang-kadang korban disungkup kantung beras 
usang, kadang mereka hanya diberitahu akan dipindahkan ke lokasi lain. 
Lalu mereka diangkut pergi lima, 10, 30, bahkan sampai 100 km dari 
tempat penahanan mereka, ke tempat terpencil—hutan, curaman sungai, gua, 
atau tepi laut. Di sana, di bawah pengawasan beberapa tentara,
mereka dibunuh—ditembak, ditusuk, atau dipukul dengan batangan besi—oleh 
anggota milisi, terkadang setelah disuruh menggali tanah untuk kuburan 
mereka sendiri (Cribb, 2005: 57-58).

Dalam film dokumenter Mass Grave karya sutradara Lexy Junior Rambadeta 
(2002), apa yang dikatakan Robert Cribb itu terbukti benar. Pada 16 
November 2000, ditemukan kuburan massal di Hutan Situkup, Desa Dempes, 
Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Jumlah kerangka yang 
ditemukan ada 21 jenazah, di antaranya kerangka Sandiwijoyo (anggota 
DPR), Dul Asror (Camat Tempel), Ibnu Santoro (dosen UGM), Marlan 
(Direktur Waspada), Muhadi, dan Harsono Siswo Sumarto. Mereka ini adalah 
tahanan tanpa proses pengadilan dari penjara Yogyakarta. Pada 26 
Februari 1966 mereka dikirim ke Wonosobo dan dieksekusi pada 3 Maret 
1966. Jenazah itu ada yang dikenali melalui cincin kawin yang ditemukan 
saat penggalian. Cincin itu bertuliskan nama "Sudjijem, 20/6/1965".

Pramoedya Ananta Toer (dalam Rambadeta, 2002) mengatakan bahwa di 
Kabupaten Blora ada 5.000 orang pendukung Soekarno yang dibunuh. 
Pendukung Soekarno itu ada yang berasal dari kalangan nasionalis, agama, 
dan komunis. "Itu baru satu kabupaten. Belum yang lainnya," kata Pram.

Belum lama ini, tepatnya pada 17 November 2009, diadakan diskusi buku 
Lobakan: Kesenyapan Gemuruh Bali '65 di GoetheHouse, Jakarta. Dalam 
diskusi tersebut, Dharma Santika Putra mengatakan bahwa cerpen-cerpen 
yang terhimpun dalam buku Lobakan itu sebagai karya sastra yang gagal. 
Alasannya karena "beratnya beban yang harus dipikulnya di dalam merebut 
lembar-lembar sejarah kemanusiaan di Indonesia bahkan mungkin juga 
dunia" (Putra, 2009).

Saya menilai pernyataan Dharma Santika itu sebagai sebuah pernyataan 
yang arogan dan gegabah. Apa dasarnya mengatakan cerpen-cerpen yang 
menyuarakan peristiwa pembantaian massal di Bali pada 1965 itu sebagai 
karya yang gagal? Adakah karya sastra yang gagal? Bukankah W. Sikorsky 
(1970) memberi makna baru pada karya-karya Ronggowarsito, Padmosusastro, 
Muhammad Musa, dan Willem Iskandar tanpa memposisikannya sebagai karya 
yang gagal? Bukankah Agung Dwi Hartanto (2008) menempatkan Marco 
Kartodikromo ke tempat terhormat dalam sejarah sastra Indonesia meskipun 
kolonial Belanda menghinanya sebagai "bacaan liar"? Bukankah 
filolog-filolog juga memberikan makna baru pada naskah-naskah lama? 
Kenapa Dharma Santika mengatakan karya sastra itu gagal?

Tampaknya Dharma Santika menggunakan kacamata kuda dalam mengapresiasi 
karya sastra. Ia tidak berusaha mengaitkan karya itu dengan konteksnya, 
sehingga muncul penilaian semacam itu. Saya menduga bukan karya itu yang 
gagal, melainkan Dharma Santika yang gagal menafsirkan cerpen-cerpen 
yang ditulis Martin Aleida, Putu Oka Sukanta, Putu Fajar Arcana, Putu 
Satria Kusuma, Sunaryono Basuki K.S., Gde Aryantha Soethama, T. Iskandar 
A.S., Soeprijadi Tomodihardjo, Fati Soewandi, Ni Komang Ariani, Kadek 
Sonia Piscayanti, Dyah Merta, May Swan, dan Happy Salma dalam buku 
Lobakan itu.

Dari sini saya menyimpulkan bahwa untuk memahami karya-karya para 
sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dengan baik, kita harus 
mengerti dan memahami sejarah dengan baik pula. Begitu juga kalau kita 
hendak mengapresiasi karya sastra yang berlatar 1965-1966, maka 
sejatinya kita juga mengerti betul apa yang terjadi pada tahun-tahun 
itu. Tanpa mengerti dan memahami sejarah, bisa jadi kita gagal 
menafsirkan karya sastra yang berlatar sejarah sebagaimana yang dialami 
Dharma Santika.

Di atas telah saya singgung korban tragedi 1965-1966 yang mati. 
Bagaimana dengan korban yang masih hidup? Sulami, cerpenis yang juga 
Sekjen DPP Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang ditahan selama 20 
tahun, masih memiliki rasa dendam hingga meninggal terhadap Rezim 
Soeharto. Penyair Sutikno Wirawan Sigit, yang juga Redaktur Majalah 
Zaman Baru mengekspresikan pikiran dan perasaannya dalam buku puisi 
Nyanyian dalam Kelam selama ia dipenjara 10 tahun di Penjara Salemba, 
Penjara Tangerang, dan Pulau Buru. Sangat banyak yang bernasib sama 
seperti Sulami dan Sutikno itu.

Dalam film dokumenter Seni Ditating Jaman karya kolaboratif Putu Oka 
Sukanta, Lilik Munafidah, dan Hendro Sutono (2008), misalnya, 
ditampilkan dalang Ki Tristuti Rahmadi yang ditahan di Pulau Buru. 
Menurut Ki Tristuti Rahmadi, selama di Pulau Buru, ia benar-benar 
merasakan ganasnya hutan di sana. Ia pun menulis beberapa suluk untuk 
para dalang, termasuk untuk Ki Anom Suroto. Suluk karya Tristuti itu 
terasa lebih berjiwa karena yang ditulisnya adalah sesuatu yang 
benar-benar dialaminya, bukan semata-mata dari lamunan.
Kemahiran mendalang Tristuti ini tercium pula oleh aparat keamanan di 
Pulau Buru. Lalu, ia diminta mendalang oleh petugas karena banyak 
tahanan Pulau Buru yang mati bunuh diri. Menurut Tristuti, sejak ia 
mendalang secara rutin di Buru, angka kematian akibat bunuh diri menurun 
(Sukanta, 2008). Terbaca bahwa wayang sebagai karya seni berfungsi 
sebagai sarana katarsis ataupun sekadar menjadi eskapisme bagi para tahanan.

Bagi penyair Sutikno W.S. puisi tidak saja berfungsi sebagai media 
katarsis, tapi juga merekam situasi zaman. Ia yang dipenjarakan oleh 
Rezim Orde Baru tanpa proses pengadilan sejak 1969 mulai menulis puisi 
di dalam penjara Salemba pada 1970, di penjara Tangerang pada 1972, dan 
di Pulau Buru sejak 1973 hingga ia dibebaskan pada 1979. Puisi-puisinya 
bertarikh 1970-an, masa-masa ia berada dalam penjara, yang terkadang 
luas langit hanya selebar luas jendela. Mungkin Michel Foucault benar 
saat ia mengatakan bahwa mengarang itu merupakan upaya untuk menghindari 
kematian, sebagaimana cerita Seribu Satu Malam yang ditafsirkannya 
(Heraty, 2000).

Dalam puisi "Nyanyian dalam Kelam", penyair memposisikan dirinya sebagai 
orang yang mengamati adanya penindasan. Ia sangat sadar bahwa dirinya 
termasuk orang-orang yang ditindas, tapi ia sama sekali tidak ingin 
ditangisi. Bahkan tak ingin dikasihani. Kalaupun harus ada yang 
ditangisi, maka bumi inilah yang perlu ditangisi, karena bumi merasakan 
luka dan duka sesama manusia. Bumilah yang menampung setiap tetes darah 
yang tumpah. Saya melihat Sutikno berhasil mengendapkan peristiwa yang 
menempatkannya sebagai korban Rezim Orde Baru dengan baik, dan 
menuangkannya ke dalam puisi dengan diksi yang terjaga dengan baik pula, 
serta dituturkan secara bersahaja.. Ini merupakan kelebihan Sutikno. Ia 
bisa mendaraskan luka dalam puisi "Nyanyian dalam Kelam" dengan apik.

Nyanyian dalam Kelam
tangisilah bumi ini yang letih dan sengsara
merunduk dalam lecutan siksa dan kesakitan
tangisilah kehidupan ini di mana kuncup-kuncupnya
layu diserap mainan kepalsuan
tetapi jangan kami

orang-orang yang tersisih namun tidak kehilangan hati
untuk mencinta dan mensenyumi dunia
dan bukan kami
anak-anak yang melata di luar sayap induknya
berkubang di tengah musim
mereguk pengap udara
dalam keramahan lagu dan tutur kata

tangisilah kebodohan ini yang sudah
memenjarakan kebenaran
mengepung manusia dalam kecongakan tirani
ya, tangisilah segalanya yang durjana ini demi semua yang akan dilahirkan

dari bayangan kabut dan kandungan kemelut
tetapi jangan kami, o bukan
orang-orang dengan sepotong langit di balik jendela
melihat dunia dalam pelukan kemesraan

tangisilah bumi dan kehidupan ini yang tersedan
dalam kerentanannya
menahan pedihnya cemeti dendam dan kedengkian
ya, tangisilah dunia ini yang tercabik dan merintih karena luka-lukanya

tetapi bukan kami, o tidak
sebab apalah arti kesengsaraan apabila hati rela menggenggamnya
apalah arti perpisahan—dan kebisuan
pabila jantung pun berdebur jua dihangatkan nyala
alangkah banyak derita ini mencacati namamu
o zaman yang memikul sendiri beban anak-anaknya
bermula di kekelaman hari ketika langkah-langkah di
kancah pertarungan
serta menabur, wahai—bagi buminya benih yang akan
melahirkan hari depan
kebebasan terpilih di mana kodrat merdeka melindungi
anak-anaknya

alangkah banyaknya kepiluan ini menjalin jejak kehidupanmu
tapi pun alangkah banyaknya kenangan membekas dalam
selubung kemarakanmu, o kasih yang unggul
yang mengabarkan pada dunia tentang kemuliaan
melagukan manusia serta mengangkat derajatnya
cinta tak terbagi kecuali bagi yang lapar dan terhina

dan air mata pun biarlah tumpah bagi yang tak mengerti
namun memikul juga kesengsaraan ini
anak-anak yang kehilangan orang tua serta kekasih yang
dipunahkan harapannya
rumah-rumah yang diremas sunyi, kegelisahan yang
membludag seperti sampar
dan ketaktahuan—di mana kebenaran bermukim serta
mengembangkan sayap-sayapnya

ya, dan baginya biarlah bumi pun menampung nestapa serta air mata duka
tembang rawan bagi yang tersisih dan disengsarakan
tetapi bukan kami, orang-orang yang terampas namun tak kehilangan daya
untuk menegakkan janji di atas segala kehilangan yang pahit
serta menciptakan
zaman yang marak dilambangi paduan nyanyi
nasi dan melati

(1972—Salemba)
Saya melihat penggunaan judul "Nyanyian" dalam puisi-puisi Sutikno 
mengandung makna tersendiri. Ia berupaya menghadapi semua peristiwa yang 
dihadapinya dengan tenang, dengan nyanyian. Upaya ini bisa ditafsirkan 
sebagai bentuk untuk menghibur diri agar terlepas dari segala 
penderitaan. . Lagu yang disuarakan memang lagu yang di dalamnya sarat 
akan luka-luka, penuh kepedihan, namun diam-diam sang pujangga menyusun 
kekuatan untuk tetap bertahan. Puisi atau karya sastra atau karya seni 
pada umumnya sejatinya memang memiliki dua fungsi, sebagaimana Horatius 
(dalam Teeuw, 2003) mengatakan dulce et utile. Pertama, menghibur 
pembaca atau audiensnya. Kedua, karya itu bermanfaat bagi masyarakat; 
karya tersebut memberi kekayaan intelektual maupun kekayaan spiritual 
kepada pembacanya. Puisi-puisi yang lahir dari penjara saya pikir 
setidaknya memberikan kekayaan spiritual kepada pembacanya. Karena, 
fakta dan kenyataan diungkapkan secara jujur oleh penyairnya. Dan
kejujuran memberikan kontribusi yang sangat besar dalam keindahan sebuah 
puisi.

Nyanyian Pandak
—untuk trisningku

pabila pita merah
melambai di lekuk ikal rambutmu, nduk
jangan lupakan waktu
ketika kau tangisi kepergian bapakmu

arif diasuh pengalaman
mari ditimba makna perpisahan
yang tahun demi tahun
seperti bajak yang bermain di lumpur waktu
merekatkan getah-getah rindu

namun janganlah melarutkan waktu dengan menunggu
sebab jagung pun
akan berbunga di tiap ladang
dan manusia
menuai hidup dari pekertinya

dan pabila nanti
merah mawar menghias warna langitmu, nakmas
sampirkanlah di sayap-sayap lagu
kasih dan kesetiaan yang tak terkalahkan
dinding penjara dan tanah buangan

(1973—Buru)
Gelap, kelam, senyap, malam, dan sejenisnya adalah kata-kata yang sering 
muncul dalam puisi-puisi yang lahir di penjara, sebagaimana puisi-puisi 
Sutikno W.S. Sebagai Redaktur Majalah Zaman Baru, saya pikir Sutikno 
sangat paham untuk apa sebuah karya sastra diciptakan. Pertanyaan ini 
juga muncul dari Ni Made Purnamasari dalam diskusi buku Lobakan di 
GoetheHouse, 17 November 2009. Bahkan Purnamasari menambahkan, apakah 
karya sastra bisa memberikan solusi untuk pembacanya agar bisa keluar 
dari kemelut atau keruwetan sejarah ini?

Ya, untuk apa sebuah puisi diciptakan? Dalam konteks Nyanyian dalam 
Kelam ini, untuk apa Sutikno menciptakan puisi? Apakah puisi-puisi 
Sutikno bisa memberikan solusi atas persoalan hidup kekinian? Pertanyaan 
ini saya pikir menarik untuk dijawab. Kalau dilihat dari perspektif sang 
penyair, minimal ada dua alasan kenapa Sutikno menciptakan puisi. 
Pertama, penyair yang telah mengalami penderitaan akibat dipenjara 
selama 10 tahun tanpa pengadilan membutuhkan saluran untuk menuangkan 
uneg-unegnya, menyuarakan rasa ketidakadilan yang dialaminya, mengingat 
saluran resmi yang dibikin negara tidak mampu menyalurkan penderitaan 
warganya seperti itu. Kedua, ada yang hendak dibagi atau diberikan 
kepada pembaca. Kalau selama ini pemerintah Soeharto memberikan 
informasi secara sepihak kepada masyarakat, penyair melalui 
puisi-puisinya menyampaikan informasi lain terhadap kenyataan yang sama 
dengan perspektif yang berbeda. Puisi-puisi itu memberikan suara lain dalam
membaca sejarah.

Kalau dilihat dari perspektif pembaca, apa yang bisa didapat dari 
puisi-puisi Sutikno itu? Pertama, puisi-puisi Sutikno yang ditulis di 
dalam penjara pada kurun waktu 1970-an memberikan gambaran baru situasi 
saat itu dari perspektif sang penyair. Kedua, puisi-puisi Sutikno yang 
juga survivor ini memberikan kekayaan spiritual kepada pembacanya. 
Bagaimana seseorang bisa bertahan hidup dari penderitaan, ujian, cobaan 
yang demikian berat dan mampu melampauinya. Ketiga, puisi-puisi Sutikno 
enak dinikmati.

Selanjutnya, apakah puisi-puisi Sutikno bisa memberikan solusi bagi 
pembaca atau masyarakat agar bisa keluar dari persoalan sejarah yang 
rumit? Secara langsung mungkin tidak. Tapi, secara tidak langsung, 
puisi-puisi Sutikno bisa memberikan pencerahan kepada pembacanya untuk 
lebih arif dalam melihat sejarahnya sendiri. Ini penting artinya bagi 
mereka yang telah direnggut nyawa dan kehormatannya serta penting bagi 
generasi sesudahnya. Saya sangat ingin mengetahui perasaan algojo-algojo 
Soeharto yang membunuh sedikitnya 500 ribu bangsanya sendiri pada 1965 
itu. Apakah mereka juga merasa seperti Sarwo Edhie Wibowo sebagaimana 
dituturkan kembali oleh Ilham Aidit? Atau tidak punya perasaan?

Nyanyian Malam
dan pelan kuketuk pintumu
ketika bintang surut
dan malam tidak lagi menyanyi

o alangkah manis rasanya rumah
di mana terukir goresan-goresan lama
tentang engkau dan tentang anak-anak
tentang duniaku belum sudah

dan apabila inilah harinya
ketika panen tiba dan dikau penuainya
apakah lebih indah dari suara-suara
yang menggempitakan langit
menggugurkan dinding kota?

jawabnya adalah tiada
karena betapa ialah yang menyeruku
menjalinkan keharuman cinta
serta kesetiaan pada cita-cita

dan
pabila pelan kuketuk pintumu
ketika bintang surut dan malam tidak lagi menyanyi
adalah ia segumpal damba
yang terbang ke sawang sunyi
mengetuk dinding langit

dan gugur
dalam serpihan hati sendiri

(1974—Buru)
Puisi "Nyanyian Malam" memperlihatkan dengan jelas situasi yang terjadi 
di dalam dan di luar penjara. Jika pada 15 Januari 1974 kita bisa 
mengetahui adanya peristiwa huru-hara penolakan modal asing dari Jepang, 
yang dikenal dengan sebutan seperti nama penyakit, Malari 1974, maka nun 
jauh di Pulau Buru sana, ada seorang manusia yang terpenjara, yang 
tengah merindukan rumah dan segala kesentosaannya. Tapi, harapan itu 
tinggal harapan saja, "dan gugur dalam serpihan hati sendiri".

Puisi "Ode" yang juga ditulisnya pada 1974 menunjukkan kepenyairan 
seorang Sutikno W.S. Jujur saja, baru pertama kali ini saya menemukan 
nama penyair Sutikno W.S. Saya berusaha mencari nama penyair ini dalam 
beberapa buku sejarah sastra Indonesia, namun nama ini tidak muncul. 
Dalam biodatanya disebutkan bahwa penyair ini menjadi Redaktur Zaman 
Baru milik Lekra pada 1964, tapi saya tidak menemukan karya-karyanya 
pada tahun 1960-an. Dan, ketika Bilven Sandalista dari Penerbit Ultimus 
Bandung memberikan segepok puisi-puisi Sutikno W.S., saya baru sadar 
bahwa ternyata masih banyak sastrawan-sastrawan Lekra yang luar biasa.

Dalam hal puisi-puisi Sutikno W.S. ini, pesan yang disampaikannya 
bukanlah semangat antiimperialisme Amerika sebagaimana yang terbaca 
dalam puisi-puisi 1960-an. Kenapa yang menjadi tema sentral saat itu 
antiimperialisme Amerika? Menurut catatan R. Kreutzer (dalam Setiawan, 
2003) pada tahun 1948 saja perusahaan-perusaha an swasta Amerika sudah 
menambang nikel dan bijih besi di Sulawesi; industri pertambangannya di 
Bangka dan Belitung mengekspor timah dan seng; Rockefeller' s Standard 
Oil mengebor sekitar 500 ladang minyak mentah di Sumatera; Goodrich dan 
perkebunan-perkebun an karet raksasa lainnya masing-masing menguasai 
kurang lebih 100.000 hektare di Sumatera juga. Tapi, yang disuarakan 
Sutikno adalah suara sepi senyapnya penjara setelah ratusan ribu orang 
disembelih dan ratusan ribu lainnya, termasuk Sutikno, dipenjara dan 
diwajibkan korve. Banyak sejarawan yang menyebutkan bahwa Amerika berada 
di belakang pembunuhan massal yang dilakukan Soeharto dan
algojo-algojo Orde Baru.

Ode
apabila inilah hidupku
di mana sawang senyap dan bintang gemerlap
lebur dalam nestapa manusia
serta rimba kelam yang bernyanyi
luluh di desah engah napas-napas yang lelah
apabila lagi yang harus kukatakan
selain menabur cita-cita
meremajakan harapan

sudah tertumpah di sini setumpuk angan
dan mereka yang hilang pun
sudah mencatat pada tapak-tapak tangannya
tentang hari-hari yang surut dan berlalu
serta langit senyap yang memayungi
keabadian cita-cita serta mimpi tunggal angkatannya

sesungguhnya
hari-hari begini panjang
hari-hari begini pekat
tapi pun hari-hari betapa saratnya

di mana setiap orang menghayati kelahiran baru
dalam pribadi
mereka yang kehabisan air mata tetapi bukan cinta
akan hidup yang tidak dipungkiri serta dunia yang dipilihnya

namun adakah kesyahduan lebih syahdu dari nyanyian
yang mengembara di padang-padang kepapaan
dan mengapung seperti doa-doa kudus yang rawan?
ah seandainya ini mengentalkan persahabatan dan meramahkan tutur kata
di mana kelahiran demi kelahiran
ada dalam kehangatan jalinannya
dan apabila inilah hidupku

o dengarlah anak-anak serta kekasih yang menanti
pabila inilah panggilan yang mesti kupenuhi
takkan lagi kuhitung tapak-tapak
juga tangan yang menggeletar lunglai
serta jantung yang mendeburkan rindu demi rindu
pada segalanya yang sirna seperti mainan cahaya yang
disapu senja
tidak, sebab betapa semuanya sudah bagaikan putik
yang mengorak di pangkal pagi
menyalamkan gairah puja bagi dunia

sesungguhnya
inilah mawar dari segenap cintaku
yang setangkai demi setangkai
kusunting di penjuru negeriku
maka apabila inilah hidupku, sepenuhnya
jadilah ia hidup yang bukan menunggu waktu
tapi adalah jalinan suara
dan mainan warna
yang lebur dalam titian cita-cita

dan engkau yang menyertaiku dalam rindu
bukalah hati dan jangan lagi ditangisi, o anak-anak dan kekasih yang menanti
sebab bintang pun belum anti di tengah tasik hidupku ini

(1974—Buru)
Saya merasa nikmat membaca puisi-puisi Sutikno W.S. ini. Dalam arti, apa 
yang dicita-citakan Lekra melalui Mukaddimah Lekra, yakni tinggi mutu 
ideologi dan tinggi mutu artistik, tampak jelas hadir dalam puisi-puisi 
Sutikno W.S.***

Citayam, 21 November 2009.


-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke