*Wapres Dukung Dana CSR untuk Wayang* (Kompas 17-12-2009).

*Wakil Presiden Boediono menyatakan dukungannya terhadap upaya melestarikan
dan mengembangkan warisan budaya wayang di Tanah Air.

Salah satu bentuk dukungan Boediono adalah mendorong diwujudkannya kerjasama
badan usaha milik negara (BUMN) dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
dalam pengalokasian sebagian dana corporate social responsibility (CSR)
untuk seni dan budaya wayang.

"Ide untuk membentuk dana penyertaan (endowment fund) bagi kebudayaan sangat
penting mengingat pelestarian nilai-nilai budaya dan pembentukan karakter
bangsa melalui tokoh-tokoh wayang," ujar Boediono saat membuka Festival
Dalang Bocah 2009 di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu.
*
Dunsanak di palanta nan ambo hormati,

Berita Kompas sangajo ambo kutipkan untuk menghubuangkan pengantar dari Limo
postingan ambo baru-baru iko tentang syair/carito wayang Barata Yuda nan
membentuk karakter manusia di dalam budaya Jawa.

Carito wayang umumnyo berfokus pada kisah rajo-rajo dengan kekuasaannya nan
ado di suatu kerajaan (di rantau J).
Karano dalam budaya Minang Kabau rajo nan paliang tinggi iolah alua nan
patuik atau nan Bana maka rajo dalam bentuk manusia tidak dikenal.

Ambo satuju jo pandapek urang-urang tuo awak nan menyimpulkan kalimat: *Luhak
ba pangulu, rantau barajo.*

Nah kalau untuk *membentuk karakter bangsa*, wapres Boediono telah mendorong
BUMN menggunakan dana CSR nya untuk *mempromosikan tokoh-tokoh wayang*,
bagaimana dengan kita orang Minang sato pulo sakaki membentuk karakter
bangsa dengan mengisinya *dengan tokoh-tokoh/sifat-sifat pangulu dari luhak*
.

Kok di Jawa seorang dalang mampu berdialog sendiri (dalam bermacam-macam
sifat/karakter tokoh wayang) yang pada akhirnya *dijadikan pedoman oleh para
kawula* sedangkan di luhak saya ketahui *dulunya para pangulu (kepala
kaum/datuk) mampu basambah kato* dalam upacara-upacara yang diselenggarakan
masyarakat.

Ucapan-ucapan, *isi dan gaya bahasa para pangulu inilah nan mungkin yang
menjadi pembentukan karakter orang Minang Kabau*.
Apakah dana CSR BUMN bisa dialokasikan untuk pelatihan dialog-dialog semacam
itu, dalam bentuk kursus-kursus dialektika Minang Kabau.


Salam

Abraham Ilyas 64 th.
webmaster/admin www.nagari.org
www.nagari.or.id

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke