Da, kalau urang antik-jadul ko bantuaknyo indak sabendi lai, alah sakapa 
bantuaknyo. Namo kawan uda itu lai acok tadanga, rasonyo ambo lai pernah 
basuo jo baliau. Kalau Munan nan ka di baco, ado tulisan ambo dibawah 
tentang Muna, untuang-untuang lai bisa parintang manunggu hari patang da.

*Surat Serat Jati Wa Ode Kepada Paman Yones Koanfora Pellokila;* Sebuah 
Catatan Pembuka

Perjalanan Ke Kontu

* *

*Andiko*

Paman Yones, aku tulis surat ini jauh pada tempat yang hampir 
terlupakan, ketika ada temanmu datang. Lelaki sipejalan yang gelisah itu 
datang dari jauh, tempat siang tertikam malam, membawa senja ketika 
kapal merapat hanya untuk beberapa menit dan kemudian peluit 
keberangkatan segera berbunyi. Tiang-tiang pelabuhan dan tumpukan pohon 
jati tak bernama, menyapanya. Mungkin saja ada cinta yang memanggilnya 
pada bumi gersang tempat darah pernah tumpah, karena dia juga datang 
dari negeri yang tanahnya terampas. Aku tak peduli !.

Kerinduanku padamu mengalahkan segalanya, meskipun ada lagi perempuan 
asing disisinya, mukanya mengelupas terpanggang matahari. Perempuan yang 
bersilat demi kami di antara rimba hukum, aku tak peduli. Karena hukum 
bagi kami telah berubah berwajah polisi, satuan polisi pamong praja, 
para preman dan penjara. Betapa mengerikannya paman. Adakah lagi masa 
ketika aku berlindung pada bingkai kacamatamu dan lautan kata-kata yang 
menyadarkan dan membangunkan yang tertidur.

Paman Yones, ingatkah padaku, aku Wa Ode yang menatap asing ketika kau 
datang. Aku bukanlah “Perempuan Berbaju Biru” yang menyihir kesadaran 
akan penindasan, perempuan berbaju biru yang memekik, seperti mantera di 
masa lalu, kita orang tak bertanah !. Tetapi aku hanyalah gadis kecil 
yang tersipu penuh rasa ingin tau, muka merah padam terbakar matahari, 
karena tidak ada lagi tajuk-tajuk jati yang menyaring mentari ditanah 
Kontu.

Paman, aku tulis surat diatas pokok-pokok bekas pohon jati, berharap 
sampai padamu meskipun pak pos tidak akan pernah datang, karena hampir 
seribuan lebih yang tinggal bersamaku, tidak tercatat di kabupaten 
sebagai penduduk Kontu. Aku bertanya-tanya, kenapa kami dianggab tidak 
ada. Aku mencuri-curi dengar pembicaraan ibu dengan paman-paman yang 
lain, didalam peta tempat tinggalku adalah kawasan lindung yang harus 
kosong dari ladang-ladang kami, katanya.

Paman Yones, aku ingin sampaikan, aku telah naik kelas dengan nilai PPKN 
delapan lebih, nyaris sembilan. Sebagai anak orang-orang bermandi 
keringat, para pengolah karang dan batuan menjadi jagung, ubi dan 
pisang, kukira aku teramat pancasilais. Aku hapal sekali sila pertama 
sampai sila kelima, sehingga guru memberikan padaku angka itu. Tetapi 
sila nyaris tak bermakna ketika berada pada posisiku. Meskipun aku 
terlalu kecil untuk paham bagaimana wajah kekuasaan, tetapi akulah 
penyaksi ketika rumah-rumah kami dibakari, pagar-pagar ladang direbahkan 
dan pohon-pohon pisang kami bertumbangan ditebas. Ketika ibu, bapak dan 
yang lain berusaha mempertahankan pokok-pokok jagung dan tanaman 
lainnya, aku juga penyaksi pukulan-pukulan aparat singgah ditubuhnya.

Sebenarnya pada saat itu aku ingin tertawa paman, melihat kepala ibu 
benjol-benjol, tetanggaku pingsan dan kepala Paman Ihlas mengucurkan 
darah dipukuli. Semua terasa lucu bagiku, kenapa ibu tidak mengajak 
“Power Ranger” atau “Dora Emon” atau “Satria Baja Hitam”, membantunya 
menghadapi para penyerang. Katanya “Power Ranger” atau “Dora Emon” atau 
“Satria Baja Hitam” sering bertandang kerumah-rumah aman dan hangat 
ditempatmu. Ia membantu yang lemah melawan kezaliman disoraki tawa 
senang anak-anak yang lebih beruntung dariku. Sayangnya aku tidak 
seperti mereka.

Seperti yang paman pernah lihat, rumahku hanyalah berdinding anyaman 
bambu, beratap ilalang dengan lobang-lobang besar tempat angin lalu 
lalang, tidak ada listrik dan kamar mandi yang wangi. Tidak ada televisi 
yang dapat mengundang “Power Ranger” datang. Bahkan komik pertama yang 
aku miliki, paman tau judulnya ?. Judul komikku “Hukum Kami Hukum Adat” 
yang setiap sore ketika menanti ibu pulang dari ladang, aku baca 
berulang-ulang. Aku akan bercerita pada semua orang di kota, bahwa aku 
juga punya komik, meskipun bukan komik jepang dan korea yang katanya 
banyak di kerubungi anak-anak di toko buku.

Tetapi dirumah itulah harap terbangun dan hidup bertarung. Kami tidak 
mengeluh meski kami diantara ada dan tiada. Kami makan apa yang 
diberikan tanah ini dan kami tertawa, bercanda, berlarian hingga 
pokok-pokok Jati membuatku terguling. Begitu juga kami lewati 
malam-malam panjang meski tak ada kepastian, seperti malam ini paman, 
saat ini bulan merangkak naik, dengarlah sayup tembangku. 
Berangkai-rangkai doa membubung ke awan, seperti bintang-bintang yang 
berarak mengantarkan harap pada tuhan. Aku lagukan tentang masa depan 
yang indah sebagai pengantar tidur adikku La Ode “sibajingan kecil”. 
Lagu itu menelisik malam diantara pokok-pokok jagung, kacang tanah dan 
rumpun pisang. Sesaat keheningan terusik lirih suaranya, seperti mantera 
mengundang kantuk.

Malam ini paman, teramat dingin, angin malam menembus bilik bambu, 
adikku menggeliat kedinginan. Kami hanya punya kain lusuh yang pernah 
mengendong generasi demi generasi sebagai pembungkusnya. Beberapa jam 
yang lalu, sore jatuh ditekuk teluk Raha. Dari ketinggian potongan jati 
pagar ladang, aku menatap jauh kelautan. Inginnya aku berlayar, seperti 
penumpang kapal yang hilir mudik dan aku akan bertanya pada setiap orang 
kenapa api membakar gubuk-gubuk kami dan menjadi mimpi buruk yang tak 
pernah usai. Mengapa ibu dan bapak mesti diusir ?.

Salahkah aku paman ketika menyimpan rasa ingin pada tunggul-tunggul jati 
dan hamparan ladang, tentang sekolah impianku. Tentang rasa aman dan 
makan yang cukup. Mungkinkah paman, aku yang dibesarkan dengan nasi 
jagung dan sayur daun kelor, tanpa televisi, komik dan mainan bisa 
melihat kota. Aku ingin bersekolah tinggi, katanya dengan bersekolah 
tinggi dapat menolong saudara-saudaraku. Tetapi katanya hari ini sekolah 
itu hanya untuk orang kaya.

Untuk itu aku ingin menabung paman, di celengan bambu ?. Bukankah 
menurut ibu guru hemat itu pangkal kaya. Tetapi ibu jarang sekali 
memberikan uang jajan, karena ibu dan bapak tidak berladang dengan aman, 
hingga tidak ada yang bisa dijual dari tanah kami. Bahkan kalaupun ada, 
tidak ada yang berani membeli sayur-sayur kami, sayur-sayur yang tumbuh 
diatas konflik, sayur-sayur yang disiram dengan air mata para pembangkang.

Paman, pada temanmu yang ”merana” bersama saudara-saudaraku di halaman, 
aku titipkan bulan yang berhenti mendaki dan tergantung diatas kontu. 
Segala luka dan kesakitan terpanggang pada bara ”tunuha”. Begitulah 
nenek moyang kami mengajarkan berbagi dalam desau angin. Kalaulah ada 
air mata menetes diantara mereka, tapi ia melentik, bukanlah karena 
kesedihan orang-orang yang tak diinginkan, tetapi kasih perjuangan 
menebar seperti jala.

Paman Yones, sejak pagi aku diajak ibu ke pengadilan. Inilah pengadilan 
duniawi dimana sejarah sedang bertarung dengan kekuasaan. Meski kami 
sadari sejarah adalah milik pemenang, bahkan kelaliman telah sampai pada 
titik penistaan, aku tetap mimpi tentang kebenaran. Seperti itu juga 
mimpi satu orang dari enam paman-pamanku yang hari ini menjadi 
pesakitan. Mereka para peladang di kawasan hutan menurut dakwaan dan itu 
kriminal !. Ketahuilah paman, jauh sebelum pengadilan di negeri merdeka 
ini berdiri, kami tidak terusik.

Paman, di nadiku mengalir darah panglima pemenang yang menukar kekuasaan 
dengan kearifan, yang mengganti mahkota dengan dengan tanah. Kamilah La 
Kundofani si /Kino Watoputhi,/ si penolong itu. Karena itulah raja Muna 
bertitah, hingga terbentanglah dari Watoputeh sampai ke Wakadia tempat 
mentari tenggelam di pangkuan malam, dari Labunti di Utara sampai di 
pesisir pantai Laino yang melahirkan fajar. Disalah Kontu, Patu-patu, 
Lasukara dan Wawesa dari generasi ke generasi melahirkan kami dan 
ditanah itu kami berkubur.

Pagi itu, setelah berkali-kali kami mesti keluar dari tanah ini, berkali 
pula kekuasaan berganti, La Ode Enda dengan bahasa yang tidak kami 
mengerti menanamkan bibit pertama yang akan menjadi petaka. Pagi itu 
tanggalan sampai pada angka tahun 1956, satu tetumbuhan bernama Jati 
berderap maju seperti pasukan meneriakkan /“kultir” /(kultur), 
memaksakan hak tumbuh di tanah kami. Beriring tahun ia membesar, 
membesar dan memaksa kami keluar. Sampai kemudian La Kundofani si /Kino 
Watoputhi/ kami minta bangkit, mengembalikan kami pada tanah ini.

Paman Yones, ini adalah lembar keempat suratku, kukira tintanya telah 
mengabur, ini pena terakhir dan satu-satunya yang aku miliki. Jika 
matamu lelah membaca, berjalanlah keluar Warung Cekermu, pandanglah awan 
hitam polusi yang menyelubungi kotamu, seperti itulah hari yang 
kulewati. Tapi aku tetap tersenyum paman, setiap pagi kesekolah dengan 
kaki berkabut karena debu kering tanah Kontu dan mata berbinar-binar 
seperti dulu. Baiklah paman, aku persingkat saja surat ini.

Paman, apakah yang disebut dengan kawasan hutan itu, kenapa tiba-tiba 
membuat kami semua menjadi kriminal dan kalaulah benar 80 % kawasan itu 
belum tuntas tata batasnya dengan hampir 20 juta saudaraku yang hidup 
didalam dan diluar kawasan hutan, tidak akan muat penjara untuk kami. 
Paman, bukanlah kami takut akan penjara, karena di penjara kami tidak 
lagi berpikir bagaimana mencari makan dengan aman hari ini. Tetapi yang 
memberati pikian kami, apakah konstitusi telah kehilangan makna, 
sehingga ia telah menjadi tumpukan kertas tua yang memuat pasal demi 
pasal, buah kegenitan intelektual. Sehingga hak kami sebagai pemilik 
syah negeri ini hanya sebagai pemanis pidato para politisi dan 
birokrasi. Apalah jadinya kami ini paman, ketika tenurial hutan belum 
jelas penguasa membuat RUU Illegal Logging. Kepada siapa kami mesti 
bertanya mana yang legal dan illegal, ketika hak hanya ada di kertas 
dengan pasal saling menikam.

Paman Yones, sekali-sekali kirimkanlah kami ceker presto, akan aku 
bagikan pada para terdakwa perambah hutan negara ini. Sejak pagi ia 
belum makan, hingga dengan tubuh layu itu tak sanggub dengan tegak 
menjawab teriakan hakim yang bertanya apakah ia akan keluar dari kontu 
atau tidak. Kirimkan juga kami ceker dimsum agar bisa berucap seperti 
orang Jakarta, hingga kami bisa membela diri atas pengusiran atas nama 
hukum. Sekalian dengan Wine pengganti komeko, air kata-kata yang tumbuh 
di tanah kami.

Paman, mataku nanar dan telingaku telah berhenti mendengar. Sungguh tak 
kupahami persidangan ini, tapi persidangan terus berjalan dari tahun ke 
tahun. Apakah perempuan cantik berjubah hitam yang datang jauh dari 
pulau siaw itu memantik kemurkaan jaksa, hingga menjadikan tuntutan 
teramat tinggi pada kami. Apakah salahnya paman ?. Kenapa hukum mesti 
pilih kasih.

Paman, malam telah larut dan tangan telah penat. Sepertinya surat ini 
tidak akan pernah selesai. Karena itu biarlah aku lukis langit sehingga 
kau akan membacanya, bukankah kita masih satu langit ?. Sampaikanlah 
seluruh tanyaku pada orang-orang, tentang keadilan hingga sejarah 
kembali milik kami.

Sebagai penutup surat ini paman, meskipun aku tidak juara kelas kali 
ini, karena aku sering bolos untuk menjaga La Ode adikku, ketika ibu, 
bapak, paman, dan para tetangga sibuk mempertahankan lahan kami dari 
pengusiran, aku tetap ingin meminta hadiah. Aku tidak ingin ke Dufan, 
aku tidak inginkan tas baru berwarna pink, tapi kuingin kembalikan masa 
kecilku yang hilang, karena kami terpaksa dewasa menghadapi ancaman, 
bawakanlah aku rumah hangat, penuh rasa aman. Ketika kau datang membawa 
itu, akan aku bagi semuanya pada anak-anak tak bernama di kawasan hutan 
negara lainnya, mereka hanyalah berarti sampai pada tingkat angka-angka 
statistik. Kirimkanlah juga buku paman, karena dengan itu kami akan 
merubah dunia.

Paman, jika kau lihat sebongkah karang di pelabuhan Raha, berdiri tegak 
menatap lautan, ketika suatu saat kau datang, itulah aku Wa Ode, gadis 
kecil dari Kontu, membatu menunggumu membawa keadilan dan rasa aman.

Jangan tinggalkan kami paman, kami mimpi seperti anak-anak yang lain.

Jakarta, 14 Juli 2006

Catatan;

Merana : Berdiang/memanaskan tubuh di sekeliling api unggun

Tunuha : Ubi yang dimasak dalam batangan bambu didalam tumpukan batu 
yang dipanaskan

La Ode Enda : Kepala Dinas Kehutanan pada tahun 1956





[email protected] wrote:
> Kalau baitu sa Bendi lah jo ambo mah..walau kusia babeda
>
> Jadi ado juo kepuasaan dek kito mah mabaok sabatang duo batang tampang 
> tanaman ko ka desa2 atau kampuang2 nan awak kunjungi
>
> Sarupo ambo ka mahato terakhir Juni 2008 ambo singgah dek ambo ka camp di Sei 
> Kebaro (perbatasan sumut-riau sakiro sajam ka Mahato lansuang pulang ka 
> Pakanbaru tambuih di Dalu2 Rohil)
>
> Bacigok2 juo tanaman nan dulu kami agiah yo lah gadang2 dan babuah tapi ado 
> juo nan mati, kan sanang hati rasonyo
>
> Kalau lai kamanjadi amal jariah kecek ulama, tantu salagi dimanfaat urang dan 
> baguno dek urang apo nan kito agiah jo tanam mudah2an lai pahalo ganjarannyo 
> dek Allah Swt.Amin
>
> Nah jampang ko ka Muna baliak Andiko tantu bisa mancaliak tanaman tu..pasti 
> penasaran awak mah deknyo manjalang barangkek ka sinan
>
> Muna ko terkenal juo mah jo jati alamnyo ambo punyo kawan sakuliah. Asa Muna 
> (adiak kelas ambo dan samo tingga di asrama romannyo co  Mike Tyson bana namo 
> kawan ko La Ode Haimuddin kalau ndak salah aktivis LSM juo dibidang 
> lingkungan di Jakarta)
>
> Wass-Jepe
> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung 
> Teruuusss...!
>   

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke