[ Minggu, 27 Desember 2009 ] Jawa Pos
Terompet Jam Gadang
Oleh : Abdullah Khusaeri
RINDU pada kota ini harus dituntaskan hingga tahun baru tiba. Telah menebal
rinduku tersusun. Satu tahun memang tak lama, waktu begitu cepat melipat
kenangan.
Jingga mulai jatuh satu-satu. Malam beringsut. Ini malam tahun baru. Terompet
dijual di kaki lima. Sedari tadi telah menyalak di mana-mana. Seperti tiada
jeda untuk menghela napas. Anak-anak, orang dewasa, meniupnya tanpa peduli apa
pun. Pesta menuju tahun baru telah dimulai.
Simpang Kantin sudah ramai. Musik dari sebuah pentas hiburan terdengar
hingar-bingar. Aku memarkirkan kendaraan di tempat yang sudah sangat akrab.
Telah biasa kulakukan sejak masih remaja dulu.
Senja mengatap Kota Bukittinggi yang sejuk. Aku belum mau mencari tempat duduk.
Masih ingin mengitari kota ini semampu kakiku.
Aku menyukai Jam Gadang karena lahir dan dibesarkan di kota sejuk ini. Seperti
orang-orang Milwaukee, Amerika Serikat, mencintai menara jam Allen-Bradley.
Seperti orang-orang Mumbai, India, mencintai menara jam Rajabai. Dan, seperti
orang-orang mengenal Big Ben, menara jam di Westminster, Inggris Raya, itu.
Menara jam, penunjuk waktu, detik yang berlalu, pendulum yang bergerak, adalah
pertanda penting. Walau sering dianggap tidak penting, aku selalu memikirkannya
akhir-akhir ini. Sebab, betapa cepat waktu berlalu selalu melipat kenangan,
sedangkan masa depan datang bagai pedang. Aku belajar menghargai waktu, namun
kadang juga aku tak mampu melawan waktu berlalu. Aku sering kalah dengan waktu.
***
Berjalan sendirian memang rawan. Tetapi aku perempuan yang tak peduli itu. Dari
dulu punya keyakinan sebagai perempuan pemberani. Setidaknya, itu menurutku.
Lebih-lebih ini kampung halaman sendiri. Apa salahnya. Dan aku memang sedang
ingin sendiri, tak mau ikut bersama sanak saudara yang juga sudah punya jadwal
tahun baru berbeda-beda.
Menyambut tahun baru kali ini ada sedikit kecewa. Jam Gadang diselimuti kain
berwarna hitam, kuning, dan merah. Seperti bendera Jerman. Tidak kelihatan
angka Romawi yang unik pada muka Jam Gadang itu. Angka Romawi ''IV'' sebagai
angka empat, di sini ditulis dengan ''IIII''. Soal ini aku pernah bertanya
kepada guru sekolah dasar dulu, tapi ia tak mau menjawabnya. Heran. Membiarkan
keunikan menjadi misteri yang tak perlu jawaban adalah sebuah kenikmatan dalam
bentuk lain.
***
Setiap tahun baru aku selalu kembali ke pangkuan kota ini. Pulang kampung.
Sekadar melepas penat setelah satu tahun bertugas. Aku selalu menjadwalkan
perjalanan. Sendirian. Menghilang dari peredaran. Suasana kantor, masalah
pekerjaan, diusahakan untuk melupakannya. Begitulah, jika punya keinginan untuk
kembali ke kota kelahiran. Seperti ada sesuatu yang menarik untuk mengajak
pulang. Biar tak ada lagi ayah dan ibu, aku tetap kembali. Sebab, masih banyak
saudara-saudara, kaum kerabat, yang masih tinggal di sini. Apalagi kerinduan
terhadap bocah-bocah, keponakanku, selalu menggoda, mengajak pulang.
''Tante Diana datang, tante Diana datang,'' begitu mereka bersorak. Demikianlah
mereka yang lugu menatapku penuh harapan.
***
Lima tahun lalu aku menikmati malam tahun baru berdua dengan seorang laki-laki.
Laki-laki yang pernah singgah di belahan hati. Dia berasal dari sebuah kota
yang tak punya menara jam. Tetapi, di tahun baru Islam, kotanya selalu meriah
dengan atraksi Tabuik. Sebuah tradisi dari kaum Syiah Iran yang mendukung
kepemimpinan Ali Bin Abi Thalib. Kaum yang mencintai Hasan dan Husen, putra Ali
Bin Abi Thalib. Selebih itu aku tak mengerti prosesi budaya Tabuik. Yang aku
tahu, satu kali ikut di dalam perayaan masal itu, membuat aku mengenal laut
dari dekat. Laut kadang menyimpan dendam. Dendam tak sudah.
Empat tahun lalu kami berpisah. Berpisah ketika cawan sudah berada di tepi
bibir. Saat semua serasa telah direguk pasti, tiba-tiba cawan lepas dan pecah
berantakan. Jalan kami bersimpang nasib. Jalan buntu dari perundingan adat dan
budaya yang dipahami kaum kerabat kedua belah pihak. Adat dan budaya yang
dipisah oleh gunung.
Seperti garis asimtot. Dua garis yang tak pernah ditakdirkan bertemu, apalagi
memotong garis sumbu. Begitulah kami akhirnya.
Keluarganya mengharapkan keluargaku yang melamar. ''Memang begitu. Dalam adat
keluargaku, perempuan yang melamar,'' penjelasan yang awalnya sangat aneh
terasa. Tapi itulah kenyataannya.
Sedangkan keluargaku bertahan pada prinsip, perempuanlah yang dilamar.
''Keluarga kita saling bertahan di garis kebenaran masing-masing. Kita
tampaknya tidak bisa meneruskan langkah selanjutnya," ungkapan jauh lebih
dahsyat dari lengking terompet malam ini. Memecah gendang takdir harap.
Seluruh istana impian yang dibangun, berantakan! Dan kami ternyata tidak berani
mengambil keputusan apa pun untuk menyelamatkan istana itu. Semua berlalu
dengan pahit. Di simpang jalan kami berpisah.
Kini, puing-puing itu masih berantakan. Terbiarkan begitu saja. Hingga malam
ini aku kembali ke sini, sendiri, tanpa harus seperti beberapa tahun silam. Aku
tak mengubur kenangan itu, membiarkannya menganga didera hujan, angin, dingin,
panas, dan seterusnya digerus waktu. Seperti Menhir yang berantakan di Luhak
Lima Puluh Kota sana.
***
Lima tahun lalu kami meniup terompet sepuas-puasnya, berdua saja di tengah
gemuruh lengking terompet malam tahun baru. Sepanjang malam menuntaskan seluruh
keindahan tahun baru. Sejak senja berarak pulang hingga pagi meniti tahun yang
masih berseri.
Malam ini, lengking itu terasa lain. Kecewa pada bangunan tua yang terbungkus
kain itu makin terasa menikam. Jika aku menjadi pendiri Jam Gadang layaknya
Yazid Sutan Gigi Ameh, aku akan marah besar. Apalagi menara jam yang didirikan
ini adalah hadiah dari Ratu Belanda kepada Sekretaris Kota (Controleur)
Bukittinggi Rook Maker pada masa Pemerintahan Hindia Belanda dulu. Bukankah Jam
Gadang sebuah bangunan paling megah setelah didirikan 1926? Sekarang, sudah
banyak bangunan lain yang menenggelamkannya. Dulu, sepanjang tahun, Jam Gadang
termegah dapat dilihat dari mana pun. Dan bukanlah dana yang sedikit,
3.000 Gulden, untuk membangun menara penunjuk waktu itu. Apalagi pada masa di
mana tanah ini dijajah. Lihatlah hasilnya, di atas bukit, dengan tinggi 26
meter, Jam Gadang tak sedikit pun memperlihatkan keangkuhan. Ia anggun dan
bermarwah.
***
Jam Gadang diselimuti dengan kain, karena ada yang tak merestui tahun baru
berlalu di sini. Sebuah sikap aneh di tengah arus wisata yang terus digalakkan.
Katanya, tak merestui kota ini jadi kota maksiat. Ah, maksiat, apa bisa dicegah
dengan menutup Jam Gadang? Buktinya, setiap tahun baru datang, pengunjung kota
tetap tiba dari berbagai kota untuk menikmati pergantian tahun. Maksiat pada
dasarnya keluar bukan karena tempat, tapi karena niat orang untuk melakukannya.
Dan itu bisa dilakukan di mana saja. Entahlah!
***
Aku tetap mencoba untuk melawan hawa dingin malam. Terompetku masih di tangan.
Belum ada kekuatan untuk meniupnya. Aku berencana untuk meniupkannya di sebuah
tempat, sebuah sudut, di mana aku pernah berdua dengan seorang lelaki. Dan aku
akan membayangkan lelaki itu ada di sampingku. Aku setidaknya mampu
membahagiakan diri sendiri dengan itu. Sebentar lagi, tempat yang aku tuju itu
akan sampai.
Menatap Jam Gadang yang berselimut itu, aku mengingat banyak sejarah menara jam
di jantung kota. Ingat Kerajaan Saudi Arabia yang akan mendirikan menara jam di
Masjidil Haram. Masjid yang dikunjungi setiap tahun oleh umat muslim untuk
menunaikan ibadah haji. Diam-diam aku mendoakan, semoga itu terkabul. Betapa
indahnya setiap tahun bisa ke sana, seperti layaknya ketika aku menetapkan
tahun baru selalu pulang ke Bukittinggi. Duh, begitu dahsyat terjadi, jika
setiap tahun bisa pergi ke Tanah Suci untuk merayakan tahun baru. Lebih-lebih
kalau benar-benar menunaikan ibadah haji.
''Menara jam di Masjidil Haram itu akan mengalahkan menara jam Allen-Bradley,
Amerika Serikat, menara termegah di dunia saat ini,'' begitu aku mendengar
sebuah berita.
Aku heran juga, ternyata antarkota selalu punya ambisi untuk saling meninggi,
saling mengalahkan. Ingat Twin Towers di Kuala Lumpur, beberapa tahun lalu
pernah aku naiki. Juga Monumen Nasional di Jakarta. Tapi, kenapa di sini justru
Jam Gadang diselimuti? Apakah dengan begitu bisa menahan laju hasrat manusia
untuk berbuat maksiat? Heran.
***
Lengking terompet makin tinggi. Aku sampai pada sisi yang paling aku suka
melihat Jam Gadang. Orang-orang menanti dentang pertama tahun baru. Arena
hiburan mulai menghitung detik demi detik. Aku berdiri terkesima menghadap Jam
Gadang. Membayangkan di sebelahku ada seseorang yang sedang melingkarkan
tangannya ke bahuku. Tangan yang kekar. Menjemput semua bayangan masa lalu.
Lalu menoleh ke samping. Dan aku terperangah, dengan jelas mataku menangkap
sepasang anak Adam yang sedang bermesraan. Laki-laki itu, sulit untuk
dipercaya. Ternyata...
***
Lengking terompet! Gemuruh musik! Meniadakan keheningan. Tak ada renungan.
Pesta tahun baru makin meriah. Orang-orang berpasangan. Bertepuk tangan. Duduk
berdua. Bergerombolan. Duduk bersama-sama. Melingkar. Duduk bebas. Tak
beraturan. Melompat-lompat. Berlari. Tawa mereka lepas. Malam benar-benar
mereka lumat sampai pagi.
Gemuruh di dada makin meyakini tentang dia. Dialah yang pernah menggandeng
tanganku! Seseorang yang mampu membuat aku merasakan sebagai perempuan.
Mujurlah mereka tak memperhatikan aku yang tolol menikmati kehangatan yang
mereka lakoni. Cepat-cepat aku berlari di antara kerumunan. Menerabas
keramaian. Sekencang-kencangnya. Tak peduli dengan orang-orang yang hampir
tertabrak. Mereka mengelak sekenanya. Begitu jauh tempat parkir itu terasa.
Habis napas sesak, terompet lepas dari tangan.
Betapa malu dan tak punya harga dirinya aku, jika mereka tahu aku sedang
menikmati dengan cemburu yang berkobar pada dingin malam. Mereka berpelukan
hangat menunggu dentang Jam Gadang yang berselimut kain.
Keseimbanganku hilang. Lariku mengambang. Terus mendekatkan ke tempat parkir
diiringi irama terompet tahun baru sahut-menyahut. Lama-lama suara terompet
mengecil dan lindap. Aku merasakan sedang melayang-layang. Aku tak menjejak
tanah lagi. Dan di depanku, aku melihat Jam Gadang, Rumah Gadang, di tengah
kegelapan. Samar-samar. Aku berhenti dan terkejut. Dentum kembang api tahun
baru membahana, mengalahkan terompet-terompet yang ditiupkan sejak senja
berangkat pulang.
Di udara, aku melihat kembang api indah, letupan dahsyat, gemuruh tepuk tangan,
lengking terompet. Begitu utuh semuanya menggenapkan gemuruh kebencian hatiku.
Memecah hatiku yang telah luluh lantak beberapa menit sebelumnya. Aku tak
sadar, pada lengking yang mana, tahun baru tiba. ***
Balaibaru, 19 Desember 2008-Oktober 2009
*) Abdullah Khusairi , lahir di pedalaman Sumatera. Magister Filsafat Islam
IAIN Imam Bonjol Padang. Tulisan dalam bentuk reportase, esai, puisi, cerpen,
tercecer di media nasional dan lokal. Menetap di Padang, sebagai tukang kata,
menunggu kabar dari penerbit.
Apakah wajar artis ikut Pemilu? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers.
http://id.answers.yahoo.com
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe