Karano adiekmbo IJP atau Riri indak saketek pun baciloteh tantang subject di
ateh, dan kabatulan alah saluruah toko buku nan tanamo di Jakarta ambo
singgahi, indak manjua buku nan mambuek mambirotoknya SBY, mako ambo cibolah
mangirimkan hasil fotokopi dari inilah.com ko.
Salam...........,
mm***
Agar SBY tak Dituding Mirip Soeharto
Ahluwalia
Presiden SBY
(inilah.com /Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta
- Presiden SBY tidak boleh mengerahkan aparat intelijen dan perangkat kekuasaan
lainnya untuk melarang atau menarik peredaran buku Membongkar Gurita Cikeas
karya George Junus Aditjondro. Jika itu dilakukan, praktik politik SBY bakal
dinilai publik sama saja
dengan Orde Baru Soeharto.
Dr Aris Arif Mundayat, antropolog
politik dan dosen pasca sarjana UGM menyatakan bahwa SBY merupakan presiden
'terpelajar' atau 'sekolahan’. "Nah, kalau sampai melarang atau menarik
buku itu dari peredaran, apa bedanya Pak SBY dengan Pak Harto? Lebih baik
Julian Pasha, Andi Arif dan lingkaran ring satu istana diminta menulis buku
sebagai counter, ketimbang mereka sekadar bersikap reaksioner,"
kata Direktur Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada itu,
Minggu (27/12).
Aris Mundayat mendengar kabar
bahwa istana gusar, namun itu tidaklah baik kalau diikuti dengan langkah
represif dengan melarang atau menarik buku itu dari peredaran. "Dalam
kasus Century dan buku George Aditjondro itu, Istana akhir-akhir ini kedodoran.
Apalagi jurubicara Julian Pasha terasa tidak pas dan tak tepat untuk
menjelaskan respon presiden, karena kurang menguasai political language.
Dia lebih tepat jadi akademisi, bukan jurubicara istana yang notabene kerja
politik dengan bahasa politisi," ujarnya.
Kini akibat rumor bahwa istana
gusar atas buku George Aditjondro itu, publik menilai SBY dan keluarganya
negatif serta kehilangan kepercayaan kepada integritas SBY. Bahkan, banyak
prediksi yang muncul dari masyarakat tentang sosok SBY yang sesungguhnya.
Kalangan PDIP pun menilai mengatakan bahwa SBP mirip Soeharto.
"Setelah saya baca
keseluruhan isi buku tersebut lantas saya berpikir bahwa SBY ini mirip seperti
Pak Harto. Manis, senyum, tapi ganas juga saat membangun tim sukses,"
sebut anggota
Fraksi PDIP Eva Kusuma Sundari di
Jakarta, Minggu (27/12).
Eva sungguh marah saat mengetahui
bahwa data dalam buku itu menyebutkan SBY memobilisasi dana kampanye melalui 7
BUMN dan semua komisarisnya menjadi tim sukses Parta Demokrat dalam Pemilu
lalu. BUMN pun dinilai Eva sangat rentan terhadap intervensi politik.
Sedangkan mantan Ketua PP
Muhammadiyah Buya Ahmad Syafii
Maarif menilai, terbitnya buku Membongkar Gurita Cikeas, Di Balik Skandal
Bank Century semestinya tidak dipermasalahkan. Pengungkapan fakta dalam
buku itu harus dihargai. "Pengungkapan itu harus dihargai. Tapi kita tidak
boleh memfitnah," kata Buya. Ia mengaku tidak tahu terkait sejumlah fakta
yang disebutkan George seperti keterlibatan Presiden SBY dan keluarganya dalam
kasus Bank Century.
Sebelumnya, Mei 2006, George juga pernah mengeluarkan buku mengenai korupsi
di lembaga kepresidenan berjudul Korupsi Kepresidenan Reproduksi Oligarki
Berkaki Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa.
Presiden SBY mengaku prihatin dengan terbitnya buku yang isinya menyudutkan
keluarganya itu. Juru bicara
Presiden SBY Julian Aldrin Pasha mengatakan ada fakta yang tidak akurat. Saat
ini, pihak SBY sedang mempelajari isi buku tersebut. Belum ada rencana gugatan
maupun melarang penjualan buku, namun pertokoan buku Gramedia sudah menarik
buku itu dari peredaran. Mungkin ewuh-pakewuh atau merasa tidak nyaman.
Dalam kaitan ini, George
Aditjondro mengingatkan dan mengkritisi sejumlah yayasan di sekitar SBY. Ada
dugaan aliran dana yang tidak jelas mengalir ke yayasan itu sehingga perlu
dilakukan audit independen.
"Maksud saya soal yayasan
itu adalah semua yayasan yang berafiliasi ke SBY dan Ani Yudhoyono harus
diaudit independen, karena ada kemungkinan dana BUMN mengalir ke situ,"
kata George Aditjondro, seorang akademisi dan peneliti senior.
Panitia bedah buku Membongkar
Gurita Cikeas di Jakarta, 30 Desember ini, yang juga menjadi distributor
buku itu untuk Jakarta menyatakan tidak secara khusus mengundang pihak Cikeas.
Tapi bila pihak SBY/Cikeas ingin datang untuk memberikan klarifikasi, dengan
senang hati panitia mempersilakan hadir. [mor]
Gurita Cikeas Ditarik: Otoriter!
Dwifantya Aquina
INILAH.COM, Jakarta
- Belum lama buku 'Membongkar Gurita Cikeas diedarkan ke publik, sudah ditarik
dari peredaran. Langkah tersebut dinilai tak ubahnya berada dalam negara
otoriter.
"Wah itu tindakan yang tidak benar. Itu sebuah tindakan yang otoriter. Berarti
kita balik lagi ke zaman orde
baru," ujar mantan Menko Perekonomian era KH Abdurrahman Wahid alias Gus
Dur, Rizal Ramli usai diskusi 'Refleksi dan Evaluasi Rapot Pemerintahan
SBY-Boediono, kepada INILAH.COM di Jakarta, Minggu (27/12).
Mantan capres independen ini
mengatakan, dengan ditariknya buku karangan George Junus Aditjondro tersebut,
sebenarnya merupakan promosi gratis. Bahkan Rizal menduga, aksi penarikan buku
tersebut merupakan sesuatu yang diskenariokan. "Jangan-jangan di borong
semua oleh orang-orang tertentu," katanya.
Kendati demikian, ia mengaku,
hingga saat ini dirinya belum mendapat buku berjumlah 183 halaman tersebut.
"Saya tidak punya banyak komentar mengenai buku tersebut. Karena saya
belum memiliki buku tersebut, belum baca," tandas Rizal.
Buku terbitan Galangpers itu,
baru beberapa hari didistribusikan ke publik. Namun diduga karena isinya
menyangkut keterlibatan Presiden SBY dan keluarganya dengan kasus Bank Century,
pihak distributor, yakni PT Gramedia menarik buku tersebut dari peredaran. [jib]
'Membongkar Gurita Cikeas' Ditarik
Lawan Arus Publik, Presiden Bunuh Diri
Dwifantya Aquina
Presiden SBY
(inilah.com /Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta - Keterkaitan Presiden SBY dengan kasus Bank Century
terkuak dalam buku 'Membongkar Gurita Cikeas'. Jika buku itu ditarik, berarti
SBY bunuh diri dengan melawan arus.
"Sesuatu yang harus diketahui presiden adalah melawan arus publik sama
dengan bunuh diri. Presiden tidak
boleh mengulang era Soeharto, yang melawan arus publik. Buku itu sah dan harus
diakui karya ilmiahnya. Justru publik akan semakin mencurigai dan makin jelas
ada sesuatu, di balik buku ini. Ini sudah kontraproduktif," tutur Boni
Hargens.
Hal tersebut disampaikan dia usai
diskusi 'Refleksi dan Evaluasi Rapot Pemerintahan SBY-Boediono, di Jakarta,
Minggu (27/12). Menurut dia, tindakan penarikan buku tersebut berlebihan.
"Saat ini kapitalis banyak
menjalin kerja sama dengan birokrat agar birokrat mengeluarkan kebijakan dan
mengalirkan uang," tutur Boni.
Dijelaskan dia, mungkin bagi
sebagian orang buku tersebut dapat dikatakan sebagai bukti hukum, tapi
sebenarnya bukan. Buku karangan George Junus Aditjondro itu adalah kajian
ilmiah yang dapat membuka jalan bagi KPK dan Pansus Angket untuk mengungkap
kasus century.
"Di sini dapat terlihat
siapa saja, siapa yang menerima uang lalu motifnya apa. Menurut saya kajian ini
tinggi reputasi ilmiahnya. Saya tidak meragukan integritas Aditjondro yang
tinggi. Ini teori yang logis, terkait korupsi. Memang benar saat ini
yayasan-yayasan,
LSM dan NGO dijadikan sebagai tangan-tangan penyambung politik," tandas
Boni. [jib]
SBY Mirip Soeharto
Dwifantya Aquina
Presiden SBY
(inilah.com /Dokumen)
INILAH.COM, Jakarta
- Pasca beredarnya buku 'Membongkar Gurita Cikeas', banyak prediksi yang muncul
dari masyarakat tentang sosok SBY yang sesungguhnya. PDIP pun menilai
mengatakan bahwa SBY mirip Soeharto.
"Setelah saya baca keseluruhan isi buku tersebut lantas saya berpikir
bahwa SBY ini mirip seperti Pak Harto. Manis, senyum, tapi ganas juga saat
membangun tim sukses," sebut anggota Fraksi PDIP Eva Kusuma Sundari saat
dihubungi INILAH.COM di Jakarta, Minggu (27/12).
Eva sungguh marah saat mengetahui bahwa data dalam buku tersebut menyebutkan
SBY memobilisasi dana kampanye melalui 7 BUMN dan semua komisarisnya menjadi
tim sukses Parta Demokrat dalam Pemilu lalu. BUMN pun dinilai Eva sangat rentan
terhadap intervensi politik.
"Di sana
ditulis Budi Sampoerna sampai jadi penyandang dana utama, bayangkan saja. Ini
bukan lagi jadi masalah SBY, namun jadi persoalan kebangsaan. Harus kita sadari
bahwa sistem kita ini rentan terhadap intervensi politik," tutur anggota
Komisi III DPR ini.
Eva pun menuturkan bahwa ini adalah pelajaran bersama dan dia mengharapkan
Indonesia bisa
menerapkan Undang Undang tentang pegawai negara seperti di Jerman. "Semakin
lama birokrasi negara kita
ini aneh sekali, semua berdasarkan kekuatan kekuasaan," pungkas Eva. [jib]
Gurita Cikeas Heboh Karena Ketakutan Gramedia?
Irvan Ali Fauzi
INILAH.COM, Jakarta
- Tak ada nada khawatir dari Julius Felicianus. Direktur penerbitan Galang Pers
itu meyakini bahwa buku yang baru saja diterbitkan perusahaannya: Membongkar
Gurita Cikeas, tak ada masalah.
Julius, yang dihubungi INILAH.COM, Minggu pagi (27/12) mengaku baru
tahu bahwa bukunya ditarik dari peredaran oleh toko buku Gramedia di
Jabodetabek. Ini terkait dengan isu bahwa ada pihak-pihak yang khawatir dengan
peredaran buku itu.
“Galang tidak pernah tahu kalau buku ini ditarik dari peredaran. Kami pun
baru tahu dari media,” kata Julius Felicianus, yang saat dihubungi INILAH.COM
masih ada di Yogyakarta .
Memang, sejak Sabtu (26/12), buku berjudul Membongkar Gurita Cikeas: Di
Balik Skandal Bank Century tiba-tiba menjadi berita heboh. Ini terjadi
karena banyak orang yang tiba-tiba kesulitan mencari buku itu.
Buku yang kabarnya diedarkan lewat jaringan toko buku Gramedia itu,
tiba-tiba menghilang. Dari situlah muncul isu bahwa pihak toko buku ditekan
agar buku itu ditarik dari pasaran.
Julius sendiri menduga hal yang sama. Bahwa, buku Membongkar Gurita
Cikeas karya George Junus Aditjondro tidak beredar lebih karena disebabkan
oleh pihak toko buku sebagai pihak distributor yang ketakutan menjual buku ini.
''Saya menduga begitu, tokoh buku ini (Gramedia) mencari aman,'' kata
Julius.
Apalagi, Julius membaca di berita bahwa pihak juru bicara presiden sudah
membantah telah melakukan penarikan terhadap peredaran buku ini.
''Kan, juru bicara presiden sudah
membantah (menarik buku ini). Jadi, bukan dari pemerintah,'' katanya.
Memang, untuk distribusi buku
yang dilaunching di Yogyakarta, Rabu (23/12), penerbit Galang Press bekerja
sama dengan jaringan distribusi Toko Buku Gramedia. Karena itu, dari total 4000
eksemplar edisi cetakan pertama, sebanyak 70 persen didistribusikan melalui
jaringan Toko Buku Gramedia.
“Biasanya untuk buku baru kami
mencetak 5500 eksemplar. Namun karena khawatir ada penolakan dari pihak toko
buku, kami mencetak 4000 eksemplar dulu,” tuturnya.
Ini alternatif yang memang sudah
disiapkan Galang Pers jika Toko Buku Gramedia menarik buku itu dari peredaran.
''Galang Press akan mencari alternatif jalur distribusi yang lain. Karena, kami
tidak ingin menghambat saluran infromasi masyarakat,'' kata Julius.
Meski bukunya hilang dari
peredaran, Galang Pers merasa tidak dirugikan. “Sebetulnya bukan saya yang
dirugikan, malah
pemerintah. Seakan-akan apa yang
tertulis itu benar. Akibat penarikan itu bisa jadi bukunya malah tambah dicari
orang,” kata Julius yang mengaku bahwa saat ini sudah beredar buku bajakan
Membongkar
Gurita Cikeas.
Ketika ditanya apakah pihak penerbit sudah yakin bahwa data yang diungkap di
buku itu valid, Julius menjawab:''Yakin. Apalagi, buku itu sudah ada yang
memberi endorsement. Dan mereka adalah tokoh-tokoh terkenal, seperti Syafii
Ma'arif, Teten Masduki, Danang Widoyoko dari ICW dan Joseph Adi Prasetyo.''
Julius mengungkapkan, inisiatif penerbitan buku ini berasal dari George
Aditjondro. Waktu itu, Galang Pers sudah memberikan ketentuan terhadap George.
Bahwa, buku itu tidak boleh berisi hujatan, fitnah apalagi mengambil data yang
tidak jelas.
''Jadi, kami yakin dong. Isi bukunya juga 70 persen sudah ditulis di media
lain. Buku ini juga sudah diberi komentar baik oleh oara tokoh,'' katanya lagi.
Lagi pula, Galang Pers menerbitkan buku itu dengan niatan untuk memberi
catatan 100 hari Pemerintahan SBY. ''Buku ini diterbitkan agar SBY mengevaluasi
keluarganya, partainya, dan orang-orang terdekatnya. Sehingga pemerintahan dia
lima tahun ke depan
bersih tidak ternodai oleh korupsi,'' kata Julius.
Tentang reaksi dari pendukung SBY yang tidak terima dengan data di buku itu,
Julius menyarankan agar mereka membuat buku tandingan.
''Intelektual harus dibalas
dengan intelektual. Kalau setiap buku disensor, hak rakyat akan terbatas,''
katanya.
Untuk itu, Selasa nanti (29/12),
Julius berencara ke Jakarta. Dia akan meminta jaminan dari Komnas HAM untuk
tetap bisa mengedarkan buku ini.[ims]
Mega Baca Gurita Cikeas
Dwifantya Aquina
Megawati Soekarnoputri
(inilah.com /Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta
- Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri dipastikan telah menerima buku
Gurita Cikeas. Namun mantan Presiden Republik Indonesia tersebut enggan
memberikan komentar.
"Ya, saya sudah berikan buku tersebut ke Ibu Mega dan sudah dibaca.
Saya berikan lewat Pak Pramono Anung. Tapi hingga kini tidak ada komentar
apa-apa," tutur anggota Fraksi PDIP Eva Kusuma Sundari saat dihubungi INILAH.COM
di Jakarta, Minggu (27/12).
Eva pun mengatakan bahwa komentar dari rekan-rekan di PDIP serupa setelah
membaca buku tersebut. Yakni pantas saja PDIP kalah dalam pemilihan umum silam,
ternyata rakyatnya dibeli oleh kaum kapitalis.
"Ibu (Mega) tidak akan
ngomong saya rasa tentang itu. Tapi yang pasti yang shock dan marah
bukan hanya PDIP saja, partai koalisi pun saya yakin merasa dibohongi. Ini kan
tidak fair," ujar Eva.
Selain itu, Eva pun mengaku dirinya
cukup prihatin saat membaca bahwa dalam kampanye SBY pada Pemilu lalu diduga
telah menunggangi tujuh BUMN. Informasi-informasi ini pun kemudian menurut Eva
bisa menjadi rujukan diskusi oleh para anggota Pansus.
"Kita (Pansus) saling SMS-an
saja terkait isi buku ini. Apalagi setelah akhirnya kemarin buku ini ditarik,
ini akan menjadi semakin menarik. Karena masyarakat akan berpikir bahwa ini
memang benar terjadi,"
pungkas Eva. [jib]
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe