Indak dapek mambali & mambaco buku Si Jork (George) nan
bakeh wartawan TEMPO tahun 80-an tu, kutipan dari inilah.com pun
jadilah paubek dan panambah ilimu dunsanak di palanta RN ko,.
He he hee............

  

Salam............,

  mm***



mm***


.




Inilah Isi Buku Membongkar Gurita
Cikeas (1)

INILAH.COM, Jakarta 
- Buku ini ditulis oleh George Junus Aditjondro. Judul lengkapnya: Membongkar 
Gurita Cikeas,
di Balik Kasus Bank Century. Dilaunching hari Rabu (23/12) di Yogya. Hari
Sabtu (26/12), buku yang diedarkan melalui jaringan Toko Buku Gramedia ini
ditarik dari peredaran. Inilah cuplikan halaman pertama buku ini. 

“Apakah penyertaan modal
sementara yang berjumlah Rp 6,7 triliun itu ada yang bocor atau tidak sesuai
dengan peruntukannya? Bahkan berkembang pula desas-desus,rumor, atau tegasnya
fitnah, yang mengatakan bahwa sebagian dana itu dirancang untuk dialirkan ke
dana kampanye Partai Demokrat dan Capres SBY; fitnah yang sungguh kejam dan
sangat menyakitkan….  

Sejauh mana para
pengelola Bank Century yang melakukan tindakan pidana diproses secara hukum,
termasuk bagaimana akhirnya dana penyertaan modal sementara itu dapat kembali
ke negara?” 

Begitulah sekelumit pertanyaan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY)
dalam pidatonya hari Senin malam, 23 November 2009, menanggapi rekomendasi Tim
8 yang telah dibentuk oleh Presiden sendiri, untuk mengatasi krisis kepercayaan
yang meledak di tanah air, setelah dua orang pimpinan Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) – Bibit S Ryanto dan Chandra M Hamzah – ditetapkan sebagai
tersangka kasus pencekalan dan penyalahgunaan wewenang, hari Selasa, 15
September, dan ditahan oleh Mabes Polri, hari Kamis, 29 Oktober 2009.

Barangkali, tanpa disadari oleh SBY sendiri, pernyataannya yang begitu
defensif dalam menangkal adanya kaitan antara konflik KPK versus Polri dengan
skandal Bank Century, bagaikan membuka kotak Pandora yang sebelumnya agak
tertutup oleh drama yang dalam bahasa awam menjadi populer dengan julukan drama
cicak melawan buaya. 

Memang, drama itu, yang begitu menyedot perhatian publik kepada tokoh
Anggodo Widjojo, yang dijuluki “calon Kapolri” atau “Kapolri baru”, cukup
sukses mengalihkan perhatian publik dari skandal Bank Century, bank gagal yang
mendapat suntikan dana sebesar Rp 6,7 trilyun dari Lembaga Penjamin Simpanan
(LPS), jauh melebihi Rp 1,3 trilyun yang disetujui DPR‐RI.

Selain merupakan tabir asap alias pengalih isu, penahanan Bibit dan Chandra
oleh Mabes Polri dapat ditafsirkan sebagai usaha mencegah KPK membongkar
skandal Bank Century itu, bekerjasama dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Soalnya, investigasi kasus Bank Century itu sudah didorong KPK (Batam
Pos, 31 Agust 2009). Sedangkan BPK juga sedang meneliti pengikutsertaan
dana publik di bank itu, atas permintaan DPR‐RI pra‐Pemilu
2009.[bersambung/ims]

   

Inilah Isi Buku Membongkar Gurita Cikeas (2) 

INILAH.COM, Jakarta - Inilah cuplikan halaman 2 dan 3 dari buku Membongkar
Gurita Cikeas: di Balik Kasus Bank Century, yang ditulis oleh George Junus
Aditjondro, diterbitkan oleh Galang Pers, dilaunching Hari Rabu (23/12) di
Yogya dan ditarik dari peredaran hari Sabtu (26/12).

Dari berbagai pemberitaan di media massa dan internet, nama dua orang
nasabah terbesar Bank Century telah muncul ke permukaan, yakni Hartati Mudaya,
pemimpin kelompok CCM (Central Cipta Mudaya) dan Boedi Sampoerna, salah seorang
penerus keluarga Sampoerna, yang menyimpan trilyunan rupiah di bank itu sejak
1998. 

Sebelum Bank Century diambilalih oleh LPS, Boedi Sampoerna, seorang cucu
pendiri pabrik rokok PT HM Sampoerna, Liem Seng Thee, masih memiliki simpanan
sebesar Rp Rp 1.895 milyar di bulan November 2008, sedangkan simpanan Hartati
Murdaya sekitar Rp 321 milyar. 

Keduanya sama‐sama penyumbang logistik SBY dalam Pemilu lalu. Beberapa
depositan kelas kakap lainnya adalah PTPN Jambi, Jamsostek, dan PT Sinar Mas.
Boedi Sampoerna sendiri, masih sempat menyelamatkan sebagian depositonya
senilai US$ 18 juta, berkat bantuan surat‐surat rekomendasi Kepala Badan
Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri waktu itu, Komjen (Pol) Susno
Duadji, tanggal 7 dan 17 April 2009 (Rusly 2009: Haque, 2009; Inilah.com, 25
Febr 2009; Antara News, 10 Ag. 2009; Vivanews.com, 14 Sept. 2009; Forum
Keadilan, 29 Nov. 2009: 14).

BANTUAN GRUP SAMPOERNA UNTUK
HARIAN JURNAS 

Apa relevansi informasi ini
dengan keluarga Cikeas?  

Boedi Sampoerna ditengarai
menjadi “salah seorang penyokong SBY, termasuk dengan menerbitkan sebuah koran”
(Rusly 2009: 48).  

Ada juga yang mengatakan”
Sampoerna sejak beberapa tahun lalu mendanai penerbitan salah satu koran
nasional (Jurnas/Jurnal Nasional) yang menjadi corong politik Partai SBY”
(Haque 2009). 

Dugaan itu tidak 100% salah, tapi kurang akurat. Untuk itu, kita harus
mengenal figur‐figur keluarga Sampoerna yang memutar roda ekonomi keluarga itu,
setelah penjualan 97% saham PT HM Sampoerna kepada maskapai transnasional AS,
Altria Group, pemilik pabrik rokok AS, Philip Morris, di tahun 2005, seharga
sekitar US$ 2 milyar atau Rp 18,5 trilyun. 

Liem Seng Tee, yang mendirikan pabrik rokok itu di tahun 1963 bersama
istrinya, Tjiang Nio, mewariskan perusahaan itu kepada anaknya, Aga Sampoerna
(Liem Swie Ling), yang lahir di Surabaya tahun 1915. Aga Sampoerna kemudian
menyerahkan perusahaan itu kepada dua orang anaknya, Boedi Sampoerna, yang
lahir di Surabaya, tahun 1937, serta adiknya, Putera Sampoerna, yang lahir di
Amsterdam, 13 Oktober 1947 (PDBI 1997: A‐789 – A‐796; Warta Ekonomi, 18‐31
Mei 2009: 43, 49).

Sesudah menjual pabrik rokoknya kepada Philip Morris, Putera menyerahkan
pengelolaan perusahaan pada anak bungsunya, Michael Joseph Sampoerna, yang
telah mengembangkan holding company keluarga yang baru, Sampoerna Strategic, ke
berbagai bidang dan negara. 

Misalnya, membeli 20% saham perusahaan asuransi Israel, Harel Investment Ltd
dan saham dalam kasino di London, dan berencana membuka sejuta hektar kelapa
sawit di Sulawesi, berkongsi dengan kelompok Bosowa milik Aksa Mahmud, ipar
Jusuf Kalla (Investor, 21 Ag.‐3 Sept. 2002: 19; Prospektif, 1 April 2005:
48; Globe Asia, Ag. 2008: 52‐53, Ag. 2009: 100‐101).[bersambung/iaf/ims]


Inilah Isi Buku Membongkar Gurita Cikeas (3) 

INILAH.COM, Jakarta - Inilah cuplikan halaman 3 dari buku Membongkar
Gurita Cikeas: di Balik Kasus Bank Century, yang ditulis oleh George Junus
Aditjondro, diterbitkan oleh Galang Pers, dilaunching Hari Rabu (23/12) di
Yogya dan ditarik dari peredaran hari Sabtu (26/12).

Namun ada seorang kerabat Boedi dan Putera Sampoerna, yang tidak pernah
memakai nama keluarga mereka. Namanya Sunaryo, seorang kolektor lukisan yang
kaya raya, yang mengurusi pabrik kertas Esa Kertas milik keluarga Sampoerna di
Singapura yang hampir bangkrut, dan sedang bermasalah dengan Bank Danamon. 

Menurut sumber‐sumber penulis, sejak pertama terbit tahun 2006, Sunaryo
mengalirkan dana Grup Sampoerna ke PT Media Nusa Perdana, penerbit harian Jurnal
Nasional di Jakarta.

Perusahaan itu kini telah berkembang menjadi kelompok media cetak yang cukup
besar, dengan harian Jurnal Bogor, majalah bulanan Arti, dan
majalah dwimingguan Explo. Boleh jadi, dwimingguan ini merupakan sumber
penghasilan utama perusahaan penerbitan ini, karena penuh iklan dari
maskapai-maskapai migas dan alat‐alat berat penunjang eksplorasi migas dan
mineral.

Secara tidak langsung, dwi‐mingguan Explo dapat dijadikan indikator,
sikap Partai Demokrat – dan barangkali juga, Ketua Dewan Pembinanya – terhadap
kebijakan‐kebijakan negara di bidang ESDM.

Misalnya dalam pendirian pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), yang
tampaknya sangat dianjurkan oleh Redaksi Explo (lihat tulisan Noor
Cholis,“PLTN Muria dan Hantu Chernobyl”, dalam Explo, 16‐31 Oktober 2008, hal.
106, serta berita tentang PLTN Iran yang siap beroperasi, September lalu dalam 
Explo,
1‐15 April 2009, hal. 79).

Pemimpin Umum harian Jurnas berturut‐turut dipegang oleh Asto Subroto
(2006‐2007), Sonny (hanya beberapa bulan), dan N Syamsuddin Ch. Haesy (2007
sampai sekarang). Kedua pemimpin umum pertama bergelar Doktor dari IPB, dan 
termasuk
pendiri Brighton Institute bersama SBY.

Selama tiga tahun pertama, ada dua orang fungsionaris PT Media Nusa Perdana
yang diangkat oleh kelompok Sampoerna, yakni Ting Ananta Setiawan, sebagai
Pemimpin Perusahaan, dan Rainerius Taufik sebagai Senior Finance Manager atau
Manajer Utama Bisnis. 

Dalam Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) Besar PT Media Nusa Perdana, yang
dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi DKI Jakartam 5
Maret 2007, namanya tercantum sebagai Direktur merangkap pemilik dan
penanggungjawab.

Sementara itu, kesan bahwa perusahaan media ini terkait erat dengan Partai
Demokrat tidak dapat dihindarkan, dengan duduknya

Ramadhan Pohan, Ketua Bidang Pusat Informasi BAPPILU Partai Demokrat sebagai
Pemimpin Redaksi harian Jurnal Nasional dan majalah Arti, serta
Wakil Ketua Dewan Redaksi di majalah Explo.

Sebelum menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Jurnas, Ramadhan Pohon merangkap
sebagai Direktur Opini Publik & Studi Partai Politik Blora Center, think
tank Partai Demokrat yang mengantar SBY ke kursi presidennya yang pertama. 

Barangkali ini sebabnya, kalangan pengamat politik di Jakarta 
mencurigai bahwa dana kelompok Sampoerna juga mengalir ke Blora Center .


Soalnya, sebelum Jurnas terbit, Blora 
 Center menerbitkan
tabloid dwi‐mingguan Kabinet, yang menyoroti kinerja anggota‐anggota Kabinet
Indonesia Bersatu. Sementara itu, Ramadhan Pohan baru saja terpilih menjadi
anggota DPR‐RI dari Fraksi Demokrat,mewakili Dapil VII Jawa Timur 
(Jurnalnet.com,
25 Febr. 2005; Fajar, 21 Juni 2005; ramadhanpohan.com, 14 Okt. 
2009).[bersambung/iaf/ims


Inilah Isi Buku Membongkar Gurita Cikeas (4) 

INILAH.COM, Jakarta - Inilah lanjutan cuplikan isi buku Membongkar
Gurita Cikeas: di Balik Kasus Bank Century, yang ditulis oleh George Junus
Aditjondro, diterbitkan oleh Galang Pers, dilaunching Hari Rabu (23/12) di
Yogya dan ditarik dari peredaran hari Sabtu (26/12). Kutipan ini diambil dari
halaman 5 dan 6:

Kembali ke kelompok Jurnas dan hubungannya dengan Grup Sampoerna, di
tahun 2008, Ting Ananta Setiawan mengundurkan diri darijabatan Pemimpin
Perusahaan, yang kini dirangkap oleh Pemimpin Umum, N. Syamsuddin Haesy. 

Namun nama Ananta Setiawan tetap tercantum sebagai Pemimpin Perusahaan,
sebagai konsekuensi dari SIUP PT Media Nusa Perdana. 

Mundurnya Ananta Setiawan secara de facto terjadi seiring dengan mengecilnya
saham Sampoerna dalam perusahaan media itu, dan meningkatnya peranan Gatot
Murdiantoro Suwondo sebagai pengawas keuangan perusahaan itu. Isteri Dirut BNI
ini, dikabarkan masih kerabat Ny. Ani Yudhoyono (McBeth 2007).

Berapa besar dana yang telah disuntikkan Grup Sampoerna ke kelompok Jurnas? 

Menurut SIUP PT Media Nusa Perdana yang diterbitkan Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi DKI Jakarta, 5 Maret 2007, nilai modal dan kekayaan bersih
perusahaan itu sebesar Rp 3 milyar. 

Namun jumlah itu, hanya cukup untuk sebulan menerbitkan harian Jurnal
Nasional, yang biaya cetak, gaji, dan biaya‐biaya lainnya kurang lebih Rp 2
milyar sebulan. Berarti biaya penerbitan tahun pertama (2006), sekitar Rp 24
milyar. Tahun kedua (2007), turun menjadi sekitar Rp 20 milyar, setelah koran
dan majalah‐majalah terbitan PT Media Nusa Perdana mulai menarik langganan dan
iklan. 

Tahun ketiga (2008), sekitar Rp 18 milyar, dan tahun keempat (2009) sekitar
Rp 15 milyar. Berarti kelompok media cetak ini telah menyedot modal sekitar Rp
90 milyar, mengingat Jurnal Bogor menyewa kantor sendiri di Bogor , dan punya 
rencana untuk berdiri
sendiri, dengan perusahaan penerbitan sendiri. 

Selain biaya cetak yang tinggi untuk seluruh Grup Jurnas, pos gaji
wartawan kelompok media ini tergolong cukup tinggi. Gaji pertama wartawan Jurnas
tahun 2006 mencapai Rp 2,5 juta sebulan, tiga kali lipat gaji wartawan baru Jawa
Pos Group.

Kecurigaan masyarakat bahwa keluarga Sampoerna tidak hanya menanam modal di
kelompok media Jurnal Nasional, tapi juga di simpul-simpul kampanye
Partai Demokrat yang lain, yang juga disalurkan lewat Bank Century, bukan tidak
berdasar. Soalnya, Laporan Keuangan PT Bank Century Tbk Untuk Tahun Yang
Berakhir Pada Tanggal‐Tanggal 30 Juni 2009 dan 2008 menunjukkan bahwa ada
penarikan simpanan fihak ketiga sebesar Rp 5,7 trilyun.

Selain itu, Ringkasan Eksekutif Laporan Hasil Investigasi BPK atas Kasus PT
Bank Century Tbk tertanggal 20 November 2009 menunjukkan bahwa Bank Century
telah mengalami kerugian karena mengganti deposito milik Boedi Sampoerna yang
dipinjamkan atau digelapkan oleh Robert Tantular dan Dewi Tantular sebesar US$
18 juta – atau sekitar Rp 150 milyar ‐‐ dengan dana yang berasal dari
Penempatan Modal Sementara LPS.[bersambung/iaf/ims]

.


 
 





      


      


      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke