Mamak-makam Ambo

Tanpa bermaksud membela diri, tanpa bermaksud menghujat Orang Tua nan alah 
manggadangkan ambo, dan mungkin Ibu/Mandeh di seluruh Minangkabau kini, tapi 
memang sejak di dunia pendidikan di SMA kami dididik untuk jadi tidak kreatif.
Kreatif sama artinya dengan membangkang. dan setiap pembangkangan adalah dosa.
Ibu-ibu di seantero Ranah Minang berlomba-lomba menyekolahkan anaknya untuk 
jadi Ininyur, Dokter, Sarjana dan segala embel2 konstruksi pendidikan modern 
lainnyam, demi untuk menjadi sekrup kapitalis atau penyangga menara birokrasi. 
Saya yakin, pada zaman saya (saya kelahiran 81) lepas SMA dan mau masuk PT, 
tidak ada lagi orang tua yang ingin anaknya menjadi seseorangyang berguna bagi 
orang banyak dalam arti luas. Bayangan orang tua dan ktia sendiri waktu itu 
adalah, tamat Kuliah, Dapat Ijazah, Cari kerja jadi karyawan MNC/BUMN, atau 
jadi PNS.
Sebenarnya banyak teman-teman saya yang pada perjalanan kuliahnya, baik di 
Bandung maupun di Ranah , yang akhinrya fokus pada pekerjaan dengan 
berwiraswasta, dan alhamdulillah Sukses,. Namun kekuksesan tersebut tidak 
diikui oleh dukungan keluarga.
Profesi 'Manggaleh", Petani atau profesi non formal lainya tetap dianggap 
sebagai profesi Phery-phery dalam struktur masyarakat Minang kini, di kota 
apalagi di kampung2.
Oleh karena itu, kesalahan yang kami alami, ketika kami akhirnya memang 
menjelma menjadi 'sekrup-sekrup kapitalis' dan 'penyangga menara gading 
birokrasi", kesalahan tersebut jangan hendaknya terulang pada generasi di bawah 
kami.
Andai boleh berandai, andai orang Minang masih seperti dulu, ulet dan gigih 
berusaha dan berwirasuasha, dengan bertanam palawija saya sudah ratusan ribu 
tenaga muda akan berhasil. Bayangkan, ktia menjadi produsen utama sayur2 mayur 
di daerah Sumatera Tengah dan Selatan. 
Andaikan mamak-mamak ambo namuah bergandeng tangan, dari pada ber "huru-huru" 
jadi Gurbernur atau dengan walikota dengan modal hasil karya kabar kabur, lebih 
baik membuka sebuah institusi yang akan mendidik generasi muda baru Minang dan 
menghasilkan wiraswasta/enterpreneur ulung, handal dan kreatif. Bukan pengekor, 
atau memenuhi kantor2 pos tatkala pengumuman CPNS datang.
Cukup lah kami-kami generasi kelahiran 80-an yang merasakan hal itu.

salam


Bot Sosani Piliang
Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream
www.botsosani.wordpress.com
Hp. 08123885300

--- On Thu, 1/7/10, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> wrote:

From: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
Subject: RE: [...@ntau-net] 173.080 Angkatan Kerja di Sumbar Menganggur ---> 
INI  MASALAH KARAKTER !
To: [email protected]
Cc: "Keluarga Besar Saafroedin Bahar" <[email protected]>, "Prof Dr 
Ruswiati SURYA SAPUTRA MS" <[email protected]>
Date: Thursday, January 7, 2010, 2:35 AM

Sanak Kurnia, pak Darul, dan para sanak sekalian,
Sungguh, saya senang sekali membaca posting Anda berdua tentang masalah 
pengangguran di Ranah, bahwa akar masalahnya bukanlah pada kurangnya lapangan 
kerja itu sendiri, tetapi pada karakter manusinya. Seorang penulis Amerika 
tentang kepemimpinan para jenderal meringkas masalah ini dengan frasa padat 
bahwa: character is everything.
Dengan kata lain, bukan tingginya pendidikan, bukan banyaknya koneksi, bukan 
banyaknya peluang yang akan menentukan seseorang itu mempunyai pekerjaan atau 
tidak, tetapi pada baik tidaknya karakter yang bersangkutan. Dalam hubungan ini 
saya baru saja membaca buku-buku Dahlan Iskan, Dirut PT PLN yang baru, dan saya 
sungguh terkesima. Dari anak sebuah keluarga miskin di Jawa Timur, yang baru 
mengenal sepatu pada saat menjadi
 murid kelas dua SMA, beliau mampu mengatasi kemiskinan tersebut, dan tumbuh 
menjadi seorang CEO dari k.l. 100 buah perusahaan, pandai bahasa Arab, 
Inggeris, dan ... Mandarin ! Beliau tekun, rendah hati, jujur, mau belajar, 
sangat islami [walau jarang sekali mengutip ayat Quran atau hadits Nabi], 
teliti, dan herannya tidak mata duitan [sampai sekarangpun beliau memimpin 
sebuah perusahaan daerah dengan syarat: tak mau digaji !]Sudah barang tentu 
saya bertanya dalam hati, kok di Sumatera Barat yang -- dahulu - terkenal 
dengan jiwa wiraswastanya itu demikian banyak pengangguran ? {Termasuk beberapa 
orang adik kandung saya sendiri dan putera-puteranya !]. Kesimpulan saya secara 
pribadi sama dengan kesimpulan Sanak Kurnia, bahwa mereka banyak yang malas,mau 
enaknya saja, tinggal minta bantuan kepada sanak saudaranya di 
Rantau.Masalahnya lebih lanjut: siapakah yang membentuk karakter seseorang ?
 Banyak bacaan mengatakan bahwa tokoh paling penting dalam pembentukan watak 
seseorang adalah ibu, khususnya pada saat kita berusia 0-5 tahun. Dengan kata 
lain, lingkungan yang paling menentukan dalam pembentukan karakter seseorang 
adalah keluarga, yang menurut undang-undang terdiri dari ibu, ayah, dan 
anak-anaknya. Sewaktu saya masih aktif di Komnas HAM, bersama dengan Ibu Prof 
Dr Ruswiati Suryasaputra, MS -- ketua Subkomisi Kelompok Khusus dan Komisioner 
Hak Perempuan -- dan Bundo Nyzmah Rumzy kami pernah berbincang-bincang tentang 
perlunya ada persiapan muda -mudi tentang pembentukan keluarga. Sayang karena 
berbagai kesibukan pembicaraan ini belum sempat kami tindak lanjuti. Saya 
usulkan agar topik pembentukan karakter ini dapat kita tindak lanjuti 
sungguh-sungguh, khususnya oleh karena ada masalah karakter pada para sanak 
kita yang demikian banyak 
 menganggur. Jika tidak ditangani secara mendasar, berapa banyaknya pun bantuan 
kita berikan, mereka akan tetap menganggur juga !. 

Wassalam,
Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) 


--- On Thu, 1/7/10, Kurnia Chalik
 <[email protected]> wrote:

From: Kurnia Chalik <[email protected]>
Subject: RE: [...@ntau-net] 173.080 Angkatan Kerja di Sumbar Menganggur
To: [email protected]
Date: Thursday, January 7, 2010, 1:23 PM

Mak Darul sarato adi dunsanak kasadonyo,

Betul sekali Mak Darul,kalau ado kemauan,sabananyo banyak yang bisa
dikerjakan,paling tidak ikuik2 urang se dulu,sambil belajar dan menjalin
relasi.Kawan2 dan dunsanak ambo pun baitu ambo perhatikan,yang indak
mamantang ciek juo,rendah hati dan penuh semangat,ado-ado se nan bisa
dikarajokannyo sehingga bisa juo jadi kayo rayo kini,walaupun awalnyo urang
susah juo.

Dan yang menganggur,ternyata memang memiliki karakter problem kalau ambo
perhatikan. Indak
 sembahyang,indak peduli ka urang gaeknyo,pemalas,banyak
gengsi dan pantangan, dan banyak indak tabiaso karajo di rumah selamo tingga
dengan urang tuonyo.Baju tingga pakai,makan tingga makan,pitih tingga
mintak,  dsb.Anak2 nan cado iko nan ambo liek calon2 pengangguran tu.Anak2
nan indak tau di untuang kalau bahaso urang gaek ambo saisuak.

Jadi memang karakter yang sangat menentukan,apakah seseorang itu akan
menjadi seorang pengangguran atau tidak sabananyo.

Wasalam,
Kurnia  

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Darul M
Sent: Thursday, January 07, 2010 12:54 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [...@ntau-net] 173.080 Angkatan Kerja di Sumbar Menganggur

Sanak Kurnia

Jangan khawatir dengan keberadaan manusia, alam menyambut mereka. Saya
mendukung pendapat sanak Kurnia Khalik, kalau mau banyak yang dapat
dikerjakan. Hanya terbentur yang dimaui itu jauh dari yang bisa dicapai.
Seharusnya setiap horang mengerjakan apa yang bisa dicapai, sambil berusaha
meningkatkan capaian. Meningkatkan capaian itu bisa ditempat, jenis dan yang
sedang dikerjakan, ataupun tempat dan jenis yang lain.

Dikampung saja, sebetulnya tidak ada yang menganggur, asal mau bekerja
dengan benar hasilnya akan memuaskan. Seorang Ir pertanian dengan
menerapakan ilmunya dan bertani dikampung malah bisa berpenghasilan akhir
setiap tahun melebihi orang kantoran yang
 berdasi. Hasil akhir maksudnya
adalah kemampuan ekonomi yang bersangkutan, atau dengan kata lain tabungan
yang bisa dimiliki dan dinilai secara ekonomi setempat.

Salam
Darul
Jkt

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Kurnia Chalik
Sent: Thursday, January 07, 2010 9:19 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [...@ntau-net] 173.080 Angkatan Kerja di Sumbar Menganggur

Ass Wr Wb Sanak Nofend sarato adi dunsanak kasadonyo,

Kalau ambo perhatikan,sebetulnya lahan pekerjaan cukup banyak tersedia di
Sumbar saat ini,cuma
 mungkin bukan kerja yang bersifat kantoran.Karena yang
bersifat kantoran memang terbatas jumlahnya.

Tapi kalau ambo amati pengangguran dan ujung2nya kemiskinan pada akhirnya
sangat2 ditentunkan karakter seseorang.Orang2 yang di rumah tangganya sudah
terlatih hidup berkeTuhanan,hormat dan santun kepada orang tua
saudara,Mandiri,disiplin dengan waktu,bersih dan rapi,bermental pantang
menyerah,rendah hati dan tidak mati kegengsian & kesombongan, rata2 ambo
perhatikan jarang yang nganggur.

Demikian sedikit sumbang saran ambo Sanak Nofend.
Memang modal hidup yang utama itu adalah karakter seseorang ternyata.


Wassalam,
Kurnia





      -- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe



      
-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke