Pariaman | Jumat, 08/01/2010 07:04 WIB Istiqomah dan Tegas Mengenang Syekh Abdurrahman Lubuak Ipuah Yurisman Malalak - Padang Ekspres
Ketokohan seorang Syekh Burhanuddin ulama kharismatik yang dikenal sebagai pengembang ajaran agama Islam di Minangkabau memang tidak diragukan lagi. Hal itu setiaknya terlihat dari berbagai literatur yang telah mengukir ketokohan Syekh Burhanuddin dalam tinta emas sejarah dalam mengembangkan ajaran agama Islam di Minangkabau. Kondisi itu sedikit bertolak belakang dengan sejaran perjalanan ulama-ulama pelanjut perjuangan Syekh Burhanuddin. Sebut misalnya sejarah murid-murid atau pun para pengikutnya yang juga telah banyak berjasa dalam mengembangkan ajaran agama Islam di kalangan masyarakat Minangkabau kala itu. Sebut misalnya Syekh Abdurrahman Lubuak Ipuah Kanagarian Kurai Taji Padangpariaman. Yang dikenal sebagai Syekh Qadhi Lubuak Ipuah. Selain Qadhi Lubuak Ipuah, juga dikenal dua Tuanku Qadhi lainnya. Kehadiran Syekh Abdurrahman sendiri yang belakangan ditunjuk sebagai salah seorang khalifah Syekh Burhanuddin setidaknya terlihat dari kehadiran surau gadang Syekh Abdurrahman di Lubuak Ipuah Kurai Taji, yang sampai saat ini masih berdiri dengan kukuhnya. Hanya saja seiring musibah gempa yang mengguncang Kota Padangpariaman dan sekitarnya pada tanggal 30 September 2009 lalu, Surau Syekh Abdurrahman juga sempat mengalami retak-retak ringan pada beberapa bagian bangunannya. Surau peninggalan Syekh Abdurrahman sendiri sebelumnya memang sudah direnovasi dari bentuk aslinya yang semula terbuat dari bahan kayu. Hanya saja arsitektur dan bentuk bangunannya masih tetap dipertahankan. Sama dengan khalifah Syekh Burhanuddin lainnya, Syekh Abdurrahman sendiri juga di makamkan di Kompleks Makam Syekh Burhanuddin di Ulaan. Makanya, warga yang ingin menziarahi Beliau lebih banyak ke kompleks makam di Ulaan. Namun, pada waktu waktu tertentu sejumlah pengikut Beliau dari berbagai penjuru di Minangkabau juga kerap menziarahi surau Syekh Abdurrahman di Lubuak Ipuah. Seperti diakui Tuanku Qadhi Abdurrasyid, selaku penerus dan pewaris ke sembilan dari Syekh Abdurrahman, selain meninggalkan surau Syekh Abduurahman semasa hidupnya juga meninggalkan beberapa kita tulisan tangan, termasuk Al Quran tulisan tangan yang Beliau tulis sendiri. "Tapi saat ini kondisinya telah banyak mengalami kerusakan, karena usianya sudah begitu lama sehingga sebagian hurufnya tidak bisa lagi dibaca," ungkap Tuanku Qadhi Abdurrasyid. Buku peninggalan tulisan Syekh Abdurrahman lainnya, masing-masing kitab nahu, tafsir risalah serta beberapa tulisan lainnya. Dijelaskannya, Syekh Abdurrahman semasa hidupnya dikenal sebagai pribadi yang istiqamah serta kuat dalam pendirian. Adapun tugas dan tanggung jawab nya lebih banyak berhubungan dengan masalah hukum hukum agama, termasuk masalah yang berhubungan dengan nikah. "Beliau itu dikenal teguh dalam pendirian. Makanya Beliau sangat tegas dalam masalah halal atau haram," ungkap Tuanku Qadhi Abdurrasyid. Semasa hidupnya Syekh Abdurrahman juga berperan sebagai suluah bendang dalam nagari. Bahkan Beliau juga memiliki peran dalam menyelesaikan persoalan persoalan yang berhubungan dengan masalah adat istiadat. Dengan dasar itu pula semasa hidupnya Syekh Abdurrahman dikenal memiliki dua kedudukan. Yaitu sebagai rajo adat dan syarak. Dengan keistimewaan itu pula beliau ditetapkan sebagai Qadhi yang akan menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat. Semasa hidup Syekh Abdurrahman, Surau Syekh Abdurrahman di Lubuak Ipuah yang dikenal juga sebagai Surau Gadang Kurai Taji, juga merupakan tempat bersidangnya para tokoh ulama untuk menetapkan waktu maniliak bulan. Dari situlah selanjutnya ditetapkan waktu pelaksanaan awal puasa Ramadhan yang mempedomani bilangan khamsiah dan maniliak (melihat bulan,red). Menurut Tuanku Qaqhi Abdurrayid, kiprah dan keberadaan Syekh Abdurrahman sndiri setidaknya terangkum dalam ungkapan, kabek di Ulaan Kungkuang di Tujuan Koto dan Pancuang Putiah di Lubuak Ipuh. Ungkapan itu lahir, ketika para ulama Syattariah pada masa itu akan bersidang untuk menetapkan awal pelaksanaan Ramadhan. Setelah dilakukan beberapa pertemuan yaitu di Ulaan dan VII Koto, namun saat itu ulama yang hadir tidak cukup. Makanya pertemuan di lanjutkan di Surau Gadang Lubuak Ipuah. Barulah dalam pertemuan itu seluruh ulama berkesempatan hadir, makanya saat itu juga berhasil diperoleh kata putus tentang penetapan pelaksanaan awal waktu Puasa Ramadhan. (*) http://padang-today.com/index.php?today=news&id=12588
-- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
