Sabtu, 09 January 2010

   Industri Gula Saka tak Kenal Ekonomi Kerakyatan

*TALANG BABUNGO*- Siang itu di tengah-tengah hamparan kebun tebu, Tafrizal, 45, masih sibuk dengan pekerjaan sehari-harinya, yaitu membuat gula saka (gula tebu) dengan proses pertahapannya. Setiap hari, ia bersama putranya Junifa Indra yang masih lajang menebang, mengilang dengan menggunakan tenaga kuda, memanaskan air tebu, menyaring beberapa kali untuk menjadikan manisan tebu di sebuah pondok kerjanya di Jorong Talago, Nagari Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok. Sumber mata pencarian turun-temurun masyarakat Jorong Talago itu dapat dan berhasil menghidupi keluarga ribuan penduduk di Nagari Talang Babungo. Talang Babungo selain dikenal dengan nagari penghasil gula saka, juga penghasil gula enau. Tetapi yang mayoritasnya adalah industri rumahtangga gula saka bagaikan ‘tak ada enau, tebu pun jadi’. Masyarakat Talago mengakui tidak mengenal ekonomi kerakyatan yang bergema di Kabupaten Solok sejak beberapa tahun belakangan ini. Sebab masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil industri kecil gula saka, sudah lama mengharapkan bantuan Pemerintah Kabupaten Solok untuk mendapatkan bantuan modal usaha, bukan berupa natura, malahan mesin pengilang tebu, hingga sekarang harapan masih pupus. Padahal mereka sanggup mencicil setiap bulan dengan pengucuran pinjaman pola bergulir atau lainnya. Setiap hari, lelaki bertubuh kecil beranak empat itu sanggup mengilang berpuluh batang tebu kuning dengan menghasilkan air tebu 30 belek (tempat). Pemanasan air tebu dengan kancah (kuali besar) untuk 30 belek air tebu itu didapatkan manisan 60 kilogram. Air tebu yang dipanaskan tersebut, kemudian disaring sekian kali sehingga menghasilan manisan dan didinginkan dalam alat cetakan, yaitu tempurung kelapa berukuran sedang. Malahan baru-baru ini institusi terkait dilingkungan Pemerintah Kabupaten Solok menyarankan masyarakat mengembangkan disain gula saka petak-petak. Jika disain demikian, membutuhkan alat pencetakan baru, makanya Pemkab Solok memberikan bantuan pencetakan itu. Bagi sejumlah masyarakat yang ekonomi telah mapan, mereka menggunakan kilangan mesin untuk mengambil air tebu. Kilang mesin ini menghasilkan air tebu setidaknya 300 kilogram sebagaimana industri-industri rumah tangga di Lawang, Kabupaten Agam. Untuk mendapat kilangan dan peralatan modern tersebut, kemungkinan menelan dana sebesar p15 s/d Rp20 juta, sedangkan kilangan tradisional, seekor kuda dan pelaratan lainnya hanya di bawah Rp10 juta. Tafrizal bukan sendiri menggerakan industri itu, malahan mayoritas masyarakat Nagari Talang Babungo terutama di Jorong Tabek ini. Gula saka dijual kepada masyarakat luas dengan harga Rp8.000/Kg atau Rp7.000 jika dijual pada pedagang pengumpul. Kegembiraan dari masyarakat sampai sekarang ini, gula saka tidak mengalami fluktuasi harga yang mencolok jika dibandingkan dengan pasaran sayur-sayuran dan buah-buahan.(*)

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke