*Pak Darul dan dunsanak di palanta nan ambo hormati ambo kutipkan: Subject: Re: [RN-Pendidikan] masih Univ dari LN Date: Tue, 6 Aug 2002 17:34:35 +0200 (CEST)
Assalamualaikum wr.wb. Dusanak, sabananyo kerjasama antar universitas di Padang dengan Univ LN sudah banyak. Baik MoU yang sudah ditanda tangani, namun itu lah.. setelah MoU tidak ada follow up nya. Sebagai contoh, Universitas La Rochelle, nan kini ambo baraja lah ado kerjasama jo UNP. Malahan lah duo kali Universitas La Rochelle mengirimkan mahasiswanyo yang baraja bahasa Indonesia ke UNP. Malahan dalam site universitas, nama UNP telah ditulisnya sebagai universitas partenair. Dari pihak awak, UNP, sampai saat ini alun ado yang berminat untuk memanfaat kan MoU itu, untuk baraja lanjut atau pertukaran tenaga peneliti ke Universitas La Rochelle. Setelah ambo cubo mancari penyebabnya, kembali kepada masalah dana. * *Kalau itu masalahnyo, mangapo universitas-universitas lain di Jawa, Makassar, Sumut samo-samo mandapek dana dari pamarentah pusek, bisa lebih capek larinyo dari PT di SB* *Ambo maraso masalahnya talatak pado budaya urang awak nan ambo kutipkan dari postingan Sanak Andiko (penulis artikel: Surya Saluang) baru-baru iko (diringkas) sbb:** Masyarakat Minang membangun tatanan kosmosnya mengandalkan daya kata. Dalam Gurindam edisi sebelumnya telah disebut betapa kata berkuasa (foucaultian) di Minangkabau. Dan ketika kata merupakan transformasi dari/untuk kuasa, maka kepentingan terhadap kata menjadi kepentingan yang paling mendasar. Semua orang berebut kata. Semua orang memproduksi kata sebanyak mungkin. Siapa yang paling banyak memiliki dan menggunakan kata berkemungkinan menjadi yang serba “paling” (paling cerdas, paling representatif, paling bijak, paling dapat diandalkan, paling legitimed, paling sah, paling terhormat, dsb). Orang Minang kemudian menjadi gemar berkata-kata. Pola demikian masih bertahan hingga hari ini. Sedangkan kosmologi kata sesungguhnya telah berubah seiring pertumbuhan dunia global. Ia (kata) tidak lagi mampu mempermainkan realitas, tetapi justru dipermainkan realitas. Sehingga begitu juga, yang berpegang pada kata akan menjadi objek permainan serta kehilangan keasikan terhadap dirinya sendiri yang sedang ter/dipermainkan. Subjek tradisi, berubah objek dalam dunia yang berubah ini. Sebagian dari mereka yang telah menjadi objek, mencoba membangun kembali dunia tradisinya dalam berbagai cara dan polarisasi keadaan agar dapat menjadi subjek kembali dalam dunia preferensi yang dipahaminya (mis. Berbagai perkumpulan kepaguyuban seperti Baringin Tuo/Mudo, IMAMI, Formisi, Forkommi, Surau Tuo, dll). *Mari kita simpulkan dari duo postingan tersebut. Salam Abraham Ilyas Lk. 64 th www.nagari.org
-- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
