Broker Politik Tawaran Dukun
Para broker ini biasanya berkumpul di lapau yang dekat dengan pom bensin atau
dengan tempat berdirinya ATM. Kalau ada mobil caleg yang masuk, yakni mobil
yang punya stiker, lengkap dengan foto calegnya, seperti satu mobil hitam saya,
maka satu atau dua orang dari lapau itu akan menegur. Mereka menawarkan untuk
singgah. Kalau sang caleg singgah, masuklah dia ke dalam perangkap mereka.
Paling tidak, sang caleg akan meninggalkan satu baliho, stiker atau membayar
makanan dan minuman orang-orang di lapau itu. Mereka dengan fasih menyampaikan
janji bahwa bisa mencarikan suara ratusan sampai ribuan orang.
Para broker ini juga memiliki tim tersendiri yang bertugas mengendalikan
operasi yang mereka buat. Saya banyak mendengar informasi betapa terkurasnya
isi kantong para caleg yang berhasil dikerjain oleh para broker politik ini.
Saya pernah masuk ke lingkaran mereka, duduk di warung mereka, tetapi paling
banyak saya membayar harga teh atau kopi saja. Mungkin mereka segan, apalagi
yang sering melihat saya di televisi. Di kampung saya, kegiatan para broker ini
saya larang.
Saya tentu punya rumus menghadapi para broker atau caleg dari dalam dan luar
partai yang mengatakan ingin membantu saya. Kalau orang itu mengatakan memiliki
massa lebih dari 1.000 orang, maka dengan segera orang itu langsung saya coret.
Apalagi yang mengatakan memiliki massa sebanyak 10.000 orang atau bahkan 20.000
orang. Logikanya ringan saja, kalau dia memiliki massa sebanyak itu, kenapa
bukan dia yang maju menjadi caleg? Satu anggota DPRD Kabupaten bisa lolos
dengan 1.000 suara, dengan asumsi bahwa suara dari caleg lain juga ada.
Sementara, satu anggota DPRD Provinsi bisa lolos dengan 10.000 suara.
Nah, kalau dia memiliki suara sebanyak 20.000 orang, maka satu kursi DPR RI
bisa langsung dia duduki, mengingat anggota DPR RI periode 2004-2009 ada yang
lolos dengan jumlah suara kurang dari 20.000. Rumusan itu mematahkan banyak
sekali orang yang katanya ingin membantu saya. Kadangkala, saya dianggap
sombong dan angkuh, karena tidak ingin dibantu oleh orang-orang yang “punya
massa” itu.
Saking kerasnya persaingan, beberapa orang menawarkan semacam dukun politik
bagi saya.
“Pak Indra, menurut perhitungan kami, bapak 80% bisa berhasil masuk DPR RI.
Tinggal 20% lagi usaha dari Atas. Kalau bapak bersedia, silakan datang ke 50
Kota, bertemu dengan seorang anak kecil yang sudah banyak membantu orang,”
begitu bunyi pesan pendek yang masuk ke ponsel saya.
“Anda siapa? Darimana anda tahu perhitungan itu?”
“Saya orang dekat dari sang anak. Kami bisa melihat dari foto Pak Indra,”
jawabnya.
“Kalau boleh tahu, darimana anda melihat foto saya? Saya belum sempat ke 50
Kota,” balas saya.
“Ada seorang caleg yang mengantarkan ke kami, Pak. Namanya si Anu dari anu,”
jawabnya lagi.
“Kalau begitu, menangkan saja dia, ya. Kan banyak caleg di daerah itu,” pungkas
saya.
Saya tersenyum. Saya kenal dengan caleg yang dimaksudkan. Reputasi caleg itu
tidak terlalu baik. Bagaimana bisa baik, kalau dia pergi ke dukun? Pesan-pesan
pendek seperti itu datang terus berhari-hari. Saya mengajak diskusi, kadang
berlama-lama. Keingin-tahuan saya tentang praktek perdukunan politik ini memang
besar, tetapi saya tidak mau juga “rusak” kalau datang ke dukun cilik itu.
Tawaran lain datang dari yang mengaku sebagai tuanku dan paranormal. Saya
biasanya menanggapi orang-orang ini dengan perdebatan via pesan pendek atau
menolaknya secara halus dengan tidak datang ke tempatnya. Saya katakan, kalau
anda merasa yakin, kenapa tidak tawarkan kepada orang lain, kenapa mesti ke
saya? Begitupula, kenapa tidak maju saja sebagai caleg? Ada yang mendoakan saya
dengan cara membaca ayat-ayat suci Al Qur’an, sambil memegang tangan saya. Ada
juga yang ingin memberikan jimat kepada saya. Semua hal itu saya tolak dengan
keras, kecuali doa. Saya memang tidak pernah berdoa agar saya menjadi anggota
DPR RI. Istri saya pun tidak berdoa seperti itu.
“Kalau memang ini baik bagi saya, maka mudahkanlah. Kalau berakibat buruk bagi
saya, maka sulitkanlah.” Itulah doa yang saya panjatkan ke hadirat Illahi.
Tahun 2007, ketika saya dinyatakan gagal menjadi anggota KPU, banyak yang
mengatakan bahwa saya kurang beruntung. Tetapi ketika menyadari kinerja anggota
KPU yang lemah, saya merasa menjadi orang yang mujur. Allah SWT tentu punya
rahasia atas apapun keputusan yang Dia ambil untuk kita.
Begitu juga dengan para wartawan bodrek. Terkadang kelakuan mereka seperti
preman, yakni lewat intimidasi. Saya tidak pernah mau melayani wartawan seperti
ini yang hanya sesekali menerbitkan koran atau tabloid, mungkin hanya beberapa
lembar, tetapi mengaku memiliki ribuan pelanggan.
Ada juga orang-orang yang masuk ke masyarakat mengatanamakan Badan Intelijen
Negara (BIN). Kalau saya ketemu dengan orangnya, tentu saya akan tegur dengan
keras atau saya tangkap tangan. BIN tidak ada urusan dengan politik atau
kriminal. BIN bertugas menghadapi agen-agen negara lain. Operasi BIN ini
berkembang menjadi isu nasional di kemudian hari, sementara saya berkeyakinan
bahwa yang terjadi adalah orang-orang yang mengaku BIN. Apalagi orang itu
jarang ke Jakarta. Kalau identitas BIN sudah melekat ke orang itu, menurut saya
dia justru orang biasa saja yang berbekal kartu anggota palsu untuk
menakut-nakuti orang.
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe