Wah udah ada bocorannya..menarik sekali sisi2 humanis dalam politik Saya juga menemukan "urang lapau" yang menjadi broker ini, mereka bukan kepada satu atau dua orang caleg saja menawarkan hal ini, kesemua caleg yang rasanya bisa "dimakannya" biasanya caleg yang kurang pede, belum populer tapi kantongnya cukup tebal
Begitulah .....i Broker bilang "namanya juga usaha" si caleg yang terpedaya apa melalui broker untuk meraih suara atau dunia perdukunan akan berkata " namanya juga usaha" No pain no gain kali ye Tapi hasil akhirnya..tentu ada yang sakit..ada yang untung :) Ditunggu bocoran/cuplikan yang lain bung IJP Wass-Jepe Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: Indra Jaya Piliang <[email protected]> Date: Fri, 22 Jan 2010 20:47:36 To: <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Cuplikan 1: Broker Politik Tawaran Dukun ---> revisi sub judul Broker Politik Peraih Untung Broker Politik Tawaran Dukun Para broker ini biasanya berkumpul di lapau yang dekat dengan pom bensin atau dengan tempat berdirinya ATM. Kalau ada mobil caleg yang masuk, yakni mobil yang punya stiker, lengkap dengan foto calegnya, seperti satu mobil hitam saya, maka satu atau dua orang dari lapau itu akan menegur. Mereka menawarkan untuk singgah. Kalau sang caleg singgah, masuklah dia ke dalam perangkap mereka. Paling tidak, sang caleg akan meninggalkan satu baliho, stiker atau membayar makanan dan minuman orang-orang di lapau itu. Mereka dengan fasih menyampaikan janji bahwa bisa mencarikan suara ratusan sampai ribuan orang. Para broker ini juga memiliki tim tersendiri yang bertugas mengendalikan operasi yang mereka buat. Saya banyak mendengar informasi betapa terkurasnya isi kantong para caleg yang berhasil dikerjain oleh para broker politik ini. Saya pernah masuk ke lingkaran mereka, duduk di warung mereka, tetapi paling banyak saya membayar harga teh atau kopi saja. Mungkin mereka segan, apalagi yang sering melihat saya di televisi. Di kampung saya, kegiatan para broker ini saya larang. Saya tentu punya rumus menghadapi para broker atau caleg dari dalam dan luar partai yang mengatakan ingin membantu saya. Kalau orang itu mengatakan memiliki massa lebih dari 1.000 orang, maka dengan segera orang itu langsung saya coret. Apalagi yang mengatakan memiliki massa sebanyak 10.000 orang atau bahkan 20.000 orang. Logikanya ringan saja, kalau dia memiliki massa sebanyak itu, kenapa bukan dia yang maju menjadi caleg? Satu anggota DPRD Kabupaten bisa lolos dengan 1.000 suara, dengan asumsi bahwa suara dari caleg lain juga ada. Sementara, satu anggota DPRD Provinsi bisa lolos dengan 10.000 suara. Nah, kalau dia memiliki suara sebanyak 20.000 orang, maka satu kursi DPR RI bisa langsung dia duduki, mengingat anggota DPR RI periode 2004-2009 ada yang lolos dengan jumlah suara kurang dari 20.000. Rumusan itu mematahkan banyak sekali orang yang katanya ingin membantu saya. Kadangkala, saya dianggap sombong dan angkuh, karena tidak ingin dibantu oleh orang-orang yang “punya massa” itu. Saking kerasnya persaingan, beberapa orang menawarkan semacam dukun politik bagi saya. “Pak Indra, menurut perhitungan kami, bapak 80% bisa berhasil masuk DPR RI. Tinggal 20% lagi usaha dari Atas. Kalau bapak bersedia, silakan datang ke 50 Kota, bertemu dengan seorang anak kecil yang sudah banyak membantu orang,” begitu bunyi pesan pendek yang masuk ke ponsel saya. “Anda siapa? Darimana anda tahu perhitungan itu?” “Saya orang dekat dari sang anak. Kami bisa melihat dari foto Pak Indra,” jawabnya. “Kalau boleh tahu, darimana anda melihat foto saya? Saya belum sempat ke 50 Kota,” balas saya. “Ada seorang caleg yang mengantarkan ke kami, Pak. Namanya si Anu dari anu,” jawabnya lagi. “Kalau begitu, menangkan saja dia, ya. Kan banyak caleg di daerah itu,” pungkas saya. Saya tersenyum. Saya kenal dengan caleg yang dimaksudkan. Reputasi caleg itu tidak terlalu baik. Bagaimana bisa baik, kalau dia pergi ke dukun? Pesan-pesan pendek seperti itu datang terus berhari-hari. Saya mengajak diskusi, kadang berlama-lama. Keingin-tahuan saya tentang praktek perdukunan politik ini memang besar, tetapi saya tidak mau juga “rusak” kalau datang ke dukun cilik itu. Tawaran lain datang dari yang mengaku sebagai tuanku dan paranormal. Saya biasanya menanggapi orang-orang ini dengan perdebatan via pesan pendek atau menolaknya secara halus dengan tidak datang ke tempatnya. Saya katakan, kalau anda merasa yakin, kenapa tidak tawarkan kepada orang lain, kenapa mesti ke saya? Begitupula, kenapa tidak maju saja sebagai caleg? Ada yang mendoakan saya dengan cara membaca ayat-ayat suci Al Qur’an, sambil memegang tangan saya. Ada juga yang ingin memberikan jimat kepada saya. Semua hal itu saya tolak dengan keras, kecuali doa. Saya memang tidak pernah berdoa agar saya menjadi anggota DPR RI. Istri saya pun tidak berdoa seperti itu. “Kalau memang ini baik bagi saya, maka mudahkanlah. Kalau berakibat buruk bagi saya, maka sulitkanlah.” Itulah doa yang saya panjatkan ke hadirat Illahi. Tahun 2007, ketika saya dinyatakan gagal menjadi anggota KPU, banyak yang mengatakan bahwa saya kurang beruntung. Tetapi ketika menyadari kinerja anggota KPU yang lemah, saya merasa menjadi orang yang mujur. Allah SWT tentu punya rahasia atas apapun keputusan yang Dia ambil untuk kita. Begitu juga dengan para wartawan bodrek. Terkadang kelakuan mereka seperti preman, yakni lewat intimidasi. Saya tidak pernah mau melayani wartawan seperti ini yang hanya sesekali menerbitkan koran atau tabloid, mungkin hanya beberapa lembar, tetapi mengaku memiliki ribuan pelanggan. Ada juga orang-orang yang masuk ke masyarakat mengatanamakan Badan Intelijen Negara (BIN). Kalau saya ketemu dengan orangnya, tentu saya akan tegur dengan keras atau saya tangkap tangan. BIN tidak ada urusan dengan politik atau kriminal. BIN bertugas menghadapi agen-agen negara lain. Operasi BIN ini berkembang menjadi isu nasional di kemudian hari, sementara saya berkeyakinan bahwa yang terjadi adalah orang-orang yang mengaku BIN. Apalagi orang itu jarang ke Jakarta. Kalau identitas BIN sudah melekat ke orang itu, menurut saya dia justru orang biasa saja yang berbekal kartu anggota palsu untuk menakut-nakuti orang. -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
