Assalamu'alaikum W W

Dunsanak sabalik Palanta Rantau Net nan sadang maunjua...

Sambia mambaco2 surek kaba sabalun pulang kantua, nampa artikel menarik dari
dunsanak kito Deddy Yusmen Endah Kayo. Sebuah upaya lain bagaimana
meramaikan PARIWISATA SUMATERA BARAT. (mohon maaf jika ambo mangcopy nyo
sacara langkok agar dunsanak bisa mambaco nyo tanpa harus mancari di web

http://padang-today.com/index.php?today=article&id=1079

Beliau yang bekerja di sektor MIGAS, banyak tahu tentang convention apa saja
yang dilakukan oleh perusahaan milik negara sektor MIGAS ini. Dan DYEK sudah
mencobanya beberapa bulan yang lalu. Dan saya tahu DYEK sudah mencoba
berkoordinasi dengan PEMKOT BKT, Dinas Pariwisata SUMBAR dan Kota BKT. Tapi
kita juga sudah sama mahfum dengan apa tanggapan beliau-beliau yang
terhormat itu.

Minimal, tulisan ini bisa jadi pencerahan agar Industri Pariwisata khusunya
sektor MICE yang sebenarnya banyak mendatangkan pitih ini mulai dilirik
oleh regulator pariwisata di Ranah. Atau jika tidak, *MAPPAS* pun rasanya
sudah saatnya manggarik. Bagaimana kah??
Tks,

Wassalam W W

A. Rangkayo Mulia, 39
Mungkinkah, Menuai Pendapatan dari Sektor Migas di Sumbar?
Oleh: *Dedi Yusmen**
http://padang-today.com/index.php?today=article&id=1079

Mungkinkan Pemerintah di Lingkungan Propinsi dan Tingkat II (Kabupaten-Kota)
di Sumatera Barat mendapatkan PAD-nya dari sektor pertambangan minyak dan
gas bumi (migas)? Sebelum lebih jauh menjawab pertanyaan tersebut, terlebih
dahulu akan kita telaah secara singkat tentang potensi migas di Sumatera
Barat.

Minyak dan Gas Bumi, merupakan sumber pendapatan utama di beberapa Propinsi
pesisir timur Pulau Sumatera. Sebutlah seperti Aceh dengan Lapangan Gas Arun
yang melegenda, Lapangan Minyak dan Gas Rantau-Pangkalan Susu di Sumatera
Utara, di Riau antara lain Lapangan Minyak Minas, juga Lapangan-Lapangan
Migas di daerah Jambi dan Sumatera Selatan.

Hampir semua Propinsi tersebut  telah menjadikan sektor migas  sebagai
tulang punggung perekonomian daerah. Namun bagaimana dengan daerah pesisir
barat Sumatera seperti Sumatera Barat, Bengkulu dan terus ke selatan Pantai
Barat Lampung. Berdasarkan keilmuan geologi perminyakan, wilayah pantai
barat Sumatera  belum merupakan wilayah dengan potensi ekonomis untuk
terperangkapnya minyak dan gas bumi.

Namun demikian di wilayah Sumatera Barat terdapat dua ’cekungan’ migas yang
berpotensi, yaitu Cekungan Ombilin dan Cekungan Mentawai. Cekungan Ombilin
terdapat di wilayah Administrasi Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung sekarang.

Blok Singkarak berada pada Cekungan Ombilin, dari studi diketahui memiliki
potensi minyak mentah 725 ribu barel dan 43 miliar kubik kaki gas. Pada
1983, Caltex sudah melakukan pengeboran sedalam 9.902 feet di Blok
Singkarak, namun kegiatan ini tidak dilanjutkan karena tidak ekonomis untuk
dikembangkan (www.kini.com). Sampai saat ini sudah dilakukan pengeboran 8
(delapan)  sumur Ekslporasi dari Tahun 1972 s.d tahun 2001 .

Pada tahun 2008,  PT. Radiant mendapatkan hak pengelolaan Blok Migas yang
merupakan hasil penawaran langsung Blok South West Bukit Barisan (Blok
Singkarak) oleh Pemerintah dengan komitmen investasi untuk 3 tahun adalah
sepuluh juta dolar AS dan ’signature bonus’ kepada pemerintah RI sebesar
satu  juta dolar AS. Blok ini adalah Blok yang sama yang juga telah
dikerjakan Caltex sebelumnya. Sampai saat ini status blok ini masih tahap
eksplorasi yang artinya belum menjadi lapangan migas komersial.

Area cadangan migas lainnya yang belum ’proven’ (terbukti) adalah Cekungan
Mentawai  terletak di Daerah Laut (Offshore)  pantai barat Padang sekitar
Kepulauan Mentawai sebagai ’busur depan’ (fore-arch) yang berjejer dari
Barat Ujung Sumatra sampai Selatan Jawa. Di busur ini, tepatnya di daerah
Nias dan Bengkulu pernah dilakukan pemboran Ekplorasi namun belum  ditemukan
Potensi Migas yang ekonomis

Potensi lain adalah Gas Metana Batubara atau Coal Bed Methane (CBM),
merupakan Potensi Gas yang terdapat pada lapisan Batubara. Potensi Batubara
di Sumatera Barat terutama berada di daerah Ombilin yang juga termasuk dalam
wilayah Administrasi Sawahlunto/Sijunjung dan sekitarnya. Potensi Gas CBM
tergantung dari Potensi Batubara yang terdapat pada area tersebut. Kedalaman
tambang CBM ini berada pada wilayah potensi Batubara dengan kedalaman
rata-rata 400 meter kebawah.

Daerah Cekungan Ombilin mempunyai Potensi CBM ini sebesar 0.5 triliun kubik
kaki gas (TCF) (Ditjen Migas, 2008). Bandingkan dengan Cekungan Sumatera
Selatan dengan potensi CBM sebesar 180 TCF. Potensi CBM di Cekungan Ombilin
ini tidak terlalu ekonomis untuk dikembangkan. CBM di negara lain umumnya
digunakan untuk kebutuhan energi listrik domestik terutama di Australia dan
Amerika Serikat sebagai penghasil utama  CBM dunia.

Bila ditilik dari Potensi Migas Sumatera Barat sangat jelas bahwa, untuk
saat ini tidak mungkin Sumbar dapat ’menggenjot’ pendapatan dari Sektor
Migas. Pertanyaannya, kalau demikian bagaimana mungkin Sumatera Barat menuai
pemasukan dari Sektor Migas?.

Ada tiga hal utama dalam mengukur Kinerja pendapatan sektor Migas yaitu dari
sisi : peningkatan Produksi Migas, pendapatan (revenue) dan biaya (cost).
Revenue yang besar dengan biaya yang rendah menjadi ukuran utama tapi harus
diikuti pula dengan Produksi Migas yang tinggi sebagai salah satu tolak ukur
dalam penghitungan kinerja sektor migas.

Dari sisi revenue ini, maka Sumatera Barat dapat memposisikan diri sebagai
penampung untuk kegiatan-kegiatan sektor migas,  yaitu  revenue yang didapat
bukan dari hasil produksi migas tapi dari hasil kegiatan pendukung.

Melihat dari kalender kegiatan sektor Migas tahunan, banyak sekali kegiatan
yang sifatnya rutin seperti pertemuan-pertemuan, kursus  bidang migas hulu
dan hilir, begitu juga kegiatan profesi terkait dengan Profesi Ahli sektor
Migas seperti kegiatan organisasi  Indonesia Petroleum Association (IPA),
Indonesia Gas Association (IGA), Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia
(IATMI), Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Himpunan Ahli Geofisika
Indonesia (HAGI) dan Forum antar kawasan lainnya terkait bidang Migas.
Kursus keprofesian diadakan secara berkala 3-4 kali setahun oleh organisasi
profesi dan juga hampir setiap bulan dilakukan oleh Event Organizer (EO)
’Swasta’ sektor Migas, Perguruan Tinggi dsbnya. Rapat Kerja/Workshop hampir
setiap hari, Pertemuan Ilmiah Asosiasi Profesi dilakukan setiap tahun.

Hampir semua aktivitas tersebut diadakan  di Kota-Kota Besar Pulau Jawa
seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Jogja dan Surabaya. Di luar
Jawa,  Bali dan Lombok menjadi daerah tujuan utama yang lain. Untuk wilayah
Sumatera saat ini baru Palembang, Batam dan Bintan yang sering dijadikan
sebagai salah satu Kota untuk pertemuan Migas tersebut.

Pemilihan Batam karena banyak industri penyangga bidang Migas yang
berdomisili di Batam,  dan Pulau Bintan karena daerahnya yang nyaman untuk
menyelenggarakan pertemuan. Hampir semua daerah tersebut mempunyai fasilitas
penunjang yang lengkap yang  didukung penuh oleh Pemerintahan Daerah dan
Masyarakat  setempat.

Bagaimana dengan Sumatera Barat, mungkin dan siapkah?

Dengan studi sederhana  yang pernah penulis lakukan berdasarkan pengalaman
untuk 25 orang dalam 3 hari pertemuan peserta mengeluarkan minimal 150 juta,
maka bayangkan apabila pemerintahan daerah dapat menarik 20 event saja
setahun, maka potensi 3 milyar dapat menjadi penggeliat pembangunan
pariwisata daerah, tentu belum termasuk keluarga peserta, belum dihitung
kalau event yang diadakan dalam skala besar seperti Konvensi atau pertemuan
tahunan, belum dihitung efek berantai  apabila peserta puas dan berniat
melakukan kunjungan ulang ke Sumatera Barat.

Menilik dari besarannya potensi tersebut, maka pantas apabila Pemda Sumatera
Barat untuk terus menerus berusaha  menjadikan sektor pendukung Migas
sebagai salah satu sumber pendapatannya. Dengan syarat utama yaitu berusaha
memenuhi kebutuhan pendukung untuk kegiatan ini seperti sarana dan prasarana
yang diperlukan:  ruang konvensi, transportasi, hotel dan penginapan, serta
tempat-tempat hiburan pelepas penat yang tentu tidak selalu berkonotasi
negatif yang   jamak dikhawatirkan oleh stakehoder pariwisata di ranah
minang.

Optimalisasi sumber daya wisata yang ada di Sumatera Barat  sangatlah
penting untuk pemanfaatan kedepan seperti aset seni budaya, aset alam,
kerajinan rakyat, dan ’kuliner’ yang apabila dapat dikemas bersama secara
baik akan dapat menjadi daya tarik bagi para pengunjung. Sambil berapat,
berkonvensi,  pengunjung sekaligus dapat berlibur tanpa masyarakat ranah
merasa kehilangan jati diri budaya. Langkah progressif  dapat juga dilakukan
melalui penjajakan Kerjasama dengan Pegiat-Pegiat Bidang Migas, seperti
Departemen ESDM, BP Migas, Asosiasi Profesi Sektor Migas dalam
penyelenggaraan kegiatan pendukung Migas di Sumatera Barat.

Kota-Kota Utama di Jawa, Bali-Lombok, Batam dan Bintan telah dapat menjadi
magnit bagi kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Conferences & Exhitibition)
sektor Migas, bagaimana dengan Sumatera Barat, maka Pemerintah  Daerah dan
semua lapisan masyarakat di Sumatera Barat yang berhak menjawabnya. Semoga.



* Penulis adalah Pekerja BUMN  Sektor Migas dan Pengurus Pusat Masyarakat
Peduli Pariwisata Sumbar  (MAPPAS)



-- 
Arief Rangkayo Mulia....
39 Th/ Asa Pakan Kamih /Tilatang Kamang / Agam
Perwakilan Bukittinggi TV - JAKARTA
HP : 0813 1600 7756 / 0878 8086 7655

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke