dengan hormat, jika anda orang minang rantau belum menjadi anggota di DAMI 
dapat mendaftarkan diri ke website  http://www.danaabadi.org/index.php
Dengan 25 ribu rupiah sekali seumur hidup anda menyumbang ke DAMI demi  
mensukseskan visi dan misi DAMI untuk memajukan ranah minang untuk generasi 
masa depan SUMBAR
dan jika anda tidak keberatan dapat menyampaikan kepada handaitolan orang
 minang terdekat anda untuk jadi anggota.
waasalam

Eri Baheram (1960)

Artistvägen 6

12135 Johanneshov

Stockholm-Sweden

hp. +46-73-7449990

--- On Mon, 1/25/10, ARIEF <[email protected]> wrote:

From: ARIEF <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Mungkinkah, Menuai Pendapatan dari Sektor Migas di  
Sumbar?
To: "Milis RantauNet" <[email protected]>, "Sikola Rajo" 
<[email protected]>
Date: Monday, January 25, 2010, 12:29 PM

Assalamu'alaikum W W 
Dunsanak sabalik Palanta Rantau Net nan sadang maunjua...
Sambia mambaco2 surek kaba sabalun pulang kantua, nampa artikel menarik dari 
dunsanak kito Deddy Yusmen Endah Kayo. Sebuah upaya lain bagaimana meramaikan 
PARIWISATA SUMATERA BARAT. (mohon maaf jika ambo mangcopy nyo sacara langkok 
agar dunsanak bisa mambaco nyo tanpa harus mancari di web 

http://padang-today.com/index.php?today=article&id=1079
Beliau yang bekerja di sektor MIGAS, banyak tahu tentang convention apa saja 
yang dilakukan oleh perusahaan milik negara sektor MIGAS ini. Dan DYEK sudah 
mencobanya beberapa bulan yang lalu. Dan saya tahu DYEK sudah mencoba 
berkoordinasi dengan PEMKOT BKT, Dinas Pariwisata SUMBAR dan Kota BKT. Tapi 
kita juga sudah sama mahfum dengan apa tanggapan beliau-beliau yang terhormat 
itu.

Minimal, tulisan ini bisa jadi pencerahan agar Industri Pariwisata khusunya 
sektor MICE yang sebenarnya banyak mendatangkan pitih ini mulai dilirik 
oleh regulator pariwisata di Ranah. Atau jika tidak, MAPPAS pun rasanya sudah 
saatnya manggarik. Bagaimana kah?? 

Tks, 
Wassalam W W
A. Rangkayo Mulia, 39   
Mungkinkah, Menuai Pendapatan dari Sektor Migas di Sumbar?
Oleh: Dedi Yusmen*
http://padang-today.com/index.php?today=article&id=1079

Mungkinkan Pemerintah di Lingkungan Propinsi dan Tingkat II (Kabupaten-Kota) di 
Sumatera Barat mendapatkan PAD-nya dari sektor pertambangan minyak dan gas bumi 
(migas)? Sebelum lebih jauh menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu akan 
kita telaah secara singkat tentang potensi migas di Sumatera Barat.


Minyak dan Gas Bumi, merupakan sumber pendapatan utama di beberapa Propinsi 
pesisir timur Pulau Sumatera. Sebutlah seperti Aceh dengan Lapangan Gas Arun 
yang melegenda, Lapangan Minyak dan Gas Rantau-Pangkalan Susu di Sumatera 
Utara, di Riau antara lain Lapangan Minyak Minas, juga Lapangan-Lapangan Migas 
di daerah Jambi dan Sumatera Selatan. 


Hampir semua Propinsi tersebut  telah menjadikan sektor migas  sebagai tulang 
punggung perekonomian daerah. Namun bagaimana dengan daerah pesisir barat 
Sumatera seperti Sumatera Barat, Bengkulu dan terus ke selatan Pantai Barat 
Lampung. Berdasarkan keilmuan geologi perminyakan, wilayah pantai barat 
Sumatera  belum merupakan wilayah dengan potensi ekonomis untuk terperangkapnya 
minyak dan gas bumi. 


Namun demikian di wilayah Sumatera Barat terdapat dua ’cekungan’ migas yang 
berpotensi, yaitu Cekungan Ombilin dan Cekungan Mentawai. Cekungan Ombilin 
terdapat di wilayah Administrasi Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung sekarang. 


Blok Singkarak berada pada Cekungan Ombilin, dari studi diketahui memiliki 
potensi minyak mentah 725 ribu barel dan 43 miliar kubik kaki gas. Pada 1983, 
Caltex sudah melakukan pengeboran sedalam 9.902 feet di Blok Singkarak, namun 
kegiatan ini tidak dilanjutkan karena tidak ekonomis untuk dikembangkan 
(www.kini.com). Sampai saat ini sudah dilakukan pengeboran 8 (delapan)  sumur 
Ekslporasi dari Tahun 1972 s.d tahun 2001 . 


Pada tahun 2008,  PT. Radiant mendapatkan hak pengelolaan Blok Migas yang 
merupakan hasil penawaran langsung Blok South West Bukit Barisan (Blok 
Singkarak) oleh Pemerintah dengan komitmen investasi untuk 3 tahun adalah 
sepuluh juta dolar AS dan ’signature bonus’ kepada pemerintah RI sebesar satu  
juta dolar AS. Blok ini adalah Blok yang sama yang juga telah dikerjakan Caltex 
sebelumnya. Sampai saat ini status blok ini masih tahap eksplorasi yang artinya 
belum menjadi lapangan migas komersial. 


Area cadangan migas lainnya yang belum ’proven’ (terbukti) adalah Cekungan 
Mentawai  terletak di Daerah Laut (Offshore)  pantai barat Padang sekitar 
Kepulauan Mentawai sebagai ’busur depan’ (fore-arch) yang berjejer dari Barat 
Ujung Sumatra sampai Selatan Jawa. Di busur ini, tepatnya di daerah Nias dan 
Bengkulu pernah dilakukan pemboran Ekplorasi namun belum  ditemukan Potensi 
Migas yang ekonomis


Potensi lain adalah Gas Metana Batubara atau Coal Bed Methane (CBM), merupakan 
Potensi Gas yang terdapat pada lapisan Batubara. Potensi Batubara di Sumatera 
Barat terutama berada di daerah Ombilin yang juga termasuk dalam wilayah 
Administrasi Sawahlunto/Sijunjung dan sekitarnya. Potensi Gas CBM tergantung 
dari Potensi Batubara yang terdapat pada area tersebut. Kedalaman tambang CBM 
ini berada pada wilayah potensi Batubara dengan kedalaman rata-rata 400 meter 
kebawah. 


Daerah Cekungan Ombilin mempunyai Potensi CBM ini sebesar 0.5 triliun kubik 
kaki gas (TCF) (Ditjen Migas, 2008). Bandingkan dengan Cekungan Sumatera 
Selatan dengan potensi CBM sebesar 180 TCF. Potensi CBM di Cekungan Ombilin ini 
tidak terlalu ekonomis untuk dikembangkan. CBM di negara lain umumnya digunakan 
untuk kebutuhan energi listrik domestik terutama di Australia dan Amerika 
Serikat sebagai penghasil utama  CBM dunia.


Bila ditilik dari Potensi Migas Sumatera Barat sangat jelas bahwa, untuk saat 
ini tidak mungkin Sumbar dapat ’menggenjot’ pendapatan dari Sektor Migas. 
Pertanyaannya, kalau demikian bagaimana mungkin Sumatera Barat menuai pemasukan 
dari Sektor Migas?.


Ada tiga hal utama dalam mengukur Kinerja pendapatan sektor Migas yaitu dari 
sisi : peningkatan Produksi Migas, pendapatan (revenue) dan biaya (cost). 
Revenue yang besar dengan biaya yang rendah menjadi ukuran utama tapi harus 
diikuti pula dengan Produksi Migas yang tinggi sebagai salah satu tolak ukur 
dalam penghitungan kinerja sektor migas. 


Dari sisi revenue ini, maka Sumatera Barat dapat memposisikan diri sebagai 
penampung untuk kegiatan-kegiatan sektor migas,  yaitu  revenue yang didapat 
bukan dari hasil produksi migas tapi dari hasil kegiatan pendukung.


Melihat dari kalender kegiatan sektor Migas tahunan, banyak sekali kegiatan 
yang sifatnya rutin seperti pertemuan-pertemuan, kursus  bidang migas hulu dan 
hilir, begitu juga kegiatan profesi terkait dengan Profesi Ahli sektor Migas 
seperti kegiatan organisasi  Indonesia Petroleum Association (IPA), Indonesia 
Gas Association (IGA), Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Ikatan 
Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) dan 
Forum antar kawasan lainnya terkait bidang Migas. Kursus keprofesian diadakan 
secara berkala 3-4 kali setahun oleh organisasi profesi dan juga hampir setiap 
bulan dilakukan oleh Event Organizer (EO) ’Swasta’ sektor Migas, Perguruan 
Tinggi dsbnya. Rapat Kerja/Workshop hampir setiap hari, Pertemuan Ilmiah 
Asosiasi Profesi dilakukan setiap tahun. 


Hampir semua aktivitas tersebut diadakan  di Kota-Kota Besar Pulau Jawa seperti 
Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Jogja dan Surabaya. Di luar Jawa,  Bali dan 
Lombok menjadi daerah tujuan utama yang lain. Untuk wilayah Sumatera saat ini 
baru Palembang, Batam dan Bintan yang sering dijadikan sebagai salah satu Kota 
untuk pertemuan Migas tersebut. 


Pemilihan Batam karena banyak industri penyangga bidang Migas yang berdomisili 
di Batam,  dan Pulau Bintan karena daerahnya yang nyaman untuk menyelenggarakan 
pertemuan. Hampir semua daerah tersebut mempunyai fasilitas penunjang yang 
lengkap yang  didukung penuh oleh Pemerintahan Daerah dan Masyarakat  setempat.


Bagaimana dengan Sumatera Barat, mungkin dan siapkah?

Dengan studi sederhana  yang pernah penulis lakukan berdasarkan pengalaman 
untuk 25 orang dalam 3 hari pertemuan peserta mengeluarkan minimal 150 juta, 
maka bayangkan apabila pemerintahan daerah dapat menarik 20 event saja setahun, 
maka potensi 3 milyar dapat menjadi penggeliat pembangunan pariwisata daerah, 
tentu belum termasuk keluarga peserta, belum dihitung kalau event yang diadakan 
dalam skala besar seperti Konvensi atau pertemuan tahunan, belum dihitung efek 
berantai  apabila peserta puas dan berniat melakukan kunjungan ulang ke 
Sumatera Barat.


Menilik dari besarannya potensi tersebut, maka pantas apabila Pemda Sumatera 
Barat untuk terus menerus berusaha  menjadikan sektor pendukung Migas sebagai 
salah satu sumber pendapatannya. Dengan syarat utama yaitu berusaha memenuhi 
kebutuhan pendukung untuk kegiatan ini seperti sarana dan prasarana yang 
diperlukan:  ruang konvensi, transportasi, hotel dan penginapan, serta 
tempat-tempat hiburan pelepas penat yang tentu tidak selalu berkonotasi negatif 
yang   jamak dikhawatirkan oleh stakehoder pariwisata di ranah minang. 


Optimalisasi sumber daya wisata yang ada di Sumatera Barat  sangatlah penting 
untuk pemanfaatan kedepan seperti aset seni budaya, aset alam, kerajinan 
rakyat, dan ’kuliner’ yang apabila dapat dikemas bersama secara baik akan dapat 
menjadi daya tarik bagi para pengunjung. Sambil berapat, berkonvensi,  
pengunjung sekaligus dapat berlibur tanpa masyarakat ranah merasa kehilangan 
jati diri budaya. Langkah progressif  dapat juga dilakukan melalui penjajakan 
Kerjasama dengan Pegiat-Pegiat Bidang Migas, seperti Departemen ESDM, BP Migas, 
Asosiasi Profesi Sektor Migas dalam penyelenggaraan kegiatan pendukung Migas di 
Sumatera Barat. 


Kota-Kota Utama di Jawa, Bali-Lombok, Batam dan Bintan telah dapat menjadi 
magnit bagi kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Conferences & Exhitibition) 
sektor Migas, bagaimana dengan Sumatera Barat, maka Pemerintah  Daerah dan 
semua lapisan masyarakat di Sumatera Barat yang berhak menjawabnya. Semoga.  



* Penulis adalah Pekerja BUMN  Sektor Migas dan Pengurus Pusat Masyarakat 
Peduli Pariwisata Sumbar  (MAPPAS)

 


-- 
Arief Rangkayo Mulia....
39 Th/ Asa Pakan Kamih /Tilatang Kamang / Agam
Perwakilan Bukittinggi TV - JAKARTA 
HP : 0813 1600 7756 / 0878 8086 7655




-- 

.

Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. Email besar dari 200KB;

  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet

- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting

- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe




      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke